NovelToon NovelToon
PENYESALAN SUAMI

PENYESALAN SUAMI

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Penyesalan Suami
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: kikyoooo

Tujuh tahun Pamela bertahan menjadi istri dari Zidan yang playboy, menantu yang ditindas, dan ibu yang tak dihargai anak-anaknya sendiri. Dia mengabdi dalam diam, hanya bermodalkan cinta.

​Puncaknya hancur saat Zidan membawa selingkuhannya yang hamil tepat di hari ulang tahun pernikahan mereka. Tanpa air mata, Pamela meletakkan surat cerai di meja makan, lalu pergi menghilang di tengah malam.

​Awalnya keluarga Zidan bersorak senang si "miskin" telah pergi. Namun dalam hitungan minggu, rumah megah itu berubah menjadi neraka yang kacau tanpa kehadiran Pamela. Saat penyesalan mereka datang terlambat, Pamela ditemukan telah menjelma menjadi wanita sukses yang bersinar dan bahagia tanpa mereka.

​Saat mereka bersujud memohon maaf, sanggupkah Zidan memenangkan kembali hati "mantan istri miskin" yang kini telah menjadi ratu?

...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 Tangis di Sudut Kamar

...

Matahari sore mulai condong ke barat, memancarkan rona kemerahan yang temaram menembus tiras-tiras gorden di lantai dua rumah mewah keluarga Zidan. Namun, warna hangat di luar sana sama sekali tidak membawa ketenangan di dalam rumah. Sebaliknya, hawa gerah dan suasana penuh tekanan justru semakin menjadi-jadi.

Di dalam kamar anak-anak yang bernuansa pastel mewah, tangisan Riana belum juga reda. Bocah perempuan berusia lima tahun itu duduk di tepi ranjangnya dengan rambut panjang yang kusut berantakan. Di depannya, Keysha berdiri dengan napas memburu dan wajah yang memerah karena habis kesabaran. Di lantai marmer, sebuah sisir plastik mahal tergeletak mengenaskan setelah dilempar dengan kasar.

"Bisa diam gak sih, Riana?! Dari tadi nangis terus, kuping Tante mau pecah tahu gak!" bentak Keysha, suaranya melengking tinggi meluapkan emosi. "Tante cuma mau nyisir rambut kamu biar rapi, tapi kamu malah jerit-jerit kayak disiksa!"

"Sakit, Tante Keysha! Sisirnya kekencangan, kulit kepala Riana perih!" jerit Riana sambil memegangi kepalanya, air matanya mengalir deras membasahi pipinya yang kemerahan. "Mau Mama... Riana mau Mama yang sisirin! Mama gak pernah bikin sakit kayak Tante!"

Ryan, saudara kembarnya yang duduk di sudut ruangan sambil memeluk lutut, menatap adiknya dengan pandangan ketakutan. Bocah laki-laki itu masih mengenakan seragam sekolahnya yang sudah kusut dan terkena noda kuah mi instan hasil sarapan darurat tadi pagi. "Tante jahat... Tante bentak-bentak terus dari tadi. Biasanya Mama selalu nyanyiin lagu kalau sisirin rambut Riana..." gumam Ryan lirih, matanya berkaca-kaca.

"Heh, Ryan! Kamu jangan ikut-ikutan ya! Masih mending Tante mau masuk ke kamar bau ini buat ngurusin kalian!" Keysha menunjuk wajah keponakannya dengan telunjuk bergetar. "Kalau bukan karena Mama kalian yang lepas tanggung jawab dan kabur dari rumah, Tante gak bakal sudi ngelakuin kerjaan pembantu kayak gini! Dasar anak-anak gak tahu diuntung, sama saja kayak ibunya!"

Keysha menghentakkan kakinya dengan sangat keras, lalu berjalan cepat keluar dari kamar anak-anak dan membanting pintunya hingga menimbulkan dentuman keras yang menggema di seluruh koridor lantai dua. Di dalam kamar, kedua anak kembar itu langsung saling berpelukan dan menangis sejadi-jadinya dalam kesunyian kamar yang dingin.

Selama lima tahun hidup mereka, Ryan dan Riana selalu menganggap kebersihan, kerapian, dan kehangatan di sekitar mereka adalah hal yang otomatis ada. Mereka terbiasa dibentak oleh Nenek mereka jika membuat lantai kotor, mereka terbiasa melihat Ayah mereka pulang dengan wajah dingin tanpa pernah memeluk mereka, dan mereka meniru semua perlakuan itu kepada Pamela. Di otak kecil mereka yang sudah teracuni, Mama adalah sosok yang lemah, bau dapur, dan pantas diabaikan.

Namun sore ini, saat perut mereka terasa perih karena hanya diberi makan camilan kering oleh Bi Sumi yang takut masuk dapur utama, dan saat kepala mereka sakit karena sisiran kasar Keysha, sebuah kesadaran yang teramat perih mulai mengetuk hati kecil mereka. Mereka merindukan aroma bawang dan minyak telon yang biasa menguar dari daster pudar Pamela. Mereka merindukan usapan lembut di punggung mereka saat mereka terbangun karena mimpi buruk di tengah malam. Mereka merindukan satu-satunya orang di rumah ini yang selalu memperlakukan mereka bagai harta paling berharga di dunia orang yang baru saja mereka usir dengan kata-kata kejam kemarin siang.

Sementara itu, di lantai bawah, suasana ruang tamu utama terasa sangat kaku. Karina duduk di sofa beludru panjang dengan menyilangkan kakinya yang jenjang, wajah cantiknya ditekuk masam. Di hadapannya, Mama duduk sambil terus memijat pelipisnya yang berdenyut-denyut.

"Tante, jujur aku gak nyaman kalau rumah ini terus-terusan berantakan dan berisik begini," keluh Karina dengan nada ketus, kehilangan sedikit sikap manjanya yang biasa dia tunjukkan di depan Zidan. "Dari tadi siang anak-anak di atas nangis terus, bikin aku pusing dan stres. Inget kan kalau aku lagi hamil muda? Dokter bilang aku gak boleh stres, bisa bahaya buat janinnya."

Mama menghela napas panjang, mencoba meredam kekesalannya sendiri agar tidak menyinggung perasaan wanita kaya di depannya. "Iya, Karina, Tante tahu. Maaf ya, Sayang. Ini semua gara-gara si Pamela sialan itu. Dia sengaja pergi biar rumah ini kacau dan kita semua pusing. Benar-benar perempuan berhati busuk."

"Ya kalau tahu begitu, kenapa gak disuruh pelayan lain saja yang beresin, Tante? Masa rumah sebesar ini gak ada yang becus kerja?" tanya Karina sambil melirik debu tipis yang mulai terlihat di permukaan meja kaca di dekatnya.

"Masalahnya, si Pamela itu yang memegang semua kunci serep dan tahu seluk-beluk rumah ini, Rin. Pelayan yang lain cuma tahu urusan luar. Tapi kamu tenang saja, Zidan pasti bisa mengatasi ini. Paling lambat besok, perempuan itu pasti menyerah dan mengemis minta pulang," sahut Mama, mencoba meyakinkan dirinya sendiri meskipun di dalam hatinya rasa cemas mulai merayap naik sejak amukan suaminya tadi siang.

Tepat pada jam lima sore, suara deru mobil Zidan terdengar memasuki pelataran rumah. Tak lama kemudian, pintu depan terbuka dan sosok Zidan melangkah masuk. Pria tampan itu melepaskan jas kerjanya, menyampirkan benda mahal itu di lengannya dengan lemas. Wajahnya yang narsis dan angkuh kini tampak sangat lelah, garis-garis ketegangan tercetak jelas di dahinya.

"Zidan! Akhirnya kamu pulang juga, Sayang," seru Mama langsung bangkit dari duduknya, menghampiri anak kesayangannya. "Kamu harus telepon si Pamela sekarang, Zid! Rumah ini benar-benar tidak kondusif. Papa kamu dari tadi mengurung diri di kamar karena marah makan siangnya hancur, terus anak-anak di atas tidak mau diam!"

Zidan menghentikan langkahnya di tengah ruangan, tatapan matanya sedingin es. Dia menatap ibunya dengan pandangan muak. "Ma, jangan sebut nama perempuan itu lagi di depan Zidan. Dia sudah mendaftarkan gugatan cerai, dia yang memilih pergi. Biarkan saja dia membusuk di luar sana."

"Tapi, Zidan..."

"Cukup, Ma!" bentak Zidan, suaranya yang berat dan penuh emosi membuat Mama langsung bungkam ketakutan. Kekerasan verbal yang jarang Zidan tunjukkan pada ibunya sendiri kini keluar karena egonya yang sudah berada di titik jenuh. "Zidan capek. Seharian di kantor urusan proyek berantakan, pulang ke rumah cuma disuguhi keluhan terus-terusan!"

Karina yang melihat Zidan sedang tersulut emosi, mencoba mendekat dan menyentuh dada pria itu dengan gerakan lembut yang biasa dia lakukan untuk merayu. "Sayang, tenang dulu... jangan bentak Mama begitu. Aku tahu kamu capek, tapi pikirin juga aku yang lagi ngandung anak kamu—"

"Kamu juga diam, Karina!" potong Zidan kasar, menepis tangan Karina dari dadanya hingga wanita itu terperanjat shock. Tatapan Zidan yang narsis dan dingin kini terarah sepenuhnya pada Karina. "Aku bawa kamu ke rumah ini karena kamu bilang kamu bisa membuatku lebih bahagia dari Pamela. Tapi apa? Baru satu hari di sini, kamu cuma bisa mengeluh dan gak bisa berbuat apa-apa untuk merapikan rumah ini!"

"Zidan! Kenapa kamu malah membentak Karina?! Dia ini sedang mengandung cucumu!" bela Mama tidak terima melihat menantu kayanya diperlakukan kasar.

"Cucu, cucu, cucu! Pikirin dulu gimana cara rumah ini jalan tanpa Pamela baru bicara soal cucu!" teriak Zidan meluapkan seluruh kekesalan batinnya yang terpendam sejak pagi.

Pria itu berbalik dengan cepat, melangkah lebar menaiki tangga menuju lantai dua, mengabaikan teriakan ibunya dan tangisan manja Karina yang merasa harga dirinya terluka.

Langkah kaki Zidan membawanya menuju kamar utama yang terletak di ujung lorong lantai dua. Dia membuka pintu kayu besar itu dengan sentakan kasar, lalu masuk dan mengunci pintu dari dalam. Dia mengempaskan tas kerjanya ke atas lantai marmer begitu saja.

Suasana di dalam kamar utama terasa sangat sunyi dan asing. Zidan berjalan mendekati ranjang berukuran king size mereka, berniat merebahkan tubuhnya yang remuk. Namun, begitu dia duduk di tepi ranjang, matanya tertuju pada sisi kasur sebelah kiri tempat yang biasanya selalu ditempati oleh Pamela.

Di atas meja nakas di sisi kiri kasur, tidak ada lagi gelas air putih yang biasa disiapkan Pamela setiap malam sebelum Zidan tidur. Tidak ada lagi wangi minyak esensial lavender yang menenangkan yang biasa dinyalakan suaminya. Kamar mewah ini terasa mati, dingin, dan kosong.

Zidan membaringkan tubuhnya, menatap langit-langit kamar yang tinggi dengan tatapan kosong. Untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun pernikahan mereka, Zidan menyadari satu hal yang sangat kecil namun menghantam egonya dengan telak. Selama ini, dia selalu menganggap Pamela adalah pihak yang beruntung karena memiliki suami sekaya dan setampan dirinya. Dia selalu menganggap pengabdian Pamela adalah hal yang murah karena Pamela tidak memiliki modal apa-apa selain kemiskinan.

Namun malam ini, di tengah keheningan kamar yang mencekam, Zidan dipaksa menerima kenyataan pahit bahwa tanpa kehadiran wanita miskin itu di sisinya, dia bahkan tidak tahu bagaimana cara membuat tidurnya sendiri terasa nyaman.

...

1
Ma Em
Pamela setelah papa mantan mertuamu mendingan lbh baik pulang tinggalkan manusia2 yg tdk tau diri itu sekarang mantan mertuamu yg sakit bkn urusan Pamela lagi , lbh baik Pamela kerja yg giat agar nanti kehidupan Pamela bisa berubah menjadi lbh baik .
it's me
ceritanya bagus tapi sayang gagk ad endingnya
kikyoooo: ditunggu up bab selanjutnya....
tenang aja1setiap satu hari pasti up. entah itu 1 bab atau lebih
total 1 replies
it's me
penulisnya gak jelas sih,masa ceritanya dibuat menggantung.
Adam Markelov izaan
⬜🟥⬜⬜⬜🟥⬜
🟥🟥🟥⬜🟥🟥🟥
🟥🟥🟥🟥🟥🟥🟥
⬜🟥🟥🟥🟥🟥⬜
⬜⬜🟥🟥🟥⬜⬜
⬜⬜⬜🟥⬜⬜⬜
 🌷🌸🌷🌸
🌸🌷🌸🌷🌸
Λ🌷🌸🌷🌸🌷
( ˘ ᵕ ˘🌷🌸🌷
ヽ つ\ /
UU / 🎀 \
Allea
mama mertua mulu ngetiknya kan si pamela lg dikampung bingung eike
Allea
kira2 endingnya balikan ga nih ,kesel kl balikan mah udah nunggu2 😁
Himna Mohamad
kereeen👍👍👍👍👍
Himna Mohamad
rasain
Himna Mohamad
lanjut kk
Alia Chans
Satu like = satu bentuk apresiasi. Semangat thor ✍️👈😉




saling support sabi kali ya😉
kikyoooo: siapp... gue kan baik dan tidak sombong hihihi😍 btw semangat thorr😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!