Rencana pernikahan Amaia dengan putra kedua keluarga Tedjakusuma berakhir sangat jauh dari impian indahnya. Pembatalan pernikahan dan menghilangnya sang calon suami membuat Amaia merasa sangat kecewa. Sementara di sisi lain, Widitama si putra tertua mengajukan diri untuk menggantikan sang adik sebagai suami untuk Amaia.
Amaia yang selama ini hanya menganggap Widitama sebagai kakak, harus pura-pura menerima pernikahan untuk mencari tahu kebenaran tentang pembatalan pernikahannya. Satu rahasia besar yang Amaia lewatkan adalah Widitama sudah lama mencintainya. Bisakah Amaia mengungkap kebenaran dan menerima perasaan Widitama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yourladysan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyerahkan Diri
Widitama mendorong pintu kaca, mempersilakan Amaia masuk. Ruangannya cukup besar dan penuh oleh buku-buku literatur bisnis dan dokumen penting di rak dekat dinding sebelah kanan. Itu adalah kali pertama Amaia mendatangi departemen operasional tempat Widitama bekerja sebagai Direktur Operasional di perusahaan keluarganya.
“Duduk!” Widitama memerintah setelah duduk di sofa dekat meja kerjanya.
Sebelum duduk di hadapan Widitama, perempuan itu mengamati setiap sudut ruangan. Ada kaca besar di belakang kursi kerja Widitama, memperhatikan pemandangan gedung pencakar langit ibu kota dari kejauhan.
“Aku nggak mau basa-basi, jadi katakan semua yang kamu tau, Mas,” kata Amaia setelah duduk di depan Widitama.
“Kamu terlalu buru-buru. Saya-lah yang mengatur pembicaraan ini. Jadi, simpan saja pendapat atau kata-katamu yang terkesan memberi perintah. Pertama-tama saya harus tau apa yang kamu lakukan di ruangan Rakha?” tanya Widitama.
“Apa itu penting? Mas, aku ke sini bukan untuk basa-basi.”
Widitama menyandarkan punggung dan menaikkan kaki kanannya ke paha kiri. “Barusan saya bilang apa? Jawab saja pertanyaan saya.”
Walaupun sebenarnya agak dongkol dan rasa-rasanya ingin menghantam pas bunga di atas meja ke muka Widitama, tetapi Amaia harus lebih bersabar. Demi rekaman yang sekarang menjadi senjata Widitama. “Aku cuma sedikit memberi pelajaran, agar dia keluar dari persembunyiannya. Ternyata dia cukup pengecut!” Amaia menyergah.
“Padahal kemarin kamu kelihatan sangat kacau. Saya nggak ngerti kenapa selama ini kamu sangat naif,” tukas Widitama setelah menyesap kopinya. “Kamu betul-betul harus diselamatkan.”
“Bisa nggak, kamu jangan basa-basi? Berikan rekaman itu!” Lagi-lagi Amaia memberi titah.
Widitama merogoh ponsel dari balik saku jasnya. “Rekaman ini? Ah, saya hapus kalau kamu nggak sabaran.”
“Mas!” Amaia berteriak seiring kesabarannya yang sudah di ambang batas. Ia tak tahu Widitama bisa menjadi sangat menyebalkan. “Aku mohon … apa sekarang kamu mau aku berlutut dan merangkak ke kaki kamu?” tanya Amaia berusaha meladeni Widitama sesuai dengan keinginannya.
“Lakukan!”
Kedua bola mata Amaia melebar, tak menyangka Widitama akan berkata demikian. Harusnya tadi ia menyaring kata-katanya sebelum berucap.
Jemari Amaia meremas lutut saat sepasang kakinya mendadak gemetar. Ia menggigit bibir, memandang Widitama yang tampak angkuh. Tampak sengaja menanti Amaia untuk membuktikan perkataannya.
“Tunggu apa lagi? Lakukan sekarang!”
Demi mengusir rasa kesalnya, Amaia meruntuhkan pertahanan. Lututnya perlahan turun menyentuh lantai bersama harga diri yang juga berjatuhan. Telapak tangannya menempel di lantai dingin, gerakannya kaku saat merangkak seperti seekor kucing. Sampai ia benar-benar tiba di dekat kaki Widitama.
Amaia mendongak, “Aku mohon, Mas. Katakan semuanya … semua yang kamu tau.”
“Mai Kecil, kamu ini terlalu penurut. Terlalu mudah mengiakan kemauan orang lain. Pantas Rakha dan ibunya memandang kamu sebelah mata,” ucap Widitama. Ia mencondongkan tubuh, menarik dagu Amaia agar mereka lebih dekat. “Kamu nggak berubah dari dulu.”
“Apa yang sebenarnya kamu inginkan, Mas?”
“Pernikahan. Kamu dan saya. Kamu menjadi istri saya.”
“Mas, rencana pernikahanku dibatalkan dan aku bahkan nggak tau kenapa semuanya jadi seperti ini?”
“Justru itu. Banyak yang sudah tau tentang rencana pernikahan kalian. Biar keluarga kita tidak menanggung malu. Biar saya yang gantikan Rakha.” Widitama melepas dagu Amaia dengan sedikit mendorongnya. “Berdiri!”
Amaia dengan cepat mengangkat tubuh. Ia tak mau jika terus berjongkok seperti itu. Harga dirinya benar-benar jatuh di hadapan Widitama.
Sekarang ia benar-benar yakin, keluarga Tedjakusuma memang aneh, seenaknya! Walaupun katanya Widitama bukan putra kandung, tetapi rupanya ia beradaptasi dan meniru kelakukan anggota keluarga yang lain.
“Sekarang saya akan memperdengarkan potongan rekaman itu ke kamu. Lalu, pikirkan baik-baik tawaran saya kalau kamu mau mengetahui lebih banyak lagi,” cetus Widitama. Sudut kiri bibirnya terangkat membentuk seringai samar.
“Kamu bohong, Mas! Kamu ngajak aku ke sini untuk membicarakan apa yang kamu tau. Bukan seperti—”
“Kapan saya bilang begitu? Saya cuma bilang berbisnis dengan kamu. Kemarin saya memang bilang mau membeberkan semua, tapi ternyata kamu nggak bisa tenang. Jadi, bukan salah saya kalau kamu kecewa oleh ekspektasimu sendiri.”
“Baiklah …,” ucap Amaia akhirnya menyerah. Ia kembali duduk di sofa depan Widitama.
“Karena saya berbaik hati, rekamannya saya kirim.” Widitama memainkan ponsel sebentar, lalu memasukkan lagi ke saku jas.
“Ini suara Tante Sasti, ‘kan?” tanya Amaia.
“Kalau pendengaran saya nggak salah, harusnya iya.”
Nggak salah lagi. Amaia membatin saat kembali mendengarkan potongan rekaman. Rasanya ia ingin sekali berteriak di depan Widitama dan memaksa agar dikirimkan rekaman itu versi utuh.
“Pikirkan baik-baik kalau kamu ingin mengetahui semuanya,” kata Widitama seraya beranjak dari tempat.
Pria itu berjalan pelan ke arah kursi kerja untuk mengambil jas yang tersampir di sana. Dalam hitungan detik, kemejanya sudah tertutup sebagian oleh jas. Pemilik tinggi 188 sentimeter itu berjalan mendekati Amaia. Tanpa permisi jemari panjangnya menarik lagi dagu Amaia. Sehingga gadis itu mendongak paksa. Amaia menepis dan mendorong punggung tangan Widitama. Sayangnya, pria itu tak mau berhenti dan memaksanya mendongak.
“Saya ada meeting penting. Kita bicara lagi nanti. Tugasmu sekarang pikirkan tawaran saya. Itu berlaku sampai besok,” ungkap Widitama, “kamu mau tau alasan saya ingin menjadikan kamu istri? Karena kamu kelihatan menarik kalau dilihat dari atas sini.”
—oOo—
Pagi-pagi sekali Amaia terbangun dari tidur yang sebenarnya tak bisa disebut nyenyak. Ia baru bisa tidur sekitar pukul setengah tiga dini hari. Semalam pikirannya penuh oleh tawaran Widitama. Ia mencoba untuk mempertimbangkan segala kemungkinan sembari sesekali menyetel potongan rekaman suara.
Gaun tidur berwarna putih sudah ditanggalkan dari tubuhnya. Pagi itu ia jauh lebih rapi dan segar. Persetan dengan Rakha yang sedang main kucing-kucingan. Amaia tidak mau larut dalam patah hatinya atas kejahatan Rakha yang menghadirkan luka.
“Kamu mau ke mana lagi? Mama bilang jangan bikin keributan. Mama yang akan bicara dengan Rakha begitu Sasti memberi kabar,” komentar Atika saat melihat sang anak turun dari lantai atas, lalu melenggang ke carport. Wanita itu mengikuti langkah Amaia. “Amaia, kamu dengerin Mama nggak?”
“Ma, ini urusanku. Mulai sekarang jangan tanya apa pun tentang Kak Rakha pada mamanya. Oh ya, aku mau ke kampus.”
Tanpa mengindahkan ibunya yang hendak menjawab, Amaia segera keluar. Ia mengendarai mobil keluar dari halaman rumah. Tujuan Seruni adalah Tedjakusuma Property untuk menemui Widitama. Bukan ke kampus Karena kalau tidak berbohong, Atika pasti akan cerewet.
Begitu tiba di gedung Tedjakusuma Property, Amaia segera memarkirkan mobil. Karyawan-karyawan yang berdatangan sesekali melirik dan menyapa dengan senyum ramah. Sementara Amaia memberikan senyum tipis sebelum masuk ke lift menuju ruang kerja Widitama.
“Pak Widi belum datang,” ucap sekretarisnya sembari membenarkan letak kacamata. Tepat ketika Amaia tiba di ruangan.
“Kalau begitu saya tunggu.”
Sang sekretaris mempersilakan Amaia masuk seraya membuka pintu kaca. Ia duduk di sofa yang ditempatinya kemarin. Menit demi menit terlewati, ia mulai bosan. Amaia mengeluarkan ponsel dan menghubungi Widitama berkali-kali. Amaia hendak menelepon lagi saat pintu ruangan terbuka.
Pria tinggi yang memakai jas abu-abu terlihat dari sana. Seringai merekah memperlihatkan lesung pipi. “Apa ini? Pagi-pagi udah di sini. Kangen sama calon suami kamu?” tanya Widitama menggodanya. Amaia bedecih, menghadirkan kekeh pelan Widitama. “Kalau bukan untuk menyerahkan diri, lalu untuk apa kamu ke sini? Menolak saya? Saya rasa kamu nggak akan membuat keputusan seperti itu.”
Amaia mendongak menatap sang lawan bicara. “Ayo, menikah seperti apa yang kamu mau.”
Senyum lebar Widitama terpatri selama sekian detik. Tanpa sungkan jemari panjangnya menyentuh helai rambut Amaia, lalu menyelipkan ke belakang telinga. Amaia bisa merasakan permukaan kulit Widitama sedikit menyentuh di pipinya.
“Keputusan yang bagus, Mai Kecil,” gumamnya.
“Tapi bukan berarti kamu bisa seenaknya. Ada poin-poin penting dalam pernikahan kita nanti.”
“Saya udah duga kamu akan menginginkan itu. Tapi nggak masalah, apa pun keinginan kamu selain kontrak dan perceraian.”
“A-apa?” Amaia membelalak. Padahal dua hal itu sudah ada dalam pikirannya sejak semalam.
Widitama menyeringai sejenak, lantas mencondongkan tubuh dan berbisik di telinga Amaia. “Saya nggak butuh pernikahan kontrak dan saya benci perceraian.”