Pernikahan Yang Rumit, Cinta yang Rumit dan Hati yang juga ikut Rumit!!!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8
Matahari pagi di awal Juni bersinar terik, namun kehangatannya sama sekali tidak mampu menembus kabin belakang Rolls-Royce hitam yang membawa Alyssa membelah kemacetan ibu kota. Di sampingnya, Alvaro Regantara Maheswara duduk membisu, menatap lurus ke depan dengan keangkuhan yang sudah menjadi kulit keduanya. Tidak ada percakapan. Hanya ada keheningan mencekam yang dibatasi oleh suara deru mesin mobil yang halus dan AC yang berembus konstan.
Tepat pukul delapan pagi, kendaraan mewah itu memasuki pelataran gedung pencakar langit berdesain futuristik di kawasan bisnis premium. Menara Maheswara.
Dengan hati yang seberat timbunan batu, Alyssa melangkah turun mengikuti ketukan sepatu pantofel Alvaro yang terdengar konstan dan mengintimidasi. Ia dipandu langsung menuju lantai teratas, memasuki sebuah ruang rapat VIP privat yang dindingnya dilapisi panel kayu mahoni gelap. Di dalam ruangan itu, atmosfer terasa begitu formal dan menekan.
Di hadapan Alyssa, tepat di tengah meja kaca panjang, telah tergeletak beberapa bundel dokumen tebal dengan kop surat resmi notaris dan stempel hukum. Itulah dokumen perjanjian pernikahan sekaligus akta nikah kontrak mereka.
Alvaro menarik kursi kulitnya, duduk dengan posisi menyandar angkuh, lalu memberikan isyarat dagu yang dingin kepada Rendra dan tim hukum yang berdiri di sudut ruangan.
"Semua klausul sudah disesuaikan dengan permintaan terakhirmu semalam, Alyssa. Dana talangan untuk Pradipta akan mulai diproses secara bertahap dalam waktu tiga puluh hari ke depan, dan pengamanan rumah keluargamu sudah aktif sejak satu jam lalu," suara bariton Alvaro memotong keheningan dengan ketajaman yang mutlak. Ia menggeser sebatang pena bermerek Montblanc berlapis emas ke arah Alyssa. "Sekarang, penuhi bagianmu dari kesepakatan ini."
Alyssa melangkah mendekati meja, menarik kursi di seberang Alvaro, lalu duduk dengan punggung tegak teguh. Jantungnya bertalu hebat di balik blazer putih tulangnya yang kini terasa seperti zirah yang mencekik. Ia menarik dokumen tebal itu mendekat.
Saat matanya memindai baris-baris kalimat legalitas di atas kertas, setiap halaman terasa seperti rantai besi yang perlahan melilit dan mengikat masa depannya. Di sana tertulis jelas: Ketiadaan nafkah batin, pembatasan ruang gerak publik tanpa izin tertulis, kewajiban mendampingi Alvaro dalam setiap agenda korporasi, hingga sanksi pemutusan sepihak jika Alyssa terbukti mencoreng nama baik Maheswara.
Ini bukan dokumen pernikahan. Ini adalah akta penyerahan diri secara legal kepada seorang predator puncak.
Jemari Alyssa yang terasa sedingin es perlahan meraih pena emas yang disodorkan Alvaro. Sudut matanya melirik ke arah luar jendela, membayangkan wajah cemas ibunya dan ketakutan adiknya yang baru saja ia tinggalkan tadi pagi.
Demi mereka, bisik Alyssa di dalam benaknya, mengunci rapat-rapat sisa harga diri dan kebebasan yang ia miliki. Hanya tiga puluh hari.
Alyssa menarik napas dalam-dalam, mengarahkan mata pena ke atas garis bermaterai yang telah disediakan. Saat ujung pena menyentuh permukaan kertas putih yang kaku itu, tangannya sempat bergetar selama sepersekian detik. Namun, sifatnya yang berani dan taktis segera mengambil alih. Dengan satu tarikan napas yang berat, tanda tangannya selesai dibubuhkan di atas lembaran takdirnya.
Goresan tinta hitam itu mengering, bersamaan dengan suara helaan napas yang terdengar samar dari bibir tipisnya. Pada detik itu juga, Alyssa merasa sebagian besar dari kebebasannya sebagai seorang manusia telah lenyap, digadaikan demi sebuah jaminan keselamatan.
Alvaro menarik dokumen itu kembali setelah giliran tanda tangannya selesai dibubuhkan dengan gerakan cepat dan tegas. Pria berumur 28 tahun itu menatap lekat-lekat hasil tanda tangan Alyssa, lalu menipiskan bibirnya, membentuk segaris senyuman sinis tanpa kehangatan sedikit pun.
"Selamat datang di nerakamu yang baru, Nyonya Alvaro Regantara Maheswara," desis Alvaro dengan tatapan elang yang mengunci pergerakan Alyssa, sarat akan intimidasi dan dominasi yang mutlak.
Alyssa membalas tatapan itu dengan kilat mata yang tak kalah tajam, menolak untuk terlihat ringkih di depan pria berhati es ini. "Saya harap Anda tidak lupa dengan kewajiban Anda mengenai dana talangan keluarga saya, Tuan Alvaro."
"Aku selalu menepati kontrak bisnisku," jawab Alvaro dingin sembari bangkit berdiri dan merapikan kancing blazernya. "Rendra akan mengantarmu ke griya tawang sekarang. Bersiaplah, karena malam ini kita memiliki kemunculan perdana di hadapan media dalam jamuan bisnis tahunan."
Alyssa hanya terdiam, mengangguk kaku saat Alvaro melangkah keluar ruangan tanpa memedulikannya lagi. Ia mengembuskan napas panjang setelah pintu kaca kedap suara itu tertutup, mencoba meredakan debaran dadanya yang masih terasa bergemuruh.
Alyssa merasa lega karena teror terhadap keluarganya untuk sementara waktu telah berhasil diredam oleh kekuatan Maheswara. Namun, jauh di lubuk hatinya, sebuah firasat buruk mulai merayap naik. Ia merasa telah menyelesaikan satu masalah besar, tetapi ia sama sekali tidak tahu bahwa tanda tangan di atas kertas tadi hanyalah sebuah awal dari labirin konspirasi yang jauh lebih mematikan.
Di dalam sangkar emas milik sang Pewaris Berbahaya, aturan main baru saja dimulai, dan Alyssa harus bersiap menghadapi badai yang siap menguliti dirinya hidup-hidup di dalam lingkaran Maheswara.
...****************...
Rendra melangkah mendekat dengan langkah kaki yang teratur dan ny hampir tanpa suara di atas karpet tebal ruangan itu. Pria itu membungkuk hormat, memutus keheningan pasca-kepergian Alvaro yang menyisakan aura intimidasi yang masih pekat.
"Mari saya antar, Nyonya Alyssa. Mobil dan tim pengawal sudah bersiap di lobi bawah," ucap Rendra, suaranya terdengar profesional namun tetap mempertahankan jarak formal yang tegas.
Mendengar sebutan "Nyonya Alyssa" keluar dari mulut orang kepercayaan Alvaro, Alyssa merasa ulu hatinya seperti dihantam gada besi. Panggilan itu terasa asing, berat, dan menjadi pengingat instan bahwa statusnya telah berubah total hanya dalam kurun waktu kurang dari tiga puluh menit. Ia tidak lagi memiliki kemewahan untuk menjadi Alyssa Carissa Pradipta yang bebas.
Alyssa bangkit berdiri, merapikan blazer putih tulangnya, dan meraih tas selempang kecil miliknya. "Terima kasih, Rendra. Mari."
Perjalanan menuju lobi bawah dilewati dengan lift khusus eksekutif yang bergerak turun dengan kecepatan tinggi namun sangat halus. Di dalam pantulan dinding lift yang berlapis cermin krom, Alyssa menatap bayangan dirinya sendiri. Wajahnya tampak tenang dan dingin, topeng pertahanan yang sempurna, namun hanya dia yang tahu betapa dinginnya telapak tangan yang tersembunyi di balik saku blazernya.
Begitu pintu lift terbuka di lobi utama, ketenangan itu langsung diuji.
Di seberang pintu kaca besar Gedung Menara Maheswara, beberapa orang pria dengan kamera berlensa panjang tampak berdiri di sekitar area luar, tertahan oleh barikade penjagaan ketat dari sekuriti internal. Kilatan lampu kilat sempat menyambar sekilas dari kejauhan sebelum Rendra dengan taktis memosisikan tubuhnya untuk menghalangi pandangan mereka dari Alyssa.
"Beberapa media tampaknya sudah mulai mengendus pergerakan Tuan Muda sejak kemarin malam," bisik Rendra pelan saat mereka melangkah cepat menuju Rolls-Royce hitam yang sudah menunggu tepat di depan pintu lobi dengan mesin yang menyala. "Tapi Anda tidak perlu khawatir. Tim humas kami sudah mengendalikan narasi publik untuk malam nanti."
Alyssa tidak menjawab. Sifat cerdasnya langsung menganalisis situasi dengan cepat. Kehadiran para pemburu berita ini bukan sebuah kebetulan. Alvaro atau bahkan Mahendra Maheswara pasti sengaja membiarkan informasi ini bocor secara halus untuk mempersiapkan pasar sebelum hantaman besar dalam jamuan bisnis nanti malam. Pernikahan ini memang murni panggung sandiwara, dan dia adalah aktris utama yang baru saja dikontrak.
Pintu mobil dibuka oleh pengawal berbaju hitam, dan Alyssa segera masuk ke dalam kabin belakang yang sunyi. Kali ini, ia sendirian. Alvaro telah pergi terlebih dahulu menggunakan mobil cadangan untuk menghadiri agenda internal lainnya, meninggalkan Alyssa bersama koper kecil hitamnya yang sudah dipindahkan ke bagasi sejak pagi.
Mobil mewah itu perlahan bergerak membelah jalanan protokol Jakarta, menuju kawasan mega-apartemen paling elite di pusat kota, tempat griya tawang pribadi Alvaro berada.
Sepanjang perjalanan, Alyssa mengeluarkan ponselnya. Ia memeriksa pesan masuk dari nomor rahasia yang dikelolanya bersama Clarissa. Sebuah pesan terenkripsi muncul di layar.
Pembersihan data semalam berhasil 100%. Jejak pelacakan IP dari pihak luar terputus di area pelabuhan hulu. Tapi hati-hati, Lys. Seseorang di dalam Maheswara Group terdeteksi mengakses data legalitas perusahaan Pradipta dua jam lalu, tepat sebelum kamu menandatangani berkas.
Alyssa menipiskan bibirnya, sepasang matanya menyipit tajam menatap layar ponsel. Arsen Maheswara, batinnya menembak langsung pada satu nama yang sempat memprovokasi Alvaro di teras rumah utama. Atau barangkali... ada musuh lain yang bergerak di dalam kegelapan yang sama sekali belum ia ketahui.
Tanda tangan di atas kertas perjanjian tadi pagi memang telah meredam kepanikan keluarganya dari kejaran kreditur untuk sementara waktu, namun Alyssa sadar betul, itu bukanlah akhir dari penderitaannya. Itu justru adalah sebuah kunci yang membuka pintu gerbang menuju labirin konspirasi yang jauh lebih mematikan.
Di bawah kendali Alvaro, di dalam sangkar emas yang dipenuhi oleh intrik dan perebutan kekuasaan Maheswara, Alyssa harus bertarung sendirian tanpa boleh melakukan satu pun kesalahan kecil yang bisa menghancurkan dirinya dan keluarganya. Perang yang sesungguhnya baru saja dimulai, dan malam ini, di bawah sorotan ratusan lampu kilat media, dia harus siap memainkan peran sebagai istri sang Pewaris Berbahaya dengan sempurna.