Slowburn—Romansa Komedi
Naira tidak pernah membayangkan dirinya akan dijodohkan.
Apalagi dengan Arka— seorang perwira muda pendiam yang baru dikenalnya beberapa jam, tetapi sudah membuat jantungnya gugup setiap kali lelaki itu menatap.
Sementara Arka sendiri tidak pernah pandai berbicara manis.
Ia hanya hadir dengan sikap tenang, perhatian sederhana, dan kebiasaan selalu datang tepat waktu.
Di antara suara radio tua, hujan sore, dan telepon wartel yang sering terputus, hubungan mereka tumbuh perlahan.
Canggung. Pelan. Tapi diam-diam menghangatkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 02
...~Kalau Cocok, Boleh Diterima~...
"Bagaimana, Nai?”
Pertanyaan itu keluar dari bibir ayah Naira, memecah keheningan yang sejak tadi menggantung di ruang tengah.
Meski tidak sedang mendesaknya untuk segera menjawab, Naira tetap gugup.
Matanya berpindah dari satu orang ke orang lain.
Ayahnya.
Ibunya.
Om Seno.
Dan kali ini, Arka ikut memandanginya.
Rasa gugupnya semakin menjadi. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Bahkan suara jangkrik yang bersahutan di luar rumah terasa kalah nyaring.
Namun seolah menyadari kecanggungan yang mulai memenuhi ruangan, Om Seno menjadi orang pertama yang tertawa.
Tawanya pelan. Kumis rapinya ikut terangkat beberapa kali.
“Lihat wajah Naira, Yok. Kasihan anaknya.”
Ucapan itu langsung mencairkan suasana di antara mereka.
Ibunya kembali duduk meski wajahnya terlihat malu. Ayah Naira ikut tertawa kecil, walau Naira yakin itu bukan karena ada hal yang benar-benar lucu.
Sementara Arka kembali ke posisi semula.
Duduk sedikit membungkuk dengan tatapan menunduk, seolah baru saja mendapat hukuman.
“Kami tidak mendesakmu,” ujar Om Seno kemudian.
Pria paruh baya itu memperhatikan Naira cukup lama sebelum kembali berbicara.
“Tapi kalau kamu masih ragu, kalian bisa saling kenal dulu.”
Om Seno menoleh ke arah putranya.
“Kami juga akan tinggal cukup lama di sini. Kebetulan cuti Arka lagi panjang.”
Naira meremas pelan rok di atas lututnya. Ia menarik napas beberapa saat sebelum akhirnya menjawab pelan,
“Baik, Om. Nanti saya pertimbangkan.”
Ayah Naira terkekeh kecil.
“Anak muda sekarang memang harus saling kenal dulu.”
“Iya betul,” sahut ibunya cepat.
Suasana kembali mencair. Obrolan ketiga orang tua itu perlahan berubah menjadi cerita tetangga dan kabar kampung.
Naira menghela napas pendek.
Tatapannya sempat mengarah keluar rumah sebelum menyadari Arka kembali menoleh ke arahnya.
Mata mereka bertemu beberapa detik.
Namun Naira lebih dulu memutus kontak itu.
“Bu, Naira ke toilet terus istirahat ya,” pamitnya pelan.
Gadis itu segera berjalan menuju toilet.
Ia berdiri cukup lama di depan cermin berbingkai ukiran kayu sambil memandangi pantulan wajahnya sendiri.
Rona pipinya masih memerah.
Tanpa sadar pikirannya kembali mengingat pria yang baru dikenalnya malam ini.
Secara fisik, Arka memang tampan.
Pekerjaannya juga bisa dibilang mapan, meski Naira sering mendengar orang berkata bahwa menikah dengan tentara berarti harus siap menjadi ditinggal kapan saja.
Cukup lama ia berdiri di sana hanya untuk menatap dirinya sendiri.
Dan mengingat wajah Arka yang rupawan.
Saat kembali keluar, suasana rumah sudah jauh lebih sepi.
Radio dimatikan. Hanya terdengar dentingan gelas yang sedang dirapikan ibunya ke atas nampan.
“Kok udah sepi?” tanya Naira.
Ibunya menoleh singkat.
“Lho, kamu tinggal lama banget. Makanya mereka pulang.”
Naira ikut membereskan piring berisi makanan ringan—kacang rebus, pisang goreng, dan ubi goreng yang tinggal sedikit.
“Ibu bisa aja.”
Ia berjalan ke dapur bersama ibunya.
“Nai,” panggil ibunya pelan. “Sejujurnya kamu ragu sama Arka?”
Naira diam beberapa saat sebelum akhirnya tersenyum kecil.
“Ya mau gimana, Bu. Baru kenal beberapa jam udah dijodohin.”
“Tapi ibu lihat dia baik.”
Naira menoleh sesaat sambil meletakkan piring kosong di dekat wastafel.
“Semua orang baik saat pertama kenal.”
“Nggak juga.”
Ibunya mendekat sedikit ke arah Naira.
“Setidaknya dia nggak kayak si Santoso, anak carik itu.”
Wajah ibunya langsung berubah geli sendiri.
“Berapa kali dia coba gangguin kamu?”
“Ibu…”
Naira langsung memprotes malu.
Ibunya malah terkekeh pelan.
“Coba kenalan dulu sama Arka. Dia di sini mungkin seminggu atau dua minggu.”
Lalu ibunya mendekat ke telinga Naira sambil berbisik pelan,
“Kalau cocok, boleh diterima kapan aja.”
Jantung Naira langsung berdetak tak karuan.
Bayangan Arka kembali muncul di kepalanya.
Kulit kecokelatan karena terlalu sering terkena matahari. Rahang tegas. Bibir kecil yang rapi. Alis tebal yang nyaris menyatu.
Dan entah kenapa, satu hal yang paling diingat Naira justru—
giginya terlalu rapi dan bersih.
Kegelapan turun sempurna di desa itu.
Kabut tipis yang tadi muncul selepas hujan kini sudah menghilang, berganti hawa dingin yang menusuk kulit. Sesekali tetesan air dari atap rumah masih terdengar jatuh perlahan.
Naira bergelung di balik selimut.
Lampu kamarnya sudah dimatikan. Hanya menyisakan cahaya kecil dari lampu belajar di sudut meja dekat jendela.
Matanya masih terbuka.
Pikirannya terus kembali pada perjodohan yang baru saja ditawarkan padanya malam ini.
Dan tanpa sadar, ingatannya kembali tertuju pada Arka.
Pemuda bertubuh tinggi tegap yang tadi berdiri di sampingnya sambil membantu mencuci piring tanpa terlihat canggung sedikit pun.
Naira menghela napas pelan.
“Aku harus gimana…” gumamnya lirih.
Sementara itu, hanya berbeda beberapa petak rumah dari rumah Naira, lampu remang-remang di ruang tengah rumah Om Seno masih menyala.
Radio tua dipelankan volumenya.
Dua pria duduk saling berhadapan sambil ditemani kopi hitam panas.
“Bapak bikin takut anak orang.”
Kali ini suara Arka terdengar lebih ringan dibanding saat berada di rumah Naira tadi.
“Ya kan nyari jodoh buat anak bapak.”
Arka terkekeh kecil.
“Kasihan, Pak.”
“Kamu sebenarnya suka, kan?”
Arka mengangkat senyum tipis.
“Suka itu banyak jenisnya.”
“Naira itu selain anak teman bapak, dia juga cocok jadi pasangan.”
Seno menyeruput kopi hitam buatannya perlahan.
“Pinter. Profesinya guru.”
Tatapan pria paruh baya itu kembali tertuju pada putranya.
“Kalian sama-sama pengabdi negara.”
Tawa Arka terdengar rendah.
“Bapak bisa aja.”
“Tapi bapak serius mau jodohin kalian. Kamu juga nggak punya pacar, toh?”
Arka menggeleng pelan.
“Siapa juga yang mau sama Arka.”
“Lho…”
Seno langsung memasang wajah garangnya.
“Banyak yang antre. Ibu-ibu komplek yang punya anak perempuan sering nawarin perjodohan.”
Arka mengangkat alis tipis.
“Yang mau orang tuanya. Anaknya belum tentu.”
Seno terkekeh kecil.
“Kamu coba aja dulu deketin dia. Siapa tahu memang cocok.”
Ucapan ayahnya membuat Arka terdiam sesaat.
Ada desir kecil yang perlahan muncul di dadanya.
Naira.
Gadis polos itu.
Dress floral. Sweater rajut. Rambut yang dicepol asal.
Arka masih ingat jelas matanya yang hitam dengan bulu mata lentik. Hidung bangir dan bibir tipisnya.
Bahkan senyumnya saat gugup tadi—
terlihat manis.
Semoga cerita ini bisa dibaca dengan ringan, canda, dan tawa kepada kalian. Terimakasih atas dukungannya. ❣️
Salam hangat juga dari Arka—Naira, mereka selalu menunggumu membaca cerita mereka.