NovelToon NovelToon
Menantu, Tolong Ampuni Aku

Menantu, Tolong Ampuni Aku

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Balas Dendam / Menantu Pria/matrilokal / Kaya Raya / Tamat
Popularitas:10.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ardana Bayu

"Arga Pratama menjalani dua tahun sebagai menantu paling dihina di Jakarta. Keluarga istrinya memperlakukannya seperti benalu. Dia menanggung semuanya dalam diam.

Yang tidak ada yang tahu: dia adalah Acrux, investor anonim di balik Cakra Capital — kekayaan ratusan triliun dan masa lalu militer yang dirahasiakan pemerintah.

Sekarang, satu per satu, mereka akan tahu kebenarannya — dan menyesal."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9

Bab 009: Donasi untuk Panti Asuhan Harapan

Bogor menyambut Arga Pratama dengan udara yang lebih dingin daripada Jakarta.

Mobil hitam tanpa logo itu berhenti dua ratus meter dari gerbang Panti Asuhan Harapan. Arga turun lebih dulu, memakai masker hitam, topi polos, dan jaket lama yang membuatnya tampak seperti pengemudi biasa. Ia meminta sopir menunggu di ujung jalan.

"Saya jalan kaki saja."

Sopir itu mengangguk. Ia sudah cukup lama bekerja untuk Arga untuk tahu kapan tidak bertanya.

Jalan kecil menuju panti masih sama.

Aspal retak. Pohon mangga tua di sudut gang. Warung kecil dengan bangku plastik biru. Bau tanah basah setelah hujan pagi. Suara anak-anak membaca dari sebuah ruangan yang jendelanya sebagian ditutup papan.

Panti Asuhan Harapan berdiri di ujung gang, cat temboknya mengelupas, atap sengnya menua, dan halaman depannya berlubang di beberapa titik. Papan nama di gerbang miring sedikit, huruf H pada kata Harapan mulai pudar.

Arga berhenti di depan gerbang.

Selama beberapa detik, ia bukan Acrux. Bukan mantan Letnan Kolonel. Bukan laki-laki yang bisa menjatuhkan Kusuma Group lewat bank dan regulator.

Ia hanya Jago.

Anak kurus yang dulu duduk di bawah pohon tua di halaman itu karena kamar terlalu penuh. Anak yang belajar membaca laporan koran bekas dari tempat sampah sekolah. Anak yang pada usia delapan belas tahun meninggalkan gerbang ini dengan satu tas kecil dan janji bahwa suatu hari ia tidak akan kembali dengan tangan kosong.

"Mas, cari siapa?"

Suara itu membuatnya menoleh.

Seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun berdiri di dekat kantor kecil. Rambutnya memutih, kemejanya sederhana, matanya lelah tetapi hangat. Anak-anak memanggilnya Pak Kepala Panti.

Arga menunduk sopan. "Saya dari Cakra Capital Foundation."

Pria itu segera merapikan kemejanya. "Oh, silakan, Mas. Maaf tempat kami seadanya."

"Tidak apa-apa."

Mereka masuk ke kantor kecil yang kipas anginnya berputar lambat. Di sudut ruangan, ada ember menampung tetesan air dari atap. Di dinding, foto-foto anak panti dari tahun-tahun lama dipasang berderet. Arga melihat satu foto buram dari lebih dari sepuluh tahun lalu.

Sekelompok anak berdiri di depan pohon tua.

Satu anak di ujung kiri menatap kamera tanpa senyum.

Dirinya.

Pak Kepala Panti mengikuti arah pandangnya. "Itu angkatan lama. Banyak yang sudah pergi. Ada yang kerja di pabrik, ada yang jadi guru honorer. Ada satu anak dulu dipanggil Jago. Pintar sekali. Setelah masuk tentara, kami tidak pernah dengar kabarnya lagi."

Arga tetap menatap foto itu.

"Mungkin dia baik-baik saja," katanya.

"Semoga." Pria tua itu tersenyum kecil. "Anak itu keras kepala, tapi hatinya baik."

Arga membuka map.

Di dalamnya ada perjanjian donasi, rencana renovasi, dan surat pendamping dari kantor hukum Cakra. Semua sudah disusun rapi. Tidak ada nama Arga Pratama. Hanya Cakra Capital Foundation sebagai donatur.

"Yayasan kami ingin membantu pembangunan ulang fasilitas panti," kata Arga. "Ruang kelas baru, asrama yang layak, dapur, klinik kecil, dan perpustakaan."

Pak Kepala Panti menatapnya seperti tidak yakin mendengar kalimat itu.

"Berapa... bantuan yang dimaksud?"

Arga menggeser halaman anggaran.

Rp 70 miliar.

Kipas angin masih berputar.

Tetes air jatuh ke ember.

Pria tua itu membaca angka itu sekali, lalu sekali lagi. Tangannya mulai gemetar.

"Mas," suaranya serak, "ini bukan salah ketik?"

"Bukan."

"Tujuh puluh miliar?"

"Ya."

Pak Kepala Panti menutup mulutnya dengan tangan. Matanya memerah begitu cepat hingga ia sendiri tampak malu. Ia menunduk, menarik napas beberapa kali.

"Maaf," katanya pelan. "Saya... sudah bertahun-tahun mengirim proposal. Biasanya orang datang foto-foto, kasih sembako, lalu pergi. Saya tidak menolak bantuan apa pun. Tapi untuk memperbaiki atap saja kami menunggu tiga tahun."

Arga menatap ember di sudut ruangan.

"Mulai bulan depan, tidak perlu menunggu lagi."

Pria tua itu mengusap mata. "Apa yang harus kami lakukan?"

"Tanda tangan penerimaan melalui notaris rekanan. Dana turun bertahap sesuai progres. Semua pengeluaran diaudit. Dan satu syarat."

"Apa pun, Mas."

"Nama donatur tidak dipublikasikan. Tidak ada konferensi pers. Tidak ada spanduk terima kasih."

Pak Kepala Panti menatapnya. "Bahkan nama yayasan?"

"Cukup tulis bantuan institusi. Anak-anak tidak perlu tahu siapa yang membayar atap mereka. Mereka hanya perlu atap yang tidak bocor."

Pria tua itu terdiam lama.

Lalu ia mengangguk.

Setelah dokumen awal ditandatangani, Arga keluar ke halaman. Beberapa anak sedang bermain bola plastik di tanah yang becek. Salah satu anak laki-laki menendang terlalu keras, bola meluncur ke kaki Arga.

"Mas! Bolanya!"

Arga mengambil bola itu.

"Oper ke siapa?"

"Ke aku!" tiga anak menjawab bersamaan.

Untuk pertama kalinya hari itu, Arga tertawa kecil.

Ia menggulirkan bola pelan, lalu ikut bermain beberapa menit. Sepatunya terkena lumpur. Jaketnya tersenggol tangan kecil yang basah. Anak-anak tidak tahu siapa dia, tidak peduli siapa dia, dan justru karena itu Arga bisa bernapas lebih ringan.

Di bawah pohon tua, ia berhenti.

Batangnya lebih besar daripada ingatannya. Kulit pohonnya retak, tetapi masih hidup. Dulu, di tempat itu, ia sering duduk membaca koran ekonomi bekas tanpa benar-benar mengerti istilah di dalamnya. Ia hanya suka melihat angka, grafik, dan nama perusahaan. Dunia yang jauh dari panti, tetapi bisa disentuh lewat kertas kusut.

Di akar pohon bagian timur, ada goresan kecil yang hampir tertutup lumut.

J.

Huruf itu buruk, miring, dibuat dengan paku berkarat oleh anak laki-laki berusia dua belas tahun yang pernah percaya bahwa jika ia meninggalkan tanda di pohon itu, suatu hari ia pasti bisa menemukan jalan pulang.

Arga berjongkok dan menyentuh goresan itu dengan ujung jari.

Orang-orang SCBD tidak mengenal huruf itu. Keluarga Hartono juga tidak akan mengerti mengapa seorang pria dengan aset ratusan triliun bisa diam begitu lama di depan satu goresan anak kecil.

Seorang bocah mendekat sambil memegang buku tulis robek.

"Mas, nanti perpustakaannya benar ada?"

Arga menoleh. "Kamu suka baca?"

"Suka. Tapi buku cerita di sini banyak yang halamannya hilang."

Arga mengambil buku itu. Sampulnya sudah lepas, halaman tengahnya disambung lakban.

"Nanti buku baru datang."

"Banyak?"

"Cukup banyak sampai kamu bosan memilih."

Anak itu tertawa, tidak percaya tetapi ingin percaya.

Seorang kontraktor datang bersama tim kecil. Arga menunjuk bangunan utama.

"Kelas harus lebih besar. Ventilasi jangan pelit. Perpustakaan jangan jadi gudang sisa. Buat pojok baca yang benar. Anak-anak harus punya tempat duduk yang cukup."

Kontraktor mengangguk cepat. "Siap, Pak."

"Dan jangan ganggu pohon ini."

"Baik."

Arga lalu memanggil staf legal yang menunggu di mobil.

"Audit bulanan wajib terbuka untuk pengurus panti," katanya. "Tidak boleh ada pemotongan tidak jelas. Material bangunan harus sesuai spesifikasi. Kalau ada vendor yang coba main kualitas, ganti hari itu juga."

Staf legal mengangguk sambil mencatat. "Baik, Pak. Dana turun per termin setelah verifikasi foto, kuitansi, dan inspeksi lapangan."

"Tambahkan dana operasional sementara. Selama renovasi, anak-anak jangan dipindah ke tempat yang lebih buruk."

"Akan kami masukkan dalam addendum."

Pak Kepala Panti mendengar semua itu dengan mata yang kembali basah. Kali ini ia tidak menangis karena angka besar, tetapi karena detail kecil: tempat tidur sementara, buku baru, ventilasi, pohon yang tidak ditebang.

Sebelum pulang, Pak Kepala Panti mengantar sampai gerbang.

"Mas, boleh saya tahu kenapa yayasan Anda memilih tempat kami?"

Arga memandang halaman sekali lagi.

"Karena tempat ini pernah menyelamatkan seseorang."

Pria tua itu tidak bertanya lebih jauh.

Di mobil pulang ke Jakarta, Arga mengirim pesan kepada Gacrux.

Bulan depan atur orang cek progres rutin. Jangan sampai kontraktor main angka.

Balasan masuk cepat.

Siap, Bos.

Mobil bergerak menjauh.

Di kaca spion, Panti Asuhan Harapan mengecil pelan, atap tuanya masih miring, dindingnya masih kusam, tetapi untuk pertama kali setelah bertahun-tahun, tempat itu seperti punya masa depan.

Arga menatap bayangannya sendiri di kaca.

"Suatu hari," katanya pelan, "aku akan kembali sungguhan."

1
Solardy Lardy
joooss👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!