Demi menyelamatkan perusahaan keluarga dari kebangkrutan dan membiayai pengobatan adiknya yang kritis, Mireya terpaksa menjual kesuciannya. Ia menandatangani kontrak satu tahun untuk menjadi ibu pengganti bagi Calix David—seorang miliarder tampan berusia 35 tahun yang terkenal kejam dan sedingin es.
Pernikahan rahasia digelar, dan Mireya dikurung di mansion mewah dengan aturan ketat. Calix memperingatkannya: "Hubungan kita hanya sebatas rahim dan uang. Jangan pernah jatuh cinta kepadaku."
Namun, kepolosan Mireya perlahan mulai menggoyahkan hati sang Tuan Tsundere. Di tengah intrik konglomerat dan rahasia kelam mansion, akankah Mireya pergi setelah melahirkan sang ahli waris, atau justru berhasil memiliki hati Calix sepenuhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Jam Sembilan Malam Pertama
Jantung Mireya berdegup begitu kencang hingga gema detaknya seolah memenuhi seisi kamar mandi utama yang bernuansa marmer hitam itu. Ia baru saja selesai membersihkan diri. Di bawah guyuran air hangat, ia mencoba menghapus rasa cemasnya, namun nihil. Kini, ia berdiri di depan cermin besar, menatap pantulan dirinya yang mengenakan gaun tidur satin tipis berwarna putih tulang—satu-satunya pakaian tidur yang telah disiapkan di dalam lemari besar kamar ini. Gaun itu pas di tubuhnya, menonjolkan lekuk siluetnya yang ramping namun belum sepenuhnya matang, dengan tali tipis yang bertumpu pasrah di atas bahunya yang ringkih.
Ia melirik jam dinding digital di atas meja rias. Pukul 20.58. Dua menit lagi menuju waktu yang ditentukan di dalam surat kontrak itu.
Dengan tangan gemetar, Mireya membuka pintu kamar mandi. Begitu melangkah keluar, hawa dingin dari pendingin ruangan langsung menyergap kulitnya yang masih hangat. Di sana, di atas sofa kulit hitam yang terletak di sudut ruangan, Calix sudah menunggu. Pria itu telah menanggalkan jas formalnya, menyisakan kemeja hitam satin yang kancing atasnya sengaja dibuka, memperlihatkan untaian napasnya yang teratur namun berat. Sebuah gelas berisi cairan amber pekat di genggamannya berputar pelan.
Mendengar suara pintu terbuka, netra elang Calix bergerak lambat, mengunci sosok Mireya yang berdiri kaku di dekat ranjang king-size. Sesaat, gerakan tangan Calix yang memutar gelas terhenti. Tatapannya menelusuri setiap jengkal tubuh gadis di depannya, mulai dari rambutnya yang setengah basah terurai, hingga jemari kaki Mireya yang saling meremas gugup di atas karpet bulu.
"Kemari," suara Calix terdengar lebih rendah dan serak dari biasanya, memecah keheningan malam yang pekat.
Mireya menelan ludah dengan susah payah. Langkah kakinya terasa seberat timah. "Tuan... maksudku, Calix. Bisakah... bisakah kita berbicara sebentar sebelum... sebelum memulainya?"
Calix meletakkan gelasnya di atas meja kaca dengan denting pelan yang terdengar kerja sama intimidatif. Ia bangkit berdiri, menampilkan postur tubuhnya yang tinggi tegap, mendominasi seluruh ruang pandang Mireya. "Bicara tentang apa, Mireya? Semua hal sudah tertulis jelas di lembar kontrak yang ayahmu tanda tangani."
"Ini bukan tentang kontrak," cicit Mireya saat Calix mulai melangkah lambat mendekatinya. Setiap ketukan langkah pria itu membuat Mireya refleks mundur satu langkah, hingga akhirnya bagian belakang lututnya membentur tepi kasur yang empuk. Ia terduduk pasrah. "Ini tentang aku. Aku... aku belum pernah melakukan ini sebelumnya dengan siapa pun."
Calix menghentikan langkahnya tepat di depan Mireya. Ia menunduk, menatap wajah gadis desa yang kini mendongak dengan mata bulat yang mulai berkaca-kaca karena ketakutan. "Belum pernah? Jangan bercanda. Di zaman sekarang, gadis kota seumuranmu—"
"Aku bukan gadis kota!" potong Mireya cepat, suaranya sedikit bergetar menahan tangis yang mendesak di ujung mata. "Aku tumbuh di desa, aku dibuang ke desa karena agar orangtuaku fokus menjaga adikku yang sakit, dan aku merawat nenekku yang sekarang juga sedang sakit keras. Aku... aku benar-benar masih murni, Calix. Aku bersumpah."
Calix terdiam. Udara di sekeliling mereka mendadak terasa begitu pekat dan panas, bertolak belakang dengan embusan AC kamar. Pria berusia 35 tahun itu menatap lekat-lekat ke dalam iris mata Mireya, mencari secuil kebohongan atau kepura-puraan yang biasa ia temui pada wanita-wanita di luar sana. Namun, yang ia temukan hanyalah ketakutan yang teramat sangat, kepolosan yang tak bernoda, dan kilatan harga diri yang terluka.
Secara perlahan, Calix berlutut di atas satu kaki di hadapan Mireya yang duduk di tepi ranjang, membuat tinggi mereka kini sejajar. Jarak yang memangkas habis ruang privat itu membuat Mireya bisa menghirup aroma maskulin perpaduan kayu cendana, tembakau mahal, dan sisa alkohol dari tubuh Calix.
"Murni...?" bisik Calix, suaranya kini terdengar seperti seringai halus yang berbahaya. Tangan kanannya yang besar dan hangat bergerak lambat, naik menyentuh dagu Mireya, memaksa gadis itu untuk terus menatapnya. "Kalau begitu, Ardan benar-benar menjual aset termahalnya kepadaku dengan harga yang sangat murah."
Air mata Mireya akhirnya luruh satu tetes, membasahi ibu jari Calix yang berada di dagunya. "Jangan sebut aku aset... aku manusia."
Sentuhan air mata yang hangat itu seolah menyengat saraf Calix. Ibu jarinya bergerak perlahan, mengusap jejak basah di pipi halus Mireya dengan kelembutan yang tidak biasa ia tunjukkan. "Jika kamu benar-benar masih murni, maka malam ini akan berjalan sangat lambat, Mireya. Dan mungkin... akan sedikit menyakitkan untuk permulaan."
Mireya memejamkan matanya rapat-rapat saat merasakan napas hangat Calix mulai menerpa keningnya. "Tolong... lakukan dengan pelan. Aku takut."
"Buka matamu, Mireya," perintah Calix lembut namun tak terbantahkan.
Saat Mireya membuka matanya dengan ragu, wajah Calix sudah berada beberapa sentimeter saja di depan wajahnya. Pria itu menatap bibir merah muda Mireya yang sedikit bergetar. Dengan gerakan yang teramat lambat, seolah ingin menyiksa kesadaran Mireya, Calix memajukan wajahnya hingga bibir mereka bertemu.
Mireya tersentak, tangannya secara refleks mencengkeram erat kemeja hitam di dada Calix, mencari pegangan. Ini adalah ciuman pertamanya. Sentuhan pertama yang terasa begitu asing, namun menghentak seluruh sistem saraf di tubuhnya. Calix tidak langsung menuntut dengan kasar, pria itu menekan bibirnya dengan lembut, menyesap kelopak bibir Mireya satu per satu dengan ritme yang lambat dan penuh dominasi.
"Eungh..." sebuah lenguhan kecil lolos dari sela bibir Mireya saat Calix memperdalam ciumannya, menuntut akses yang lebih dalam.
Tangan Calix berpindah dari dagu menjalar naik ke tengkuk Mireya, menahan kepala gadis itu agar tidak bisa melarikan diri dari pesona yang memabukkan ini. Sementara tangan satunya lagi bergerak turun ke pinggang ramping Mireya, menarik tubuh mungil itu agar semakin merapat tanpa jarak ke dalam pelukannya. Kulit satin yang bergesekan menciptakan sensasi panas yang membakar.
Calix melepaskan tautan bibir mereka sejenak, menyisakan benang saliva tipis di antara mereka. Keduanya terengah-engah, saling memburu oksigen. Mata Calix yang biasanya sedingin es kini tampak menggelap, dipenuhi oleh kabut gairah yang pekat.
"Bagaimana? Apa kamu masih ingin menyuruhku menjauh?" bisik Calix di depan bibir Mireya yang kini tampak bengkak dan basah.
Mireya tidak bisa menjawab. Pikirannya mendadak kosong, dikendalikan oleh sensasi baru yang aneh yang menggelitik bagian bawah perutnya. Ia hanya bisa menggeleng lemah, dengan jemari tangan yang masih setia meremas kemeja hitam Calix.
Calix tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tampak begitu memikat sekaligus berbahaya. Ia kemudian mengecup sudut bibir Mireya, beralih ke rahangnya, dan turun perlahan menuju leher jenjang gadis itu yang putih bersih tanpa cela. Setiap kecupan dan hisapan lambat yang ditinggalkan Calix di lehernya membuat tubuh Mireya meremang hebat, melengkung pasrah di bawah kendali sang miliarder.
"Calix... ahh... rasanya aneh..." rintih Mireya, menyembunyikan wajahnya yang memerah padam di bahu kokoh pria itu saat tangan Calix mulai bergerak merayap naik dari paha mulusnya, menyibak gaun tidur satin putihnya secara perlahan di bawah temaram lampu kamar.
"Ini baru permulaan, Istriku," bisik Calix serak tepat di telinga Mireya, menuntun tubuh ringkih itu untuk berbaring sepenuhnya di atas ranjang sutra, menyongsong malam panjang yang sesungguhnya.
semangat terus ya Thor...