NovelToon NovelToon
Terbelenggu Takdir

Terbelenggu Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dokter / Mengubah Takdir
Popularitas:795
Nilai: 5
Nama Author: Cut Asmaul Husna

Kalea tidak sengaja memecahkan kaca mobil mewah milik Raditya di area parkir. Raditya yang marah besar meminta ganti rugi yang sangat mahal. Karena Kalea tidak bisa membayar uang sebanyak itu dalam waktu cepat, Raditya mengancam akan membawanya ke kantor polisi. Namun, Raditya yang sedang pusing karena dipaksa ibunya menikahi Natasha melihat sebuah celah. Raditya akhirnya menawarkan kesepakatan: Kalea bebas dari tuntutan polisi jika mau menjadi pacar pura-puranya.


Hubungan yang awalnya penuh adu mulut dan kebencian ini berubah rumit saat keadaan memaksa mereka terikat dalam pernikahan resmi. Konflik berat pun dimulai. Orang tua Raditya menolak keras menantu yang tidak jelas asal-usulnya. Di sisi lain, keluarga kandung Kalea terus datang mengusik dan membongkar status "anak haram" Kalea demi menjatuhkannya di depan keluarga Raditya.

SALAM DARI AUTHOR 🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut Asmaul Husna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 17 : PENAKLUKAN HATI DI TEPI JALAN SUNYI

Radit masih memegangi pergelangan tangan Kalea di bawah terik matahari siang itu. Pegangannya kencang, tapi pelan-pelan melunak tanpa dilepas sedikit pun. Angin jalanan berembus kencang menerpa blazer kasual hijau botol milik Kalea, menerbangkan sisa-sisa amarah yang sejak tadi bikin dadanya sesak setelah keluar dari mobil sedan mewah Radit.

Kalea mencoba menyentak tangannya lagi sekuat tenaga. Mata birunya menatap tajam lurus ke mata elang Radit, masih penuh emosi yang meledak-ledak. "Lepasin aku, Mas Radit! Aku kan udah bilang, aku nggak mau balik ke mobil kamu! Urusan taruhan gila kita udah selesai hari ini!"

Radit sama sekali nggak membalas bentakan itu dengan amarah. Sebaliknya, pria berusia 29 tahun yang biasanya kaku, dingin, dan ketus laksana batu es di ruang operasi itu malah tersenyum manis banget. Senyuman tulus yang memancarkan kehangatan mendalam, sampai sepasang lesung pipinya yang dalam muncul dengan sempurna di kedua pipi putihnya.

Radit melangkah maju satu langkah, mengikis jarak di antara mereka di atas trotoar yang sunyi itu. Tangan kanannya yang besar dan hangat bergerak perlahan turun, melepas pergelangan tangan Kalea, lalu langsung menggenggam erat seluruh jemari tangan mungil Kalea dalam genggaman tangannya yang protektif.

"Kalea... tolong dengerin aku sebentar aja," ucap Radit dengan nada suara bariton yang mendadak berubah jadi lembut banget, rendah, dan penuh ketulusan yang belum pernah Kalea dengar sebelumnya. "Aku ngejar kamu bukan mau ngancem kamu lagi pakai masalah hukum atau uang seratus delapan puluh juta itu. Aku ngejar kamu karena aku bener-bener mau ngajak kamu nikah, Kalea. Nikah sama aku secara sah."

Kalea mengembuskan napas kasar, memalingkan wajah cantiknya ke arah lain sambil tersenyum pahit. "Nikah? Kamu ngomong gampang banget ya, Mas Radit! Tolong pakai otak jenius doktermu itu buat liat kenyataan! Pertama... kamu denger sendiri kan apa yang dibilang Tante Larasati di rumah kamu tadi? Aku ini perempuan yang selalu dicap anak haram sama keluargaku sendiri! Darah kotor, pembawa aib... kata-kata kejam itu udah nempel di tubuhku dari kecil! Dan yang paling penting, Mommy kamu... Mommy Ambar benci banget sama aku! Beliau nolak aku mentah-mentah dan ngusir aku kayak sampah dari rumah terhormat kalian! Kok bisa-bisanya kamu berpikir egois mau bawa aku masuk ke neraka baru?!"

Kalea menarik napas dalam-dalam, menatap Radit lagi dengan mata biru yang berkilat tajam menahan luka batin yang mendalam. "Dan alasan kedua... statusku sejak awal kemarin di kafe seberang jalan cuma sebatas pacar pura-pura! Nggak masuk akal, Mas Radit! Nggak mungkin aku nekat nikah sama cowok asing yang baru aku kenal beberapa hari, dan setiap ketemu selalu bikin aku naik darah! Pernikahan kontrak atau apa pun namamu itu, aku menolak keras?!"

Radit mendengarkan seluruh rentetan penolakan emosional dari mulut Kalea dengan ketenangan yang luar biasa. Genggaman tangannya pada jemari Kalea justru semakin dipererat, seolah menolak membiarkan wanita itu mundur satu inci pun dari hidupnya. Radit menundukkan kepalanya sedikit, mendekatkan wajah tampannya sampai matanya mengunci seutuhnya netra biru jernih Kalea.

"Kalea... kamu mau tahu satu rahasia nggak?" bisik Radit dengan nada suara yang dipenuhi getaran jahil yang romantis, bikin bulu kuduk Kalea meremang seketika. "Kesepakatan pacar pura-pura selama satu minggu kemarin... itu sebenarnya cuma kedok kelicikanku aja."

Kalea tertegun, matanya melotot sempurna dengan kening berkerut dalam. "Kedok? Maksud kamu apa, Mas Radit?!"

Radit tersenyum manis lagi, binar mata elangnya memancarkan rasa kagum yang luar biasa besar menatap wajah cantik Kalea yang sedang kebingungan. "Maksudku... aku emang udah jatuh cinta sama kamu sejak pertama kali kita adu mulut di ruang tindakan rumah sakit itu, Kalea. Sifat tegasmu, keberanianmu yang bar-bar nampar pipiku di parkiran, dan matamu yang berwarna biru seindah langit malam... semuanya udah berhasil meruntuhkan seluruh pertahanan kaku di dalam dadaku, yang selama dua puluh sembilan tahun ini nggak pernah tersentuh sama cewek mana pun. Aku sengaja ngancem kamu pakai ganti rugi seratus delapan puluh juta dan menjebakmu ke dalam kontrak pacar pura-pura itu... cuma biar aku punya alasan yang logis buat selalu dekat sama kamu setiap hari. Aku pengen milikiin kamu, Kalea."

DEG! DEG! DEG!

Mendengar pengakuan cinta yang begitu blak-blakan, tulus, dan romantis banget keluar langsung dari mulut pria sedingin Radit, Kalea seketika terbungkam seribu bahasa. Seluruh pasokan udara di dalam paru-parunya rasanya menguap lenyap dalam sekejap mata. Jantung wanitanya mendadak berdegup dengan ritme yang cepat banget, liar, dan bertalu-talu laksana genderang perang di dalam rongga dadanya.

Kalea merasakan tubuh mungilnya mendadak gemetaran hebat. Semburat warna merah merona yang tebal langsung menjalar cepat memenuhi kedua pipi putihnya, mengubah wajah cantiknya jadi sewarna buah tomat matang di bawah terik matahari siang. Dia bener-bener syok dan gugup setengah mati, nggak pernah menyangka kalau di balik keangkuhan dan sikap ketus Dokter Radit selama ini, tersimpan perasaan cinta pertama yang mendalam banget buat dirinya.

Radit yang menyadari perubahan ekspresi wajah Kalea yang salah tingkah itu mendadak terkekeh geli. Sifat menjahili dan menggodanya kembali bangkit buat mencairkan ketegangan batin wanita di depannya. Radit memajukan wajah tampannya satu senti lebih dekat, menatap lekat-lekat mata biru Kalea yang sedang bergerak liar panik.

"Wajarmu merah banget, Kalea. Dan dari jarak sedekat ini... aku bahkan bisa denger suara detak jantungmu yang berdegup kencang banget. Mengaku aja, pesona seorang Dokter Radit Baskara emang terlalu mematikan buat ditolak sama kucing liar kayak kamu, kan?" goda Radit.

Kalea langsung tersentak dari lamunannya, kegugupannya meledak jadi sikap keras kepala buat menutupi rasa malunya yang udah mencapai ubun-ubun kepala. Dia mencoba menarik tangannya kembali dengan wajah yang semakin memerah padam. "H-Heh! Dokter Sombong! Jangan narsis ya kamu! Siapa juga yang terpesona sama rayuan gombalmu itu?! Jantungku berdetak kencang karena aku... aku lagi pusing mikirin kegilaanmu siang ini, tahu?!" gagap Kalea dengan suara yang sengaja dikeras-keraskan.

"Aku nggak lagi merayumu, Kalea. Aku lagi menyatakan kebenaran hidupku," jawab Radit dengan nada suara yang kembali melunak penuh kelembutan, mengabaikan bantahan Kalea. Dia mengelus pelan punggung tangan Kalea pakai ibu jarinya dengan gerakan perlahan. "Aku tahu... aku nggak menyuruhmu buat langsung mencintaiku hari ini juga. Aku paham banget kalau hatimu saat ini masih dipenuhi rasa benci, trauma, dan luka akibat kekejaman keluarga Wijaya. Aku nggak minta cinta instan, Kalea. Yang aku minta hanyalah... berikan aku kesempatan buat jadi suamimu, jadi benteng pelindung abadi yang bakal mengamankan hidupmu. Biarkan waktu yang berjalan di dalam rumah tangga kita nanti yang bakal menumbuhkan benih cintamu untukku. Kita hadapi Mommy bersama-sama."

Kalea menatap lurus ke dalam manik mata elang Radit yang memancarkan ketulusan mutlak tanpa ada kedok manipulasi di dalamnya. Rasa cemas dan takut di dalam dadanya perlahan-lahan mulai terkikis oleh kehangatan perlakuan pria di hadapannya ini. Namun, logika berpikirnya sebagai wanita mandiri kembali berputar memikirkan rintangan terbesar mereka.

"Tapi... tapi tetap nggak bisa, Mas Radit," ucap Kalea dengan suara yang mulai melembut, nggak sekaku tadi, meskipun kegugupan masih mengunci tenggorokannya. "Masalahnya bukan cuma soal perasaan kita. Tapi... Mommy... Mommy Ambar nggak bakal pernah—"

"Mommy nggak bakal bisa menghentikan langkahku, Kalea," potong Radit dengan suara bariton yang tegas banget, dalam, dan penuh wibawa seorang pemimpin yang mutlak, memutus kalimat Kalea sebelum wanita itu sempat menyelesaikan kekhawatirannya. Radit menarik tangan Kalea dengan lembut tapi kuat, membimbing tubuh mungil wanita itu buat kembali berjalan mendekati mobil sedan mewahnya. "Keputusanku udah bulat dan nggak bisa diganggu gugat sama siapa pun, termasuk sama Mommy-ku sendiri. Besok pagi, kita tetap bakal ke KUA buat mendaftarkan pernikahan kita. Bersiaplah, karena mulai detik ini, takdir hidupmu udah resmi berpindah ke dalam genggaman tanganku."

Kalea cuma bisa berjalan mengekor di samping tubuh menjulang Radit dengan kepasrahan batin yang mendalam, menatap wajah tegas sang Dokter Bedah genius yang kini telah resmi mengunci jalinan takdir.

...****************...

Memanfaatkan kelengahan semua orang yang sedang fokus pada Fitri, Shinta Kirana Wijaya bergerak cepat. Dengan langkah kaki yang sengaja dijinjit agar tidak menimbulkan suara di atas lantai marmer, dia memberi isyarat mata kepada Fandi. Pria itu mengangguk paham. Mereka berdua menyelinap secara sembunyi-sembunyi menuju ke sudut lorong belakang, dekat area gudang bawah tangga yang remang-remang dan jarang dilewati oleh para pelayan rumah.

Begitu memastikan kondisi sekitar benar-benar aman dan tidak ada satu pun pasang mata yang mengintai, Shinta langsung membalikkan tubuhnya. Wajah cantiknya yang tadi penuh air mata palsu di depan papanya, kini berubah drastis menjadi sangat dingin, judes, dan dipenuhi gumpalan urat amarah yang siap meledak.

"Mas Fandi! Kamu gimana sih?!" semprot Shinta dengan suara setengah berbisik namun terdengar sangat tajam dan penuh penekanan menahan dongkol. "Kenapa tadi di depan Papa kamu malah diam aja kayak orang bodoh waktu si anak haram itu membongkar hubungan kita?! Untung aja tadi si Dokter Sombong itu bilang dia nggak tahu apa-apa soal kita! Kalau nggak, tamat riwayat kita malam ini, Mas!"

Fandi yang masih merasa ngilu pada tulang keringnya akibat tendangan Kalea semalam, mengusap wajahnya dengan kasar. Napasnya memburu panik. "Shinta, dengerin Mas dulu, sayang. Mas tadi itu bener-bener kaget! Mas nggak nyangka kalau Kalea bakal senekat itu ngomong blak-blakan di depan Mbakmu dan Papa. Pikiran Mas langsung ngeblank. Mas takut banget kalau Papa beneran nyuruh tim IT hotel nyari bukti rekaman CCTV itu!"

"Cih! Penakut banget sih jadi cowok!" dengus Shinta sinis, melipat kedua tangannya di depan dada sambil menatap kakak ipar sekaligus selingkuhannya itu dengan pandangan meremehkan. "Asal Mas tahu ya, gara-gara kejadian tadi, posisiku di rumah ini sekarang jadi agak goyah. Mbak Fitri emang gampang dibohongin pakai rayuan gombalmu, tapi Papa? Papa tadi diam aja, Mas! Tatapan mata Papa ke kita berdua itu beda banget, kayak lagi curiga! Aku nggak mau ya reputasiku sebagai influencer hancur cuma karena masalah ini!"

Fandi melangkah maju satu langkah, mencoba meraih pundak Shinta untuk menenangkannya, namun Shinta dengan cepat menepis tangan Fandi dengan kasar. "Jangan sentuh aku dulu! Aku lagi mikir! Ini semua gara-gara si mata biru sialan itu! Aku bener-bener nggak bisa tinggal diam, Mas. Kalea udah keterlaluan! Dia harus dikasih pelajaran yang setimpal. Aku bakal bikin karirnya di Hotel Grand Luminance hancur sekalian, biar dia tahu rasa gimana akibatnya kalau berani macem-macem sama Shinta!"

Mendengar rencana nekat Shinta yang ingin menyerang Kalea di hotel, Fandi seketika terperanjat. Otak liciknya yang penuh obsesi kotor pada Kalea langsung menolak keras. Dia tidak rela jika tubuh mungil dan kecantikan Kalea yang selama ini ingin dia kuasai harus dihancurkan begitu saja oleh kegilaan Shinta. Fandi buru-buru memegang kedua lengan Shinta dengan pegangan yang cukup kuat untuk mencegahnya.

"Jangan, Shinta! Jangan lakuin hal bodoh!" cegah Fandi dengan nada suara yang sedikit panik, mencoba menahan pergerakan gadis itu. "Kamu jangan gegabah serang Kalea di hotel tempat dia kerja. Kamu lupa kalau di belakang Kalea sekarang ada Dokter Radit Baskara?! Laki-laki itu bukan orang sembarangan, Shinta! Dia Direktur Utama rumah sakit elit, keluarganya punya pengaruh besar di kota ini. Kalau kamu macem-macem sama Kalea, Dokter Radit pasti nggak bakal tinggal diam dan bisa dengan mudah ngelacak pelakunya. Yang ada, hubungan rahasia tiga tahun kita ini malah bakal dibongkar habis-habisan sama dia ke media! Kita bisa hancur berdua, sayang!"

Mendengar kalimat pencegahan yang keluar dari mulut Fandi, Shinta tidak lantas mereda. Sebaliknya, dia justru menyipitkan kedua matanya yang dilapisi lensa kontak, menatap lurus ke dalam manik mata Fandi dengan pandangan yang sangat tajam, penuh selidik, dan mematikan.

"Kenapa kamu kelihatan panik banget begitu, Mas?" tanya Shinta dengan nada suara yang mendadak berubah jadi pelan namun terdengar sangat mengintimidasi. Dia memajukan wajahnya, menatap Fandi tanpa berkedip. "Jangan bilang... kamu mencegah aku bukan karena takut sama Dokter Radit. Tapi karena kamu sebenernya lagi ngelindungin Kalea, kan?! Iya, kan, Mas Fandi?! Kamu masih punya hasrat kotor sama kakak angkatku yang bermata biru aneh itu?!"

Fandi seketika tersentak, jantungnya berdegup kencang karena ketakutan kalau pikiran kotornya tentang Kalea terbongkar oleh selingkuhannya sendiri. Sebagai pria manipulatif yang sangat lihai dalam berbohong, Fandi dengan cepat memutar otak. Dia langsung mengubah ekspresi wajahnya menjadi sangat panik yang dibuat-buat, lalu buru-buru menarik tubuh seksi Shinta ke dalam pelukan eratnya, mengunci tubuh gadis itu agar tidak bisa melihat kebohongan di matanya.

"Ya Allah, Shinta... kamu ngomong apa sih, sayang? Kok bicaramu ngawur banget begitu?" rayu Fandi dengan nada suara yang mendadak berubah jadi sangat manis, lembut, dan dipenuhi kepalsuan yang mendalam tepat di dekat telinga Shinta. Dia mengelus punggung Shinta dengan gerakan naik-turun yang mesra untuk meredam kecurigaannya. "Mas bersumpah demi apa pun, Mas nggak ada perasaan apa-apa sama Kalea! Jangankan cinta, ngeliat mukanya yang sok polos itu aja Mas udah ngerasa sangat jijik! Mas mencegah kamu itu murni karena Mas sayang banget sama kamu, Shinta. Mas nggak mau kamu kenapa-napa. Mas nggak mau pacar rahasia Mas yang paling cantik, seksi, dan pinter ini harus kena masalah hukum gara-gara perempuan sampah kayak Kalea. Kamu itu terlalu berharga buat Mas, sayang."

Fandi menghentikan elusannya sejenak, mendorong sedikit tubuh Shinta agar pelukan mereka terlepas, lalu menatap lurus ke dalam mata Shinta dengan pandangan yang penuh gairah buatan. Tangan kanannya terangkat, mengelus pipi mulus Shinta dengan sangat lembut sebelum akhirnya menundukkan kepalanya dan mendaratkan sebuah ciuman hangat yang cukup lama di bibir Shinta untuk mengunci mulut gadis itu agar tidak kembali menuduhnya.

Shinta memejamkan matanya, napasnya mulai memburu bukan lagi karena amarah, melainkan karena sudah sepenuhnya terbuai oleh kata-kata manis dan ciuman manipulatif dari kakak iparnya tersebut. Namun, begitu ciuman mereka terlepas, Shinta tetap mendengus sinis dengan ego yang masih membara.

"Mas beneran cuma sayang sama aku kan? Awas aja kalau Mas bohong ya," ucap Shinta dengan suara yang melembut, merayap manja kembali ke dada bidang Fandi. "Tapi pokoknya, aku tetep nggak bakal biarin Kalea hidup tenang di rumah ini. Kalau di luar rumah dia dilindungi Dokter Radit, maka di dalam rumah ini, aku yang bakal mastiin dia tetep hidup kayak di neraka!"

Fandi tersenyum licik yang tersembunyi di balik pundak Shinta, merasa lega karena sandiwaranya berhasil seratus persen menutupi obsesi gilanya pada Kalea. "Iya, sayang. Atur aja sesukamu di rumah, Mas bakal selalu dukung kamu di belakang Mbakmu yang bodoh itu," bisik Fandi penuh kebusukan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!