Akibat jebakan obat di malam perjamuan, Aruna berakhir di ranjang bos besarnya yang dingin, Adrian. Namun, sebuah garis dua di testpack mengubah segalanya. Batasan profesional di atas kertas itu perlahan runtuh saat seorang anak kecil—buah cinta kandung dari malam penuh skandal itu—hadir di antara mereka, memaksa hubungan ini berjalan jauh melampaui batasnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agatha soul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7
Mendengar pertanyaan Fika yang bertubi-tubi, jantungku rasanya mau melompat keluar dari dada. Aku buru-buru menelan siomay di dalam mulutku dengan susah payah, lalu memasang wajah sebingung mungkin.
“Hah? Apaan sih, Fik? Ya enggak lah! Yakali itu aku,” kilahku sambil tertawa canggung, mencoba bersikap sealami mungkin. “Aku tuh gak punya hubungan apa-apa ya sama atasan itu. Kenal mukanya aja kagak. Kemarin siang setelah diusir Pak Danu, aku langsung lemes dan pulang ke rumah.”
Fika tampak menyipitkan matanya, menimbang-nimbang jawabanku. “Masa sih? Tapi postur badannya mirip banget sama lo dari belakang.”
“Kemiripan visual doang itu mah,” ujarku, mencoba mengalihkan perhatian. Tapi di dalam hati, aku malah penasaran. “Eh, tapi emangnya... Pak Adrian itu aslinya segalak gimana sih?”
“Lah, lo gak tahu? Pak Adrian itu terkenal perfeksionis tingkat dewa, Runa. Dingin, kaku, dan kalau ngomong suka nusuk banget. Semua staf di sini tuh takut kalau berpapasan sama dia,” tutur Fika bersemangat.
Aku terdiam sebentar, mengingat-ingat interaksiku dengan pria itu kemarin. Galak?
Perasaan kemarin di ruang rapat dia malah menyelamatkanku dari kepanikan. Dan di dalam lift, meskipun bicaranya ketus, dia justru menahan pintu lift agar aku bisa masuk di lift itu.
“Masa sih? Perasaan enggak deh... maksud aku, kalau dilihat dari penampilannya, dia kelihatan berwibawa banget tahu,” ujarku spontan, malah memuji. “Kelihatan ganteng, tegas, dan tahu cara memperlakukan orang dengan bener pas lagi genting.”
Fika melongo menatapku. “Lo muji Pak Adrian ganteng dan baik? Wah, lo belum tahu aja kalau dia—“
“Tapi ya tetep aja!” aku langsung memotong kalimat Fika, nadaku berubah jadi menggebu-gebu saat mengingat bagian yang membuatku kesal. “Biarpun tampangnya oke, menurut aku dia itu tipe bos yang menyebalkan dan keras kepala banget!”
Saat aku mulai berapi-api itu, gerakan mengunyah Fika mendadak berhenti. Matanya melebar menatap ke arah belakang punggungku. Tangannya di bawah meja mulai menyenggol-nyenggol kakiku, memberi kode keras agar aku diam.
Tapi aku yang terlanjur kesal malah gak peka.
“Apaan sih, Fik? Senggol-senggol kakiku?” tanyaku bingung, lalu malah lanjut mengoceh lebih keras. “Kan emang bener dia itu keras kepala! Masa gak mau dengerin penjelasan orang lain dulu, terus langsung main paksa orang ikut rapat yang jelas-jelas di luar job desk-nya? Gara-gara kelakuan dia yang egois itu, aku jadi kena imbasnya sampai dipecat di hari pertama kerja coba! Nyebelin banget kan cowok kayak gitu?!”
Wajah Fika sekarang sudah pucat pasi seperti melihat hantu. Dia menunduk dalam-dalam, pura-pura sibuk mengaduk siomaynya dengan tangan gemetar.
Sebuah bayangan tinggi besar tiba-tiba jatuh menutupi meja makan kami. Udara di sekitar pojok kantin itu mendadak terasa dingin dan mencekam. Sebelum aku sempat menoleh, sebuah suara bariton yang sangat berat, familier, dan dingin terdengar tepat di atas kepalaku.
“Jadi... menurut kamu saya menyebalkan, keras kepala, egois, dan membuat orang dipecat di hari pertama kerja, Aruna Prameswari?”
Deg.
Jantungku rasanya berhenti berdetak saat itu juga. Aku mematung dengan garpu yang masih melayang di udara. Perlahan, dengan leher yang terasa amat kaku, aku menoleh ke belakang.
Pak Adrian sedang berdiri tegak di sana, mengenakan kemeja formal hitam tanpa jas dengan lengan yang digulung sampai siku. Di tangannya ada sebotol air mineral yang baru ia beli. Tatapan matanya yang tajam menembus langsung ke manik mataku, datar tanpa ekspresi, namun mematikan.
Dia mendengar semuanya. Bagian aku menjelek-jelekannya tentang rapat dan pemecatan itu terdengar dengan sangat rinci di telinganya, sementara bagian saat aku memujinya ganteng tadi... tampaknya lewat begitu saja sebelum dia berjalan mendekat.
Aku menelan ludah dengan susah payah. Sadar kalau nasibku sudah di ujung tanduk, otakku langsung berputar cepat mencari cara paling nekat untuk menyelamatkan diri.
Dengan gerakan super pelan, aku menoleh ke belakang. Aku memasang wajah sepolos mungkin, mengerjapkan mata beberapa kali seolah-olah obrolan pedas tadi tidak pernah keluar dari mulutku.
Aku memaksakan sebuah senyuman tipis, manis, tapi sebenarnya menahan gugup setengah mati. Bukannya gemetar ketakutan seperti karyawan lain, aku malah menyendok sepotong siomay yang masih utuh dengan garpuku, lalu mengangkatnya sedikit ke arah wajah tampannya yang sedingin es itu.
“Eh... Pak Adrian? Makan, Pak,” sapaku dengan suara yang dibuat selembut mungkin, mengabaikan fakta kalau dia baru saja mengulang semua kalimat jelekku. “Bapak belum makan siang kan? Mau siomaynya, Pak? Ini enak loh, bumbu kacangnya pas. Mau saya su... eh, maksudnya mau dicoba dulu, Pak?”
Fika yang duduk di depanku langsung tersedak ludahnya sendiri sampai terbatuk pelan. Dia menatapku seolah-olah aku sudah kehilangan akal sehat dan sedang menggali kuburanku sendiri.
Suasana di pojok kantin yang tadinya agak bising mendadak senyap. Beberapa karyawan dari meja seberang yang menyadari keberadaan Pak Adrian mulai mencuri pandang. Dan begitu mereka melihat tindakan nekatku—seorang anak baru yang baru masuk, mengacungkan garpu berisi siomay lima ribuan ke arah CEO legendaris yang terkenal kejam, kasak-kusuk langsung menyebar seperti api menyiram bensin.
“Gila, itu anak baru kan?”
“Berani banget dia nawarin siomay kantin ke Pak Adrian?”
“Nyari mati itu cewek, lihat tuh muka Pak Adrian udah kayak mau nelen orang.”
Memang benar, di kantor ini, pesona Pak Adrian luar biasa. Ketampanannya sering jadi bahan cuci mata para staf perempuan, tapi tidak akan pernah ada yang berani bersikap sok akrab, apalagi menawarkan makanan kantin dengan wajah tanpa dosa seperti yang sedang kulakukan sekarang. Kebanyakan dari mereka pasti sudah menunduk ketakutan atau meminta maaf sambil menangis.
Pak Adrian tidak langsung menjawab. Dia hanya menatap garpu di tanganku, lalu beralih menatap mataku dengan tatapan yang semakin tajam dan intens. Alisnya bertaut sebelah, seolah sedang menilai apakah staf barunya ini benar-benar polos atau memang sudah urat malunya sudah putus.
Keheningan di antara kami terasa begitu mencekam di tengah bisikan orang-orang. Aku masih setia mempertahankan senyumanku, meskipun tanganku yang memegang garpu sebenarnya sudah mulai gemetar karena pegal dan grogi ditatap sedekat itu olehnya.
“Kamu...” Pak Adrian akhirnya bersuara, nadanya rendah dan bergetar, membuat bulu kudukku meremang. “...menawarkan saya makanan sisa kamu setelah baru saja menguliti kekurangan saya di depan umum?”
Mendengar ucapan Pak Adrian yang begitu dingin, nyaliku langsung ciut seketika. Senyum polos yang sedari tadi kupertahankan mendadak luntur.
“Eh, m-maksud saya bukan makanan sisa, Pak! Ini masih utuh, kok!” jawabku panik, buru-buru menurunkan garpu. Otakku langsung berputar mencari jalan keluar cepat sebelum pria ini benar-benar memecatku lagi. “Maksud saya... kalau Bapak mau, saya bisa pesankan yang baru sekarang juga. Terus... terus nanti saya anterin langsung ke ruangan Bapak di atas. Gimana, Pak?”
Fika yang mendengar itu langsung menepuk jidatnya sendiri di bawah meja. Bisa-bisanya anak baru nawar jadi kurir makanan pribadi CEO.
Pak Adrian tidak langsung menjawab. Dia mengalihkan pandangannya dari wajahku, menatap sekeliling kantin. Benar saja, puluhan pasang mata yang tadi sedang asyik menonton kami langsung buru-buru menunduk dalam-dalam, pura-pura sibuk menyuap makanan masing-masing seolah tidak terjadi apa-apa. Suasana kantin mendadak sunyi senyap karena aura intimidasi dari sang CEO.
Setelah memastikan tidak ada lagi yang berani terang-terangan menonton, Pak Adrian kembali menatapku. Sudut bibirnya berkedut sangat tipis hampir tak terlihat sebelum wajahnya kembali datar.
“Baik. Saya tunggu di ruangan saya. Jangan terlambat,” ucapnya pendek. Tanpa menunggu jawabanku, dia berbalik dan melangkah pergi meninggalkan kantin dengan langkahnya yang tegap.
Aku menghembuskan napas panjang yang sedari tadi kutahan sampai bahuku merosot.
“Runa! Lo gila ya?!” bisik Fika heboh begitu Pak Adrian sudah agak jauh. Dia mengguncang bahuku. “Sumpah, nyali lo terbuat dari apa sih? Berani banget! Terus itu... berarti lo beneran cewek yang di lift kemarin kan?! Lo bohongin gue ya!”
“Duh, Fik, panjang ceritanya! Nanti aku jelasin, sekarang aku harus selamatin nyawa aku dulu!” ujarku panik. Aku langsung berdiri, berlari ke abang penjual siomay untuk memesan satu porsi baru yang komplit lalu meminta dibungkus dengan rapi di dalam kotak mika. Meskipun makan siang ini jadi menghabiskan uangku.
Setelah siap, aku segera tersenyum ke Fika dan berpamitan, lalu naik ke lantai atas menggunakan lift menuju ruangan CEO dengan jantung yang berdegup kencang.