Tersedak boba membawa petaka! Alara, cewek modern bermulut pedas, mendadak isekai jadi Selir Alara Villin—selir terbuang Dinasti Ruelle yang lemah dan ditindas di Istana Dingin. Tragisnya lagi, dia diberi makan bubur basi yang airnya lebih banyak daripada nasi.
Sebagai pencinta makanan sejati, Alara menolak mati kelaparan. Dia pun nekat menyelinap ke paviliun pribadi Kaisar Kaivan dan mencuri paha ayam panggang sang penguasa.
Sialnya, aksi Alara tertangkap basah. Bukannya bersujud ketakutan menghadapi sang Kaisar yang terkenal kejam dan sedingin es, Alara malah menodongnya:
"Anda kurung saya tanpa makanan layak. Baru ambil satu paha ayam, Anda masih utang sembilan puluh sembilan ayam lagi sama saya. Sini bayar!"
Kaisar Kaivan yang gengsian setengah mati mendadak dibuat jantungan oleh logika absurd selir bar-barnya ini. Siapa sangka, di balik wajah esnya, sang Kaisar aslinya jago lawak, gampang panik, dan takut kecoa!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aera_yong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perang Emak-Emak (Alara Menguji Mental Bibi Kekaisaran) {2}
Aula Kehakiman Agung mendadak dipenuhi hawa pengap sekolahan zaman dulu.
Di barisan depan, Bibi Agung Huana duduk tegak dengan tongkat perak berkepala burung phoenix yang diketuk-ketukkan ke lantai marmer secara ritmis.
*TOK! TOK! TOK!
Di sampingnya, bertumpuk-tumpuk gulungan kitab kuno "Pedoman Moralitas Wanita Dinasti Ruelle" yang tebalnya mengalahkan kamus bahasa terlengkap di dunia.
"Permaisuri Alara Villin!" suara Bibi Huana melengking, bergetar penuh penghakiman.
"Tindakanmu mendirikan kedai minuman hitam stimulan, memotong anggaran kosmetik para selir, dan yang paling parah... berduaan di tengah malam di dalam gudang bersama mata-mata barat berbaju ketat, telah mencoreng kesucian takhta Permaisuri! Berdasarkan Pasal 14 Kitab Kebajikan Perempuan, kau bisa dicopot secara adat!"
Para menteri kolot dan sisa-sisa pengikut Ibu Suri di pojokan ruangan mulai tersenyum puas. Mereka mengira Alara bakal menangis atau bersujud meminta ampun menghadapi sang Penjaga Moralitas yang ditakuti bahkan oleh para jenderal ini.
Alara yang berdiri di tengah aula justru melipat kedua tangannya di dada. Bukannya takut, dia malah menatap tumpukan kitab kuno itu dengan pandangan bosan.
"Melapor pada Bibi Huana yang sangat... kurang piknik," Alara melangkah maju, suaranya terdengar lantang dan berirama tegas ala pengacara di ruang sidang komersial.
"Sebelum Anda membacakan pasal-pasal usang dari abad ke-4 yang sudah kedaluwarsa itu, mari kita bedah satu per satu tuduhan Anda berdasarkan 'Asas Kepastian Hukum' dan 'Kesejahteraan Nasional'."
Alara berjalan mendekati meja bukti, mengambil salah satu kitab moralitas lalu membukanya secara asal.
"Pertama, soal kedai 'Star-Ruelle Coffee'. Pasal mana yang melarang Permaisuri meningkatkan produktivitas menteri? Berkat kafein, efisiensi kerja Kementerian Pajak naik delapan puluh persen bulan ini! Kedua, soal potongan anggaran kosmetik. Itu namanya kebijakan fiskal darurat untuk dialokasikan ke dana PAUD anak-anak dayang yang notabene adalah aset masa depan kekaisaran."
"Dan ketiga..." Alara menatap tajam langsung ke mata keriput Bibi Huana.
"Soal penangkapan Pangeran Julian di gudang. Itu bukan 'berduaan', Bibi. Itu namanya Operasi Tangkap Tangan (OTT) kasus spionase industri! Kalau saya tidak menyergapnya malam itu menggunakan Lem Tikus Spek Manusia, cetak biru senjata api pemicu roda senilai jutaan keping emas tidak akan pernah jatuh ke tangan militer kita secara gratis!"
Bibi Huana tertegun, wajahnya memerah menahan geram.
"L-lancang! Kau memutarbalikkan kata-kata! Seorang wanita istana harusnya diam di kamar, merajut, dan berdoa untuk kesuburan negara, bukan mengurusi politik dan memegang cairan lengket malam-malam!"
"Itu namanya diskriminasi gender berbasis tradisi kolot, Bibi!" skakmat Alara, suaranya meninggi satu oktav hingga menggema di seantero aula.
"Zaman sudah berubah. Kalau Permaisuri cuma tahu cara merajut dan dandan, saat musuh datang bawa meriam, apa Anda mau melempari mereka pake benang rajutan sutra?! Hah?!"
*DEZRAAANGGG!'
Para menteri tua langsung melongo, rahang mereka jatuh bebas ke lantai. Belum pernah ada seorang pun di kekaisaran ini yang berani membentak Bibi Agung Huana dengan argumen se-savage dan se-logis itu.
Bibi Huana gemetaran, tangannya yang memegang tongkat perak gemetar hebat karena tekanan darah tingginya mendadak melonjak drastis ke angka dua ratus.
"K-Kau... Kaisar Kaivan! Lihat kelakuan istrimu yang tidak tahu adat ini! Kenapa kau diam saja?!"
Di atas singgasananya, Kaisar Kaivan sejak tadi hanya duduk menopang dagu dengan satu tangan, menonton aksi debat istrinya dengan senyuman tipis yang sangat bangga. Mendengar namanya dipanggil, Kaivan perlahan memperbaiki posisi duduknya.
"Bibi Agung," suara bariton Kaivan menggema dingin, langsung memotong sisa keberanian di aula tersebut.
"Aturan adat dibuat untuk melindungi kekaisaran, bukan untuk mengekang Permaisuri yang terbukti membawa keuntungan finansial dan militer bernilai miliaran keping emas dalam semalam. Apa yang dikatakan Alara adalah hukum mutlak di istana ini. Jika Bibi merasa aturan abad ke-4 lebih penting daripada kemajuan militer Ruelle, mungkin sudah saatnya Bibi pensiun dan beristirahat di kuil pegunungan barat yang tenang."
*JDIAARRR!'
Bibi Huana langsung lemas di kursinya, wajahnya berubah warna menjadi abu-abu monyet persis seperti Ibu Suri tiga episode lalu. Taktik boomer-nya dihancurkan total oleh aliansi maut suami-istri spek milenial ini.
"Sidang selesai. Tuduhan dicabut tanpa syarat," putus Kaivan mutlak sembari berdiri dari singgasananya.
Kaivan berjalan menuruni tangga podium, mengabaikan tatapan mata semua orang, lalu langsung menggandeng tangan Alara erat-erat.
"Permaisuriku, kau sudah membuang terlalu banyak energi untuk meladeni debat emak-emak ini. Ayo kembali ke paviliun, aku sudah menyuruh dapur membuatkan es pisang ijo kuah susu untuk mendinginkan kepalamu."
"Wah, asyik! Tahu aja kalau kepala saya lagi ngebul!" Alara langsung nyengir kuda, memeluk lengan kekar Kaivan dengan manja sembari berjalan keluar meninggalkan Bibi Huana yang masih sibuk dipijit oleh para dayangnya karena pusing tujuh keliling.
Namun, kemenangan di ruang sidang itu mendadak terusik saat mereka baru saja sampai di gerbang Paviliun Mawar Merah. Kasim Wen berlari kencang dari arah gerbang luar dengan wajah ketakutan yang luar biasa.
"BERITA SANGAT DARURAT, YANG MULIA KAISAR! YANG MULIA PERMAISURI!" pekik Kasim Wen dengan napas tersengal-sengal.
"Kaisar dari Kekaisaran Selatan Wu, musuh bebuyutan kita yang terkenal kejam dan hobi berperang, baru saja mengirimkan surat ancaman! Mereka menyatakan... jika Permaisuri Alara tidak dikirim ke Selatan dalam waktu dua minggu untuk menjadi tawanan perang, pasukan gajah perang mereka yang berjumlah seratus ribu akan meratakan perbatasan Ruelle menjadi tanah!"
Mendengar ancaman perang berskala masif itu, sepasang mata elang Kaivan mendadak menggelap sedalam lubang hitam, memancarkan hawa dingin yang siap membantai satu kerajaan.
Sementara Alara? Dia justru menyipitkan mata bulatnya dengan senyuman licik yang sangat membara.
'Seratus ribu gajah perang, huh? Sini maju! Saatnya kita aplikasikan strategi pertahanan taktis perang gerilya digabung dengan teknologi bom molotov buatan abad 21!' batin Alara bersemangat.
---
Bersambung~
makasih Thor cerita menghibur bgt ttp semangat ya💪💪💪