“Aku nggak mau nikah sama ustaz dingin kayak kulkas berjalan!”
Itulah teriakan Naura Aleesha saat orang tuanya menjatuhkan keputusan ia akan menikah dengan Gus Azzam Al-Farizi, pewaris pesantren ternama. Bagi Naura, gadis modern yang mencintai kebebasan, café, dan koleksi bunga, menikah dengan lelaki yang hidupnya diatur oleh aturan agama adalah akhir dari dunianya.
Di sisi lain, Gus Azzam menerima wasiat terakhir almarhum kakeknya dengan tenang. Meski calon istrinya jauh dari kesan islami, keras kepala, dan bahkan tidak berhijab syar’i, Azzam adalah lelaki yang tak pernah membantah takdir. Ia berjanji akan menjaga Naura, meski dengan caranya yang diam dan penuh batas.
Pernikahan yang diawali penolakan dan kesalahpahaman ini perlahan mempertemukan dua dunia yang bertolak belakang. Di balik tatapan dingin Azzam, ada taman bunga yang diam-diam ia tanamkan untuk istrinya. Di balik keras kepala Naura, ada kelembutan yang mampu melelehkan hati sang Gus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jlianty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 23 - Naura Dipermalukan
Naura bangun subuh tanpa terlambat, ia belajar memasang kerudung yang lebih rapi dengan bantuan video Umi Salma, dan ia mencoba menghafal beberapa doa harian yang selama ini ia lupakan. Semua itu ia lakukan bukan karena paksaan, tapi karena ia ingin menjadi lebih baik untuk dirinya sendiri, dan untuk pria yang rela membelikan brooch hijau zamrud dan merakit taman bunga di belakang rumahnya.
Tapi semangat baru itu diuji pada suatu sore.
Hari itu adalah Jumat, hari di mana santriwati pesantren mengadakan halaqah (lingkaran kajian) khusus setelah Ashar. Kajian ini dipimpin oleh Zahra Humaira, yang memang dikenal sebagai santriwati paling berprestasi di bidang keilmuan. Biasanya, Naura menghindari acara ini dengan alasan membantu Ibu Jamilah atau merawat tantannya.
Namun hari ini, Naura ingin mencoba. Ia ingin menunjukkan pada Azzam bahwa ia bisa beradaptasi. Ia ingin membuktikan pada Zahra dan santriwati lainnya bahwa ia bukan gadis kampungan yang hanya bisa mengeluh.
"Aku mau ikut kajian sore," ucap Naura pada Azzam saat makan siang, nadanya lebih percaya diri dari biasanya.
Azzam menatap istrinya sejenak, mengunyah pelan, lalu mengangguk. "Boleh. Tapi jika kamu tidak nyaman, kamu boleh pulang. Jangan memaksa dirimu."
"Aku nggak akan memaksa diriku," Naura tersenyum tipis. "Aku hanya ingin mencoba."
.
.
.
Ruang kajian di asrama putri dipenuhi oleh sekitar tiga puluh santriwati. Mereka duduk melingkar di atas sajadah-sajadah yang tertata rapi, masing-masing memegang kitab kuning dan pensil. Udara di dalam ruangan berbau minyak attar.
Naura melangkah masuk dengan hati-hati. Ia mengenakan gamis chiffon berwarna dusty pink dan kerudung yang disemat brooch dari Azzam. Ia mencari posisi di barisan belakang, berharap bisa berbaur tanpa terlihat.
Tapi harapan itu hancur saat Zahra, yang duduk di tengah lingkaran, menoleh dan menangkap kehadirannya.
"Subhanallah, Naura ikut kajian hari ini?" sapa Zahra dengan suara yang terlalu ramah. Matanya yang bersinar di balik cadar menatap Naura dari atas ke bawah, menyimpan senyum yang tidak menyentuh matanya. "Ayo, duduk di depan. Biar aku yang ngajarin kalau ada yang belum kamu pahami."
Seluruh mata menoleh ke arah Naura. Tiga puluh pasang mata. Sebagian penasaran, sebagian simpatik, dan sebagian menatap dengan raut wajah yang jelas berkata, "Yang datang siapa?"
Naura menelan ludah, berjalan maju, dan duduk di seberang Zahra. Ia membuka kitab yang telah disiapkannya 'Ta'limul Muta'allim', kitab tentang adab menuntut ilmu yang ia pinjam dari perpustakaan.
Kajian dimulai. Zahra membacakan teks Arab dengan fasih, lalu menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia dengan lancar. Penjelasannya sangat baik, terstruktur, dan penuh referensi. Tidak bisa dimungkiri, Zahra memang pintar.
Tapi setiap beberapa menit, Zahra selalu mencari cara untuk menyeret nama Naura.
"Seperti dalam kitab ini, seorang istri harus menjadi penyejuk hati suaminya. Bukan beban. Bukan pula penghalang ibadah," Zahra menatap Naura saat mengucapkan kalimat itu. "Gus Azzam adalah pemimpin pesantren, beliau butuh istri yang bisa mendampinginya di atas sajadah, bukan istri yang sibuk dengan dunia luar."
Naura menunduk, mencoba fokus pada bukunya, membiarkan kata-kata itu mengalir begitu saja. "Jangan tersinggung, Naura. Dia nggak menyebut namamu secara langsung."
Namun Zahra tidak berhenti di situ.
Saat kajian memasuki sesi tanya jawab, Zahra menutup kitabnya dan tersenyum. "Baik, apakah ada yang belum paham tentang penjelasan tadi? Jangan sungkan bertanya. Di sini kita semua sedang belajar."
Ruangan sunyi. Tidak ada yang mengangkat tangan.
Lalu, Zahra menoleh langsung ke arah Naura, matanya berkilat licik. "Naura, bagaimana denganmu? Kamu tampak diam saja. Apakah ada bagian yang sulit kamu pahami? Atau mungkin... kamu belum terbiasa membaca 'kitab gundul' tanpa harakat?"
'Kitab gundul'. Kitab berbahasa Arab tanpa tanda baca vokal, yang membutuhkan penguasaan tata bahasa Arab (Nahwu-Sharaf) tingkat tinggi untuk membacanya. Ini adalah senjata pamungkas santri pesantren, dan Zahra tahu persis bahwa Naura... gadis yang dibesarkan di sekolah umum, tidak memiliki kemampuan itu.
Semua mata kembali menatap Naura. Tekanan di dada gadis itu mendadak sesak.
"Aku... aku bisa mengikuti," jawab Naura pelan, berusaha terdengar percaya diri, meski suaranya sedikit gemetar.
"Benarkah?" Zahra mencondongkan tubuhnya, memutar pulpen di tangannya dengan nada yang menguji. "Kalau begitu, boleh kamu bacakan matan (teks inti) di halaman 34 ini? Teruskan dari kata wa laakinna... Coba baca dan terjemahkan untuk kita semua."
Naura menelan ludah. Ia menatap halaman 34 yang ditunjuk Zahra. Deretan huruf Arab saling bersambung tanpa titik-titik harakat yang menunjukkan cara membacanya. Bagi Naura, itu seperti melihat kumpulan simbol rahasia.
Ia tahu cara membaca Al-Qur'an, ia tahu huruf hijaiyah, tapi membaca teks 'gundul' dengan aturan tata bahasa klasik? Itu jauh dari kemampuannya.
Waktu terasa berhenti. Naura menatap kitab itu, bibirnya bergetar, mencoba menyusun suara, tapi tak ada satu pun kata yang keluar. Keringat dingin merembes di pelipisnya.
"Ada apa, Naura?" suara Zahra terdengar begitu jelas di tengah keheningan yang menyakitkan. "Tidak bisa membacanya? Tidak apa-apa, memang tidak semua orang bisa membaca kitab gundul. Apalagi yang tidak punya latar belakang pesantren."
Tawa kecil tertahan terdengar dari beberapa santriwati di barisan belakang.
"Nampaknya ada perbedaan besar antara belajar agama dari buku-buku self-help dengan mempelajari ilmu yang sebenarnya," lanjut Zahra, nada suaranya kini dipenuhi simpati palsu yang jauh lebih menyakitkan dari hinaan langsung. "Kamu tidak perlu memaksakan diri menjadi istri Gus yang sempurna, Naura. Mungkin tugasmu memang hanya di luar sana... merawat bunga, atau urusan duniawi lainnya. Memang bukan kapasitasmu untuk berada di ruangan ini."
Itu hantaman terakhir.
Bukan sekadar merendahkan kecerdasannya, tapi mengingatkannya bahwa ia tidak pantas berada di sini. Bahwa ia tidak pantas menjadi istri Azzam. Bahwa ia hanyalah penghuni asing yang mencoba memakai baju yang tidak berukuran untuknya.
Mata Naura memanas. Air mata menggenang, mengancam akan jatuh dan mempermalukannya lebih jauh di depan semua orang. Ia tidak bisa bernapas. Dinding-dinding ruangan tiba-tiba terasa mengepitnya.
Dengan gerakan terburu-buru, Naura menutup kitabnya dengan suara bantingan keras yang membuat ruangan terdiam kaget. Ia berdiri, tangannya mengepal kuat hingga kuku-kukunya menekan telapak tangan.
"Maafkan aku," ucap Naura dengan suara yang tertahan, kaku, namun gagah. Matanya menatap lurus ke arah Zahra yang terkejut. "Aku memang belum bisa membaca kitab gundul. Tapi aku tidak perlu meminta izin padamu untuk mencoba."
Lalu, Naura berbalik dan berlari keluar dari ruangan.
.
.
.
Taman bunga rahasia di belakang rumah.
Naura mendorong pintu belakang, berlari melewati deretan pot lavender, dan jatuh berlutut di depan petak tanah kosong yang rencananya akan ia tanami mawar putih.
Saat lututnya menghantam tanah yang lembap, bendungan air matanya akhirnya jebol.
Ia menangis. Bukan tangis sedu-sedan yang dramatis, tapi tangis yang keluar dari lubuk hati yang paling dalam, tangis yang dipenuhi oleh rasa frustasi, rasa rendah diri, dan rasa sakit yang luar biasa akibat kata-kata Zahra.
Ia memeluti tanah itu, membiarkan air matanya membasahi kerudung dan gamisnya. Tangannya yang kotor oleh tanah meremas kain roknya.
"Kamu tidak pantas." Kata-kata itu berdenging di kepalanya. "Kamu bukan santri. Kau hanya gadis modern yang mencoba mengambil tempat yang bukan milikmu."
"Aku memang nggak pantas..." isak Naura pada angin sore yang berhembus kencang. "Aku bodoh... aku nggak bisa apa-apa di sini... Kenapa aku pikir aku bisa berubah? Kenapa aku pikir aku bisa jadi istri yang layak untuknya?"
Ia menangis hingga bahunya bergetar hebat, tidak menyadari bahwa gerbang pagar belakang sedang terbuka, dan seseorang telah pulang lebih awal dari masjid.
Azzam berdiri di ambang pintu belakang, mendengar isakan itu. Wajahnya yang biasa tenang kini dihiasi oleh kemarahan yang membakar saat ia menyadari dari mana rasa sakit istrinya berasal. Tapi kemarahannya itu langsung menguap, digantikan oleh rasa sakit yang jauh lebih besar saat melihat Naura, istrinya, mataharinya... tergeletak di tanah, menangis seperti anak kecil yang kehilangan dunia.
Tanpa membuang waktu, Azzam melangkah maju.
Naura merasakan kehadiran itu. Ia menoleh dengan mata yang sembap dan wajah yang basah oleh air mata serta coretan tanah, lalu mendapati Azzam sudah berlutut tepat di sampingnya.
"Azzam... hikss..." panggilnya dengan suara yang retak, sebelum rasa malu dan rasa sakit bercampur menjadi satu, membuatnya semakin menangis keras.
Dan Azzam... Gus Azzam Al-Farizi yang selalu menjaga jarak, yang selalu menahan diri, yang selalu memilih kata-kata sebelum bertindak, pada saat itu tidak lagi memikirkan aturan mana pun.
Ia meraih bahu Naura, menarik gadis itu ke dalam peluknya, dan mendekapnya sangat erat, seolah ingin menyatukan Naura ke dalam tulang rusuknya agar tidak ada satu pun di dunia ini yang bisa melukainya lagi.
"Keluhanmu sudah sampai kepadaku," bisik Azzam tepat di telinga Naura, suara baritonnya bergetar oleh emosi yang tertahan, membelai punggung istrinya yang bergetar hebat. "Sini... menangis saja di pelukanku. Saya di sini."
Naura membenamkan wajahnya di dada koko Azzam, mencengkeram kain itu, dan menangis sepuasnya. Dan di pelukan suaminya itu, di tengah taman yang dibangun khusus untuknya, Naura menyadari bahwa kekuatannya selama ini hanyalah topeng. Di hadapan Azzam, ia diizinkan untuk hancur.
Dan Azzam, sambil terus membelainya, menatap ke arah asrama putri di kejauhan dengan tatapan yang menjanjikan badai.
"Siapapun yang membuat istri saya menangis seperti ini," bisik amarah di hati Azzam yang biasa damai, "akan kubuat kamu menyesal."
.
.
.