Rindu Prameswari memiliki segalanya rekor nasional, popularitas, dan masa depan yang cerah. Setidaknya begitulah yang dilihat orang lain. Tidak ada yang tahu bahwa setiap kali berdiri di atas balok start, Rindu merasa seperti boneka yang hidup untuk memenuhi harapan keluarganya.
Saat konflik dengan ayah dan ibu tirinya semakin memburuk, performa Rindu mulai menurun. Demi menyelamatkan kariernya, ia dikirim ke program pelatihan khusus yang dipimpin oleh seorang pelatih muda bernama Kenzo Adhyaksa.
Kenzo berbeda dari semua orang yang pernah ditemui Rindu. Ia tidak peduli dengan medali, rekor, atau nama besar keluarga Prameswari.
"Kalau tidak ada lomba, tidak ada rekor, dan tidak ada tuntutan keluarga... apa yang sebenarnya Rindu inginkan?"
Pertanyaan sederhana itu justru menjadi awal perubahan terbesar dalam hidup Rindu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
"Kenzo… Kenzo!!"
Tria berteriak frustrasi, memanggil nama cowok itu berkali-kali. Namun, Kenzo sama sekali tidak menoleh. Punggung tegap itu terus melangkah menjauh, mengabaikan eksistensinya seolah-olah Tria hanyalah angin lalu.
"Argh! Sialan!" Tria menghentakkan kakinya ke aspal parkiran dengan sangat kesal. Wajahnya ditekuk masam, dipenuhi rasa dongkol yang membuncah. Karena merasa usahanya memutarbalikkan fakta gagal total, ia akhirnya memutar badan dan pergi meninggalkan area kampus begitu saja dengan langkah menghentak.
Ada satu fakta besar yang tidak pernah Tria ketahui selama menjalin hubungan dengan Kenzo.
Tria sama sekali tidak tahu kalau Kenzo sebenarnya adalah seorang ‘sultan’ Cowok itu berasal dari keluarga yang sangat berada, namun ia memilih untuk hidup mandiri dan membumi di kampus. Identitas asli Kenzo sebagai anak orang kaya raya sejauh ini dirahasiakan rapat-rapat, dan hanya diketahui oleh segelintir anak-anak senior di UKM Renang yang memang sudah berteman lama dengannya.
Selama berpacaran, Tria selalu bergaya hedon. Ia adalah tipe cewek yang banyak menuntut dan haus akan validasi sosial. Selama ini, gaya hidup mewahnya selalu disokong oleh Kenzo namun Tria mengira uang itu murni berasal dari bonus kemenangan Kenzo saat masih aktif sebagai atlet kejurnas, serta dari hasil jerih payahnya melatih privat.
Belakangan ini, Tria mulai merasa jengah. Ia melihat Kenzo tampak "hidup susah" karena harus naik transportasi umum, makan di kantin murah, dan sangat sibuk membagi waktu antara skripsi dan kerja sambilan. Tria tidak tahu kalau Kenzo sengaja melakukan itu semua karena ditantang oleh ayahnya untuk mandiri sebelum memegang kendali bisnis keluarga.
Karena merasa Kenzo sudah tidak bisa lagi memenuhi standar kebutuhan hedonnya, Tria mulai menyusun rencana. Tuduhan cemburu buta soal Rindu tadi sore sebenarnya hanyalah taktik busuknya. Ia sengaja mencari-cari alasan dan membuat drama agar hubungan mereka putus, sehingga di mata teman-temannya, ia bisa keluar dari hubungan ini sebagai pihak korban, bukan sebagai cewek matre yang meninggalkan pacarnya saat sedang di bawah.
Tria berjalan menuju gerbang kampus sambil sibuk mengetik pesan di ponselnya, sama sekali tidak menyadari bahwa ia baru saja membuang berlian berharga demi mengejar kepuasan semu.
**
Sesampainya di kost, Kenzo langsung melempar ransel besarnya ke atas kasur dengan asal. Ia mengembaskan tubuhnya di kursi belajar, lalu menyugar rambutnya ke belakang dengan kasar. Wajahnya kusut, sisa-sisa kekesalan akibat drama manipulatif Tria di parkiran tadi masih membekas jelas di dahinya.
Gani, sahabat sekaligus teman satu kostnya yang sedang asyik bermain game sambil selonjoran di lantai, langsung menyadari perubahan aura itu. Ia menurunkan ponselnya, lalu menatap Kenzo dengan cengiran usil.
"Kenapa lo, Zo?" sapa Gani, mulai melempar godaan. "Perasaan tadi habis melatih gadis cantik dengan julukan ratu lintasan, kok pulang-pulang mukanya ditekuk gitu? Kusut amat kayak kanebo kering."
Kenzo mendengus pelan, lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi sambil menatap langit-langit kamar kost.
"Rindu gak ada masalah. Anaknya dibilangan galak tapi ternyata mau nurut," jawab Kenzo lirih, suaranya terdengar lelah.
"Lah, terus? Kalau si Ratu Lintasan aman, kenapa muka lo kayak habis ditagih utang pinjol?" tanya Gani makin penasaran, kini ia memperbaiki posisi duduknya menjadi bersila, siap mendengarkan gosip sore.
"Tria," satu kata itu keluar dari mulut Kenzo, pendek namun sarat akan rasa muak. "Dia nyamperin gue ke parkiran kampus tadi."
Gani langsung mendecak, menggeleng-gelengkan kepalanya. Sebagai sahabat yang tahu betul bagaimana boroknya hubungan Kenzo, Gani sudah bisa menebak kelanjutannya. "Nyari perkara lagi dia? Kali ini nuntut apaan lagi? Tas baru? Atau minta dijemput pakai helikopter?"
"Nggak. Dia lihat Rindu tadi dadah-dadah dari dalam mobil," kata Kenzo sambil memijat pangkal hidungnya. "Langsung dijadiin bahan sama dia. Gue dituduh selingkuh, dituduh pengen putus gara-gara ada cewek kaya baru. Padahal gue tahu banget, itu cuma taktik busuk dia biar bisa lepas dari gue tanpa kelihatan salah."
Kenzo mengembuskan napas panjang, lalu menatap Gani dengan pandangan lurus. "Tapi baguslah. Tadi langsung gueiyain. Gue bilang, kita selesai."
Gani bukannya prihatin, malah langsung menepuk tangannya sekali dengan heboh. "Nah, gitu dong! Bagus! Akhirnya lo lepas juga dari itu benalu, Ken! Sadar juga lo kalau selama ini cuma dijadikan ATM berjalan sama dia yang gayanya selangit itu."
Gani bangkit berdiri, menepuk pundak Kenzo dengan bangga. "Selamat, Bro. Lo resmi bebas. Tapi ngomong-ngomong... kalau si Tria tahu lo itu sebenarnya sultan yang punya saham di mana-mana, kira-kira dia bakal nangis darah gak ya?"
Kenzo mendengus jengkel, sebuah tawa sinis yang hambar lolos dari bibirnya mendengar ucapan Gani.
"Nangis darah sekalian mati juga gue ogah balikan sama cewek kayak gitu!" ketus Kenzo, meluapkan seluruh rasa muak yang selama ini ia pendam sendirian. "Udah cukup gue jadi orang bego setahun ini."
Gani terkekeh puas melihat sahabatnya akhirnya bisa se-tegas itu. Namun, kalimat Kenzo selanjutnya mendadak membuat mata Gani melotot sempurna.
"Mending gue sosor aja sekalian si Rindu," ceplos Kenzo asal, berniat bercanda saking frustrasinya memikirkan drama Tria yang tidak ada habisnya.
Uhuk! Gani yang baru saja mau meneguk air mineral dari botolnya langsung tersedak hebat. Ia terbatuk-batuk sampai wajahnya memerah, menatap Kenzo dengan pandangan horor sekaligus tidak percaya.
"Gila lo, Ken! Lo beneran mau nyosor Rindu Prameswari?!" seru Gani heboh, buru-buru menyeka bibirnya dengan punggung tangan. "Heh, inget ya, itu anak semata wayang om-om galak yang bisa beli kost-an kita beserta tanah-tanahnya kalau dia mau! Lagian, itu si Ratu Lintasan terkenal dingin kayak es batu di kutub. Lo sosor yang ada muka lo digampar pakai papan luncur!"
Kenzo yang melihat reaksi berlebihan sahabatnya itu langsung tertawa lepas. Beban di pundaknya mendadak menguap begitu saja.
"Ya bercanda lah, bego. Lagian lo serius amat," ujar Kenzo sambil melempar bantal sofa kecil tepat mengenai wajah Gani.
Kenzo bangkit dari kursinya, berjalan menuju dispenser untuk mengambil air minum. Namun, entah kenapa, begitu nama Rindu disebut, bayangan gadis itu saat menurunkan kaca mobil sambil menatapnya jaim tadi sore kembali melintas di kepalanya.
Kenzo tersenyum tipis, kali ini sebuah senyuman misterius yang sarat akan arti.
"Tapi kalau dipikir-pikir... ngejinakin singa betina kayak Rindu emang jauh lebih menantang dan berfaedah daripada ngeladenin drama mak Lampir kayak mantan gue," gumam Kenzo pelan, hampir menyerupai bisikan pada dirinya sendiri.
"Saham bokapnya dibanding gue? Jauh, Bro. Nggak mungkin bokap dia bakal nolak gue," ujar Kenzo santai, lalu meneguk air minumnya dengan gaya super tenang seolah baru saja membicarakan ramalan cuaca, bukan nilai aset keluarga.
Gani yang baru saja selesai membenarkan posisi bantal di wajahnya langsung melongo. Ia menatap sahabatnya itu dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan tidak percaya.
"Dih, songong lo, Ken!" sembur Gani sambil melempar balik bantal sofa tadi ke arah Kenzo, yang dengan mudah ditangkap oleh cowok jangkung itu sambil tertawa.
"Tapi beneran, lo sekaya itu ya, nyet?" cerocos Gani lagi, masih agak syok kalau mengingat fakta tersembunyi sahabat sekamarnya ini. "Gue kadang suka lupa kalau temen sekamar gue yang hobi pakai kaos oblong bolong-bolong dan ke kampus naik TransJakarta ini sebenarnya adalah pewaris tunggal dinasti bisnis."
Kenzo meletakkan gelasnya ke atas meja, lalu mendudukkan diri di pinggiran kasur dengan senyum miring yang tipis.
"Bokap gue emang sengaja, Gan. Katanya kalau gue belum bisa lulus skripsi pake keringat sendiri dan hidup prihatin di kost-an, fasilitas gue gak bakal dibalikin," aku Kenzo jujur. "Makanya bokapnya Rindu berani bayar gue mahal buat ngelatih anaknya, karena dia tahu siapa bokap gue. Relasi bisnis."
Gani menggeleng-gelengkan kepalanya, takjub sekaligus ngeri membayangkan lingkaran pertemanan kaum elite.
"Gila, pantesan lo berani ngomong mau nyosor Rindu," gumam Gani dengan cengiran usilnya yang kembali muncul. "Jadi, gimana rencana lo besok? Mau lanjut taktik pelatih menyebalkan, atau langsung gas pol mode sultan demi memikat hati sang Ratu Lintasan?"
Kenzo tertawa lepas mendengarkan pertanyaan Gani. Ia melemparkan bantal sofa itu kembali ke atas kasur dengan santai.
"Liat sikon dulu lah, Bro," jawab Kenzo sambil menyunggingkan senyum miring yang penuh arti.
"Gak lucu kalau gue langsung gas pol terus anaknya malah makin ngamuk dan mogok latihan."
Kenzo mengembuskan napas pendek, lalu melipat kedua tangannya di depan dada. Ada kerutan tipis di dahinya saat mengingat pembicaraan awal dengan pihak keluarga Rindu.
"Tapi... kayaknya bokapnya Rindu emang gak tahu kalau gue ini anak sahabatnya," lanjut Kenzo dengan nada yang lebih serius. "Bokap gue sengaja daftarin gue ke agensi pelatih privat pakai nama belakang nyokap, bukan nama besar keluarga. Jadi, Om Prameswari itu murni rekrut gue karena lihat track record gue sebagai mantan atlet kejurnas dan rekomendasi dari dekan kampus."
Gani langsung menaikkan kedua alisnya, tampak makin tertarik dengan plot twist kehidupan sahabatnya ini. "Lah? Jadi bokapnya Rindu beneran mikir lo cuma mahasiswa biasa yang lagi nyari duit tambahan dengan cara ngelatih anaknya?"
"Iya, makanya tadi gue bilang ke Tria kalau gue kerja profesional sesuai perintah bokapnya Rindu. Si Om itu taunya gue pelatih tegas yang bisa disewa," Kenzo terkekeh pelan, membayangkan bagaimana reaksi ayah Rindu jika suatu saat tahu siapa identitas aslinya. "Bokap gue emang sengaja pengen lihat, bisa gak gue sukses nanganin kasus traumanya Rindu tanpa perlu bawa-bawa nama besar dinasti keluarga."
Gani langsung menepuk paha Kenzo dengan heboh sambil tertawa terpingkal-pingkal.
"Anjir! Ini mah seru banget, Ken! Berarti si Ratu Lintasan dan bokapnya bener-bener gak tahu kalau pelatih 'menyebalkan' yang mereka sewa ini bisa beli klub renang mereka sekalian!" seru Gani puas. "Gue gak sabar nunggu kelanjutan besok. Kira-kira, besok lo bakal diapain lagi sama si Rindu?"
**
Suasana hati Rindu yang tadinya sudah terasa sangat plong dan ringan sepanjang perjalanan pulang, mendadak menguap begitu kakinya melangkah melewati pintu utama rumah mewah keluarganya.
Di ruang tengah, sesosok wanita paruh baya dengan pakaian glamor dan tatanan rambut yang terlalu rapi untuk ukuran sore hari di dalam rumah sedang duduk santai sambil menyesap teh. Diana, ibu tirinya.
Begitu sepasang mata mereka bersitatap, senyum tipis di bibir Rindu langsung hilang. Detik itu juga, Rindu memutar matanya dengan malas, menampakkan ekspresi jengah yang sama sekali tidak ditutup-tutupi.
"Tumben kamu pulang latihan, cepat amat?" tanya Diana, nadanya terdengar manis di permukaan, namun selalu sukses menyisipkan sindiran halus yang memuakkan di telinga Rindu. "Biasanya kan harus diseret dulu sama Coach Hermawan atau papamu baru mau naik dari air."
Rindu menghentikan langkahnya sejenak, meremas tali tas olahraganya dengan agak kencang. Atmosfer rumah ini selalu berhasil mengembalikan mode defensifnya dalam sekejap.
"Pelatih baru gue tahu kapan harus berhenti," jawab Rindu ketus, sengaja menekankan kata 'pelatih baru' untuk menegaskan bahwa era diktator Coach Hermawan atas dirinya sudah selesai. "Dia gak suka buang-buang waktu buat latihan yang gak efektif."
Diana menaikkan satu alisnya, menatap Rindu dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan meremehkan yang terselubung. "Oh, mahasiswa sewaan papamu itu? Yang kamu bilang menyebalkan kemarin? Bagus deh kalau dia tegas, biar kamu gak manja dan prestasimu gak makin merosot."
Rindu mendengus meremehkan. Tanpa berniat membalas ucapan ibu tirinya lebih jauh, ia langsung memutar tubuh dan melangkah cepat menaiki anak tangga menuju kamarnya di lantai dua.
Sambil melangkah, bayangan wajah jahil Kenzo yang mengibaskan tangan di tepi kolam tadi mendadak melintas lagi di kepalanya. Anehnya, mengingat cowok menyebalkan itu justru membuat rasa dongkol Rindu akibat sindiran Diana barusan sedikit mereda.
"Tegas dari mana, orang kerjanya cuma main HP sama bikin gue naik darah," gumam Rindu pelan di depan pintu kamarnya, bibirnya mengerucut sebal namun ada binar hidup yang kembali terpancar dari matanya.
Rindu menutup pintu kamarnya dengan rapat, menguncinya dari dalam, lalu melempar tas olahraganya ke atas sofa beludru. Ia langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur king size-nya yang empuk, menatap langit-langit kamar dengan posisi terlentang.
Keheningan kamar yang mewah itu biasanya selalu membuat kepalanya pening karena bayangan tekanan dari ayah dan ibu tirinya. Namun sore ini, ada satu wajah yang mendadak egois mengambil alih seluruh isi kepalanya.
Wajah tengil Kenzo.
Rindu mendengus pelan sambil membalikkan tubuhnya ke samping, memeluk sebuah bantal guling dengan erat. Di dalam benaknya, senyuman jahil Kenzo saat memanggilnya "cantik" tadi di dekat dispenser seolah berputar ulang seperti kaset rusak. Belum lagi gaya sok santainya saat melipat tangan di dada dan mengibaskan telapak tangan dengan ekspresi *'bodo amat'* yang sangat membagongkan itu.
"Sialan," gumam Rindu, menyembunyikan wajahnya yang mendadak terasa hangat di balik bantal. "Bisa-bisanya ada pelatih se-absurd itu. Cowok aneh."
Rindu mengingat kembali bagaimana jemari Kenzo mengetuk tepi kolam dengan santai, cara cowok itu berbicara yang tidak pernah memojokkannya, dan bagaimana matanya menatap Rindu bukan sebagai mesin pencetak medali yang gagal, melainkan sebagai manusia biasa yang cuma butuh istirahat.
Meskipun mulutnya terus mengatai Kenzo "pelatih bagong" dan "menyebalkan", Rindu tidak bisa membohongi debaran aneh yang menggelitik dadanya.
Untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan terakhir, Rindu tersenyum lepas di dalam kamarnya sendiri. Rasa takut akan air dan trauma kompetisi yang biasanya mencekik, malam ini kalah telak oleh rasa penasaran dan jengkelnya pada sosok Kenzo Adhyaksa.
"Awas aja lo besok," bisik Rindu pada bantalnya, matanya berbinar penuh antisipasi yang sudah lama hilang. "Gue bakal pastiin lo gak berkutik di depan gue."
—bersambung—