Bagi Arvin, Karin bukan sekadar tante dari sahabatnya. Karin adalah tempatnya pulang, tawa yang selalu ia cari, dan masa depan yang ingin ia tuju. Di saat kedekatan mereka mulai mencairkan dinding perbedaan usia, sebuah kencan tak sengaja justru membawa kembali bayang-bayang masa lalu Karin yang belum usai.
Ketika masa lalu menuntut tempatnya kembali, akankah Karin bertahan pada zona nyamannya, atau berani melangkah demi rasa yang lebih dari sekadar tante?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agatha soul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Modus di atas motor
Sore harinya, seluruh rombongan sudah kembali ke losmen untuk membersihkan diri dari sisa-sisa pasir pantai. Semua orang bergantian mandi dan sudah rapi dengan pakaian ganti masing-masing. Di dalam kamar, tinggal Karin yang belum sempat bersiap karena dia harus memandikan Lulu terlebih dahulu di kamar mandi dalam.
Begitu selesai dimandikan dan dipakaikan baju bersih, Lulu langsung berlari keluar kamar dengan riang untuk bergabung dengan teman-teman Reza yang sedang berkumpul di teras depan losmen.
Tak lama kemudian, langkah kaki seseorang terdengar mendekat ke arah teras. Rupanya, fotografer keliling yang mereka temui di pantai tadi siang sudah datang membawa pesanan mereka.
"Vin! Arvin! Ini ada tukang foto yang tadi nih!" panggil Bima setengah berteriak dari teras.
Arvin yang saat itu sedang merapikan tasnya langsung melangkah keluar. Namun, belum sempat Arvin menerima hasil cetakan dari tangan si fotografer, bungkusan foto itu sudah lebih dulu direbut dan dibuka paksa oleh tangan jahil teman-temannya yang penasaran.
Arvin tidak mempedulikan kehebohan mereka untuk sesaat. Dia menatap si fotografer. "Berapa semuanya, Mas?" tanya Arvin.
Setelah si fotografer menyebutkan nominal harganya, Arvin langsung merogoh dompetnya, mengeluarkan beberapa lembar uang, dan membayarnya lunas tanpa ragu sedikitpun. "Makasih, Mas," ucap Arvin.
Begitu si fotografer pergi, ledakan tawa dan sorakan langsung pecah di teras losmen. Bima, Dito, Reno, dan Fino heboh memandangi foto ketiga di mana Arvin sedang menggendong Lulu dengan Karin yang tersenyum manis di sampingnya.
"Wah, parah sih ini! Fix, keluarga bahagia banget kelihatannya!" goda Dito sambil menunjukkan foto itu ke arah Reza yang langsung memasang wajah masam.
"Anjir, Vin! Muka lo di sini tumben amat ada manis-manisnya, biasanya kayak tripleks!" timpal Reno memanas-manasi.
Lulu yang melihat foto dirinya dipajang langsung ikut menyelip di antara kerumunan cowok-cowok itu. Bocah kecil itu melompat-lompat senang sambil menunjuk wajahnya sendiri di foto. "Lulu cantik, kan? Lulu cantik, kan di situ?" serunya polos.
Aurel yang gemas langsung menarik Lulu ke dalam pelukannya. "Iya, cantik banget sayang," jawab Aurel sambil tersenyum lebar, meski matanya sempat melirik ke arah Reza yang tampak semakin mencurigai gerak-gerik sahabatnya itu.
Di tengah kehebohan yang merajai teras, pintu kamar akhirnya terbuka. Karin keluar dengan penampilan yang sudah segar kembali, rambut panjangnya yang sedikit basah digulung rapi ke atas. Dia mengernyitkan dahi melihat teman-teman keponakannya berkumpul sambil berteriak-teriak.
"Ada apa sih? Heboh amat sampai kedengaran ke dalam," tanya Karin heran sambil berjalan mendekati mereka.
"Nih, Tan! Fotonya udah jadi!" sahut Dito sigap, langsung mengulurkan selembar foto terbaik itu kepada Karin.
Karin menerima foto tersebut. Saat melihat hasil cetakan gambarnya dengan Lulu, dan terutama foto bertiga bersama Arvin yang sedang menggendong keponakan kecilnya, sudut bibir Karin otomatis melengkung menciptakan senyuman lebar. Warna fotonya cerah, dan ekspresi mereka bertiga tampak begitu hidup.
"Wah... bagus banget hasilnya. Masnya pinter nih ngambil sudutnya," ucap Karin pelan dengan nada suara yang sangat puas, mengabaikan fakta bahwa di dalam foto itu dia dan Arvin memang terlihat sangat serasi seperti sepasang kekasih yang sedang berlibur bersama anaknya.
Di sudut teras, Arvin yang diam-diam memperhatikan binar bahagia di mata Karin ikut menyunggingkan senyum tipis, merasa uang yang dikeluarkannya sama sekali tidak sia-sia.
Saat sore beranjak melepas jingga dan rombongan bersiap untuk pulang, Lulu tiba-tiba berlari menghampiri Arvin. Jari mungilnya menunjuk ke arah motor sport hitam milik cowok itu.
"Lulu mau pulang naik motor Kak Alvin!" seru bocah itu manja.
Reza yang sedang memakai helm langsung mendengus kesal. "Ah, lain kali jangan diajak nih bocah! Ngeribetin orang aja!" omel Reza telak.
Mendengar bentakan abangnya, bibir Lulu langsung melengkung ke bawah dan matanya mulai berkaca-kaca menahan tangis. Melihat itu, Arvin langsung berlutut menyamakan tinggi badannya dengan Lulu. "Ya udah, sini sama Kak Arvin aja," potong Arvin menenangkan.
"Lulu mau duduk di depan!" pinta Lulu lagi sambil menunjuk tangki bensin motor sport Arvin.
Karin yang berdiri di dekat mereka merasa tidak enak. Dia melirik Arvin ragu. "Enggak apa-apa, Vin?"
"Iya, enggak apa-apa, Tan," jawab Arvin tenang. Dia lalu menatap Karin lekat-lekat sebelum menambahkan, "Tapi, Tan... kalau bisa, Tante duduk di belakang gue ya? Takutnya nanti di jalan Lulu ketiduran lagi."
Karin mengerjapkan mata, bingung. "Terus... yang bawa motor matic Tante siapa?"
Reza yang makin kesal karena merasa liburannya diganggu akhirnya menyambar kunci motor tantenya. "Ya udah, biar gue yang bawa!" ketus Reza.
Saat Karin bersiap naik ke jok belakang motor sport Arvin yang tinggi, cowok itu tiba-tiba melepas ranselnya dan menyerahkannya ke belakang. "Tante, boleh minta tolong gendongin tas gue?"
Karin menerima tas itu dengan dahi berkerut. "Kenapa emangnya?"
"Ya... biar gak ngalangin aja kalau nanti Lulu tidur telungkup di depan," alasan Arvin lancar tanpa keraguan.
Karin menepuk bahu Arvin pelan dengan tas tersebut sambil terkekeh geli. "Alasan aja kamu, Vin! Apa hubungannya coba?" Karin akhirnya menggendong ransel hitam milik Arvin di punggungnya, lalu naik berboncengan.
Perjalanan pulang pun dimulai. Dan benar saja, baru setengah jalan membelah jalanan sore, terpaan angin membuat Lulu kembali tak berkutik. Bocah itu akhirnya tertidur pulas dengan posisi telungkup di atas tangki bensin motor sport Arvin.
"Tante, Lulu tidur," lapor Arvin setengah berteriak menembus angin.
Karin langsung memajukan tubuhnya. "Mau dipindahin ke belakang sekarang?"
"Tahan dulu aja badannya, Tan, biar gak jatuh. Nanti di pom bensin depan baru kita pindahin, nanggung," sahut Arvin memberi instruksi.
Karin akhirnya memajukan tubuhnya lebih rapat, merentangkan kedua tangannya ke depan melewati rusuk Arvin untuk menahan tubuh Lulu di atas tangki bensin agar tidak merosot. Namun, karena posisi jok motor sport yang menungging ke depan, Karin tidak bisa menghindari gravitasi.
Deg.
Entah bagaimana dada Karin mendadak menempel dan bersentuhan langsung dengan punggung kokoh Arvin. Karin seketika terpaku di posisinya. ‘Loh... perasaan waktu motornya waktu itu gak kena deh. Kok sekarang kena ya, apa karena ada lulu?’ batin Karin dengan jantung yang mulai berdegup tidak karuan. Dia mencoba sedikit mundur, namun motor yang berguncang karena marka jalan justru membuat tubuh mereka semakin menempel erat.
Di sisi lain, Sela yang dibonceng oleh Dito di lajur kiri langsung membelalakkan mata melihat pemandangan di depannya. Dia menyenggol pinggang pacarnya heboh. "Sayang, Sayang! Lihat mereka deh! Sweet banget, cocok gak sih?" seru Sela gemas.
Dito melirik ke samping kanan. Matanya ikut melebar melihat posisi Karin yang seperti sedang memeluk Arvin dari belakang untuk menjaga Lulu. "Anjir, gila! Foto-foto, cepetan!" seru Dito menyuruh pacarnya.
Tanpa membuang waktu, Sela langsung mengeluarkan ponselnya dan menjepret momen langka dan mesra itu beberapa kali dari belakang.
Arvin kemudian menambah kecepatan motornya, menyusul barisan depan untuk memberi kode dengan agar rombongan menepi di pom bensin yang terlihat di depan mereka. Reza, yang sejak tadi memantau, merasa ada aneh yang sangat mencurigakan di antara sahabat dan tantenya itu.
Setibanya di pom bensin, Lulu terpaksa dibangunkan. Begitu tahu dia mau dipindahkan dari motor Arvin, bocah itu langsung ngambek dan menangis tidak mau turun. Namun, setelah dipaksa oleh Karin, Lulu akhirnya luluh meski wajahnya ditekuk cemberut karena ingin tetap bersama Kak Arvin.
Melihat situasi itu, Arvin akhirnya mengambil keputusan. "Ya udah, biar gue aja yang bawa motor Tante Karin, biar Lulu bisa bareng gue lagi."
Masalah baru muncul karena Reza sama sekali tidak bisa mengendarai motor sport milik Arvin yang ber-cc besar. Akhirnya, mereka bertukar formasi. Bima mengajukan diri untuk membawa motor sport Arvin, sementara Reza kembali membonceng Aurel.
Kini, Karin duduk di jok belakang motornya sendiri yang dikendarai oleh Arvin, dengan Lulu yang duduk anteng di bagian tengah antara mereka.
Saat motor itu kembali melaju di jalan raya, Karin hanya memegang ujung jaket Arvin dengan dua jarinya. Namun, baru beberapa meter berjalan, Arvin tiba-tiba melepaskan tangan kirinya dari setang motor. Dengan gerakan cepat dan tak terduga, dia meraih tangan Karin yang ada di bajunya, lalu menariknya maju hingga melingkar sempurna di perut rata miliknya.
Karin tersentak kaget, mencoba menarik tangannya namun Arvin menahannya kuat.
"Tante, kalau pegangan yang bener," ucap Arvin santai dari balik helmnya, seolah tindakannya barusan adalah hal yang sangat wajar.
Karin wajahnya memerah menahan malu. “Modus kamu ya, Vin? Bilang aja kalau kamu pengen dipeluk sama Tante!"
Arvin sama sekali tidak mengelak. Lewat kaca spion, dia menatap mata Karin. "Emang," jawab Arvin singkat, padat, dan jujur.
Cubit!
"Awh—!" Arvin memekik dan motor mereka sempat oleng sedikit ke kanan karena Karin tiba-tiba mencubit gemas perutnya yang keras.
"Tante, ih! Bahaya tahu cubit-cubitan lagi jalan gini," protes Arvin sambil terkekeh pelan, menstabilkan kembali laju motornya.
Di tengah tawa kecil Arvin, tiba-tiba suara cempreng dari tengah memecah suasana.
"Emangnya modus apa, Tante? Bukannya Lulu juga suka peluk Tante?" tanya Lulu polos.
Karin seketika melotot kaget. Dia menunduk menatap keponakan kecilnya yang ternyata sedang mendongak menatapnya dengan mata bulat yang segar. Karin mengira Lulu sudah kembali tertidur, ternyata sedari tadi bocah itu mendengarkan obrolan dewasa mereka dengan jelas.