"Saat ayahku memilih menyelamatkan putri kesayangannya, dia mengorbankanku tanpa ragu."
Savira Dharma menghabiskan seluruh hidupnya mengejar sesuatu yang tidak pernah ia miliki: pengakuan dari ayahnya.
Sebagai putri kandung keluarga Dharma, ia belajar lebih keras, bekerja lebih lama, dan mengorbankan masa mudanya demi membuktikan bahwa dirinya layak dicintai. Namun ketika skandal penggelapan dana mengguncang Dharma Group, Savira dijadikan kambing hitam untuk melindungi keluarga yang selama ini ia bela.
Ditinggalkan sendirian di tengah hujan fitnah, ayahnya memilih diam.
Malam itu, Savira melompat dari puncak gedung perusahaan yang telah merenggut seluruh hidupnya.
Namun kematian bukanlah akhir.
Saat membuka mata, ia kembali menjadi gadis tujuh belas tahun—tujuh tahun sebelum semua pengkhianatan itu terjadi.
Kali ini, Savira tidak akan mengemis cinta.
Ia tidak akan mengorbankan dirinya demi keluarga yang tak pernah memilihnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Resikonya Terlalu Besar
Nadia menyerahkan segepok uang tunai di dalam mobil sewaan yang terparkir di gang sempit yang gelap.
Kertas seratus ribuan yang diikat karet gelang kusam itu berpindah tangan. Seorang pria berjaket kulit sintetis kusam menyambarnya dengan kasar. Bau apek keringat bercampur alkohol murahan dari tubuh pria itu merangsek masuk ke dalam kabin mobil, menabrak aroma parfum mawar mahal yang menempel di leher Nadia.
Nadia menekan punggungnya kuat-kuat ke jok mobil. Ia menahan napas, menolak membiarkan udara kotor gang perbatasan selatan kota ini masuk ke paru-parunya.
Pria berwajah penuh bekas luka itu menghitung tumpukan uang di bawah penerangan lampu jalan yang berkedip mati-nyala. Jari-jarinya yang kasar dan berdebu membolak-balik lembaran merah tersebut dengan gerakan lamban yang menguji kesabaran.
"Ini hanya setengah dari harga yang kau janjikan lewat telepon tadi, Nona," suara serak pria itu mengalun tajam, penuh nada intimidasi yang memuakkan.
Nadia menggigit bagian dalam pipinya hingga mengecap rasa anyir darah. Tangannya yang masih gemetar mencengkeram kemudi mobil kuat-kuat.
"Sisanya akan kutransfer begitu pekerjaan kalian selesai malam ini." Suara Nadia melengking, bergetar menahan luapan histeria. "Aku butuh dokumen persalinan asli dari tangan wanita tua itu. Bawa kertasnya kepadaku utuh tanpa cacat."
Pria itu mendengus meremehkan. Matanya yang liar memindai wajah pucat Nadia, menikmati ketakutan yang memancar dari putri konglomerat yang kini jatuh terperosok ke dalam lumpur jalanan.
"Kami bukan kurir paket pengiriman kilat," balas pria itu memajukan wajahnya ke arah jendela mobil. "Kau menyuruh kami menyerbu rumah persembunyian, menyekap seorang bidan, dan merampas bukti rahasia. Risikonya terlalu besar untuk uang receh ini."
Napas Nadia memburu liar menabrak tulang rusuknya. Udara di dalam mobil mendadak menipis, mencekik rongga dadanya rapat-rapat.
Dunia ilusinya telah hancur berkeping-keping. Rekening banknya dibekukan oleh otoritas berwenang. Sahabat-sahabat sosialitanya membuangnya layaknya barang rongsokan. Semua itu tidak ada artinya dibandingkan dengan kekosongan mematikan di mata Wijaya Dharma pagi tadi.
Pria yang selalu ia panggil ayah itu telah menatapnya seolah ia adalah hama pembawa wabah penyakit. Nadia tahu persis tabiat sosiopat Wijaya. Pria itu tidak akan segan menumbalkannya jika kebohongan identitas darahnya terbongkar ke publik.
Rumor tentang Bidan Kartika yang menyimpan dokumen registrasi kelahiran asli selalu menghantui malam-malam Nadia. Selama belasan tahun, dokumen itu menjadi bom waktu yang berdetak di bawah bantal tidurnya.
Kini, saat sistem hukum menyudutkannya, Nadia menolak pasrah menunggu algojo Wijaya menyembelih lehernya. Ia harus melenyapkan saksi hidup itu. Ia harus membakar bukti fisik kebohongan darahnya agar Savira tidak memiliki senjata apa pun untuk merebut kembali posisinya.
Ia harus membuktikan kepada Wijaya bahwa ia sanggup membuang kotorannya sendiri.
"Ambil ini!" Nadia menjerit tertahan, merogoh tas tangannya secara brutal.
Gadis itu menarik lepas sebuah jam tangan emas bertahtakan safir biru dari pergelangan tangannya. Ia melemparkan barang mewah senilai ratusan juta rupiah itu tepat ke arah dada sang preman.
Pria berjaket kulit itu menangkap jam tangan tersebut dengan sigap. Ia mengusap permukaan kaca safir yang dingin menggunakan ibu jarinya. Senyum lebar memamerkan deretan giginya yang menguning segera menghiasi wajah kasarnya. Keputusasaan kaum elit selalu menjadi ladang emas yang paling menggiurkan bagi lintah jalanan.
"Pilihan yang cerdas, Nona," ucap pria itu sembari memasukkan jam tangan dan tumpukan uang ke dalam saku jaketnya. "Kami sudah melacak posisi Bidan Kartika. Dia bersembunyi di sebuah rumah susun terbengkalai di sektor timur. Tempat itu akan rata dengan tanah sebelum fajar."
Pria itu memutar tubuhnya tanpa memberikan penghormatan, melangkah menjauh menembus kabut malam yang dingin. Pintu mobil ditarik hingga membentur bingkainya keras-keras.
Nadia tersentak kaget. Ia mengunci pintu mobilnya secara otomatis, membiarkan tubuhnya merosot lemas di atas kursi pengemudi.
Air mata deras mengalir membasahi pipinya, melunturkan sisa maskara hingga membentuk noda hitam pekat di wajah cantiknya. Namun perlahan, suara isakan itu berubah wujud. Nadia tertawa sumbang di tengah kegelapan kabin mobil. Tawa sinting itu bergema mengerikan, lahir dari jiwa rapuh yang memaksakan diri memegang kendali atas takdir yang sudah hancur.
Di seberang kota, di dalam ruang tamu apartemen yang minim cahaya, gema teriakan Savira masih menggantung tegang di udara.
Otot leher Savira menegang kaku. Aroma melati yang menguar dari tubuhnya bertabrakan sengit dengan bau disinfektan dari lantai kayu apartemen Aaron. Mata gadis itu menyala buas, menolak tunduk pada dominasi pelindungnya.
"Aku tidak kabur dari satu sangkar hanya untuk masuk ke sangkarmu, Aaron!" Kalimat itu meluncur tajam, sebuah penolakan mutlak dari seorang penyintas yang menolak kembali menjadi objek tahanan.
Aaron berdiri mematung di hadapannya. Rahang pria itu mengeras sempurna, mengunci rapat-rapat semua gejolak emosi di balik matanya yang segelap lautan utara. Tangan besarnya yang tadi gagal meraih pergelangan Savira kini terkepal erat di sisi tubuhnya.
Pria itu menyadari kesalahannya. Mengunci Savira dengan keamanan ketat tanpa persetujuan sama saja dengan menghidupkan kembali trauma penyekapan belasan tahun di bawah otoritas Wijaya. Aaron menelan pelan ego protektifnya. Ia menekan mundur hasrat instingtifnya untuk melindungi gadis ini dengan cara diktator.
"Aku akan menarik mereka mundur," suara bariton Aaron mengalun berat memecah ketegangan. "Skrip penyadapan di ponselmu akan kuhapus detik ini juga."
Savira tidak merespons. Ia menahan napasnya, menunggu pria itu membuktikan ucapannya lewat tindakan nyata.
Aaron berbalik menuju meja kaca. Ia baru saja akan menekan perintah pembatalan protokol keamanan di laptopnya, ketika layar komputernya mendadak berkedip agresif.
Sistem pelacak satelit membunyikan peringatan merah kedua. Titik merah yang mewakili posisi mobil sewaan Nadia kini mulai bergerak lambat meninggalkan area distrik kumuh.
Fokus analitis Aaron menyambar data tersebut seketika. "Target bergerak menjauh dari gang selatan," lapor pria itu cepat, mengabaikan ego pertengkaran mereka demi urgensi taktis. "Nadia tidak menetap di sana. Transaksinya sudah selesai."
Savira memangkas jarak menuju meja. Matanya memicing tajam menatap pergerakan piksel di atas peta digital. Logika otaknya menyala, menghubungkan setiap titik kelemahan adik tirinya.
Gadis manja seperti Nadia tidak mungkin mendatangi area hitam pasar gelap tanpa tujuan spesifik. Rekeningnya kosong, reputasinya hancur. Ia tidak bisa menyewa pembunuh bayaran tingkat tinggi, tapi jam tangan mewahnya cukup untuk membeli kesetiaan gerombolan preman jalanan.
Dada Savira bergemuruh saat menyadari konklusi mematikan itu.
"Dia tidak kabur ke luar negeri," bisik Savira dengan suara sedingin baja. Ujung jarinya menekan pinggiran meja kaca. "Nadia menyewa preman murahan. Dia mengincar satu-satunya bom waktu yang bisa membongkar kebohongan darahnya."
Aaron menoleh cepat. Otak pria itu langsung menangkap arah deduksi logis Savira. "Bidan Kartika."
"Gadis itu bertindak nekat di luar kalkulasi ayahku," lanjut Savira dengan ritme napas yang tertahan. "Dia berusaha merebut dokumen kelahiranku. Nadia ingin membakar sisa penderitaanku malam ini juga."