NovelToon NovelToon
Saat Asa Berkahir Duka

Saat Asa Berkahir Duka

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Idola sekolah
Popularitas:235
Nilai: 5
Nama Author: TastyTeaTime Time

Sebelumya, bunga ini sempat kehilangan pesonanya, dengan kelopak menunduk, bahkan warnanya pudar. Namun, begitu air menyentuhnya, bunga itu pun mekar kembali, mengingatkan kita bahwa kebahagiaan bisa datang jika mau mengusahakannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TastyTeaTime Time, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bercerita

"Kai, gimana perasaan kamu sekarang?" tanya sang papa.

Kaivandra pun menoleh, kemudian tersenyum, "Selalu baik, terlebih saat pulang ke rumah dan bertemu mama, papa, dan Kiara ..."

Girga terkekeh pelan, karena dia tahu betul bahwa sorot mata Kaivandra tidak bisa berbohong. Ya meskipun sudah ia tutupi dengan senyuman yang terukir di bibirnya.

"Mau ke ruangan kerja, Papa? Di sana abang boleh cerita banyak hal, keluarkan apa yang abang rasakan, jangan dipendam."

Setelah berkata demikian, Girga mengelus punggung Kaivandra. Jika sudah begini, maka Kaivandra tak bisa memepertahankan topeng palsunya itu.

"Abang, jangan membuat Papa merasa tidak berguna. Ceritalah sekarang, biar Papa bisa memberikan saran kalau abang perlu,"

"Pa ... banyak sekali hal yang membuat abang lelah ..." ucapnya pelan.

"Abang bingung harus gimana, banyak sekali hal yang perlu Abang kejar,"

"Abang gagal ya, Pa? Kenapa proses abang begitu sulit?"

"Banyak hal yang bikin abang takut, ditambah dengan isi kepala yang nyaris tak berhenti berpikir. Abang musti gimana?"

Girga menghela napas pelan. Seakan paham apa yang sedang anaknya rasakan sekarang.

"Abang tahu gak, kalau hidup itu bukan sebuah perlombaan yang pemenangnya ditentukan dari siapa yang paling cepat sampai. Mama, Papa, semua orang di dunia ini pasti memiliki rasa takut, dan mungkin mereka juga hanya belajar buat melangkah meski rasa takut itu masih ada,"

"Papa ..."

Dan akhirnya, setelah mengeluarkan isi hatinya, pertahanan Kaivandra pun runtuh. Girga segera memeluk putra sulungnya dengan begitu erat, dalam dekapan sang papa, Kaivandra menangis.

"Valeska sedih lho kalau liat abanganya seperti ini,"

"Jadi kangen dek Valeska." Jawab Kaivandra.

Meski kepergian Valeska sudah bertahun-tahun, tapi tetap saja, meraka masih merasa kehilangan. Terlebih saat melihat anak-anak sepantaran dengan nya.

Dan nyatanya, luka karena kepergian seseorang, bisa lebih sulit untuk disembuhkan. Bahkan sampai detik ini pun belum ada obat yang mampu untuk menyembuhkan rasa sakit karena kehilangan.

***

BRAK!!

Setelah selesai makan malam, seorang anak kecil berlarian dengan sangat kencang. Namun sayangnya, dia tidak melihat sekeliling, sehingga tersandung kakinya sendiri. Orang yang tak sengaja melihatnya pun reflek berteriak hingga membuat si kecil Kiara yang tadinya tidak menangis jadi nangis histeris.

“Adek …”

Panggil Delina dari arah meja makan, dia segera melangkah kemudian menggendong Kiara. Anak itu masih menangis meski sudah berada di gendongan mama nya.

“Lain kali, kalau ada anak jatoh, jangan langsung di panggil, apalagi dengan nada tinggi. Dia jadinya kaget,”

“Iya Bu, maaf. Tadi saya reflek,” jawab mbak Mel, selaku asisten rumah tangga di rumahnya.

“Gapapa, saya hanya memberitahu. Mbak makan malam dulu geh, kalau udah selesai, langsung rapiin meja makan, kebetulan bapak dan Kai makan malamnya sudah selesai,”

“Beneran gapapa, Bu?” tanya Mbak Mel, memastikan.

“Ya beneran, biar Mbak istirahatnya gak kemaleman. Jangan lupa, besok buatkan bekal untuk Kai."

Setelah mendengar penuturan bos nya, mbak Mel segera memanggil lalu berjalan ke belakang. Secara bersamaan, Kai datang bersama sang papa, mereka terkejut saat melihat napas Kiara tak beraturan karena sehabis menangis.

“Lho, cil kamu kenapa?” tanya Kaivandara pada Kiara.

“Aaah, sakit … kaki adek sakit abang,” adunya.

"Adek nangis kenapa, Ma?" tanya Kaivandra karena benar-benar tidak tahu.

"Habis jatoh," jawabnya pelan.

“Makanya diem bocil, lari-larian mulu sih, sakit kan jadinya?”

Kiara hanya mengguk, lalu meminta duduk di pangkuan abangnya. Dengan tenang, Kaivandra mengusap kedua lutut Kiara yang memerah sehabis terbentur kena lantai marmer rumahnya.

“Sakit, abang sakit …”

“Stt … gapapa, nanti juga sakitnya ilang kok, kan diusir sama abang,” jelasanya pelan.

Dari depan sana, Girga tersenyum hangat saat melihat interaksi keduanya, terlebih saat melihat Kaivandara yang sepertinya suasana hati anak itu kian membaik.

“Udah malam, naik ke atas yuk, abang juga besok ada jadwal meeting kan?” tanya Girga pada si sulung.

“Iya, untuk membahas proyek yang di Semarang itu lho Pa, sekertaris Papa jadi ikut meeting, atau gimana?” tanya Kaivandra serius.

“Jadi, dia mewakilkan Papa. Besok kalau ada kendala tolong kasih tahu ya,”

“Okay.”

Pasalnya, setelah lulus kuliah di jurusan Teknik, Kaivandra langsung diarahkan untuk mengurus anak perusahaan sang papa. Tadinya Kaivandra menolak karena dia merasa itu bukan ranahnya, tapi karena ada bujukan dari kedua orang tuanya, dia pun menyutujuinya.

Pukul 21 : 30, mereka berempat mulai naik ke lantai dua, dan masuk ke kamarnya masing-masing. Beberapa lampu sengaja dimatikan hingga menciptakan suasana remang-remang dan sunyi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!