NovelToon NovelToon
The Author Of My Own Destiny

The Author Of My Own Destiny

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Sistem / Mengubah Takdir / Transmigrasi ke Dalam Novel
Popularitas:318
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Aria Evander, seorang mahasiswi kedokteran brilian di dunia modern, terbangun di dalam tubuh putri Baron yang bangkrut dalam novel fantasi yang pernah ia baca. Mengetahui nasibnya adalah kematian tragis sebagai pion politik, ia menolak tunduk pada naskah 'takdir'. Dengan bantuan Lumi, roh pena takdir yang memberinya kemampuan memanipulasi narasi realitas, Aria memulai permainan catur politik di Kekaisaran Sihir Elgarth. Ia harus menyeimbangkan antara bertahan hidup, memperbaiki kondisi keluarganya yang terpuruk, dan menjinakkan hati para penguasa yang memegang kunci kelangsungan dunianya, sambil menyadari bahwa setiap perubahan yang ia buat menciptakan riak yang mengancam keseimbangan antara terang dan kegelapan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perbatasan

Udara di ruang kerja Aria terasa jauh lebih berat dari biasanya. Seolah-olah oksigen telah berubah menjadi timah yang menekan paru-parunya. Lilin di atas meja kayu ek yang mulai lapuk itu menyala redup, nyalanya menari-nari gelisah, seolah ikut merasakan ketegangan yang merayap di balik dinding-dinding batu kediaman Evander yang dingin. Di atas meja, sebuah peta kuno kekaisaran terbentang lebar, permukaannya kasar dan menguning dimakan usia. Sebuah tanda silang merah, tajam dan tegas, dibuat oleh tangan Aria sendiri tepat di area utara perbatasan.

Lumi, sang roh pena, melayang di atas bahu Aria. Cahaya keemasan yang biasanya berpijar tenang kini tampak berkedip-kedip, redup dan tajam secara bergantian, seperti detak jantung yang tidak stabil.

“Aria, anomali itu bukan sekadar gangguan mana biasa,” bisik Lumi. Suaranya halus seperti desiran angin di padang rumput, namun mengandung getaran peringatan yang nyata, sebuah resonansi magis yang membuat bulu kuduk berdiri.

“Aku tahu,” sahut Aria singkat. Jemarinya yang lentik menelusuri garis perbatasan utara di peta tersebut. Pikirannya melayang pada laporan intelijen yang dikirimkan Adrian pagi tadi; sebuah kekacauan yang tak lazim di wilayah Kaisar Magnus, sebuah bisikan tentang kegelapan yang mulai merayap keluar dari sela-sela realitas.

Ia memejamkan mata sejenak, memusatkan konsentrasi untuk memanggil kembali ‘Time Vision’ miliknya. Bayangan-bayangan fragmen masa depan melintas di balik kelopak matanya seperti pecahan kaca yang retak dan tajam. Ia melihat kabut hitam yang menelan hutan-hutan pinus, dan suara jeritan yang tertahan oleh dinding sihir yang mulai koyak, hancur berkeping-keping oleh kekuatan yang tak seharusnya bangkit.

“Ini bukan sekadar takdir yang sedang bergeser, Lumi. Ini adalah upaya paksa untuk menulis ulang naskah yang sudah ditentukan oleh semesta,” gumam Aria. Ia membuka mata, netranya yang tajam menatap kosong ke arah kegelapan jendela yang memantulkan bayangannya sendiri—sosok putri bangsawan yang seharusnya hancur, namun kini berdiri tegak di atas reruntuhan takdirnya sendiri.

Tiba-tiba, pintu ruang kerja itu diketuk pelan. Aria segera menyembunyikan peta tersebut dengan tumpukan dokumen keuangan keluarga yang sedang ia tata, menyamarkan rahasia dunia di balik angka-angka kemiskinan yang membosankan.

“Masuk,” ucapnya tegas, mengusir semua jejak keraguan dari wajahnya. Ia menegakkan punggung, memastikan topeng ketenangan itu terpasang sempurna.

Pintu terbuka perlahan, menampakkan sosok Leon Ardent yang berdiri kaku. Seragam kesatriannya tampak berdebu, seolah ia baru saja menempuh perjalanan jauh dari perbatasan yang dihantui badai. Tatapan mata pria itu tidak seceria biasanya; ada gurat kelelahan yang dalam dan kecemasan yang tertahan di balik iris matanya yang jujur.

“Lady Aria,” sapa Leon sambil membungkuk sekilas. Ia melangkah masuk, suara derap sepatunya terdengar berat, memecah keheningan yang menyesakkan di dalam ruangan.

“Ada kabar dari utara, Leon?” tanya Aria tanpa membuang waktu. Ia berdiri, membiarkan gaunnya menyapu lantai dengan gerakan yang anggun namun penuh kewaspadaan. Ia tidak ingin membuang detik yang berharga.

Leon terdiam sejenak. Ia tampak menimbang-nimbang setiap kata yang hendak ia ucapkan, seolah takut jika kata-katanya akan menjadi pemicu kehancuran. Jemarinya mencengkeram erat sarung pedang di pinggangnya, buku-buku jarinya memutih, menunjukkan kegelisahan yang coba ia sembunyikan di balik sikap prajuritnya.

“Monster-monster tingkat rendah mulai terlihat di dekat pemukiman rakyat, Lady. Namun, itu bukan hal yang paling mengkhawatirkan,” ucap Leon pelan. Ia menatap Aria dengan sorot mata yang dalam, mencoba mencari jawaban di balik ketenangan sang putri bangsawan yang tak terduga ini.

“Katakan semuanya, Leon. Jangan ada yang disembunyikan dariku,” perintah Aria. Ia berjalan mendekati pria itu, menjaga jarak agar tidak melewati batas etika, namun cukup dekat untuk merasakan ketegangan yang memancar dari sosok sang komandan.

“Pangeran Kael telah mengerahkan pasukannya secara diam-diam. Kaisar Magnus... mereka bilang ia tidak lagi terlihat di istananya sejak tiga hari yang lalu,” lanjut Leon. Suaranya hampir tenggelam dalam keheningan ruangan, berat oleh beban rahasia yang ia bawa.

Aria tertegun. Jika Magnus bergerak, artinya permainan catur ini sudah memasuki babak yang jauh lebih mematikan daripada apa yang tertulis dalam novel asli. Ia menyadari bahwa posisinya sebagai pion yang ia sangkal kini secara tidak sengaja telah menjadikannya target utama dari konspirasi yang jauh lebih besar. Ia adalah bidak yang menolak untuk dimakan.

“Jadi, ia mulai bermain di luar garis,” desah Aria. Ia memutar tubuh, memandang kembali ke arah peta yang tersembunyi. Pikirannya berpacu, menghitung kemungkinan dan risiko yang harus ia tanggung.

“Lady?” panggil Leon. Ia tidak mengerti apa yang Aria maksud, namun ia tahu bahwa wanita di depannya ini memiliki beban yang jauh lebih berat dari sekadar urusan ekonomi keluarga yang bangkrut. Ada aura kepemimpinan yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

Aria menoleh, memberikan senyum tipis yang penuh perhitungan. Ia tahu bahwa ia tidak bisa lagi diam dan membiarkan naskah itu berjalan sesuai keinginan Magnus atau Evelyn yang licik. Ia adalah penulisnya sekarang.

“Leon, siapkan kudaku dan persiapkan tim kecil yang paling kau percayai. Kita tidak bisa menunggu instruksi istana yang lamban,” tegas Aria. Ia mengambil pena perak dari balik meja, cahaya mana tipis mulai membungkus ujung penanya, berkilau seperti bintang yang jatuh.

“Kita akan pergi ke perbatasan sebelum kabut itu menelan segalanya,” lanjut Aria. Ia menuliskan sesuatu pada secarik perkamen dengan kecepatan yang tidak wajar. Setiap goresan tintanya tampak bercahaya, seolah ia sedang mengikat realitas itu sendiri ke dalam kata-kata.

Leon terbelalak. Ia tahu tindakan ini bisa dianggap sebagai pengkhianatan jika dilakukan tanpa izin, namun melihat tatapan Aria yang berkilat penuh keyakinan dan wibawa, ia tidak bisa membantah. Ada daya tarik magis dalam tekad wanita itu.

“Baik, Lady Aria. Saya akan bersiap,” jawab Leon mantap sebelum berbalik pergi dengan langkah yang lebih terarah.

Setelah Leon keluar, Aria memandang ke arah Lumi yang masih melayang masih melayang di sana. Roh itu kini tampak lebih besar, cahayanya memenuhi ruangan, menyinari setiap sudut yang sebelumnya gelap.

“Kau yakin akan melakukan ini? Mengubah naskah saat variabelnya sedang tidak stabil adalah tindakan bunuh diri, Aria,” peringatan Lumi terdengar lebih serius dari biasanya, suaranya mengandung nada ketakutan yang tulus.

Aria tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak menyentuh hatinya, melainkan sebuah pernyataan perang terhadap takdir yang selama ini mencoba membelenggu kehendak bebasnya.

“Jika aku harus mati, Lumi, aku akan mati sebagai orang yang menulis akhir ceritaku sendiri. Bukan sebagai figuran yang tumbang karena kehendak orang lain,” sahut Aria. Ia menatap ke luar jendela, ke arah utara di mana langit mulai berubah warna menjadi ungu pucat, warna dari sebuah malapetaka yang mendekat.

Ia memegang pena itu erat-erat. Jantungnya berdegup kencang, sebuah perpaduan antara ketakutan yang mencekik dan gairah untuk memenangkan permainan ini. Di kejauhan, petir menyambar tanpa suara, seolah langit Elgarth sendiri sedang merintih karena perubahan yang akan segera terjadi akibat tulisannya.

Ini adalah awal dari akhir, atau mungkin, sebuah awal yang benar-benar baru bagi Aria Evander. Ia menarik napas dalam, membiarkan dinginnya malam meresap ke dalam jiwanya, bersiap untuk mengubah dunia satu goresan tinta demi satu goresan tinta.

1
Rahman Hayati
lanjut
Rahman Hayati
baru mampir thir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!