Ada sebuah kepercayaan pada legenda 'pamali' di kampung kebun jeruk nipis. yang dimana para gadis yang belum menikah dilarang keluar malam hari, duduk di depan pintu, potong kuku malam hari, gunting rambut pas malam hari.
Namun ada, sekelompok remaja yang melanggar aturan itu dan berujung malapetaka bagi dirinya sendiri. Dari mereka diganggu setan di rumah sampai dibuat tersesat di hutan belakang rumah.
Apakah Anda bisa menyelesaikan pamali yang telah mereka langgar dan pergi dari pamali ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Samsya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 flashback ke-
“Benar benar manusia biadab, aku harus segera turun tangan untuk hal itu … “
Setelah mendengar jelas apa yang dilakukan Widarto dalam bilik kamar mandi orang tersebut langsung pergi.
Dengan hati penuh kesal sepanjang jalan ia terus menggerutu tiada hentinya.
“Bahkan sekarang anak nya pun sama saja seperti ayah nya. Mereka benar benar hanya dibutakan oleh nafsu sesaat”
Di sisi lain Widarto sudah selesai melakukan kegiatan nya, ia memilih untuk langsung mandi wajib.
“Seger poll sih ini, tapi semoga aja gak ada yang tahu hal tadi” gumam nya langsung kembali kedalam penginapan.
“Wih, udah mandi aja lu. Tumben banget nich lebih pagi mandi nya, biasanya aja abis sholat subuh baru mandi” ledek agas melihat Widarto sudah mandi dulu dari yang lain nya.
“Nah, betul tuh. Tumben banget mandi duluan sampe keramas kepala juga nih. Tapi gpp berarti itu tandanya lu udah mulai berubah jadi lebih baik” sambar Fahrul dari belakang nya agas.
Mendengar ucapan para teman teman nya yang mengomentari perubahan kecil nya Widarto hanya terkekeh kecil. ‘ya, kalau bukan karena s*ng” berat berakhir itu di kamar mandi. Gak bakal mau gua mandi di pagi buta gini’
Setelah selesai mandi dan sholat subuh berjamaah kini para mahasiswa dan mahasiswi berkumpul di depan penginapan untuk mendapatkan arahan selanjutnya dari dosen bimbing mereka.
“Selamat pagi semuanya. Di pagi yang cerah ini kegiatan kita adalah pergi ke kebun jeruk nipis dan jeruk manis milik warga” Jelas salah seorang dosen yang bernama pak gento.
Di saat pak gento menjelaskan apa saja yang akan dilakukan saat di kebun nanti, Widarto justru hampir tidak mendengarkan apapun. Pikiran nya masih tertuju pada wanita cantik yang kemarin ia lihat.
‘Kenapa yah gua masih kepikiran soal cewek kemarin itu. Si adik tiri mak wekar sama anak gadis nya cakep banget itu’
Batin Widarto matanya menatap sekitar berharap bisa melihat kedua nya atau setidaknya salah satu dari mereka.
Sampai teman di samping menyenggol lengan nya, “Apa sih cok?! .. ganggu banget lu” kesal Widarto.
“Lu dipanggil sama pak gento dari tadi tuh” cicitnya melihat ke depan lagi.
Widarto menoleh dan benar saja pak gento sedang memperhatikan nya dengan ekspresi kesal. ‘Mampus sih nih, pak gento kalau udah begitu bahaya banget’
“Dengerin gak tadi saya ngomong apa Darto?” Tanya pak gento melihat Widarto hanya diam tidak menjawab pertanyaan nya.
Suasana langsung hening sejenak hampir semua orang melirik ke arah Widarto yang tidak mengatakan apapun.
“Permisi pak, ini hari Jum'at jadi sebaiknya kegiatan ini dilakukan sekarang saja. Nunggu dato ngomong mah bakal kelamaan” akhirnya salah satu mahasiswi angkat bicara ia adalah purista.
Mendengar itu pak gento mengangguk setuju. “Kamu benar sekali yah nak, nunggu si g*bl*k ini ngomong sampai lebaran gorila juga bakal ngomong” kata pak gento.
Ia langsung mengarah para murid nya untuk naik ke atas mobil pick yang sudah standby menunggu sejak pagi.
“Widarto kamu di mobil ini, yang itu khusus cewek” tegur pak gento menarik kerah baju nya dan menuntun nya naik mobil pick yang satunya.
“Kenapa lu? Kek orang linglung gitu jir dari tadi” tanya Adam dengan berbisik pelan.
“Kalau sakit bilang aja, tar kita kasih tau dosen biar lu bisa istirahat aja” sambar agas ikut nimbrung.
“Kalau gak mau juga, lu bisa tetap ikut tapi jangan banyak kerja terlalu capek aja gimana?” Timpal Fahrul mengusulkan saran nya.
Widarto hanya menatap ketiga sambil garuk-garuk kepala, melihat ketiga teman nya itu sangat aktif sekali bicara nya.
“Gua ikut saran si Fahrul aja deh” jawab Widarto dengan anggukan kecil.
Selalu cemungutt buat authornya yaaa untu up bab selanjutnyaa✨️