NovelToon NovelToon
Mata Malaikat Dan Titisan Si Buta

Mata Malaikat Dan Titisan Si Buta

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:876
Nilai: 5
Nama Author: Iman Darul

Seorang bayi terlahir dalam keadaan cacat buta diberi nama Jalaludin Al Bulqini. Kesaktiannya di dapatkan dari darah sang ibu yang ternyata keturunan Si Buta Dari Gua Hantu.

Di saat bersamaan lahir seorang bayi yang juga buta, yang akan menjadi lawan antara putih dan hitam. baik dan buruk.

mereka memperebutkan mustika yang ternyata tersimpan di dalam tubuh seorang perempuan yang lahir di waktu yang sama, keturunan Ratu Ageng Subang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iman Darul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nyawa yang Diselamatkan

​Pintu kayu itu baru saja terbuka beberapa sentimeter. Ahmad mengernyitkan dahi, ia mencium bau asing yang menyeruak dari dalam rumahnya—campuran bau mesiu dan parfum mahal yang menyesakkan. Namun, tepat sebelum kakinya melangkah melewati ambang pintu, sebuah tangan yang terasa dingin namun sekuat cengkeraman besi mendarat di bahunya.

​Ahmad tersentak, hampir saja ia berteriak jika sebuah telapak tangan kasar tidak segera membungkam mulutnya. Tubuh Ahmad ditarik paksa ke belakang dengan kecepatan yang tidak masuk akal untuk ukuran manusia biasa.

​"Diam! Kalau mau tetap hidup, jangan keluarkan suara," bisik sebuah suara serak tepat di telinganya.

​Ahmad tidak sempat protes. Ia merasa tubuhnya seperti melayang, diseret menembus rimbunnya pepohonan di samping rumahnya, melewati pagar belakang, dan masuk ke dalam gelapnya hutan bambu yang hanya berjarak beberapa meter dari halaman belakang. Semuanya terjadi begitu cepat hingga pandangan Ahmad berkunang-kunang.

​Di dalam rumah, suasana mendadak tegang dengan cara yang berbeda. Sang pemimpin tim pembunuh, yang berdiri paling dekat dengan pintu, mengerutkan dahi. Ia sudah melihat gagang pintu itu berputar, mendengar bunyi klik, dan melihat pintu terbuka sedikit. Tapi kemudian... sunyi.

​"Kenapa pintunya tidak jadi dibuka?" bisik salah satu anak buahnya, tangannya masih kokoh memegang pistol berperedam."

​"Periksa!" perintah sang ketua singkat.

​Dua orang bergerak cepat, menendang pintu hingga terbuka lebar dan melompat keluar ke teras. Mereka mengedarkan pandangan ke segala arah. Kosong. Hanya ada dedaunan kering yang tertiup angin sepoi-sepoi.

​"Lapor, Ketua. Tidak ada siapa-siapa di teras," ujar salah satunya dengan nada heran.

​Sang ketua melangkah keluar, matanya yang tajam tertuju pada satu objek di bawah pohon nangka. Motor tua Ahmad masih terparkir di sana, mesinnya bahkan masih terasa hangat jika disentuh.

​"Sial! Dia pasti sudah sadar dan melarikan diri!" geram sang ketua. Ia menoleh ke arah hutan bambu yang rimbun di belakang rumah. "Kejar! Tapi ingat, sembunyikan senjata kalian. Jangan sampai menarik perhatian warga. Gawat kalau kita berurusan dengan polisi lokal di jam begini!"

​"Bagaimana dengan berkas-berkasnya, Ketua?"

​"Bawa semua! Kartu Keluarga, buku nikah, dokumen apapun yang ada di meja. Cepat!"

​Jauh di dalam hutan, di sebuah tanah lapang yang tersembunyi di balik barisan bambu yang rapat, Ahmad dilepaskan. Ia jatuh tersungkur di atas tanah merah yang lembap. Napasnya tersengal-sengal, jantungnya berdegup begitu kencang hingga terasa ingin melompat keluar dari dadanya.

​Ahmad mendongak dan tertegun. Di depannya berdiri kakek tua yang tempo hari ia temui di jalanan—kakek compang-camping yang disebutnya gila karena bicara soal titisan pendekar.

​"Kek... Kakek?" Ahmad terbata-bata sembari berusaha duduk. "Tadi itu... siapa mereka? Kenapa mereka bawa pistol di rumah saya?"

​Kakek itu menatap Ahmad dengan tatapan yang sangat dalam, seolah bisa membaca ketakutan di sumsum tulang pria itu. "Tadi itu maut yang sedang mengetuk pintumu, Ahmad. Kalau aku tidak menarikmu, sekarang istrimu sudah jadi janda sebelum sempat syukuran di Indramayu."

​Ahmad gemetar hebat. Linggis kecil yang sedari tadi ia pegang terjatuh ke tanah. "Pistol... mereka mau bunuh saya? Kenapa? Saya cuma pedagang kerupuk, Kek! Salah saya apa?"

​"Bukan salahmu, Ahmad. Tapi takdir telah memilih rahim istrimu," jawab si kakek tenang. Ia berjalan mendekat, setiap langkahnya tidak menimbulkan suara pada dedaunan kering. "Orang-orang itu bukan penjahat biasa. Mereka adalah anjing pelacak yang dikirim oleh kegelapan dari kota besar. Mereka mencari anakmu, Jalaludin."

​"Jalal? Anak bayi yang baru lahir? Dia salah apa, Kek?" teriak Ahmad frustrasi.

​"Dia tidak salah. Tapi dia lahir sebagai penyeimbang. Ingat apa yang kukatakan? Dia lahir seribu tahun sekali. Dan orang-orang itu ingin mematikan cahayanya sebelum ia sempat bersinar." Si kakek memegang bahu Ahmad, menekan kuat agar pria itu fokus. "Dengarkan aku, Ahmad Syihabudin! Nyawamu hampir hilang tadi, tapi nyawa anak dan istrimu jauh lebih terancam sekarang!"

​Ahmad terpaku. "Maksud Kakek?"

​"Mereka sudah mendapatkan dokumenmu. Mereka tahu asal-usul Rismawati. Sekarang juga, mereka pasti akan bergerak menuju Indramayu untuk menyelesaikan apa yang gagal mereka lakukan di sini."

​Mendengar kata 'Indramayu', lutut Ahmad lemas. Ia jatuh berlutut sepenuhnya di atas tanah. Bayangan Risma yang sedang menggendong Jalal di dalam bus mendadak memenuhi pikirannya. "Indramayu... Risma... Jalal..."

​"Segera susul mereka! Jangan gunakan jalur utama, jangan pulang lewat depan! Ambil apa yang berharga di rumahmu dengan cepat, lalu menghilanglah ke Indramayu sebelum matahari tenggelam," perintah si kakek.

​Ahmad menunduk, badannya bergetar hebat. Ia bukan pendekar. Ia bukan pahlawan seperti di novel Kho Ping Hoo. Ia hanya pria biasa yang ingin membesarkan anaknya dengan tenang. "Kek... saya takut. Saya nggak bisa silat. Gimana kalau saya ketemu mereka lagi?"

​"Ketakutanmu adalah perisai terbaikmu saat ini. Jaga anak itu, Ahmad. Dia memikul tanggung jawab untuk menyelamatkan dunia ini dari kegelapan yang sedang tumbuh di kota sana. Kamu adalah penjaganya. Sekarang pergi!"

​Ahmad menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. Ia berdiri dengan kaki yang masih agak goyah. "Terima kasih, Kek. Terima kasih sudah menyelamatkan saya."

​"Pergi, Ahmad! Waktumu tidak banyak!"

​Ahmad mengendap-endap melalui jalur belakang, masuk ke rumahnya lewat jendela dapur yang ia tahu engselnya agak longgar. Suasana di dalam rumah sudah porak-poranda. Ia menatap ruang tengahnya yang berantakan dengan hati yang hancur. Foto pernikahannya hancur di lantai. Kasur tempat Jalaludin pertama kali tidur telah robek-robek.

​Dengan gerakan cepat dan teliti, Ahmad memasukkan pakaian seadanya, sisa uang simpanannya yang ia sembunyikan di balik pigura kaligrafi, dan sebuah parang tua milik ayahnya ke dalam tas ransel. Ia tidak sempat memikirkan motornya yang tertinggal di depan.

​Ia berdiri sejenak di tengah ruangan, menatap setiap sudut rumah yang ia beli dengan hasil keringat berdagang kerupuk selama bertahun-tahun. Rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman bagi keluarga kecilnya, kini terasa seperti kuburan yang dingin.

​"Maafin Bapak, Jalal. Bapak telat sadar," bisiknya parau.

​Ahmad tidak menoleh lagi. Ia memanggul tasnya, melangkah keluar lewat pintu belakang, dan menghilang di balik kerimbunan bambu, menuju arah yang berlawanan dari jalan raya, memulai pelariannya demi satu tujuan: mencapai Indramayu sebelum maut sampai di sana lebih dulu.

1
Muqimuddin Al Hasani
💪 terimakasih
T28J
semangat a' /Rose//Rose//Rose//Rose/
T28J
keren pembukaan nya kak 👍👍👍
Muqimuddin Al Hasani
Sebuah karya yang diambil dari legenda Indonesia
T28J
👍👍👍
Muqimuddin Al Hasani
tadinya mau dioplos mbg
Muqimuddin Al Hasani
🤣🤣 untung nggak pake pestisida
T28J
anjay dioplos pakek darah
Muqimuddin Al Hasani
🤣🤣🤣 teu nyaho ieu rek komedi
T28J
eleuh eleuh si risma.. /Facepalm/
T28J
ngegeledak sia langsung mencret 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!