NovelToon NovelToon
OBSESSION OF THE SEVEN

OBSESSION OF THE SEVEN

Status: sedang berlangsung
Genre:BTS / CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Harem
Popularitas:274
Nilai: 5
Nama Author: aera_yong

Genre: Dark Romance / Reverse Harem / Thriller Psikologis.

Premis Utama: Althea, seorang gadis yatim piatu yang bekerja sebagai pengarsip dokumen kuno, terjebak di dalam "Septem Foundation"sebuah yayasan elit rahasia di bawah kendali tujuh pria berkuasa dan manipulatif yang terinspirasi dari pesona member BTS.

Kehadiran Althea di mansion tersebut ternyata bukan kebetulan, melainkan sebuah jaring laba-laba yang sudah disiapkan sejak lama. Ketujuh pria ini memiliki masa lalu kelam yang terikat dengan Althea, dan kini mereka bersaing secara dingin sekaligus obsesif untuk saling memperebutkan hak "memiliki" dirinya. Cinta mereka yang awalnya terasa seperti perlindungan mewah perlahan berubah menjadi sangkar emas yang posesif, berbahaya, dan mematikan.

Ketegangan psikologis saat Althea mencoba mengungkap misteri ingatan masa lalunya yang hilang, sembari bertahan hidup di antara dominasi, manipulasi, dan cinta gila dari tujuh pria

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aera_yong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Fajar Baru di Atas Takhta Darah (3)

Konsep ruang dan waktu di dalam kediaman utama Septem Foundation telah bergeser secara radikal. Paviliun kaca di tengah taman pinus tempat yang dulu dibangun untuk mengurung Althea seperti objek pajangan akuarium kini dibiarkan kosong, menyisakan pantulan cermin satu arah yang dingin sebagai monumen kegagalan Protokol bersama mereka.

Althea tidak lagi tidur di bawah pengawasan kamera tersembunyi yang mendeteksi setiap kedipan matanya. Ia telah memindahkan seluruh eksistensinya ke lantai paling atas mansion, menempati kamar utama bergaya kolonial yang dulunya merupakan wilayah kekuasaan absolut milik Rm.

Kamar itu adalah perwujudan dari otoritas baru. Dinding-dindingnya dilapisi kayu gelap berukir abad ke-19, dikelilingi oleh rak-rak buku hukum internasional yang menjulang tinggi hingga ke langit-langit, dan permadani Persia tebal berwarna merah darah yang menutupi lantai marmernya.

Di tengah ruangan, sebuah ranjang king-size dengan tiang-tiang penyangga dari besi tempa hitam berdiri megah. Althea telah mengubah ruang kerja sang diktator hukum menjadi singgasananya sendiri.

Pagi itu, fajar menyingsing dengan warna merah keunguan yang ganjil di ufuk timur. Langit seolah-olah sedang melukis firasat buruk di atas hutan pinus yang mengepulkan kabut tebal.

Althea berdiri di dekat jendela busur yang besar, jubah sutra hitam panjangnya menyapu lantai. Di bagian punggung jubah tersebut, terdapat sulaman benang perak berbentuk kupu-kupu yang sayapnya tampak tajam seperti mata pisau.

Di tangannya, Althea menyesap secangkir teh kamomil hangat. Sesuai dengan ritme baru, setiap Senin pagi, Jin akan mengantarkan sendiri nutrisi tersebut. Namun kali ini, Jin tidak lagi membawa nampan perak dengan arogansi seorang dokter yang sedang mengontrol pasiennya. Pria tertua itu berdiri dua langkah di belakang Althea, mengawasinya dengan tatapan mata yang dipenuhi oleh pengabdian yang gila sekaligus rasa cemas yang tak bisa disembunyikan.

"Suhu tubuhmu stabil pagi ini, Althea-ku," suara Jin memecah keheningan kamar dengan nada baritonnya yang lembut.

Ia melangkah satu jengkel lebih dekat, jemarinya yang hangat perlahan merapikan helai rambut Althea yang tertiup angin malam dari celah jendela.

"Campuran herbal yang kubuat bekerja dengan sempurna pada sistem sarafmu. Kau tidak lagi terjaga karena kecemasan."

Althea tidak menoleh. Ia hanya menatap pantulan wajah Jin di kaca jendela yang buram oleh embun.

"Kecemasan adalah milik kalian sekarang, Tuan Jin. Bukan milikku lagi. Bagaimana kabar Jimin di sayap barat?"

Jin mengulas senyuman miring yang dingin, sebuah ekspresi yang menyembunyikan rasa puas atas penderitaan saudaranya.

"Jimin masih menolak keluar dari kamarnya setelah kau memotong hak aksesnya untuk hari Kamis ini. Dia mengurung diri seperti serigala yang kehilangan taringnya. Kau benar-benar tahu cara menghukumnya, Sayang."

Sebelum Althea sempat membalas, pintu kayu ek ganda kamar tersebut didorong terbuka dengan sentakan yang kasar sebuah pelanggaran privasi yang sangat jarang terjadi sejak Althea mengambil alih takhta.

Kim Namjoon melangkah masuk dengan langkah kaki yang terburu-buru. Pria tertinggi di Septem itu biasanya selalu tampil dengan setelan jas tiga lapis yang rapi dan ketenangan seorang eksekutif yang dingin.

Namun pagi ini, kancing kerah kemeja putihnya terbuka, rambut asimetrisnya berantakan, dan wajahnya tampak pucat pasi. Di tangan kanannya, ia mencengkeram sebuah dekoder satelit taktis yang layarnya terus berkedip-kedip memancarkan warna merah darah yang intens.

"Keluar, Jin," perintah Rm tanpa menoleh, suaranya terdengar sangat berat dan dipenuhi oleh tekanan urgensi yang tinggi.

Jin berbalik sepenuhnya, matanya menyipit tajam, langsung memasang posisi protektif di depan Althea. "Ini hari Senin, Rm. Jadwalku untuk memastikan stabilitas emosional dan fisik Althea. Kau tidak bisa masuk dan memerintah ku di kamarnya."

"Aku bilang KELUAR!" bentak Rm, suaranya menggema hebat menembus langit-langit kamar, membuat cangkir porselen di tangan Althea sedikit bergetar. Rm mengangkat dekoder tersebut ke udara.

"Ini bukan tentang ego Protokol kita lagi. Ini tentang kelangsungan hidup kita semua. Jaringan siber kita di Eropa baru saja ditembus."

Althea perlahan meletakkan cangkir tehnya di atas meja konsol mahoni. Ia melangkah maju, melewati tubuh Jin, lalu berdiri tepat di hadapan Rm. Matanya yang dingin menatap layar dekoder yang menampilkan rentetan baris kode enkripsi yang rusak berantakan.

"Apa artinya ini, Rm? Berbicaralah dengan jelas."

Rm mengatur napasnya yang memburu, menurunkan pandangannya untuk menatap Althea dari balik kacamatanya yang sedikit miring.

"Satu tahun yang lalu, saat kau melarikan diri ke Saint-Malo, Prancis, aku menggunakan seluruh otoritas hukum dan jaringan proxy tingkat tinggi milik Septem Foundation untuk menghapus identitas sipil mu. Aku menciptakan dokumen kematian palsu yang begitu sempurna hingga interpol sekalipun mendeteksi bahwa Althea yang asli telah tenggelam di sungai."

Rm mengambil napas dalam, wajahnya menegang di bawah temaram lampu fajar.

"Dua jam yang lalu, seseorang di Jenewa berhasil menjebol dinding api (firewall) kuantum yang kubuat. Mereka tidak hanya meretas datanya mereka memulihkan seluruh catatan medis, sidik jari, dan paspor lamamu dari server Prancis. Identitas aslimu sebagai manusia bebas sedang diburu di pasar gelap internasional."

Althea menyipitkan matanya.

"Siapa yang memiliki kemampuan untuk menembus sistem hukum dan siber milikmu?"

"Acheron Group," desis Namjoon, nama itu keluar dari bibirnya seperti kutukan yang mematikan.

"Konglomerat hitam terbesar di Swiss yang menjadi rival abadi yayasan kita dalam perebutan pengaruh di Uni Eropa. Selama ini mereka mencari titik lemah Septem untuk menghancurkan monopoli bisnis kita. Dan pagi ini... mereka baru saja menemukan titik lemah itu."

Rm melangkah lebih dekat, menatap Althea dengan binar mata yang dipenuhi oleh campuran antara obsesi posesif yang gila dan ketakutan akan kehilangan.

"Mereka tahu tentangmu, Althea. Mereka tahu bahwa ketujuh pria yang mengendalikan Septem Foundation kini sedang bertekuk lutut di bawah perintah seorang gadis yatim piatu.

Acheron sedang mengirimkan tim intelijen mereka untuk merebutmu dari rumah ini, bukan untuk menyelamatkanmu, melainkan untuk menjadikanmu sandera guna memaksa kami menyerahkan seluruh aset internasional Septem."

Suasana di dalam kamar utama seketika berubah menjadi neraka yang beku. Althea bisa merasakan bagaimana aura Jin di belakangnya mendadak menggelap, sementara Rm berdiri di hadapannya dengan kepalan tangan yang bergetar menahan amarah yang luar biasa.

Rencana Althea untuk menghancurkan aliansi mereka dari dalam kini harus berbenturan dengan kenyataan baru yang kejam. Dunia luar yang ia kira telah melupakannya, kini sedang bergerak mendekat dengan taring yang siap mengoyak takhta barunya.

Serigala-serigala Septem mungkin telah jinak di bawah kakinya, namun kini, serigala-serigala dari luar sedang bersiap untuk meruntuhkan seluruh istana kaca mereka.

Althea perlahan mengulas senyuman miring yang sangat tipis dan dingin di bibirnya, menatap langsung ke dalam mata Rm.

"Mereka mengira aku adalah titik lemah kalian? Menarik. Panggil Suga, J-Hope, dan Jungkook ke ruang meja bundar sekarang juga. Jika Acheron Group ingin bermain dengan kematian, mari kita tunjukkan pada mereka bagaimana cara kerja penguasa yang sesungguhnya."

Fajar hari Senin itu tidak lagi membawa ketenangan Protokol. Musim ketiga baru saja dimulai, dan aroma darah pertempuran internasional sudah mulai tercium dari balik rimbunnya hutan pinus Septem.

---

Bersambung~

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!