Mereka menyebutnya perempuan api dari Bukit Menoreh.
Putri seorang punggawa sakti yang tumbuh bersama pedang dan dendam.
Saat kematian ayahnya menyeretnya ke dalam pusaran perang dan kesalahpahaman, Srikandi percaya kerajaan telah mengkhianati darah ayahnya.
Namun semakin jauh ia melangkah… semakin ia sadar bahwa luka manusia tak pernah sesederhana hitam dan putih.
Terlebih ketika hatinya justru jatuh pada lelaki yang tak mungkin ia miliki.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Melinda Damayanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SEBUAH KEBENARAN
"Gugurnya Ki Abda memang sangat membuat seluruh pasukan terkejut, Ki Tentra!' angguk salah satu prajurit.
"Beliau tertancap panah beracun. Walau racun itu tak mampu melumpuhkannya, tapi Ki Abda baru saja menumpas seratus musuh dengan pedangnya. Beliau kelelahan ...."
"Serangan itu begitu cepat datang ...."
Srek! Suara pohon mematahkan energi murni. Srikandi yang begitu penasaran dengan perbincangan empat prajurit itu tidak sadar jika berada di ujung dahan pohon karet. Ia nyaris saja terjatuh.
"Siapa itu!" teriak Tentra berdiri sambil menarik pedang.
Srikandi yang tak bisa bersembunyi, memilih keluar dan turun dari dahan pohon. Mata Tentra menyipit.
Srikandi turun perlahan dari dahan pohon yang basah.
Kakinya menjejak tanah tanpa suara, tetapi sorot matanya membuat empat prajurit itu langsung siaga penuh.
Api unggun memantulkan wajah gadis itu yang pucat oleh dingin malam dan bekas tangis yang belum benar-benar hilang. Caping bambunya menutupi sebagian wajahnya.
Namun hawa yang keluar dari tubuhnya membuat Ki Tentra mengeratkan genggaman pada gagang pedang.
“Perempuan?” gumam salah satu prajurit heran.
“Nisanak… siapa kau?” tanya Tentra tajam.
Srikandi tak langsung menjawab.
Matanya justru menatap bara api yang memerah, lalu bergeser pada wajah-wajah para prajurit di depannya satu per satu.
"Aku hanya seorang pengembara ...." Srikandi merubah bilik suaranya jadi lebih berat.
"Nisanak, jangan merubah suaramu seperti laki-laki. Dari cahaya sinar rembulan. Sungguh, kau tak bisa menyembunyikan lekuk tubuhmu!" potong Tentra tegas.
"Beruntung kau berada di area prajurit Kerajaan Kali Ireng. Andai kau berada di kawanan serigala. Kau sudah koyak dari tadi!" lanjutnya penuh tekanan.
Srikandi memang tak bisa menyembunyikan siapa dirinya. Ilmunya belum mumpuni terlebih untuk mengelabui para prajurit yang pastinya sakti.
"Katakan Nisanak. Apa kepentinganmu di sini. Dari pakaianmu, kau pasti bukan perempuan sembarangan. Terlebih menaiki bukit Manoreh dan sembunyi di dahan rendah tanpa ketahuan!" sahut salah satu prajurit tenang.
Srikandi menarik napas dalam-dalam. Keheningan malam di dalam hutan karet itu mendadak terasa begitu pekat.
Ia sadar, wejangan ayahnya tentang "di atas langit masih ada langit" terbukti malam ini. Mengelabui bibinya mungkin mudah, tetapi di hadapan empat prajurit tempur yang kenyang pengalaman medan laga, penyamaran suaranya langsung terpatahkan.
Perlahan, Srikandi mengangkat wajahnya. Ia membuka caping bambunya, membiarkan cahaya temaram dari api unggun menyinari garis wajahnya yang tegas namun menyimpan duka yang teramat dalam.
"Kalian benar," suara Srikandi kembali ke aslinya, lembut namun bergetar oleh emosi yang tertahan.
"Aku tidak bisa membohongi mata para ksatria Kali Ireng. Dan aku... memang bukan pengembara sembarangan."
Ki Tentra dan ketiga rekannya tertegun saat melihat wajah di balik caping tersebut. Meski mata gadis itu sembab dan pipinya basah oleh sisa tangis, ada guratan ketegasan yang sangat akrab di mata mereka.
Sorot mata yang dingin, berani, dan tidak gentar menghadapi bilah pedang.
Prajurit bertubuh tambun mendadak membelalakkan matanya. Ia menatap busur Walungan dari tulang sapi yang melingkar di bahu Srikandi, lalu beralih pada bentuk rahang sang gadis.
"Siapa itu!' sebuah suara keras Keluar dari dalam tenda.
"Adipati, ada pendekar perempuan nyasar!" lapor salah satu prajurit penjaga.
Sengko keluar tenda, di sana ia melihat wajah basah Srikandi. Entah kenapa, ia langsung lemas melihat gadis itu.
'Nduk?" Srikandi menatapnya dengan mata basah.
"Bagaimana bisa kau sampai ke tempat sejauh ini? Peperangan baru saja mereda, jalur ini sangat berbahaya untukmu!" serunya khawatir.
"Adipati ... Katakan ... Bagaimana ayahku gugur?" tanya Srikandi lirih.
"Nduk?" semua prajurit menutup mulutnya. Mereka berempat tadi sempat berbincang bagaimana punggawa terbaik mereka gugur di medan perang.
"Katakan ... Kenapa ayah yang gugur setelah menumpas seratus prajurit musuh. Siapa yang memanah tiba-tiba? Selepas perang. Tak mungkin ada serangan balasan terlebih pasti kalian sudah membawa tawanan perang!" teriak Srikandi.
"Nduk tenanglah!" seru Sengko mengeluarkan sebagian tenaga murni untuk menenangkan gadis api di depannya.
Santer terdengar jika anak dari punggawanya itu langsung dilatih sendiri di tangan ayahnya. Sengko mendengar jika Ki Abda Sedah Nirah mendidik Srikandi dengan bara api sebagai alas kakinya saat pertama kali berjalan.
Kini ia sendiri bisa merasakan hawa murni yang dikeluarkan Srikandi. Walau sebagian masih mentah, tapi jika terus diasah, Srikandi akan jadi pendekar perempuan pertama yang pastinya digdaya.
"Katakan Paman!" seru Srikandi lagi memohon.
"Nduk, ayahmu gugur sebagai pahlawan karena berkorban di medan perang ...."
“Tidak! Kalian berbohong!” teriak Srikandi tak terima.
Bummm!
Ledakan tenaga murni keluar dari tubuhnya.
Api unggun langsung buyar berhamburan, tanah di sekitar kaki Srikandi retak tipis. Daun-daun pohon karet berguguran seakan diterpa badai.
Empat prajurit spontan mundur satu langkah.
Sementara Adipati Sengko tetap berdiri tegak, walau ujung jubahnya berkibar keras dihantam hawa tenaga dalam gadis di depannya.
“Srikandi!” bentaknya ketaz.
Namun Srikandi sudah kehilangan kendali.
“Ayahku tidak mungkin kalah hanya karena panah!” matanya memerah penuh air mata.
“Ayahku adalah Ki Abda Sedah Nirah!"
"Ayahku pendekar yang bahkan bisa membelah batu cadas dengan tangan kosong!”
“Ayah tidak mungkin tumbang begitu saja!” Teriakan Srikandi memakai tenaga dalam murni. Jika orang biasa mendengarnya, gendang telinga mereka pasti pecah.
Tubuh Sengko terasa berat mendengar jeritan itu. Bukan karena tenaga dalam Srikandi.
Tetapi karena ia melihat seorang anak yang hancur.
Seorang gadis tujuh belas tahun yang bahkan belum sempat menguburkan ayahnya sendiri.
“Srikandi…” suara Sengko melunak.
“Dengarkan Paman.”
“Aku tidak mau dengar!” bentak gadis itu lagi.
Srakkk!
Dalam satu hentakan, hawa panas menyebar dari telapak kaki Srikandi. Rumput-rumput basah mengering seketika.
Ki Tentra membelalak.
“Ilmu godokan Ijen…?” gumamnya ngeri.
Sengko langsung mengangkat tangan memberi tanda seluruh prajurit untuk tidak menyerang.
Tak seorang pun bergerak.
Karena semua tahu— jika mereka salah mengambil langkah, seluruh bukit bisa berubah medan tempur
Buksa menjejakkan kedua kakinya ke tanah, ia mengerahkan ilmu sirep derap bumi, untuk menangkis seluruh kekuatan murni dari Srikandi.
"Nduk, kamu tak akan mendapat apapun jika marah ...."
"Katakan bagaimana aku tak marah?!" seru Srikandi dengan mata berkilat.
"Ada yang membunuh ayahku secara pengecut dan kalian di sini berpesta mengelukan kemenangan!" lanjutnya murka.
"Srikandi kamu dengarkan dulu. Jangan keras kepala!" teriak Buksa marah.
"Kau yang harus dengar Paman Buksa!" sentak Srikandi benar-benar keras kepala. Ia tak mau mendengar penjelasan siapapun.
"Aku pasti menemukan siapa pembunuh ayahku!" lanjutnya yakin.
Lalu dengan gerakan cepat, tubuh Srikandi melesat membelah malam di hutan bukit menoreh.
"Srikandi. Tunggu!" Buksa ingin mengejar gadis itu tapi langsung dicegah oleh Sengko.
"Adipati!" Buksa protes tentu saja.
"Tidak Punggawa Buksa. Biarkan Srikandi mencari tau!" sahut Sengko tenang.
"Biar dia mengasah seluruh kemampuannya, ia adalah anak dari Ki Abda. Kita akan hancur jika bersikeras ingin berhadapan dengannya," lanjutnya lagi.
"Tapi ...."
"Dia pasti belajar cepat Punggawa. Aku yakin dengan pengajaran yang ditanamkan oleh Mendiang Ki Abda!" sahut Sengko yakin.
Bersambung.
next?
nyi padan serem akh
lanjut