" Ahh ugh Dia suamiku, Aksa... Kita tidak boleh melakukan ini," bisik Valerian di tengah napasnya yang memburu. "Tapi dia tidak pernah melihatmu sebagai wanita, Kak. Sedangkan aku? Aku menginginkanmu sampai hampir gila," balas Aksa dengan tatapan mata yang penuh obsesi.
Bagi Damian, Valerian hanyalah sebuah kewajiban di atas kertas kontrak bisnis keluarga. Dua tahun pernikahan berjalan, Damian tidak pernah sekali pun menyentuh istrinya, membiarkan Valerian layu dalam kesepian di rumah megah yang sedingin es.Namun, malam badai itu mengubah segalanya. Berawal dari rasa iba yang berubah menjadi ketegangan tak terkendali, Aksa—adik kandung Damian yang tinggal serumah dengan mereka—melanggar batas suci.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisaul Mardhiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12. Menuju Pertunangan
Napas Aksa yang memburu perlahan mulai teratur, meninggalkan keheningan yang intim namun sarat akan ketegangan di dalam ruang pakaian (walk-in closet) kamar utama. Tangannya yang besar masih mendekap erat pinggang Valerian, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher wanita itu. Sisa gairah panas yang baru saja mereka luapkan bagai tebusan atas rasa bersalah Aksa masih terasa membakar udara di sekitar mereka.
Valerian bersandar lemas pada deretan lemari kayu, mencoba merapikan piyama sutranya yang kini kehilangan beberapa kancing depan. Jantungnya masih berdegup kencang, bukan lagi hanya karena pekatnya pesona posesif Aksa, melainkan karena ketakutan yang mendalam. Hanya selembar pintu kayu ruang pakaian yang memisahkan mereka dengan Damian yang sedang tertidur lelap di ranjang luar.
"Aksa... kau harus kembali ke kamarmu sekarang," bisik Valerian parau, suaranya nyaris tak terdengar, jemarinya mengusap rahang tegas Aksa dengan tatapan memohon. "Jika Damian terbangun karena kita berdua tidak akan bisa selamat."
Aksa mendongak, menatap lekat sepasang netra Valerian yang masih digenangi sisa air mata. Sisi humorisnya yang biasa mencairkan suasana kini terkubur dalam oleh obsesi yang kian menggelap. Ia mengecup bibir Valerian sekali lagi dengan lembut namun penuh penekanan.
"Aku akan pergi. Tapi ingat janjiku, Valerian. Pertunangan dengan Clarissa itu tidak akan pernah terjadi. Aku tidak akan membiarkan wanita mana pun menyentuhku lagi seperti tadi," bisik Aksa parau, menyiratkan penyesalan mendalam atas kelalaiannya bersama Clarissa beberapa jam lalu.
Dengan gerakan yang sangat hati-hati, Aksa membuka kunci pintu ruang pakaian, melongokkan kepalanya memastikan Damian masih mendengkur halus di balik selimut tebalnya, lalu menyelinap keluar melalui pintu kaca balkon menuju kamarnya sendiri di sebelah.
Begitu siluet Aksa menghilang di balik kegelapan malam yang diguyur gerimis, Valerian menarik napas panjang. Ia keluar dari ruang pakaian dengan langkah gemetar, lalu perlahan merangkak naik ke atas ranjang besar, berbaring di sisi yang paling jauh dari tubuh Damian. Air matanya kembali menetes dalam diam, meratapi betapa hancur dan rumitnya jalan takdir yang ia pilih.
Keesokan paginya, atmosfer di kediaman keluarga Wardhana terasa begitu dingin dan kaku, seolah badai semalam menyisakan sisa-sisa ketegangan yang belum tuntas.
Di ruang makan, Clarissa sudah duduk anggun di sebelah Nyonya Zen Wardhana. Wajah cantik lulusan London itu tampak sedikit pucat dengan gurat kekesalan yang coba ia tutupi dengan senyuman manis. Penolakan kasar dan dingin dari Aksa semalam benar-benar menggores harga dirinya yang tinggi. Sebagai wanita yang terbiasa mendapatkan apa pun, Clarissa justru semakin tertantang untuk menaklukkan Aksa, sekaligus mulai menaruh curiga pada seisi rumah ini.
"Pagi, Damian, Valerian. Duduklah," ucap Tuan Bagian Wardhana dari ujung meja.
Tak lama kemudian, Aksa menyusul masuk ke ruang makan dengan kemeja kasualnya. Begitu matanya bertemu dengan Clarissa, tidak ada lagi binar ramah atau lelucon hangat yang biasanya ia berikan. Aksa langsung duduk di hadapan Damian, sepenuhnya mengabaikan keberadaan Clarissa seolah wanita itu adalah angin lalu.
Clarissa yang menyadari perubahan drastis sikap Aksa mengepalkan tangannya di bawah meja. Ia melirik ke arah Valerian, dan entah mengapa, insting wanitanya menangkap ada sesuatu yang aneh dari cara Aksa melirik sekilas ke arah bibir Valerian yang sedikit membengkak pagi ini.
"Oh ya, Aksa," Clarissa membuka suara dengan nada manis yang sengaja dikeraskan. "Mengenai pembicaraan pertunangan kita semalam... kurasa hari ini aku ingin mengajakmu keluar untuk menemui perancang busana langganan ibuku. Tante Zen bilang kau sengaja mengosongkan jadwalmu hari ini, kan?"
Mendengar ucapan Clarissa, gerakan tangan Valerian yang sedang mengoles selai pada roti Dania seketika terhenti. Dada Valerian kembali berdesir nyeri oleh rasa cemburu yang kian membakar hatinya.
Aksa menurunkan cangkir kopinya ke atas meja dengan dentingan yang cukup keras, membuat Dania dan Nyonya Zen tersentak kecil.
"Maaf, Clarissa. Jadwalku hari ini mendadak penuh karena ada audit mendadak di sub-holding," jawab Aksa dingin, tanpa senyuman, bahkan tanpa menoleh sedikit pun ke arah Clarissa. Sisi posesifnya pada Valerian membuatnya tidak sudi lagi berpura-pura manis pada wanita lain.
Nyonya Zen mengernyitkan dahi tidak suka melihat penolakan terang-terangan dari putra keduanya. "Aksa, jaga sikapmu. Urusan audit bisa diserahkan pada manajermu. Pertemuan dengan perancang busana ini sangat penting untuk nama baik keluarga kita."
Sebelum Aksa sempat membalas, Damian tiba-tiba mendeham berat. "Ibu benar, Aksa. Sebaiknya kau pergi mendampingi Clarissa hari ini," sapa Damian dengan suara baritonnya yang penuh tekanan dan merendahkan. "Urusan kantor biar aku yang ambil alih. Lagipula, kau tidak boleh kekanak-kanakan dengan menolak wanita sesempurna Clarissa hanya karena egomu yang tidak jelas."
Damian kemudian menoleh ke arah Valerian, lalu dengan gerakan tegas meraih tangan istrinya dan meremasnya di atas meja. "Dan untukmu, Valerian... hari ini kau ikut ke kantorku. Aku tidak mau kau sendirian di rumah dengan alasan sakit seperti kemarin. Kau harus berada di ruanganku sepanjang hari."
Deg.
Valerian membelalakkan matanya menatap Damian. Perintah Damian terdengar seperti sebuah kurungan yang nyata. Damian tidak mendampinginya karena cinta, melainkan karena rasa cemburu dan obsesi kepemilikan seorang penguasa hukum yang tidak mau barang miliknya lepas dari pengawasan. Damian ingin mengurungnya di kantor agar ia tidak memiliki kesempatan untuk berinteraksi dengan Aksa di rumah ini.
Di seberang meja, sepasang netra gelap Aksa seketika menyala oleh amarah yang pekat melihat bagaimana Damian memperlakukan Valerian bagai tawanan. Genggaman tangan Aksa pada sendoknya mengencang hingga buku-buku jarinya memutih.
Ketegangan di meja makan itu kian meruncing, bagai benang layang-layang yang ditarik kencang dari dua arah berlawanan dan siap putus kapan saja. Dania yang berada di tengah-tengah kedua kakaknya mulai merasa tidak nyaman dengan atmosfer yang mendadak membeku. Ia menaruh garpunya, lalu menatap Damian dan Aksa bergantian dengan mata bulatnya yang polos.
Kak Damian, Aksa... kalian kenapa sih? Sejak semalam hobi bangat saling sinis satu sama lain. Suasana sarapan jadi tidak enak," keluh Dania sambil mengerucutkan bibirnya manja, mencoba mencairkan ketegangan dengan gaya khasnya.
Nyonya Zen menghela napas panjang, menepuk pelan tangan Dania untuk menenangkannya, lalu kembali menatap Aksa dengan pandangan mutlak yang tidak menerima bantahan. "Aksa, dengar kata kakakmu. Urusan bisnis bisa didelegasikan, tetapi masa depan keluarga kita dengan keluarga Narendra tidak bisa ditunda. Hari ini kau harus pergi bersama Clarissa."
Aksa menyandarkan tubuh jangkungnya pada sandaran kursi. Sepasang netra gelapnya bergeser lambat dari Damian, lalu mendarat pada Valerian yang masih menunduk dalam di bawah cengkeraman tangan Damian. Seringai tipis yang tampak begitu berbahaya dan penuh rencana perlahan terukir di sudut bibir Aksa. Sisi humorisnya kembali muncul ke permukaan, namun kali ini dilapisi oleh kilat keposesifan yang teramat pekat.
"Baiklah kalau begitu," ucap Aksa santai, mengangkat kedua tangannya menyerah. "Jika Kak Damian bersikeras ingin kelelahan mengurus auditku sekaligus mengurung Kak Vale di kantornya, aku tidak punya alasan untuk menolak menemani Clarissa hari ini."
Aksa menoleh ke arah Clarissa, melemparkan senyuman manis yang membuat jantung wanita lulusan London itu berdegup kencang, sama sekali tidak menyadari bahwa senyuman itu adalah umpan mematikan dari sebuah siasat baru. "Bersiaplah, Clarissa. Aku akan mengantarmu ke perancang busana pilihan ibumu, lalu setelah itu... aku akan mengajakmu berkeliling melihat-lihat proyek properti milikku di pusat kota."
Mendengar persetujuan Aksa, dada Valerian bagai dihantam ribuan jarum tak kasat mata. Rasa cemburu dan ketakutan akan kehilangan kembali membakar hatinya hingga menyisakan rasa sesak yang luar biasa di tenggorokannya. Ia tidak tahu apa yang sedang direncanakan oleh adik iparnya itu, yang ia tahu hanyalah rasa sakit saat melihat Aksa perlahan melangkah masuk ke dalam skenario pernikahan bersama wanita lain.