Lady suka uang.
Lady juga cinta uang!
But, jika Lady disuruh memilih antara Ace atau uang, maka jawabannya sudah pasti Ace, karena bagi Lady, Ace adalah sumber uangnya. Simple kan jawabannya..
Menikah dengan Ace adalah salah satu hal yang tak pernah terlintas di pikiran Lady. Menikah dengan cowok galak yang memiliki tingkat kesabaran setipis tisu. mungkin juga lebih tipis dari tisu, gak tau deh.
Andaikan saja cowok itu tidak kaya raya serta berwajah jelek, maka mustahil Lady mau menerima perjodohan paksa ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon capr.gurlll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 8
"Gue nggak mau ngerjain masalah rumah tangga kayak ginian, jadi mending lo nyewa ART aja." lanjut Lady, ia menghela nafasnya tanpa mau menatap wajah Ace yang kini sudah menatapnya dengan alis yang tertekuk tajam.
"Gue nggak mau," tolak Ace.
Glora melotot tak terima. "Why? Lo, kan, punya banyak duit buat nyewa ART di rumah ini."
"Bukannya gue nggak mampu buat nyewa, tapi gue nggak suka kalau rumahnya nambah orang lain lagi," ucap Ace dengan tegas.
"Ace, please. Gue nggak bisa ngerjain apa-apa. Di rumah orang tua gue aja, gue punya Mbok Yaya yang selalu ngurusin semua keperluan gue. Mulai dari pakaian, nyiapin makanan, nyuciin baju, beres-beres rumah, dan lain-lain deh pokoknya," jelas Lady, berharap Ace akan berubah fikiran dan menyewa ART di rumah ini.
Ace terkekeh. "Pantesan nggak bisa ngerjain apa-apa. Anak manja, toh, ternyata."
"Gue nggak mau tahu, pokoknya kita harus ngerjain asisten rumah tangga di sini!"
"Sekali gue bilang nggak, ya, nggak!" tegas Ace yang tak ingin dibantah.
"Tapi-"
"Tapi apaan?! Gue bukan Mommy lo yang mau nerima sikap manja lo itu!"
Lady berdecak melihat Ace yang sama sekali tidak ingin dibantah. Cowok itu kelihatan super serius dengan omongannya.
Aduh, Lady jadi gemas pengen ngerobek-robek wajah ganteng Ace dengan kuku panjangnya sampai berdarah. Membayangkannya saja sudah membuat Lady tertawa jahat.
Eh, nggak jadi. Lady nggak tega melihat muka seganteng itu malah jadi lecet.
Sambil menemani Ace makan, Lady membuka handphone-nya dan memeriksa pesan masuk yang baru dikirimkan oleh Leon.
Pesan singkat yang membuatnya melotot kaget.
Leon : Tadi, Mbok Yaya nelfon gue, katanya Mommy masuk rumah sakit lagi.
...••••...
Dengan langkahnya yang lebar, Leon terlihat memasuki sebuah rumah sakit yang terletak di tengah-tengah kota Jakarta.
Cowok bertindik hitam itu nampak dengan santainya berjalan sambil membawa sebungkus bubur ayam di tangannya tanpa menghiraukan lirikan genit dari para perawat di sana.
Eh, Pak Her. Bapak mau kemana?" tanya Leon ketika dirinya tidak sengaja berpapasan dengan seorang pria paruh baya yang tinggal serumah dengannya.
Pak Her, supir di rumah keluarga Leon tersebut lantas tersenyum lebar saat tidak sengaja berpapasan dengan bos mudanya di rumah sakit ini.
"Saya mau keluar sebentar buat nyari udara segar, Nak. Di dalam rasanya pusing nyium bau obat-obatan terus seharian," ucap Pak Her terkekeh kecil.
Leon mengernyit. "Terus yang jagain Mommy saya di dalam siapa?"
"Di dalam ada istri saya, kok. Dia yang jagain Nyonya," jawab Pak Her, membuat Leon mengangguk.
Leon meninggalkan Pak Her dan melangkah ke salah satu ruangan VVIP yang terletak di pojokan dengan nama 'Anetta Ladyanna' yang tertempel di depan pintunya.
"Mommy mana, Mbok?" tanya Leon pada Mbok Yaya yang membukakannya pintu.
"Nyonya ada di dalam, Nak. Nyonya nggak mau makan apa-apa dari tadi siang," jawab Mbok Yaya, seorang wanita paruh baya dengan rambutnya yang sudah memutih.
Beliau adalah istri dari Pak Her yang juga berkerja di rumah keluarga Leon sebagai asisten rumah tangga selama 18 tahun. Bisa dibilang, Leon dan Lady sudah menganggap Mbok Yaya sebagai keluarga mereka.
"Leon," lirih Netta yang membuat Leon langsung berjalan menghampirinya.
Netta merentangkan kedua tangannya yang langsung disambut pelukan hangat oleh Leon.
"Muka kamu kenapa? Kok, penuh bekas luka gitu?" tanya Netta dengan lembut seraya melepas pelukannya.
Leon menggeleng pelan. "Tadi, habis tawuran sama anak-anak yang lain, Mom. Ace juga ikutan."
Setelah mendudukkan dirinya di samping Netta, Leon kemudian mengeluarkan bubur yang ia bawa dan memindahkannya ke mangkuk kosong.
"Makan, Mom. Biar aku yang suapin." Leon menyodorkan sesendok bubur ayam di depan mulut Netta.
Netta menggeleng pelan kepalanya. Wajahnya yang semakin hari semakin terlihat pucat, membuat Leon meneguk ludahnya berkali-kali.
"Mommy masih kenyang. Entar aja, ya?"
"Sekarang. Aku tau kalau mami belum makan dari tadi," ujar Leon dengan lembut sambil melirik dua mangkok bubur yang belum tersentuh sama sekali di atas nakas.
"Leon," gumam Netta pelan.
"Iya, Mom?"
"Mommy kangen sama papi kamu,"
...••••...
Hari pun dengan begitu cepat berlalu, di hari minggu yang cerah ini, Setelah mereka berdua pulang dari ibadah Gereja, ibadah gereja pertama untuk mereka berdua, bersama-berdua, tanpa di temani orang tua lagi.
Lady terlihat sedang menghampiri Ace di dalam ruangan gaming milik cowok itu sambil mengeringkan rambutnya menggunakan hairdryer.
Bisa dibilang, ini adalah hari minggu kedua untuk Lady dan Ace. Dua minggu menikah.
"Ace," panggil Lady kepada Ace yang sedang bermain PlayStation sambil merokok di dalam ruangan itu.
"Hmm." Ace berdehem tanpa mengalihkan pandangannya dari televisi.
"Ace, mobil Papa lo Mercedes-Benz, kan?" tanya Lady, membuat Ace menoleh kepadanya.
Ace menghembuskan asap rokoknya. "Kenapa emang?"
"Mereka datang tuh."
PIP!
Ace tersentak ketika mendengar suara klakson mobil di depan pagar rumahnya. Buru-buru cowok itu mematikan rokok dan juga PlayStation-nya.
Ace kemudian menatap Lady yang masih mengeringkan rambutnya sambil memakai daster pink selutut.
"Cincin lo mana?" tanya Ace.
"Ini," jawab Lady sambil menunjukkan cincin di jari manisnya. "Kalau cincin lo mana?" Lady balik bertanya saat tidak melihat cincin nikah Ace di jari cowok itu.
Ace menunjukkan kalung titanium di lehernya. Di kalung itu terdapat cincin nikahnya yang ia pasang.
"Kok cincinnya lo simpan di situ, sih?" tanya Lady kebingungan.
"Biar nggak dilihat sama orang," jawab Ace. Setelahnya, cowok itu turun untuk membuka pagar yang masih terkunci. Mamanya yang cantik itu pasti bakal ngoceh kalau menunggu terlalu lama.
Lady terdiam sejenak mendengar ucapan Ace. Benar juga, sih, kata Ace.
"Papa sama mama, kok, tiba-tiba datang?" tanya Ace
George yang sedang berdiri di samping kolam ikan lantas melirik putra tunggalnya itu. "Mama sama Papa mau pergi ke Spanyol."
"Halo, Sayang!" sapa Archella sambil melambaikan tangannya.
Mendengar suara Mamanya, pandangan Ace lantas tertuju kepada Lady yang menuruni tangga. Iris hazel cowok itu tertuju pada kalung yang melingkar di leher Lady. Kalung yang terdapat cincin nikahnya.
Ikut dikalungin juga, toh, ternyata.
"Halo, Ma," sapa Lady sambil mencium tangan kedua mertuanya tersebut.
"Sini, Sayang. Duduk di samping Mama aja. Kami berdua mau ngobrol sama kalian," ucap Archella tersenyum manis sambil menarik tangan Lady agar duduk di sampingnya.
"Jadi, gini, Mama sama Papa mau ke Spanyol sampai tiga bulan. Kami kesini buat pamitan sama kalian," ujar George sembari memberi makan ikan-ikan Ace di kolam.
Ace melirik papanya tersebut. "Emang kenapa, Pa? Kok, tiba-tiba?"
"Papa mau tanda tangan kerja sama dengan perusahaan lain dari Spanyol. Sebenernya, tanda tangan kontraknya nggak sampai tiga bulan, tapi Papa sama mama mau sekalian ngejengukin keluarga kita yang di sana," jelas George. Mengingat ia asli berdarah Spanyol, jadilah para keluarga besarnya berada di negara itu.
Lady tersenyum mendengar ucapan papa mertuanya barusan. Kerja sama bisnis? Pasti Ace bakal dapat lebih banyak duit kalau perusahaan Papanya lancar.
Haleluya, punya suami anak tunggal kaya raya.
"Kami tadi habis dari rumah sakit buat ngejengukin Anetta. Kami juga sekalian pamitan sama Netta kalau kami berdua mau pergi ke Spanyol," ucap Archella, membuat Lady langsung melirik kepadanya.