NovelToon NovelToon
PRIMUS ARISTOKRAT

PRIMUS ARISTOKRAT

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam
Popularitas:358
Nilai: 5
Nama Author: elzio_yanuar

PRIMUS ARISTOKRAT
Dikhianati tunangan.
Diremehkan keluarga.
Bahkan dibunuh demi harta warisan.
Semua orang mengira hidup Primus Valerian Aristokrat telah berakhir.
Mereka salah.
saat kembali dari ambang kematian, Primus membawa kemampuan yang membuat seluruh dunia terkejut.
Bisnis? Tak ada yang bisa mengalahkannya.
Bela diri? Musuh-musuhnya tumbang dalam hitungan detik.
Strategi? Bahkan para konglomerat dan bangsawan tua dipermainkan olehnya.
Ketika identitas aslinya perlahan terungkap, para petinggi dunia mulai gemetar.
Karena pria yang dulu mereka hina ternyata adalah kunci menuju kekayaan, kekuasaan, dan rahasia terbesar keluarga Aristokrat.
Mereka pernah menginjaknya saat jatuh.
Kini giliran Primus berdiri di puncak dan menentukan nasib mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elzio_yanuar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SAMBUTAN TK BERSAHABAT

Satu jam kemudian, sebuah mobil sedan hitam premium milik keluarga Aristokrat melambat dan berhenti tepat di depan pelataran gedung Cabang Timur. Gedung pencakar langit berstruktur kaca setinggi tiga puluh lantai itu berdiri angkuh di salah satu distrik bisnis paling padat di Kota Aurelia.

Dari luar, arsitekturnya memancarkan kemegahan yang luar biasa. Namun, begitu Primus melangkah turun dari mobil, panca indera dan intuisinya yang tajam langsung menangkap kejanggalan. Suasana di sekitar area drop-off terasa sangat berbeda. Terlalu sepi untuk ukuran jam masuk kerja. Para karyawan yang keluar masuk berjalan dengan kepala tertunduk, wajah mereka murung, dan sebagian besar tampak menyimpan kekhawatiran yang mendalam.

"Situasinya ternyata jauh lebih busuk daripada apa yang tertulis di atas kertas laporan," gumam Primus dengan suara rendah.

"Mereka sengaja menciptakan atmosfer ketakutan ini agar mental para pekerja jatuh sebelum perang bahkan dimulai," batin Primus sembari merapikan kerah jas hitam sederhananya. "Adrian benar-benar menggunakan metode intimidasi psikologis yang agresif."

Primus melangkah masuk melewati pintu kaca lobi utama. Seorang resepsionis wanita yang sedang mendata dokumen langsung tersentak kaget begitu mengenali wajahnya.

"T-Tuan Muda Primus!" seru wanita itu, suaranya agak bergetar.

Primus menghentikan langkah sejenak, lalu mengulas sebuah senyuman ramah yang tulus. "Selamat pagi."

Resepsionis itu terlihat sangat gugup, jemarinya meremas pulpen di tangannya, seolah-olah ia sedang menyembunyikan sebuah rahasia besar atau diperintahkan untuk tidak menyambutnya dengan layak. Primus yang menyadari ketakutan wanita itu memilih untuk tidak mempersulit posisinya. Ia mengangguk sekilas dan langsung berjalan menuju deretan lift khusus yang diperuntukkan bagi jajaran direksi.

Namun, tepat saat pintu lift berornamen perak itu terbuka, sesosok pria bertubuh besar dan tegap langsung melangkah keluar, menghalangi jalan Primus dengan angkuh.

"Tunggu," ucap pria itu, menaikkan satu tangannya ke udara.

Primus menghentikan langkah, menatap pria yang mengenakan seragam keamanan premium dengan lencana khusus di dadanya. Tatapan mata pria itu dingin, sama sekali tidak mencerminkan rasa hormat kepada seorang anggota keluarga inti.

"Lift khusus ini sedang tidak bisa digunakan," ujar penjaga itu dengan nada ketus.

Primus mengangkat sebelah alisnya, tidak menunjukkan tanda-tanti intimidasi sama sekali. "Kenapa?"

"Ada pemeriksaan sistem internal."

"Pemeriksaan apa dan diperintahkan oleh siapa?" tanya Primus lagi, suaranya tetap tenang berirama.

"Ini perintah langsung dari tim audit pusat. Seluruh akses lift VIP dibekukan untuk sementara waktu demi keamanan data," jawab pria itu, dagunya sedikit terangkat, sengaja memamerkan otoritas yang sedang ia pegang.

Primus tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyembunyikan debaran batinnya yang mulai terangsang oleh tantangan ini. "Baru lima menit aku menginjakkan kaki di gedung ini, dan anjing-anjing penjaga Adrian sudah menyambutku dengan trik murahan seperti ini," batin Primus, merasa geli sekaligus sedikit jengkel. "Mereka ingin menguras energiku dan membuatku terlihat tidak berdaya di depan para bawahanku."

"Kalau begitu, apakah aku harus naik menggunakan tangga darurat?" tanya Primus memecah keheningan.

Pria keamanan itu tidak menjawab dengan kata-kata, namun seulas senyum sinis yang tipis di bibirnya sudah menjadi jawaban yang sangat jelas.

Beberapa karyawan yang berada di area lobi dan berpura-pura sibuk mulai saling berbisik dengan volume yang sangat pelan.

"Lihat itu... Tuan Muda Primus sengaja dipermalukan di lobi sendiri."

"Pasti ini ulah orang-orang suruhan Tuan Muda Adrian dari kantor pusat."

"Tapi bukankah itu keterlaluan? Bagaimanapun juga, dia tetaplah Tuan Muda Primus, putra dari istri pertama."

"Justru karena statusnya itu, mereka ingin menghancurkan harga dirinya sejak hari pertama."

Primus mendengar setiap suku kata dari bisikan-bisikan tersebut. Baginya, kebisingan itu tidak lebih dari sekadar angin lalu. Alih-alih meledak dalam amarah, menggebrak meja, atau menggunakan nama besarnya untuk memecat penjaga tersebut—yang mana justru akan menjadi konsumsi empuk bagi media internal—Primus justru menarik napas panjang dan mengembuskannya dengan rileks.

"Baiklah kalau begitu. Anggap saja ini bagian dari rutinitas olahraga pagiku," ucap Primus santai.

Pria keamanan itu langsung tertegun, matanya sedikit melebar karena terkejut. Ia telah mempersiapkan diri jika Primus akan mengamuk atau membuat keributan yang bisa dijadikan alasan untuk melaporkannya atas tindakan tidak menyenangkan. Namun, pemuda di depannya ini justru berbalik dengan langkah ringan menuju pintu tangga darurat.

Sepuluh menit kemudian, pintu tangga darurat di lantai dua puluh delapan terbuka. Primus melangkah keluar dengan napas yang sedikit memburu, namun tidak ada satu pun keluhan yang keluar dari mulutnya. Keringat tipis yang membasahi pelipisnya justru membuat penampilannya terlihat lebih hidup.

Beberapa pegawai divisi administrasi yang sedang membawa tumpukan dokumen langsung terbelalak tidak percaya begitu melihat siapa yang muncul dari balik pintu darurat.

"Tuan Muda Primus?"

"Anda... Anda naik menggunakan tangga?" tanya salah satu staf senior dengan wajah pucat.

Primus tertawa kecil, menyeka keringat di pelipisnya dengan saputangan kain putih. "Iya. Fasilitas lift kalian sedang diperbaiki oleh kantor pusat, bukan? Jadi aku memanfaatkan momen ini untuk membakar kalori pagi."

Para pegawai itu saling pandang dengan tatapan yang sulit diartikan. Dalam sekejap, persepsi awal mereka tentang Primus—seorang tuan muda manja yang tidak berguna—mulai retak. Sikapnya yang rendah hati dan tidak meledak-ledak di bawah tekanan justru memancarkan aura seorang pemimpin yang jauh lebih matang daripada rumor yang beredar di luaran sana.

Di dalam ruang rapat utama yang kedap suara, suasana terasa begitu mencekam. Direktur utama Cabang Timur, Marcus Hayden, sedang duduk dengan kedua tangan yang saling bertaut erat, wajahnya tampak sangat tegang dan lelah. Pria paruh baya berusia lima puluh tahun itu telah mendedikasikan dua puluh tahun hidupnya untuk mengabdi pada dinasti Aristokrat.

Begitu pintu ruang rapat terbuka dan memperlihatkan sosok Primus, Marcus serta-merta langsung berdiri dari kursinya. "Tuan Muda Primus."

Primus melangkah mendekat dan langsung mengulurkan tangannya terlebih dahulu. "Senang bisa bertemu langsung dengan Anda, Direktur Marcus. Kuharap aku tidak membuatmu menunggu terlalu lama."

Marcus menjabat tangan hangat Primus, dan seketika itu juga, sebongkah beban berat di dadanya seolah terangkat. Selama ini, desas-desus mengatakan bahwa anak tertua mendiang istri pertama ini adalah pria arogan yang menutup diri di perpustakaan. Namun, kesopanan dan pembawaan pemuda di depannya ini justru jauh lebih elegan dan berwibawa daripada dugaannya.

"Silakan duduk, Tuan Muda," Marcus menggeser kursi utama.

Setelah keduanya duduk, Marcus dengan cepat menyodorkan tumpukan berkas tebal yang mengikat data finansial terbaru perusahaan. "Ini adalah laporan komprehensif mengenai kerugian kuartal terakhir kita, Tuan Muda."

Primus menerima berkas tersebut, lalu mulai membukanya. Marcus memperhatikan pergerakan Primus dengan kerutan di dahi dan rasa heran yang memuncak. Cara membaca Primus sangat tidak biasa. Jemarinya membalik halaman dengan ritme yang sangat cepat—terlalu cepat untuk seseorang yang sedang menganalisis data numerik yang rumit. Setiap lembar hanya dipandang selama beberapa detik sebelum akhirnya dibalik ke halaman berikutnya.

"BERSAMBUNG"

1
Toto Maki
sejauh ini alurnya bagus g muter" lanjut kembangkn lgi aku follow
yanuar saputra: terimakaaih kak atas saran nya, salam hangat☺
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!