NovelToon NovelToon
BAYANG BAYANG MASA LALU

BAYANG BAYANG MASA LALU

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Penyesalan Suami / Selingkuh
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Dinarta Firdaus

Enam tahun membina rumah tangga, Kirana merasa pernikahannya dengan Aris adalah definisi kebahagiaan yang sempurna. Namun, semua hancur saat Kirana menemukan kenyataan bahwa Aris kembali menjalin hubungan rahasia dengan Sarah, mantan kekasihnya yang dulu gagal dinikahi karena terganjal restu. Alih-alih menangis dan meminta cerai begitu saja, Kirana memilih jalan yang lebih gelap: menghancurkan Aris dari dalam dengan mendekati Bimo, sahabat karib sekaligus rekan bisnis Aris. Sebuah permainan ego, pengkhianatan, dan cinta yang keliru pun dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinarta Firdaus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

AKHIR DARI SEBUAH ILUSI

​Berita utama di seluruh media cetak, televisi, dan portal daring nasional hanya membahas satu nama: Aris Utama. Judul-judul berita utama terpampang dengan kejam: “Kudeta Senyap di Ulang Tahun Dekade Emas”, “Skandal Properti Terbesar 2026: CEO Utama Karya Jadi Tersangka Pencucian Uang”, hingga “Balas Dendam Elegan Sang Istri Sah”.

​Di dalam mobil taksi konvensional yang ia tumpangi—setelah seluruh aset mobil mewahnya disita oleh pihak bank dan kurator hukum—Aris duduk dengan tubuh gemetar. Tuksedo mahal yang ia kenakan semalam kini tampak kusut, dasinya sudah hilang entah ke mana, dan kancing kerah kemejanya terbuka tak beraturan. Matanya merah, dikelilingi lingkaran hitam pekat karena tidak tidur semenit pun. Ponselnya terus bergetar tanpa henti; ratusan panggilan dari investor yang panik, jurnalis yang mengejar konfirmasi, hingga panggilan dari Sarah yang histeris karena rekening pribadinya dibekukan oleh penyidik pajak.

​Aris mengabaikan semuanya. Di dalam kepala yang nyaris pecah oleh migrain, hanya ada satu nama yang berputar bagai kaset rusak: Bimo.

​Pria yang selama ini ia anggap sebagai bayang-bayangnya, tempatnya membuang semua masalah hukum, dan sahabat yang paling bisa ia kendalikan, ternyata adalah otak di balik pembunuhan karakter dan kariernya. Aris tidak bisa menerima kenyataan ini. Rasa dikhianati oleh seorang sahabat terasa jauh lebih membakar daripada kenyataan bahwa ia telah kehilangan seluruh kekayaannya.

​"Pak, berhenti di depan gedung apartemen itu," perintah Aris dengan suara serak kepada sopir taksi, menunjuk ke arah kompleks apartemen studio eksklusif di kawasan Pakubuwono—tempat tersembunyi yang pernah dimention Bimo dalam satu obrolan santai sebagai aset pribadi luarnya.

​Aris tahu Bimo pasti ada di sana. Pria itu tidak akan berani muncul di kantor pusat hari ini. Dengan langkah kaki yang goyah namun didorong oleh amarah yang meluap-luap, Aris turun dari taksi, mengabaikan tatapan aneh dari petugas keamanan apartemen, dan langsung menuju lift menunju lantai 18.

​Aris menghantam pintu kayu kokoh apartemen nomor 1802 dengan kepalan tangannya. Bunyi gedoran itu menggema keras di lorong yang sepi.

​"Bimo! Buka pintunya, bajingan! Keluar kamu!" raung Aris, suaranya melengking penuh keputusasaan. "Keluar! Hadapi aku seperti seorang pria!"

​Pintu tidak terkunci. Perlahan, daun pintu itu bergeser ke dalam, menampakkan ruang keluarga apartemen studio yang diterangi oleh cahaya pagi yang redup dari balik gorden yang terbuka setengah.

​Aris langsung merangsek masuk dengan napas memburu. Namun, langkah kakinya mendadak terkunci di atas lantai parket. Amarah yang membakar dadanya seolah dihantam oleh seember air es yang membekukan seluruh sarafnya.

​Di dalam ruangan itu, di atas sofa abu-abu yang minimalis, tidak hanya ada Bimo.

​Kirana ada di sana. Wanita itu sedang duduk dengan tenang, menggenggam sebuah cangkir teh porselen. Ia masih mengenakan pakaian yang sama dengan semalam, namun riasan wajahnya sudah dihapus bersih, menampilkan wajah aslinya yang pucat namun memiliki binar mata yang sedingin es. Di sampingnya, Bimo berdiri dengan kemeja yang lengannya digulung hingga siku, menatap Aris dengan pandangan yang tidak lagi memiliki rasa bersalah atau ketakutan.

​"Kalian..." Aris berbisik, suaranya tercekat di tenggorokan. Matanya beralih dari Bimo ke Kirana, lalu kembali ke Bimo. Pikirannya yang sempat bebal malam sisa alkohol semalam mendadak merangkai semua kepingan teka-teki yang selama ini luput dari perhatiannya.

​Pertemuan-pertemuan Bimo dengan Kirana untuk urusan "aset keluarga", kemudahan Bimo mengubah klausul kontrak tanpa kecurigaannya, hingga ketenangan Kirana yang tidak masuk akal saat ia pulang dari Bali. Semuanya bukan karena Kirana bodoh; semuanya karena mereka berdua telah bersekongkol di belakang punggungnya.

​"Kalian berdua... sudah berapa lama kalian berselingkuh di belakangku?!" raung Aris, menunjuk mereka berdua dengan telunjuk yang bergetar hebat. "Bimo! Kamu sahabatku! Aku yang membawamu masuk ke lingkaran sosial atas! Aku yang memberimu panggung di perusahaanku! Dan ini caramu membalas budi? Dengan tidur bersama istriku dan merampok seluruh jerih payahku?!"

​Bimo melangkah maju satu langkah, memposisikan dirinya di depan Kirana seolah-olah ia siap melindungi wanita itu jika Aris bertindak nekat.

​"Jangan bicara tentang jerih payah, Aris," ucap Bimo, suaranya terdengar sangat tenang namun sarat akan intonasi yang menekan. "Perusahaan itu dibangun di atas modal warisan keluarga Kirana yang kamu manipulasi. Fondasi bisnismu adalah jaringan hukum yang aku rapihkan dari semua pelanggaran tokomu. Dan yang paling penting... jangan bicara tentang pengkhianatan kepada orang yang sudah mengkhianati istrinya sendiri selama bertahun-tahun demi ego yang menjijikkan."

​Bimo menatap Aris lurus-lurus tanpa berkedip. "Aku tidak pernah merampokmu, Aris. Aku hanya mengembalikan apa yang seharusnya menjadi milik Kirana. Secara hukum, secara moral."

​"Hukum?! Moral?!" Aris tertawa histeris, sebuah tawa yang terdengar mengerikan di dalam ruangan yang sunyi itu. Ia menatap Kirana yang masih bergeming di atas sofa. "Dan kamu, Kirana! Kamu berpura-pura menjadi istri yang suci, memasak untukku, tersenyum padaku setiap pagi, sementara di belakangku kamu membuka paha untuk sahabat terbaikku sendiri?! Kamu tidak lebih baik dari Sarah! Kamu bahkan lebih menjijikkan dari wanita simpanan mana pun di dunia ini!"

​Plak!

​Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Aris sebelum ia sempat menyelesaikan kalimatnya. Bukan Bimo yang menamparnya, melainkan Kirana.

​Wanita itu telah berdiri dari sofanya dengan kecepatan yang tidak terduga. Napas Kirana memburu, matanya memancarkan kemarahan yang begitu pekat hingga membuat Aris terdiam seketika. Pipi Aris yang ditampar perlahan memerah, meninggalkan sensasi panas yang menjalar hingga ke dadanya.

​"Jangan pernah berani menyebut namaku dengan mulut kotormu itu, Aris Utama," ucap Kirana, suaranya rendah namun bergetar oleh intensitas emosi yang telah ia pendam selama berbulan-bulan. "Aku bertahan di rumah itu, menahan rasa mual setiap kali melihat wajah pembohongmu, bukan karena aku menikmati sandiwara ini. Aku melakukannya karena aku ingin kamu merasakan bagaimana rasanya kehilangan segalanya dalam satu kedipan mata—persis seperti apa yang kamu lakukan pada perasaanku saat aku mengetahui hubunganmu dengan Sarah."

​Kirana menatap Aris dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan penuh penghinaan. "Lihat dirimu sekarang, Aris. Di mana kesombonganmu yang dulu selalu kamu banggakan? Di mana kekuasaan yang membuatmu merasa bisa menginjak-injak harga diriku sebagai seorang wanita? Kamu tidak lebih dari sekadar pecundang yang sedang menunggu jemputan mobil tahanan."

​Aris tertegun. Ia menatap Kirana, dan untuk pertama kalinya dalam enam tahun pernikahan mereka, ia tidak mengenali wanita yang ada di hadapannya. Ini bukan Kirana yang pemalu, bukan Kirana yang selalu mengalah, bukan Kirana yang akan menangis jika ia tinggalkan ke luar kota. Wanita di hadapannya adalah sesosok monster dingin yang ia ciptakan sendiri dari rahim pengkhianatannya.

1
Ara putri
mampir ya kak. Jika berkenan mampir juga keceritaku TUAN AYAZ, TOLONG BERHENTI!
Dinarta Firdaus: baik kakak terimakasih sudah mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!