"Alea & Adrian" mengisahkan dua pewaris tunggal imperium bisnis terbesar di Kota Valerika, Alea Corisand dan Adrian Hutama. Terikat wasiat mutlak sang kakek, mereka dipaksa menikah demi penyatuan korporasi. Padahal, keduanya telah memiliki kekasih masing-masing dari kalangan elit.
Enggan mengorbankan cinta, Alea mengusulkan ide nekat: pernikahan kontrak di atas kertas selama enam bulan. Setelah meyakinkan pasangan masing-masing, mereka pindah ke sebuah penthouse mewah dan hidup dalam batasan kamar terpisah yang ketat.
Namun, sandiwara profesional ini perlahan retak. Intensitas kebersamaan memicu getaran aneh yang tak terduga di antara keduanya. Di saat garis batas hati mulai kabur, sebuah ancaman misterius dari masa lalu mengintai, memaksa mereka saling bersandar demi bertahan hidup. Siapakah yang akan bertahan hingga akhir kontrak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1. Bukan Hari Biasa
Jika ada satu hal yang paling disukai Alea Corisand dari rutinitas paginya, itu adalah secangkir iced americano tanpa gula dan keheningan di ruang kerjanya.
Dari lantai empat puluh menara Corisand Group, mobil-mobil di bawah sana hanya terlihat seperti mainan kecil yang bergerak lambat membelah jalanan Kota Valerika.
Kota ini selalu bergerak cepat, seolah dikejar waktu, tetapi di dalam ruangan ini, Alea adalah penguasa mutlak atas waktunya sendiri.
Alea menyesap kopinya perlahan, menikmati rasa pahit dingin yang membakar tenggorokannya, lalu melirik pantulan dirinya di kaca besar yang membatasi ruang kerja dengan pemandangan luar.
Hari ini dia memilih gaya yang tidak terlalu kaku.
Dia mengenakan kemeja sutra kasual berwarna putih gading dengan beberapa kancing atas dibiarkan terbuka, dipadukan dengan celana panjang berpotongan high-waist berwarna senada.
Santai, tetapi potret kain yang jatuh sempurna itu langsung memancarkan aura mahal yang tidak bisa dibeli.
Wajahnya yang memiliki garis blasteran fiktif khas bangsawan Valerika lama hanya dipoles makeup minimalis, sedikit perona pipi alami dan lipstik sewarna bibir.
Namun, sepasang mata jernihnya yang berwarna cokelat gelap selalu sukses membuat lawan bicaranya salah tingkah atau setidaknya menaruh rasa hormat yang tinggi.
Di usianya yang baru menginjak dua puluh seis tahun, Alea sudah memegang kendali penuh atas divisi media digital dan hubungan masyarakat di perusahaan keluarganya.
Tentu saja, di luar sana banyak selentingan miring yang mengira dia cuma "anak bos" yang beruntung, seorang sosialita yang diberi mainan berupa jabatan tinggi.
Tapi mereka yang berbisik di belakangnya jelas belum pernah melihat bagaimana Alea membalikkan keadaan dalam rapat akuisisi kritis minggu lalu.
Cukup dengan senyuman tenang, intonasi suara yang terjaga, dan setumpuk data akurat yang dia bedah sendiri hingga larut malam, Alea berhasil membungkam para direktur senior yang meremehkannya.
Dia cantik, kaya raya, cerdas, dan yang paling penting, dia tahu persis apa yang dia mau dalam hidup.
Termasuk dalam hal asmara.
Hubungannya dengan Julian, seorang kurator seni dari keluarga terpandang, berjalan begitu matang dan tanpa drama.
Hidup Alea terasa sangat terencana.
Sementara itu, beberapa blok dari menara Corisand, di pusat distrik finansial yang sama, Adrian Hutama sedang bersandar di kursi kerjanya sambil menertawakan pesan singkat dari kekasihnya di ponsel.
Sesekali tangan kanannya bergerak lincah, membubuhkan tanda tangan pada berkas-berkas operasional yang disodorkan oleh sekretarisnya secara berkala.
Adrian adalah tipe pria yang membuat orang-orang di kafe atau lobi hotel akan menoleh dua kali, bahkan tiga kali saat dia berjalan lewat.
Postur tubuhnya tinggi tegap layaknya seorang atlet yang disiplin merawat fisik.
Rambut hitamnya dipotong dengan gaya modern yang rapi, memperlihatkan dahi dan rahang tegas yang tercukur bersih.
Daya tarik utamanya terletak pada sepasang lesung pipi yang akan muncul setiap kali dia tersenyum, sebuah pemandangan yang jarang dia perlihatkan di ruang rapat, kecuali kalau suasana hatinya sedang sangat bagus seperti pagi ini.
Dibandingkan citra CEO tua yang kaku, berkerut, dan membosankan, Adrian adalah angin segar yang dinanti-nanti di lingkungan Hutama Industries.
Meski pembawaannya santai, ramah, dan sering kedapatan bercanda dengan para staf di kantin kantor, jangan pernah sekalipun meragukan insting bisnis pria ini.
Adrian adalah otak di balik modernisasi sistem logistik dan distribusi energi Hutama Industries.
Berkat visinya yang mengintegrasikan teknologi ramah lingkungan, keuntungan perusahaan melonjak hingga tiga puluh persen pada tahun lalu.
Dia adalah definisi nyata dari prinsip bekerja keras dan bermain cerdas.
Di luar jam kantor, Adrian adalah kekasih yang royal dan perhatian bagi Bianca, seorang perancang busana ternama yang juga berasal dari lingkaran sosial elit Valerika.
Adrian menikmati setiap detik dari hidupnya yang nyaris tanpa cela dan berjalan sesuai kendalinya.
Bagi publik Valerika, Alea dan Adrian adalah dua contoh nyata dari manusia yang lahir di bawah rasi bintang keberuntungan.
Mereka berada di lingkaran sosial yang sama, sering menghadiri pesta amal yang sama, memimpin perusahaan raksasa, dan masing-masing sudah memiliki pasangan yang ideal.
Hidup mereka benar-benar berada di zona nyaman yang sangat stabil dan damai.
Dua garis sejajar yang bergerak di jalurnya masing-masing tanpa ada alasan untuk saling bersilangan secara personal.
Matahari mulai bergerak naik, menyinari ruang kerja Alea yang berdesain minimalis dengan sentuhan kayu hangat.
Wanita itu baru saja hendak membuka laptopnya untuk memeriksa agenda rapat pleno sore nanti, ketika ponsel pribadinya yang diletakkan di atas meja marmer bergetar konstan.
Nama yang tertera di layar membuat keningnya berkerut halus.
Ibu Calling...
Alea menggeser tombol hijau di layar, lalu menempelkan ponsel itu ke telinganya.
"Ya, Ibu? Selamat pagi."
"Alea, kau sedang sibuk?" Suara ibunya di seberang sana terdengar berbeda dari biasanya.
Tidak ada nada ceria atau obrolan santai mengenai rencana minum teh di akhir pekan.
Suara itu terdengar berat, penuh tekanan, dan formal.
"Tidak terlalu, Bu. Hanya memeriksa beberapa laporan mingguan. Ada apa? Suara Ibu terdengar sangat serius." Alea menegakkan posisi duduknya, instingnya mulai menangkap ada sesuatu yang tidak beres.
"Pulanglah ke kediaman utama jam dua siang ini. Ayahmu juga sudah membatalkan semua jadwalnya setelah makan siang. Ada hal sangat penting yang harus kita bicarakan bersama pengacara keluarga," kata ibunya langsung pada inti masalah, tanpa basa-basi.
Alea terdiam sejenak, melirik jam tangan klasiknya. "Apakah ini soal kesehatan Ayah? Atau ada masalah di dewan komisaris?"
"Bukan. Ini soal... wasiat mendiang Kakekmu. Pengacara baru saja membuka bagian dokumen yang selama ini disegel. Pulanglah tepat waktu, Alea. Jangan terlambat." Panggilan ditutup sepihak, meninggalkan bunyi tut panjang yang bergema di ruang kerja yang mendadak terasa sunyi.
Alea perlahan menurunkan ponselnya, perasaannya mendadak tidak enak.
Wasiat kakeknya yang sudah meninggal tiga tahun lalu? Kenapa baru diributkan sekarang?
Di waktu yang hampir bersamaan, di lantai teratas menara Vance Industries, Adrian baru saja hendak meneguk kopi keduanya hari itu.
Namun, cangkir porselen tersebut terpaksa dia letakkan kembali ke tatakannya dengan bunyi denting yang agak keras.
Pintu ruang kerjanya mendadak terbuka lebar tanpa ada ketukan sama sekali.
Seorang pria paruh baya dengan setelan jas hitam formal dan rambut yang sudah memutih di pelipis melangkah masuk dengan wajah tegang.
Itu adalah ayahnya sendiri, sang mendiang pemimpin tertinggi sebelum Adrian mengambil alih posisi operasional harian.
Di tangan sang ayah, terdapat sebuah map kulit tebal berlogo beludru hitam dengan segel lilin merah yang sudah rusak.
"Ayah? Ada apa? Mengapa tidak memberi kabar kalau mau datang?" Adrian bangkit dari kursi kebesarannya, menatap bingung ke arah ayahnya yang biasanya selalu tenang dan penuh wibawa.
Ayahnya tidak menjawab pertanyaan itu.
Beliau berjalan mendekati meja kerja Adrian, lalu menjatuhkan map beludru hitam tersebut tepat di hadapan putranya.
"Baca ini, Adrian. Dan pastikan kau membaca setiap kalimatnya dengan teliti."
Adrian mengerutkan alisnya.
Dia meraih map tersebut, membuka lembaran kertas tebal di dalamnya yang beraroma kertas tua.
Di bagian atas halaman pertama, tertera tanda tangan khas kakeknya, pendiri utama Hutama Industries. Sambil membaca baris demi baris, ekspresi santai di wajah Adrian perlahan memudar, digantikan oleh ketegangan yang membuat rahangnya mengeras.
"Apa-apaan ini, Ayah? Ini pasti lelucon, kan?" Adrian mendongak, menatap ayahnya dengan pandangan tidak percaya. "Perjodohan? Di abad seperti ini? Yang benar saja!"
"Itu bukan perjodohan biasa, Adrian. Itu adalah klausul mutlak pengalihan saham utama dan hak waris tunggal dinasti Hutama," sahut ayahnya dengan suara rendah namun berbobot.
"Kakekmu dan kakek dari keluarga Corisand telah menandatangani perjanjian itu sejak kau dan Alea masih kecil. Wasiat itu menyatakan bahwa jika dalam waktu tiga tahun setelah kematian mereka berdua, kau dan Alea tidak mengikatkan diri dalam hubungan pernikahan resmi, maka seluruh hak kontrol atas saham gabungan dan aset utama kedua perusahaan akan dialihkan ke yayasan perwalian independen. Kita akan kehilangan hak suara mayoritas di perusahaan kita sendiri."
Adrian tertawa hambar, merasa situasi ini sangat konyol.
"Tapi aku sudah punya Bianca, Ayah! Seluruh kota tahu itu. Dan setahuku, Alea juga memiliki hubungan serius dengan pria lain. Kita tidak bisa begitu saja mengorbankan hidup dan masa depan kita hanya karena kertas tua ini!"
"Kau pikir Ayah senang dengan situasi ini?" Ayahnya menatap Adrian tajam.
"Tapi ini adalah bisnis, Adrian. Dan ini adalah perintah mutlak dari pendahulu kita yang tidak memiliki celah hukum sedikit pun untuk dibantah. Pengacara kita sudah memeriksanya selama berhari-hari. Pilihannya hanya dua: kau menikah dengan Alea Corisand, atau kita semua keluar dari gedung ini dengan tangan hampa."
Dua jam kemudian, di sebuah restoran privat yang terletak di area tersembunyi pinggiran Valerika, dua mobil mewah berhenti hampir bersamaan.
Dari mobil pertama, Alea turun dengan langkah kaki yang tergesa namun tetap anggun, sementara dari mobil kedua, Adrian melangkah keluar dengan guratan frustrasi yang jelas tercetak di wajah tampannya.
Mereka berdua sengaja meminta pertemuan darurat ini, terpisah dari keluarga mereka masing-masing yang saat ini sedang sibuk mempersiapkan pertemuan formal antar-keluarga besar.
Di dalam ruangan privat restoran yang kedap suara, Alea dan Adrian berdiri saling berhadapan untuk pertama kalinya dalam konteks yang sepenuhnya berbeda dari biasanya.
Bukan sebagai sesama rekan pengusaha, melainkan sebagai dua orang asing yang dipaksa menyerahkan kebebasan mereka.
"Kau sudah membaca isi dokumen sialan itu?" Adrian membuka percakapan tanpa basa-basi, bahkan sebelum mereka berdua sempat duduk.
Alea menaruh tas tangannya di atas meja dengan ketukan pelan.
Dia menatap Adrian, berusaha keras menjaga suaranya agar tetap terdengar tenang, meski di dalam hatinya badai sedang berkecamuk.
"Sudah. Dan kurasa ekspresimu saat ini menjelaskan bahwa posisi kita sama-sama terjepit, Adrian."
"Ini gila, Alea. Aku tidak akan memutuskan hubunganku dengan Bianca hanya karena keinginan masa lalu dua orang tua yang sudah tiada," ujar Adrian sambil mengusap wajahnya kasar, lalu berjalan mondar-mandir di ruangan itu.
"Aku juga tidak punya niat sedikit pun untuk meninggalkan Julian," balas Alea datar, matanya mengikuti pergerakan Adrian.
Wanita itu menarik napas dalam-dalam, mencoba mengaktifkan mode berpikir taktisnya yang biasa dia gunakan di ruang sidang korporasi. Dalam setiap krisis, selalu ada celah. Dan sebagai seorang Corisand, tugasnya adalah menemukan celah tersebut.
Alea berjalan mendekati meja, lalu mengetukkan jarinya di atas permukaan kayu yang halus.
"Dengarkan aku, Adrian. Kita berdua adalah orang dewasa yang rasional. Menolak wasiat ini berarti kehancuran bagi perusahaan yang sudah kita bangun dengan susah payah. Menyetujuinya secara mentah-mentah berarti menghancurkan kehidupan pribadi kita sendiri."
Adrian menghentikan langkahnya, menatap Alea dengan kening berkerut.
"Lalu apa maumu? Kita tidak punya pilihan ketiga."
Alea menyunggingkan senyum tipis, sebuah senyuman kalkulatif yang biasa dia tunjukkan saat berhasil menjebak lawan bisnisnya.
"Siapa bilang tidak ada pilihan ketiga? Kita akan tetap menikah, Adrian. Tapi hanya di atas kertas."
Adrian terdiam, mencerna kata-kata wanita di hadapannya.
"Maksudmu... pernikahan formalitas?"
"Tepat sekali," jawab Alea mantap.
"Kita buat perjanjian kontrak yang mengikat secara rahasia di antara kita berdua. Pernikahan ini hanya akan berlangsung selama enam bulan. Cukup lama untuk memenuhi klausul hukum wasiat kakek kita dan memastikan transisi saham berjalan aman tanpa memicu kecurigaan dewan komisaris ataupun publik. Setelah enam bulan berlalu dan posisi kita di perusahaan sudah benar-benar aman serta tidak bisa diganggu gugat lagi, kita akan bercerai secara baik-baik dengan alasan ketidakcocokan karakter."
Adrian menatap Alea dengan pandangan menilai.
Sisi pebisnis di dalam dirinya harus mengakui bahwa rencana wanita ini sangat rapi dan logis.
"Dan bagaimana dengan pasangan kita? Kau pikir mereka akan setuju melihat kita berdiri di altar dan tinggal di bawah satu atap?"
"Kita harus meyakinkan mereka bersama-sama," kata Alea dengan nada tegas.
"Ini murni transaksi bisnis jangka pendek demi melindungi masa depan kita semua. Enam bulan, Adrian. Kita akan membeli sebuah rumah atau penthouse baru yang netral agar keluarga kita tidak menaruh curiga. Kita tinggal di sana, tapi dengan aturan yang ketat: kamar terpisah, privasi penuh, dan tidak ada intervensi dalam kehidupan pribadi masing-masing di luar urusan publik."
Adrian terdiam cukup lama, menimbang semua risiko dan keuntungan dari rencana nekat ini.
Ruangan itu kembali diselimuti keheningan selama beberapa menit, hanya menyisakan suara detak jam dinding yang seolah menghitung mundur sisa kebebasan mereka.
Akhirnya, Adrian mengembuskan napas panjang.
Dia melangkah mendekati Alea, lalu mengulurkan tangan kanannya ke depan.
"Enam bulan, Alea. Hanya di atas kertas, di depan publik, dan tanpa melibatkan perasaan apa pun."
Alea menyambut uluran tangan Adrian dengan genggaman yang sama kuat dan mantap.
"Deal. Enam bulan, Adrian."
Mereka berdua tersenyum tipis, merasa lega karena telah menemukan jalan keluar yang cerdas dari masalah ini.
Dua orang yang begitu sempurna, merasa yakin bahwa mereka bisa mengendalikan segalanya, termasuk sebuah pernikahan sandiwara.
Mereka belum tahu, bahwa takdir sering kali memiliki cara tersendiri untuk menertawakan rencana-rencana manusia yang paling sempurna sekalipun.
Dan di balik lembaran kertas wasiat tua itu, ada sebuah rahasia besar yang sedang mengintai, menunggu waktu yang tepat untuk menyeret mereka berdua ke dalam pusaran misteri yang sesungguhnya.