Emma Taylor terpaksa harus melunasi hutang pamannya kepada seorang pria asing kaya raya yang tinggal di rumah besar Anggrek Residen.
Jatuh tempo pembayaran sudah sangat dekat bagi paman Broeri untuk membayar hutang tersebut namun dia tidak mempunyai uang sepeser pun saat dia ditagih oleh pria asing kaya raya itu yang bernama Noah Jones.
Terpaksa Emma yang harus menanggung hutang tersebut kepada Noah Jones pemilik rumah Anggrek Residen.
Karena Emma Taylor juga tidak mempunyai uang buat melunasi hutang paman Broeri maka dia dipaksa membayar dengan rahimnya.
Bagaimana nasib Emma Taylor selanjutnya, sanggupkah dia melunasi hutang milik paman Broeri Goldman atau dia memilih melarikan diri.
Mari kita simak kelanjutan kisah ini dalam novel berjudul Rahim Bayaran Milik Emma.
Salam buat semua pemirsa 🎂
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reny Rizky Aryati, SE., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 Menjadi Tawanan Anggrek Resident
Noah masih berdiri di tempat, menatap serius Emma Taylor. Dan terdengar suaranya.
"Jangan lupa makan malam bersamaku nanti malam, kita pelan-pelan pendekatan diri."
Noah Jones mengedarkan pandangnya pada Emma Taylor dengan seksama.
"Ya, aku tidak melupakan nya." kata Emma lalu melangkah masuk ke kamar 215.
"Ava akan menjemput mu untuk makan malam, tunggulah di kamar dan jangan kemana-mana." kata Noah.
"Baiklah. Aku mendengarkan mu." sahut Emma.
Sebelum pintu kamar di tutup, Noah menahannya.
"Brak!"
"Dengarkan pesanku baik-baik. Jangan sekali-kali kamu dekati Ethan Coen!" ucap Noah. "Meski ia keponakan ku, tapi ini tidaklah benar bagimu atau dia."
Noah Jones terdiam, sorot matanya selidik namun ia sulit mengungkapkan nya.
"Brak!"
"Kuingatkan padamu bahwa kamu adalah milikku. Dan tak seorang pun boleh mendekatimu ataupun bicara akrab dengan mu, Emma." Noah bersuara dalam.
Tatapannya dingin seperti es, tajam, menusuk hati.
"Ingat kontrak kita. Rahimmu adalah milikku, calon pewaris Lucent Gem tidak boleh ternodai oleh siapapun." bisik Noah tajam.
"Aku mengerti," sahut Emma.
"Kalau kau mengerti, kenapa kamu tidak mendengarkan omonganku. Bahkan kulihat kau tertarik pada Ethan Coen." bisik Noah.
Ditariknya ujung dagu Emma agar mendekat ke wajahnya, di pandanginya wajah cantik itu penuh perhatian.
Nafas mereka saling beradu pelan saat wajah mereka berdekatan.
"Rahimmu milikku, Emma Taylor!" bisik Noah.
Sekali lagi ia mengusap lembut dagu milik Emma serta memandanginya, tatapan Noah menghujam dalam ke dua bola mata indah Emma.
Emma bergidik, tiba-tiba seluruh tubuhnya menegang kuat. Jantungnya berdegup cepat, seperti roller coaster saat Noah Jones dekat padanya.
"Aku akan selalu mengingat pesanmu ini. Tapi kapan aku harus memberikan rahimku ini padamu sebab aku sudah tidak betah berlama-lama disini." ucap Emma.
"Apakah kamu begitu membenciku hingga kau ingin cepat-cepat pergi dari tempat ini?" tanya Noah.
"Sesuai kesepakatan kita, aku berikan rahimku buat kamu buahi. Dan kamu mendapatkan calon pewaris Lucent Gem sedangkan aku harus pergi dari sini." sahut Emma.
Emma membuang muka ke arah lain, ia menghindari tatapan Noah Jones padanya.
"Tapi itu anakmu. Bagaimana seorang ibu akan mudah meninggalkan darah dagingnya sendiri. Emma." kata Noah.
"Tapi aku bukan siapa-siapa di rumah ini. Demi memberimu seorang pewaris Lucent Gem maka aku sepakat dan kita setuju hal itu, Noah Jones." sahut Emma.
Noah Jones tertegun sesaat, tatapannya semakin tajam.
Ia menelan ludah lalu tertawa kecil.
"Ternyata kau tidak senaif yang aku pikirkan, Emma Taylor." ucapnya lalu menatap Emma.
"Bukannya kamu yang memaksakan semua ini. Bukan aku tapi kamu, Noah Jones yang membuat keadaan ini berbeda." kata Emma.
"Yah, yah, aku tahu keadaan kita berbeda dari hubungan umumnya. Namun aku tekankan padamu bahwa kesepakatan di antara kita telah terjalin." ucap Noah.
"Dan kita sepakat. Sampai aku melahirkan calon pewaris Lucent Gem untuk mu, aku janji padamu, tidak akan dekat dengan siapapun di rumah inu." kata Emma. "Kecuali Ava dan Sioux!"
"Baguslah. Akhirnya kamu mengerti maksud ucapanku padamu. Jadi aku tidak perlu repot-repot mencemaskan mu." kata Noah.
"Ya..." sahut Emma singkat.
"Baiklah, kini aku tidak lagi pusing-pusing memikirkan mu karena kau tahu apa yang aku inginkan." kata Noah Jones.
"Boleh aku beristirahat sekarang?" tanya Emma.
"Oh... Yah. Silahkan, aku izinkan." sahut Noah.
Emma menutup pintu kamar tanpa ragu-ragu bahkan ia tidak mengucapkan salam pada Noah Jones sebelum mengunci kamar.
Tindakannya memicu keterkejutan Noah Jones atas sikap beraninya. Noah berdiri di tempat dengan tatapan tertegun.
"Wow?!" helanya sembari mengangkat tangan. "Sikap terbaik dari calon ibu pewaris Lucent Gem, sangat mengagumkan sekali."
Noah Jones tertawa kecil, menyadari sikap kasar Emma sebagai penolakan.
"Tapi sebaiknya aku lebih beradaptasi dengannya mulai detik ini. Jika tidak maka rencana untuk memperoleh pewaris Lucent Gem akan sia-sia." ucapnya.
Noah Jones menarik nafas pelan, menoleh sebentar ke arah pintu kamar 215 yang tertutup rapat kemudian berjalan pergi.
langkahnya terdengar ringan seakan-akan beban berat yang ditanggungnya selama ini telah berkurang meski hal itu tidak mudah baginya untuk kembali normal.
Noah Jones mempercepat langkah kakinya lalu berbelok di ujung lorong area kamar 215. Dan menghilang pergi namun terdengar gema dering bunyi telepon miliknya.
Di kamar 215, tampak Emma Taylor berdiri tercengang, bersandar mematung di depan pintu kamarnya, sorot matanya tertuju pada area ruangan kamarnya, mewah, luas, bak kamar seorang putri kerajaan dongeng.
Emma tak percaya bahwa hidupnya akan berubah secepat ini. Benar-benar bagaikan putaran roller coaster. Tak terduga dan tak terprediksi.
Bagaimana ia bisa bertemu miliarder seperti Noah Jones yang akan mengubah garis nasib kehidupannya di kemudian hari.
"Ini bukan dongeng kan?!" bisiknya sambil menangkup tangan ke arah bibirnya yang merekah merah.
Emma berjalan pelan ke tengah-tengah ruangan kamarnya, diperhatikan seluruh isi ruangan ini dengan perasaan takjub.
Kedua matanya bersinar-sinar cerah, kekaguman tak sanggup ia tutupi dari pandangan matanya saat ia melihat isi kamar tidurnya yang terbilang sangat mewah bagi seukuran dia, orang biasa.
Emma Taylor menoleh ke ranjang tidurnya, tempat itu berselimutkan kain sutra tebal bersulam tangan bahkan bersinar terang, sangat luar biasa, bak ranjang seorang putri kerajaan dongeng. Dan ia mengagumi nya.
"Demi Tuhan bahkan langit, aku belum pernah melihat tempat seindah ini, aku merasakan berada di alam lain." ucapnya.
Emma terpana, memandang seperti orang kampung yang tak pernah tahu akan nyamannya hidup orang elite.
"Kuharap ini bukan tempat kematian untukku..." bisiknya lalu menarik nafas. "Dan semoga mimpi ini sirna esok hari."
Emma mendongak, deburan jantung nya naik-turun tidak karuan, diusap-usap nya dadanya yang terus berdetak kencang.
"Tapi tugasku tidaklah ringan. Aku harus relakan rahimku buat dibuahi bahkan aku harus bisa melahirkan seorang pewaris Lucent Gem." ucapnya.
Emma merogoh saku celananya, ia keluarkan Vertu pemberian Noah tadi, dilihatnya asal benda berharga puluhan juta itu.
"Bagaimana aku mengoperasikan benda ini?" tanyanya. "Seumur-umur hidup baru aku pegang benda sebagus ini."
Emma perhatikan kilatan sinar dari Ruby di Vertu-nya, silau dan membuatnya tegang.
"Apa benda ini juga asli?" tanyanya sembari mengetuk Ruby yang tertempel di Vertu-nya.
Vertu miliknya merupakan produk langka, harganya bisa ditaksir puluhan hingga ratusan juta. Dengan hiasan Ruby asli serta bagian belakang yang di tutupi kulit burung unta semakin menambah kemewahan ponsel tersebut.
"Apa ini juga emas asli?" tanyanya lalu menggigit Vertu miliknya kuat-kuat.
Emma mengadu keras, giginya nyeri akibat menggigit keras Vertu-nya.
"Aku bisa menjual benda ringan ini, mungkin aku bisa mendapatkan sebuah rumah tinggal dari penjualan ponsel ini, setelah aku pergi nanti." ucapnya.
Emma menekan tombol merah Vertu di tangannya, ia mencoba mengaktifkan ponsel pintar nya.
Vertu Signature S Ruby memakai Symbian S40 bukan Android. Tapi cara operasinya lebih ke HP tombol jadul, bukan touchscreen. Tidak ada layar sentuh. Semua pakai keypad di bawah layar.
"Tapi bagaimana cara menelpon dari benda ini???" ucapnya seperti orang kampung.
Emma membolak-balikan Vertu-nya dengan seksama, ia perhatikan setiap detail Vertu Signature S Ruby yang kini jadi kepunyaannya namun ia tetap tidak bisa tahu caranya, untuk mengoperasikan ponsel mewah itu.
"Yah, Ampun!" teriak putus asa Emma Taylor. Ia benar-benar tidak bisa memakai ponsel tersebut.
"Apa dia mau membuat isi kepala ku bekerja keras setelah ia paksa aku mengikuti keinginan nya untuk hamil???" pekiknya mulai kehilangan kesabarannya.
Emma menggeram kesal, ia remas Vertu Signature S Ruby milik nya, sedangkan sorot matanya menukik benci.
"Dia tahu aku hanya orang biasa, tapi sepertinya Noah Jones sengaja menguji imanku saat ini!" geramnya.
Emosi Emma mulai tersulut, berkobar-kobar terbakar panas. Dadanya semakin naik-turun tidak menentu, kedua matanya berubah memerah menahan kebenciannya.
Ia merasa dirinya sedang diuji paksa, seolah-olah dipermainkan, bukan oleh keadaan ataupun situasi yang ada saat ini, namun oleh Noah Jones, pria asing yang tiba-tiba muncul dalam hidupnya.