NovelToon NovelToon
Kontrakan Rahim Untuk Tuan Calix

Kontrakan Rahim Untuk Tuan Calix

Status: tamat
Genre:Beda Usia / CEO / Ibu Pengganti / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Tamat
Popularitas:19.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

Demi menyelamatkan perusahaan keluarga dari kebangkrutan dan membiayai pengobatan adiknya yang kritis, Mireya terpaksa menjual kesuciannya. Ia menandatangani kontrak satu tahun untuk menjadi ibu pengganti bagi Calix David—seorang miliarder tampan berusia 35 tahun yang terkenal kejam dan sedingin es.
Pernikahan rahasia digelar, dan Mireya dikurung di mansion mewah dengan aturan ketat. Calix memperingatkannya: "Hubungan kita hanya sebatas rahim dan uang. Jangan pernah jatuh cinta kepadaku."
Namun, kepolosan Mireya perlahan mulai menggoyahkan hati sang Tuan Tsundere. Di tengah intrik konglomerat dan rahasia kelam mansion, akankah Mireya pergi setelah melahirkan sang ahli waris, atau justru berhasil memiliki hati Calix sepenuhnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Jam Sembilan Malam Pertama

​Jantung Mireya berdegup begitu kencang hingga gema detaknya seolah memenuhi seisi kamar mandi utama yang bernuansa marmer hitam itu. Ia baru saja selesai membersihkan diri. Di bawah guyuran air hangat, ia mencoba menghapus rasa cemasnya, namun nihil. Kini, ia berdiri di depan cermin besar, menatap pantulan dirinya yang mengenakan gaun tidur satin tipis berwarna putih tulang—satu-satunya pakaian tidur yang telah disiapkan di dalam lemari besar kamar ini. Gaun itu pas di tubuhnya, menonjolkan lekuk siluetnya yang ramping namun belum sepenuhnya matang, dengan tali tipis yang bertumpu pasrah di atas bahunya yang ringkih.

​Ia melirik jam dinding digital di atas meja rias. Pukul 20.58. Dua menit lagi menuju waktu yang ditentukan di dalam surat kontrak itu.

​Dengan tangan gemetar, Mireya membuka pintu kamar mandi. Begitu melangkah keluar, hawa dingin dari pendingin ruangan langsung menyergap kulitnya yang masih hangat. Di sana, di atas sofa kulit hitam yang terletak di sudut ruangan, Calix sudah menunggu. Pria itu telah menanggalkan jas formalnya, menyisakan kemeja hitam satin yang kancing atasnya sengaja dibuka, memperlihatkan untaian napasnya yang teratur namun berat. Sebuah gelas berisi cairan amber pekat di genggamannya berputar pelan.

​Mendengar suara pintu terbuka, netra elang Calix bergerak lambat, mengunci sosok Mireya yang berdiri kaku di dekat ranjang king-size. Sesaat, gerakan tangan Calix yang memutar gelas terhenti. Tatapannya menelusuri setiap jengkal tubuh gadis di depannya, mulai dari rambutnya yang setengah basah terurai, hingga jemari kaki Mireya yang saling meremas gugup di atas karpet bulu.

​"Kemari," suara Calix terdengar lebih rendah dan serak dari biasanya, memecah keheningan malam yang pekat.

​Mireya menelan ludah dengan susah payah. Langkah kakinya terasa seberat timah. "Tuan... maksudku, Calix. Bisakah... bisakah kita berbicara sebentar sebelum... sebelum memulainya?"

​Calix meletakkan gelasnya di atas meja kaca dengan denting pelan yang terdengar kerja sama intimidatif. Ia bangkit berdiri, menampilkan postur tubuhnya yang tinggi tegap, mendominasi seluruh ruang pandang Mireya. "Bicara tentang apa, Mireya? Semua hal sudah tertulis jelas di lembar kontrak yang ayahmu tanda tangani."

​"Ini bukan tentang kontrak," cicit Mireya saat Calix mulai melangkah lambat mendekatinya. Setiap ketukan langkah pria itu membuat Mireya refleks mundur satu langkah, hingga akhirnya bagian belakang lututnya membentur tepi kasur yang empuk. Ia terduduk pasrah. "Ini tentang aku. Aku... aku belum pernah melakukan ini sebelumnya dengan siapa pun."

​Calix menghentikan langkahnya tepat di depan Mireya. Ia menunduk, menatap wajah gadis desa yang kini mendongak dengan mata bulat yang mulai berkaca-kaca karena ketakutan. "Belum pernah? Jangan bercanda. Di zaman sekarang, gadis kota seumuranmu—"

​"Aku bukan gadis kota!" potong Mireya cepat, suaranya sedikit bergetar menahan tangis yang mendesak di ujung mata. "Aku tumbuh di desa, aku dibuang ke desa karena agar orangtuaku fokus menjaga adikku yang sakit, dan aku merawat nenekku yang sekarang juga sedang sakit keras. Aku... aku benar-benar masih murni, Calix. Aku bersumpah."

​Calix terdiam. Udara di sekeliling mereka mendadak terasa begitu pekat dan panas, bertolak belakang dengan embusan AC kamar. Pria berusia 35 tahun itu menatap lekat-lekat ke dalam iris mata Mireya, mencari secuil kebohongan atau kepura-puraan yang biasa ia temui pada wanita-wanita di luar sana. Namun, yang ia temukan hanyalah ketakutan yang teramat sangat, kepolosan yang tak bernoda, dan kilatan harga diri yang terluka.

​Secara perlahan, Calix berlutut di atas satu kaki di hadapan Mireya yang duduk di tepi ranjang, membuat tinggi mereka kini sejajar. Jarak yang memangkas habis ruang privat itu membuat Mireya bisa menghirup aroma maskulin perpaduan kayu cendana, tembakau mahal, dan sisa alkohol dari tubuh Calix.

​"Murni...?" bisik Calix, suaranya kini terdengar seperti seringai halus yang berbahaya. Tangan kanannya yang besar dan hangat bergerak lambat, naik menyentuh dagu Mireya, memaksa gadis itu untuk terus menatapnya. "Kalau begitu, Ardan benar-benar menjual aset termahalnya kepadaku dengan harga yang sangat murah."

​Air mata Mireya akhirnya luruh satu tetes, membasahi ibu jari Calix yang berada di dagunya. "Jangan sebut aku aset... aku manusia."

​Sentuhan air mata yang hangat itu seolah menyengat saraf Calix. Ibu jarinya bergerak perlahan, mengusap jejak basah di pipi halus Mireya dengan kelembutan yang tidak biasa ia tunjukkan. "Jika kamu benar-benar masih murni, maka malam ini akan berjalan sangat lambat, Mireya. Dan mungkin... akan sedikit menyakitkan untuk permulaan."

​Mireya memejamkan matanya rapat-rapat saat merasakan napas hangat Calix mulai menerpa keningnya. "Tolong... lakukan dengan pelan. Aku takut."

​"Buka matamu, Mireya," perintah Calix lembut namun tak terbantahkan.

​Saat Mireya membuka matanya dengan ragu, wajah Calix sudah berada beberapa sentimeter saja di depan wajahnya. Pria itu menatap bibir merah muda Mireya yang sedikit bergetar. Dengan gerakan yang teramat lambat, seolah ingin menyiksa kesadaran Mireya, Calix memajukan wajahnya hingga bibir mereka bertemu.

​Mireya tersentak, tangannya secara refleks mencengkeram erat kemeja hitam di dada Calix, mencari pegangan. Ini adalah ciuman pertamanya. Sentuhan pertama yang terasa begitu asing, namun menghentak seluruh sistem saraf di tubuhnya. Calix tidak langsung menuntut dengan kasar, pria itu menekan bibirnya dengan lembut, menyesap kelopak bibir Mireya satu per satu dengan ritme yang lambat dan penuh dominasi.

​"Eungh..." sebuah lenguhan kecil lolos dari sela bibir Mireya saat Calix memperdalam ciumannya, menuntut akses yang lebih dalam.

​Tangan Calix berpindah dari dagu menjalar naik ke tengkuk Mireya, menahan kepala gadis itu agar tidak bisa melarikan diri dari pesona yang memabukkan ini. Sementara tangan satunya lagi bergerak turun ke pinggang ramping Mireya, menarik tubuh mungil itu agar semakin merapat tanpa jarak ke dalam pelukannya. Kulit satin yang bergesekan menciptakan sensasi panas yang membakar.

​Calix melepaskan tautan bibir mereka sejenak, menyisakan benang saliva tipis di antara mereka. Keduanya terengah-engah, saling memburu oksigen. Mata Calix yang biasanya sedingin es kini tampak menggelap, dipenuhi oleh kabut gairah yang pekat.

​"Bagaimana? Apa kamu masih ingin menyuruhku menjauh?" bisik Calix di depan bibir Mireya yang kini tampak bengkak dan basah.

​Mireya tidak bisa menjawab. Pikirannya mendadak kosong, dikendalikan oleh sensasi baru yang aneh yang menggelitik bagian bawah perutnya. Ia hanya bisa menggeleng lemah, dengan jemari tangan yang masih setia meremas kemeja hitam Calix.

​Calix tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tampak begitu memikat sekaligus berbahaya. Ia kemudian mengecup sudut bibir Mireya, beralih ke rahangnya, dan turun perlahan menuju leher jenjang gadis itu yang putih bersih tanpa cela. Setiap kecupan dan hisapan lambat yang ditinggalkan Calix di lehernya membuat tubuh Mireya meremang hebat, melengkung pasrah di bawah kendali sang miliarder.

​"Calix... ahh... rasanya aneh..." rintih Mireya, menyembunyikan wajahnya yang memerah padam di bahu kokoh pria itu saat tangan Calix mulai bergerak merayap naik dari paha mulusnya, menyibak gaun tidur satin putihnya secara perlahan di bawah temaram lampu kamar.

​"Ini baru permulaan, Istriku," bisik Calix serak tepat di telinga Mireya, menuntun tubuh ringkih itu untuk berbaring sepenuhnya di atas ranjang sutra, menyongsong malam panjang yang sesungguhnya.

1
umie chaby_ba
kasian calix 🤭
elief
calix sudah menerima hukumannya mireya, sudah cukup. coba kamu sekarang berdamai dengan hati kamu, mencoba memaafkan kembali. semoga hati mu luluh ya mireya dan kembali ke calix. 👍
Ariska Kamisa: Terima kasih kak atas komentarnya ❤️. Memaafkan memang penting, tetapi menyembuhkan luka juga butuh waktu. Kita lihat nanti apakah cinta Calix cukup kuat untuk meluluhkan hati Mireya kembali 🥹✨💕
total 1 replies
umie chaby_ba
kasian juga sih sebenarnya calix...
🤭
Ariska Kamisa: iya ya kak ... tapi mireya juga sakit sih kak
total 1 replies
elief
karya mu bagus thor, tetapi semangat dalam berkarya💪
Ariska Kamisa: MasyaAllah, terima kasih banyak kak. Komentar seperti ini yang bikin saya semangat berkarya dan melanjutkan cerita. Sehat dan bahagia selalu ya ❤️🌷
total 1 replies
elief
lanjut thor, semoga hati mireya luluh kembali.
Ariska Kamisa: siap kak, 👍
total 1 replies
elief
lanjut thor
Ariska Kamisa: siap kak👍
total 1 replies
umie chaby_ba
Ditinggal baru merasa kehilangan lo?! /Right Bah!/
Ariska Kamisa: ya begitulah manusia kak🤭
total 1 replies
Ariska Kamisa
🤭🤭🤭🤭
umie chaby_ba
lanjutkan thor💪
Ariska Kamisa: terimakasih kak🙏🙏🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
tuh kan feeling ku juga Ilana karena belum tertangkap
Ariska Kamisa: 🤭🤭🤭🤭🤭 ketebakbya
total 1 replies
umie chaby_ba
bener mending pergi aja mireya!!!
Ariska Kamisa: iya yuk
total 1 replies
umie chaby_ba
ya Tuhan... rencana zeana KW effort banget sampai di rekannya live lagi!! jahat banget /Panic/
Ariska Kamisa: iyah iih jahatnya kebangeten yaa
total 1 replies
umie chaby_ba
gob**k... /Angry/
itu berarti jebakan si zeana KW
Ariska Kamisa: sabar kak... sabar 🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
dih masih ingat aja!
Ariska Kamisa: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
umie chaby_ba
calix... lo awas aja nyakitin! tapi kayanya si calix masih ngarep zeana masih hidup kali 🤭
Ariska Kamisa: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
umie chaby_ba
calix lo labil banget dih!! /Angry/
Ariska Kamisa: iyah emang calix nih... nakal🤭
total 1 replies
umie chaby_ba
sumpah nyesek/Cry/
Ariska Kamisa: sabar ya kak 🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
ada lagi aja! baru geh dimanjain bentar!
Ariska Kamisa: namanya hidup kak... selalu ngada-ngada..
stay read kak🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
zeana kw ini!!!
Ariska Kamisa: iyah ka terobsesi banget jadi kesayangannya calix
total 1 replies
umie chaby_ba
kepedean lo Bianca!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!