"Luka ini masih menganga, kata maaf dan khilaf tidak bisa menguburkanya. Pengkhianatan ini terlalu pahit, hingga aku susah untuk lupa!"
Ini adalah kisah Isana, seorang wanita yang dikhianati Andreas dengan begitu pahit, saat sedang mengandung anaknya. Namun menemukan kisah manis dibalik Cupcake kegemarannya, bersama Althaf Rafardhan, seorang chef yang terkenal dingin dan tidak banyak bicara.
Andreas yang terpuruk karna menyadari, cintanya hanyalah untuk Isana, bukan Risa perempuan penggoda. Ingin kembali lagi, memperbaiki hubungan yang kandas. Mencoba membujuk Isana untuk rujuk, dengan dalih sebagai Ayah biologis anak laki-laki mereka.
Akankah Althaf membiarkan wanita yang ia cintai itu kembali pada pria yang sudah mengahancurkanya?
Dan apa keputusan Isana?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tulisan_nic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anak Mama
*
*
*
Pukul 06.30, udara masih menyimpan sisa kesejukan malam. Sesekali terdengar suara burung dari pucuk-pucuk pohon yang menjulang tinggi, memecah kesunyian yang begitu asing bagi ukuran kota Jakarta.
Andreas masih terlelap di sofa ruang tamu, dengan kepala miring ke sandaran. Selimut tipis melorot sampai ke lantai, tidak benar-benar menutupi tubuhnya.
Dari arah depan terdengar langkah kaki mendekat, bersamaan dengan suara bel yang nyaring mengoyak keheningan suasana rumah.
Bik Marni yang sejak tadi masih sibuk di dapur, tergopoh-gopoh membuka pintu.
"Bu, Dewi ... Silahkan masuk Bu ..."
Andreas membuka mata perlahan. Suara Bik Marni seperti datang dari tempat yang jauh, menembus kabut tebal yang sejak semalam memenuhi kepalanya.
Namun mendengar nama Dewi, membuat kesadarannya terkumpul sedikit demi sedikit.
Ia mengerjap beberapa kali. Langit-langit ruang tamu menyambut pandangannya. Lehernya terasa pegal karena semalaman tidur dengan posisi yang tidak nyaman. Punggungnya nyeri, sementara kepalanya berdenyut pelan di pelipis.
Andreas mengusap wajah kasar dengan kedua telapak tangan.
"Kamu tidur disofa, An?"
Dewi langsung bertanya, ketika mendapati tubuh putra sulungnya itu masih rebahan disana.
Andreas memaksakan untuk bangkit, "Mama? tangannya meraih selimut tipis itu, segera melipat dan menaruh disebelahnya.
Dewi menyerahkan makanan yang terbungkus dengan wadah kedap udara pada Bik Marni. "Ini Mar, kamu siapkan dimeja makan. Untuk sarapan."
"Iya, Bu ..." Sahut Bik Marni, sembari menerimanya dan berlalu menuju dapur.
Dewi perlahan merebahkan tubuhnya disofa. Bersebelahan dengan Andreas. "Kamu kenapa tidur disofa?"
Andreas mengusap dahinya sebelum menjawab. Kepalanya masih terasa berat. Tidur beberapa jam di sofa ternyata tidak cukup untuk mengusir lelah yang menumpuk di tubuhnya sejak beberapa hari terakhir.
"Nggak kenapa-kenapa, Ma," jawabnya singkat.
Dewi menghela nafas. Tatapannya menyapu wajah putranya dengan seksama. Seorang ibu tidak membutuhkan penjelasan panjang untuk tahu kalau anaknya sedang tidak baik-baik saja.
Rambut Andreas berantakan. Matanya sembab. Rahangnya terlihat mengeras sejak tadi. Bahkan cara laki-laki itu duduk saja seperti orang yang sedang memikul sesuatu yang terlalu berat. "Ada apa An? kamu nggak bisa bohongi Mama, dengan bilang nggak kenapa-kenapa."
Andreas mengembuskan napas pelan.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan Ma ..."
"Mama yang sudah ngelahirin kamu, Mama kenal siapa kamu sudah tiga puluh dua tahun."
Andreas mengulum senyum tipis. Ingin menyangkal, bahwa sebenarnya Ibunya tidak tahu apa-apa tentangnya.
Dewi menggeser tubuhnya sedikit mendekat.
"Kamu masih berantem sama Isana?"
Pertanyaan itu membuat Andreas diam. Tangannya saling bertaut di depan lutut. Pandangannya lurus ke taman depan yang terlihat dari balik kaca besar ruang tamu. Pohon-pohon bergerak pelan tertiup angin pagi.
Tenang.
Sementara isi kepalanya terasa seperti medan perang.
"Mama..." Suaranya Andreas rendah. Ada sedikit serak disana. "Aku capek."
Dewi langsung menoleh.
Ada sesuatu dalam nada suara itu yang membuat dadanya ikut terasa sesak. Setahu Dewi, Andreas bukan tipe laki-laki yang mudah mengeluh. Sejak kecil ia selalu berusaha menyelesaikan semuanya sendiri.
Kalau Andreas sampai mengucapkan kata capek, berarti beban yang ia tanggung memang sudah berada di luar batas biasanya.
"Apa yang bikin kamu capek?" tanya Dewi pelan.
Andreas tertawa hambar. "Semuanya."
Jawaban itu keluar begitu saja. Tanpa ia rencanakan.
Dan setelah mengatakannya, Andreas justru merasa dadanya semakin berat.
"Semuanya gimana?"
"Aku pulang capek. Aku bangun tidur capek. Aku kerja capek. Aku di rumah juga capek."
Suasana mendadak sunyi.
Dewi terdiam, menatap Andreas lebih dalam. Ia membiarkan putranya itu menyelesaikan bicaranya.
Andreas menunduk. Tatapannya jatuh pada jemarinya sendiri. "Aku bahkan udah nggak tahu lagi harus mulai beresin semuanya dari mana."
Kalimatnya terdengar pelan dan begitu rapuh.
Dewi menghela napas panjang. Tangannya terangkat, mengusap rambut Andreas seperti yang sering ia lakukan ketika putranya masih kecil.
Andreas terdiam.
Sudah lama sekali ia tidak merasakan sentuhan itu.
Hanya dengan usapan sederhana tersebut, ada sesuatu yang mendadak mengganjal di tenggorokannya.
"Rumah tangga memang nggak gampang, An."
Andreas menunduk semakin dalam.
"Adakalanya, rumah tangga sedang di uji oleh badai masalah. Tapi jangan sampai kamu terlalu sibuk lari dari masalah sampai lupa cara menghadapi masalah itu sendiri."
Andreas memejamkan mata sesaat.
Kalimat itu terasa menghantam tepat ke dadanya.
Karena beberapa hari terakhir, bukankah memang itu yang ia lakukan?
Menghindar dari masalah yang ia buat sendiri. Berharap semuanya membaik dengan sendirinya.
Padahal setiap hari yang berlalu justru membuat jarak antara dirinya dan Isana semakin lebar.
"Aku nggak tahu harus ngomong apa ke Isana, Ma."
Suara Andreas terdengar lirih.
"Aku juga nggak tahu gimana cara bikin dia percaya, tiap kali dia cecar aku."
Dewi menatap wajah putranya cukup lama. "An, apa perlu Mama yang bicara sama, Isa?"
Andreas menggeser posisi duduknya. Jemarinya saling bertaut begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. "Nggak perlu Ma."
Saat Dewi menatap lurus ke arahnya, ia justru menoleh ke meja makan dan berpura-pura merapikan selimut yang bahkan sudah ia lipat rapi sejak tadi. Rahangnya mengeras. Ada jeda beberapa detik sebelum akhirnya ia menjawab, seolah sedang memilih kata yang paling aman untuk diucapkan. "Kasih, aku kesempatan buat memperbaiki keluarga aku sendiri."
"Baiklah, Mama tidak memaksa. Tapi, sekarang dimana Isa? Mama mau lihat cucu Mama." Dewi bangkit dari duduknya.
"Isa, dikamar Ma ..." Andreas menjawab tanpa menoleh.
Dewi melangkahkan kakinya menuju kamar yang Andreas maksud. Menatap putranya sejenak, sebelum benar-benar meninggalkannya.
Di dalam kamar,
Isana tengah menyusui Ghazi, dengan punggung menyandar pada bantal besar. Tampak nyaman, duduk diatas kasur king size yang tidak sampai separuh ia tempati.
"Isa ..."
Suara Dewi memenuhi ruangan yang tadinya hening. Hanya suara difuser disudut ruangan yang terdengar.
"Mama? Masuk Ma ..."
Isana serta merta, memaksakan senyum.
"Ghazi, masih menyusu?"
Isana mengangguk, "Iya, Ma ... Setelah mandi, sepertinya dia sangat lapar."
Dewi mendekat, tersenyum menatap menantu dan cucunya, bergantian.
"Isa ... boleh Mama bicara sesuatu?"
Isana mendongak, menebak-nebak apa yang akan dibicarakan oleh mertuanya.
"Mama mau bilang, kalau Andreas adalah anak laki-laki Mama. Sama seperti Ghazi, dia adalah anak laki-laki kamu." Dewi sengaja menjeda kalimatnya, membuat Isana mengernyitkan dahi.
"Mama rasa, semua Ibu didunia ini tidak ada yang ingin melihat putranya terus menerus terbebani."
Isana menelan ludah.
"Laki-laki, menghadapi banyak tekanan diluar rumah. Didalam rumahnya, berilah dia ketenangan. Bukan malah menambah tekanannya."
Dewi, mengatur nafas. Sebelum melanjutkan.
"Membiarkan Andreas tidur disofa, itu ... agak keterlaluan Isa. Apa kamu tidak kasihan dengan suami yang memperjuangkan kebahagian untuk kamu? Dia rela, menghabiskan waktunya untuk bekerja, demi kamu dan juga anak kamu."
"Isa, pertengkaran rumah tangga dan kesalah pahaman itu biasa, tapi tidak pantas kalau istri berlaku seperti itu pada suaminya. Mama minta, kamu rubah sikap kamu itu ... Andreas adalah anakku, dan aku tidak suka jika ada yang tidak menghargainya."
Kini Isana tahu, kemana arah pembahasan mertuanya. Seorang Ibu, yang mencoba membela anak laki-lakinya. Meski ia tidak tahu, sebenar-benarnya.
Isana tersenyum getir, ingin sekali ia membeberkan semuanya. Namun bicara tanpa bukti hanya akan menimbulkan ejekan saja. Isana memilih diam.
*
*
*
~Salam hangat dari Penulis🤍