NovelToon NovelToon
Kontrak Cinta Sang Kepala Pelayan

Kontrak Cinta Sang Kepala Pelayan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author:

Punya ijazah S1 Akuntansi dengan predikat Cum Laude ternyata tidak berguna di hadapan tagihan rumah sakit yang mencapai ratusan juta. Demi menyelamatkan nyawa ibunya, Arini terpaksa membuang gengsinya dalam-dalam dan melamar menjadi kepala pelayan di penthouse mewah milik Adrian—seorang CEO muda kaya raya yang terkenal sedingin es kutub utara.Kerja keras Arini yang super rapi dan cerdas perlahan menarik perhatian sang Kakek pemilik takhta konglomerasi. Salah paham pun terjadi. Demi mempertahankan posisinya sebagai pewaris tunggal, Adrian terpaksa berbohong dan mengenalkan pelayannya itu sebagai calon istri.Sebuah kontrak pernikahan satu tahun akhirnya disodorkan di atas meja marmer.Gaji ratusan juta, seluruh utang lunas, dengan satu syarat mutlak: Dilarang saling jatuh cinta.Mampukah Arini bertahan menghadapi sikap dingin sang konglomerat di bawah satu atap yang sama? Ataukah pernikahan pura-pura ini justru akan mencairkan hati sang es kutub utara yang selama ini membeku?

Bab 8 ( Perang Angka di ruang Rapat)

Gedung pusat Wijaya Group di kawasan Sudirman berdiri megah mencakar langit Jakarta. Sore itu, ruang rapat utama di lantai 45 terasa sangat mencekam. Meja oval besar yang terbuat dari kayu mahoni mahal dikelilingi oleh para direksi, komisaris, dan tentu saja, Kakek Wijaya yang duduk berwibawa di kursi utama. Di sisi kiri meja, Baskoro duduk dengan senyum meremehkan yang sama sekali tidak disembunyikan.

Arini melangkah masuk mendampingi Adrian. Langkah kakinya yang dibalut sepatu hak tinggi berbahan beludru hitam terdengar berirama, selaras dengan detak jantungnya yang dipaksa tenang. Ia mengenakan setelan blazer formal berwarna biru dongker yang rapi, membawa sebuah tablet kerja di dekapannya. Penampilannya sangat profesional, jauh dari kesan seorang pelayan rumah tangga yang baru seminggu lalu memegang kain pel.

“Silakan duduk, Nona Muda," sindir Baskoro saat Arini mengambil kursi tepat di samping Adrian. "Sebenarnya rapat evaluasi kuartal ini hanya untuk internal direksi yang mengerti bisnis. Tapi karena Kakek yang meminta Anda hadir, kuharap Anda tidak pusing melihat angka-angka triliunan di layar depan."

Adrian hendak membalas dengan tatapan membunuh, namun Arini menyentuh lengan suaminya secara halus di bawah meja—sebuah kode agar Adrian tetap tenang dan tidak terpancing emosi yang tidak perlu.

“Terima kasih atas perhatiannya yang luar biasa, Pak Baskoro. Angka triliunan justru menjadi pemandangan favorit saya sejak di bangku kuliah," jawab Arini sambil tersenyum manis, menunjukkan ketenangan yang luar biasa.

Rapat dimulai dengan pemaparan dari divisi infrastruktur yang dipimpin langsung oleh Baskoro. Di layar proyektor besar, grafik keuntungan tampak melonjak naik, diiringi penjelasan Baskoro yang menggebu-gebu mengenai efisiensi biaya proyek pembangunan superblok di Surabaya. Para direksi tampak mengangguk-angguk puas dengan pencapaian tersebut.

“Seperti yang Kakek dan Dewan Komisaris lihat, kuartal ini kita berhasil menekan biaya operasional vendor hingga lima belas persen. Efisiensi total!" klaim Baskoro bangga, melirik Adrian dengan pandangan menang seolah-olah kursi CEO akan segera berpindah tangan kepadanya.

Kakek Wijaya mengelus dagunya yang ditumbuhi janggut putih, lalu menoleh ke arah Arini. "Bagaimana menurutmu, Arini? Sebagai lulusan terbaik akuntansi, apa kamu melihat hal yang sama dengan yang dipaparkan Baskoro?"

Baskoro tertawa kecil, meremehkan. "Kek, dia bahkan belum genap sebulan lulus kuliah. Mana bisa menganalisis laporan konsolidasi serumit ini dalam beberapa menit?"

Arini tidak membalas sindiran itu dengan kata-kata kosong. Ia menggeser tabletnya, lalu menyambungkan layarnya ke proyektor utama, menggantikan slide presentasi Baskoro. Ruangan seketika senyap saat layar menampilkan barisan angka, jurnal penyesuaian, dan grafik analisis arus kas yang sangat detail yang sudah Arini persiapkan sejak malam sebelumnya dari data-data di rumah Adrian.

“Mohon maaf sebelumnya, Pak Baskoro," suara Arini terdengar sangat jelas, tegas, dan bergema ke seluruh penjuru ruangan. "Jika dilihat dari permukaan, laporan Anda memang tampak sempurna. Namun, jika kita melakukan audit forensic pada arus kas keluar untuk vendor pemeliharaan material, ada anomali yang sangat besar."

Jari Arini mengetuk layar, memperbesar bagian pengeluaran anak perusahaan yang dipimpin Baskoro.

“Anda mengklaim ada efisiensi lima belas persen. Tapi di sini, ada transaksi piutang tak tertagih yang dialihkan ke perusahaan cangkang bernama PT Garda Maju Jaya. Nilainya persis sama dengan jumlah 'efisiensi' yang Anda banggakan: tiga puluh dua miliar rupiah. Secara akuntansi, ini bukan efisiensi, melainkan manipulasi pembukuan untuk menyembunyikan pembengkakan biaya operasional yang sebenarnya. Anda melakukan window dressing agar performa Anda terlihat bagus di depan Kakek."

Mendengar penjelasan yang begitu runut dan menggunakan istilah teknis akuntansi yang sangat akurat, wajah Baskoro seketika berubah pucat pasi. Ia menggebrak meja, berdiri dengan napas memburu. "Kau berani menuduhku?! Kau cuma pelayan yang beruntung dinikahi sepupuku! Tahu apa kau tentang bisnis Wijaya Group?!"

“Cukup, Baskoro!" suara Kakek Wijaya menggelegar, membuat seisi ruangan menunduk takut. Kakek Wijaya menatap tajam ke arah layar, lalu beralih ke arah direktur keuangan yang langsung mengangguk ketakutan, membenarkan analisis tajam Arini.

Kakek Wijaya kembali menatap Arini, namun kali ini dengan binar mata yang penuh rasa kagum dan hormat. "Analisis yang sangat tajam, Arini. Kamu menyelamatkan perusahaan dari kerugian besar." Beliau kemudian melirik Baskoro dengan dingin. "Baskoro, potong bonus tahunanmu dan lakukan audit ulang dalam waktu tiga hari. Jika laporan Arini terbukti seratus persen, posisimu akan kuturunkan!"

Rapat ditutup dengan atmosfer kemenangan mutlak di pihak Adrian. Saat mereka kembali ke dalam lift pribadi untuk menuju penthouse, keheningan melanda. Namun, keheningan kali ini terasa berbeda.

Adrian berdiri bersandar pada dinding lift, menatap Arini yang sedang merapikan tabletnya ke dalam tas. Sudut bibir sang Es Kutub Utara itu terangkat, membentuk sebuah senyuman tulus yang sangat langka.

“Ternyata memiliki istri seorang akuntan cum laude jauh lebih berguna daripada memiliki sepuluh penasihat hukum di kantor," ucap Adrian rendah, suaranya terdengar sangat hangat.

Arini menoleh, tertegun melihat senyuman Adrian yang membuat wajah kaku pria itu mendadak terlihat berkali-kali lipat lebih tampan. "Saya hanya menjalankan kewajiban kontrak saya dengan profesional, Adrian."

Adrian melangkah maju, memotong jarak di antara mereka di dalam ruang lift yang sempit. Ia menunduk, menatap dalam ke manik mata Arini hingga gadis itu bisa merasakan kehangatan napasnya. "Kontrak kita hanya mengharuskanmu berpura-pura di depan publik, Arini. Tapi yang kamu lakukan di ruang rapat tadi... kamu membelaku dengan seluruh kemampuanmu. Apa itu juga hanya bagian dari pekerjaan?"

Jantung Arini kembali berdegup menggila. Lift terus bergerak naik, namun waktu di antara mereka seolah berhenti bergerak. Dinding es yang membeku di antara keduanya kini tidak hanya retak, tapi mulai runtuh perlahan.

1
sakura
Hallow guys xixi mimin minta maaf karna seminggu ga update tapi tenang aja udah sekarang updatenya doble”. jangan lupa like,komen, dan share yaa cinta-cintaku🫶🏻
sakura
jangan lupa kasih like nya ya manteman,biar authornya ini jadi semangat buat nulisnya xixi😗🫶🏻🙆🏻‍♀️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!