NovelToon NovelToon
Paradoks Waktu

Paradoks Waktu

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Sci-Fi / Misteri
Popularitas:366
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Seorang ojol yang masih muda. mengidamkan hidup di tahun 90an karena cerita kakeknya. siapa sangka keinginannya itu malah membuatnya terjebak dalam lintasan waktu.

Warning: cerita ini alur sangat lambat. dan buat yang punya masalah psikotis lebih baik tak baca cerita ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Tak ada suara. Bahkan dengung halus pendingin komputer pun mendadak lenyap ditelan keheningan. Semua mata terpaku penuh ketegangan pada satu baris kalimat di layar.

​Kalau kamu sedang membaca pesan ini, berarti aku sudah terlambat.

​— Surya Pratama, 2048

​Zain menelan ludah dengan susah payah. "Prof... itu..."

​Profesor Surya mengangkat tangannya pelan, memberi isyarat mutlak agar semua tetap diam. Jarinya yang gemetar mendorong tetikus ke bawah.

​Di balik baris pertama, masih ada rangkaian kata lain. Tulisan itu bermunculan perlahan, seolah berkas tersebut dirancang untuk dibaca bait demi bait.

​Jangan mencari cara mengubah masa lalu.

Aku sudah mencobanya berkali-kali.

​Ardi membeku di tempatnya. "Berkali-kali...?"

​Baris tulisan berikutnya menyusul:

​Setiap kali aku mengubah satu kejadian... akan muncul kejadian lain yang jauh lebih buruk.

​Profesor Surya memejamkan mata rapat-rapat. Kalimat tersebut mencerminkan persis ketakutan terbesar yang selama ini terendam di lubuk hatinya.

​Layar kembali memancarkan baris baru:

​Aku tahu kalian sedang mencari jawaban tentang malam 17 Agustus 1998.

Percayalah... itu bukan awal dari semuanya.

​Zain mengernyitkan dahi. "Bukan awal? Kalau bukan 1998... lalu kapan?"

​Tak ada yang sanggup menjawab. Tulisan berikutnya membuat atmosfer ruangan kian mencekam:

​Awal mula semuanya baru terjadi pada tahun 2042.

​Ardi spontan berdiri dari kursinya. "Mustahil! Bagaimana mungkin insiden tahun 1998 justru berakar dari tahun 2042?"

​Profesor Surya menjawab lirih tanpa membuka mata. "Itulah sifat dasar lingkaran waktu... sebuah penyebab tidak selalu berada di depan akibatnya."

​Pesan misterius itu terus berlanjut:

​Kalian akan berpikir bahwa Gerbang Resonansi adalah sebuah mesin waktu.

Kalian salah.

​Ruangan kembali sunyi. Profesor membaca kalimat itu dengan suara memburu. "Bukan mesin waktu... lalu apa?"

​Teks baru muncul mengikis keheningan:

​Gerbang itu adalah sebuah pintu.

Dan setiap pintu... selalu memiliki sesuatu yang bersemayam di baliknya.

​Zain merasakan merinding hebat menjalar di tengkuknya. Ia seketika teringat peringatan otomatis pada monitor sebelumnya: Sebab dia sudah menunggu. Jangan-jangan... sosol "dia" yang dimaksud di sana bukanlah seorang manusia.

​Baris demi baris perintah terakhir bermunculan:

​Jangan pernah membuka gerbang itu secara penuh.

Kami sudah melakukannya... dan kami sangat menyesalinya.

​Profesor menggenggam erat tepian meja. Tangannya bergetar makin hebat. "Kami... berarti aku tidak sendirian di masa depan," gumamnya pelan.

​Hingga akhirnya, pesan penutup itu hadir:

​Jika masih ada kesempatan... hancurkan Inti Resonansi.

Sebelum seseorang menyalakan Gerbang untuk kedua kalinya.

​Srettt!

​Seketika berkas tersebut menutup dengan sendirinya. Tampilan monitor kembali ke menu desktop utama, seolah-olah pesan mengerikan tadi tidak pernah singgah di sana.

​Ardi dengan panik mencoba mengklik ulang dokumen tersebut. Berkas JANGAN_DIBUKA masih bertengger di folder, namun ukurannya kini telah berubah menjadi 0 KB.

​"Prof!" panggil Ardi panik. "Isinya... hilang!"

​Profesor mencoba membuka dokumen itu kembali, tetapi yang tersisa hanyalah lembaran putih kosong tanpa satu huruf pun. Pesan tadi seakan-akan hanya diizinkan untuk dibaca satu kali saja sebelum memusnahkan dirinya sendiri.

​Semua orang terdiam membisu.

​Kini, sebuah dilema teramat berat membentang di hadapan mereka. Menghancurkan Inti Resonansi berarti memusnahkan seluruh karya dedikasi yang menyita waktu puluhan tahun. Namun jika mereka nekat mengabaikan peringatan tersebut, mereka mungkin sedang melangkah menuju kehancuran masa depan yang ingin mereka cegah.

​Di sudut ruangan, pandangan Zain tertuju pada sepeda motor miliknya yang terparkir membisu. Ia baru menyadari bahwa kendaraan itu bukan lagi sekadar alat mencari nafkah harian. Entah bagaimana prosesnya, motor tua itu telah terseret menjadi bagian penting dari perancangan misteri lintas zaman.

​Dan kini, bayangan dari masa depan seakan memohon kepada mereka untuk menghentikan segalanya... sebelum batas waktu itu benar-benar berakhir.

Ruangan laboratorium dipenuhi keheningan mencekam. Tak ada lagi yang menatap layar monitor. Semua mata justru terpaku pada sebuah benda kecil yang tergeletak di atas meja: Inti Resonansi.

​Benda itu tampak sangat biasa. Ukurannya tidak lebih besar dari kepalan tangan manusia. Namun, sebuah pesan dari tahun 2048 baru saja meminta benda itu untuk segera dihancurkan.

​"Apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Zain membuka suara.

​Profesor Surya tidak langsung menjawab. Ia meraih Inti Resonansi tersebut, mengamatinya dari segala sisi, lalu menggelengkan kepala perlahan.

​"Tidak," jawabnya singkat.

​Ardi terkejut. "Prof?"

​"Aku tidak akan menghancurkannya."

​"Padahal pesan tadi sudah sangat jelas!"

​Profesor mengangguk. "Justru karena pesannya terlalu jelas."

​Zain mengernyitkan dahi. "Maksud Profesor?"

​Profesor meletakkan kembali Inti Resonansi ke atas meja. "Kalau pesan itu benar-benar berasal dari masa depan... berarti orang yang menulisnya sudah mengetahui setiap tindakan yang akan kita ambil."

​"Lalu?"

​"Kalau kita langsung menuruti pesan itu... bagaimana kalau tindakan itulah yang sebenarnya ia inginkan dari kita sejak awal?"

​Ruangan kembali sunyi. Ardi perlahan-lahan mengangguk paham. "Jadi... kita belum tahu pasti apakah pesan itu benar-benar sebuah peringatan, atau jangan-jangan... sebuah jebakan."

​Profesor berdiri di depan papan tulis, lalu menuliskan tiga poin analisis:

​Pesan itu asli.

​Pesan itu palsu.

​Pesan itu asli, tetapi memiliki tujuan yang menyesatkan.

​"Nah..." Profesor berbalik menatap mereka. "Mana yang benar?"

​Tak seorang pun sanggup menjawab. Zain menatap ketiga poin di papan tulis itu cukup lama. "Berarti... kita tidak bisa memercayai siapa pun?"

​Profesor tersenyum tipis. "Dalam dunia penelitian... kepercayaan harus dibangun berdasarkan bukti nyata, bukan didasari rasa takut."

​Tit... Tit...

​Tiba-tiba, alarm kecil di meja Ardi berbunyi nyaring. Ardi segera memeriksa layar tabletnya.

​"Prof... ada sinyal masuk."

​"Dari Gerbang Resonansi?"

​"Bukan. Sinyal ini memancar dari gelang Zain."

​"Lho?" Zain terkejut dan refleks melihat pergelangan tangannya. Ia bahkan sedang berdiri jauh dari sepeda motornya. Namun, gelang itu kini menampilkan sebuah pola baru yang belum pernah terlihat sebelumnya—sebuah koordinat lokasi.

​Ardi dengan cepat memperbesar peta digital. Titik merah berkedip pelan di pinggiran kota. Lokasinya bukan di laboratorium ini, bukan di rumah Zain, juga bukan di area kampus.

​"Ada apa di lokasi itu?" tanya Zain bingung.

​Profesor mengamati peta tersebut beberapa saat, hingga raut wajahnya mendadak berubah drastis. "Aku tahu tempat itu."

​"Di mana, Prof?"

​"Itu... lokasi laboratorium pertama kami. Bukan gedung ini, tapi gudang lama tempat kami memulai penelitian."

​Ardi langsung membuka berkas arsip lama. Benar saja, sebelum laboratorium megah ini dibangun, tim Proyek Kronos pernah mengoperasikan sebuah gudang penelitian kecil di pinggiran kota. Gedung itu telah ditutup rapat sebelum tahun 1998 dan sejak saat itu tak pernah tersentuh lagi.

​"Tapi kenapa gelang saya justru mengarah ke sana?" gumam Zain heran.

​Belum sempat ada yang memberikan jawaban, gelang di tangan Zain bergetar sekali lagi. Layar kecilnya memancarkan dua kata tegas:

​TEMUKAN AKU

​Tulisan itu bertahan selama tiga detik sebelum akhirnya redup dan menghilang.

​Zain perlahan mengangkat kepalanya, menatap Profesor dan Ardi. "Prof... sepertinya ada seseorang yang sedang berusaha menghubungi kita."

​Profesor menatap titik merah di peta tanpa ragu, lalu meraih kunci mobil dari meja. "Kalau begitu... besok pagi kita berangkat ke laboratorium lama."

​Ia menghentikan kalimatnya sejenak sebelum melanjutkan, "Sebab bisa jadi... jawaban yang selama ini kita cari tak pernah ada di gedung ini, melainkan tersimpan rapat di tempat Proyek Kronos pertama kali dimulai."

1
Aegis
dan si kakek mentransfer dia ke masa lalu🥴
DeZigur: kalo mao skip langsung bab 20 aja. misterinya mulai
total 2 replies
Aegis
👍
Aegis
masalah psikotis tuh maksudnya apa bang?
DeZigur: ya kalo orangnya parnoan garaw pas bangun udah di dimensi lain terus ga bisa balik lagi ke kenyataan gimana?
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!