Ayahku punya utang 500 juta. Aku dipaksa nikah sama om-om 40 tahun buat lunasin. Malam pertama dia malah tidur di sofa. Ternyata dia simpan foto mantan istri yang mirip aku. Siapa wanita itu? Kenapa dia mati? Dan kenapa om itu takut aku hamil?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siska bbt644, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: PELURU UNTUK DIMAS
DOR!
Suara tembakan dari pistolku sendiri bikin telingaku budeg. Asap tipis keluar dari moncong pistol. Tanganku gemeteran hebat, tapi aku nggak lepasin. Mataku fokus ke Den Dimas.
Peluruku kena. Kena bahu kirinya. Dimas kaget, senyumnya hilang. Dia jatuh ke belakang sambil megang bahu yang darahnya ngocor. "ANJING! BONEKA MURAHAN BISA NEMBAK?!"
Anak buahnya panik. Ada yang mau nolong Dimas, ada yang malah nembak-nembakin ngawur ke arahku. Tuan Arga, walaupun bahunya bolong, masih narik badanku sampe masuk ke balik peti kayu lagi. "Pinter... lo..." bisiknya, napasnya satu-satu. Mukanya pucet banget.
"Om jangan mati! Jangan merem, Om!" Aku panik, neken lukanya pake kaosku. Darahnya banyak banget, tembus rompi anti peluru. Rompi itu cuma nahan peluru biar nggak kena jantung, tapi tetep aja bolong.
Anak buah Tuan Arga dari 5 mobil udah masuk gudang. Tembak-tembakan makin rame. Kayak perang di film Hollywood, tapi ini beneran. Bau mesiu, bau darah, bau laut amis nyampur jadi satu.
Dimas udah berdiri lagi sambil meringis. Dia dibantu 2 anak buahnya. "BUNUH MEREKA BERDUA! BUNUH ARGA SAMA CEWEK KAMPUNG ITU! 1 M BUAT YANG BERHASIL!"
Tuan Arga nyengir nahan sakit. "1 M? Murah banget nyawa gue, Dim." Dia ngangkat pistolnya pake tangan kiri karena bahu kanan udah nggak bisa gerak. DOR! DOR! Dua anak buah Dimas tumbang lagi.
"Lo duluan yang mati, Bang!" Dimas ngarahin pistolnya lagi ke kepala Tuan Arga. Jarak 10 meter. Nggak bakal meleset.
Aku nggak mikir. Badanku gerak sendiri. Aku berdiri di depan Tuan Arga, nutupin badannya. Pistolku arahkan ke Dimas. Dua-duaan. Dia tembak aku, aku tembak dia.
"DIMAS PRATAMA!" teriakku. Suaraku nggak gemeteran lagi. Aneh. "LO YANG BUNUH ALINA! LO YANG DORONG KAKAK IPAR LO SENDIRI DARI BALKON! LO PEMBUNUH BAYI!"
Dimas kaget denger namaku sebut Alina. Senyumnya ilang total. "Lo tau dari mana, hah?! Inah! Pembantu gendut itu bocor ya?!"
"DIA NGGAK BOCOR! GUE DENGER SENDIRI! LO SURUH MBAK INAH RACUNIN ALINA TIAP MALEM!" Aku teriak sekenceng-kencengnya biar semua anak buahnya denger. Biar mental Dimas jatuh. "LO CEMBURU SAMA OM ARGA! LO IRI KARENA OM ARGA JADI CEO! LO CUMA ANAK HARAM YANG NGGAK DIAKU PAPA!"
PLAK! Itu muka Dimas. Kayak ditampar pake kata-kata. Mukanya merah, matanya melotot. "DIAM LO! DIAM! GUE ANAK SAH! PAPA SAYANG GUE!"
"BOHONG! PAPA LO AJA BILANG LO ANAK DARI SELINGKUHANNYA! LO NGGAK BERHAK PEGANG PRATAMA GROUP!" Aku ngarang. Aku nggak tau itu bener apa nggak. Tapi dari muka Dimas yang langsung berubah kayak kesetanan, kayaknya bener.
"MATI LO!" Dimas narik pelatuk.
DOR! DOR! DOR!
Bukan peluruku. Bukan peluru Dimas. Tembakan dari samping. Anak buah Tuan Arga yang nama kodenya "Elang" nembak tangan Dimas dari samping. Pistol Dimas jatuh. Jarinya putus 2.
"ARGGGHHH!!!" Dimas jerit-jerit megangin tangan kirinya yang darahnya muncrat kayak air mancur. Anak buahnya yang sisa 4 orang langsung angkat tangan. Nyerah.
Tuan Arga udah berdiri lagi sambil ditopang aku. Muka pucet tapi matanya buas. Dia jalan pincang nyamperin Dimas yang udah jatuh dengkulnya. Pistol ditempel ke jidat Dimas.
"Giliran gue, Dim," bisik Tuan Arga. Suaranya dingin kayak es Antartika. "5 tahun gue nunggu ini. 5 tahun gue mimpiin kepala lo meledak."
"Bang... Bang Arga... ampun Bang... aku adikmu..." Dimas nangis, ingus keluar, ludah muncrat. Udah nggak sangar lagi. "Aku khilaf... aku cemburu... Mama tiri lebih sayang kamu daripada aku..."
"Alina istri gue. Arga Jr anak gue yang belum lahir," Tuan Arga ngomong pelan-pelan, tiap kata kayak palu godam. "Lo bunuh mereka. Sekarang giliran lo."
JARINYA NARIK PELATUK.
Tapi aku pegang tangannya. "Om, jangan."
Tuan Arga noleh ke aku. Kaget. "Siska?"
"Kalo Om bunuh dia sekarang, Om sama aja kayak dia. Pembunuh." Tanganku gemeteran megang tangan Tuan Arga yang bersimbah darah. "Biarin polisi yang urus. Biarin dia busuk di penjara seumur hidup. Biar dia rasain gimana rasanya kehilangan semua, kayak Om 5 tahun ini."
Tuan Arga diem. Napasnya berat. Matanya perang antara dendam 5 tahun sama kata-kataku. Lama banget, kayak 1 abad.
Akhirnya... dia nurunin pistolnya. KLEK. Pengamannya dipasang.
"Elang," panggil Tuan Arga ke anak buahnya. "Ikat dia. Patahin kaki kirinya biar nggak kabur. Telepon Kapolres. Bilang gue punya paket buat dia. Bukti pembunuhan Alina Pratama 5 tahun lalu. Plus pengakuan Mbok Inah yang udah gue rekam."
Elang sigap. Dimas diikat, kakinya dipatahin pake balok kayu. KRUK. Jeritannya nyaring banget sampe burung-burung di pelabuhan pada terbang.
Tuan Arga jatuh lagi. Kali ini beneran nggak kuat. Darah dari bahunya udah ngebentuk genangan di lantai gudang. "Sis... ka..." panggilnya lemah.
Aku nangkap badannya. "Om! Bertahan, Om! Ambulans udah di jalan!"
Dia senyum. Senyum tulus pertama yang aku liat dari dia selama 3 minggu ini. Tangannya yang berdarah ngusap pipiku. "Makasih... udah... nggak biarin gue... jadi pembunuh... Alina pasti... bangga..."
Terus matanya merem. Badannya lemes di pelukanku.
"OM ARGA! BANGUN OM! JANGAN MEREM!" Aku guncang-guncang badannya, tapi nggak bangun. Di luar suara sirine ambulans sama polisi udah kenceng banget.
Elang nyamperin, cek nadi Tuan Arga. "Masih ada, Mbak. Tapi lemah banget. Kehilangan darah banyak. Harus cepet ke RS."
Aku gendong kepala Tuan Arga di pangkuanku sambil nunggu brankar dateng. Air mataku netes ke muka dia yang pucet. "Om janji nggak bakal mati sebelum Dimas mati duluan kan? Om harus tepati janji. Om belum bayar utang Bapak 500 juta. Om belum ceraiin aku. Om belum... belum suka sama aku."
Aku nggak sadar ngomong apa. Aku cuma nggak mau dia mati. Aku nggak mau sendirian lagi.
Ambulans dateng. Tuan Arga dibawa masuk, infus dipasang, oksigen dipasang. Aku ikut naik, genggam tangannya terus sepanjang jalan ke RS.
Di IGD, dokter langsung bawa dia ke ruang operasi. Aku disuruh nunggu di luar. Sendirian. Duduk di kursi tunggu yang dingin. Baju penuh darah Tuan Arga. Tangan gemeteran.
3 jam kemudian, dokter keluar. Mukanya capek. Aku langsung berdiri.
"Gimana dok? Om Arga gimana?"
Dokter lepas masker. "Peluru udah dikeluarin. Nggak kena organ vital. Tapi dia kehilangan darah banyak. Kritis 24 jam ke depan. Kalo lewat dari itu... dia selamat."
Aku jatuh terduduk lagi. Nangis. Nangis kejer. Antara lega sama takut.
Elang nyamperin, nyodorin HP Tuan Arga. "Mbak, Tuan titip ini sebelum pingsan di gudang. Katanya kalo dia kenapa-kenapa... kasih ke Mbak."
Aku buka HP-nya. Password-nya 12051990. Tanggal lahir Alina. Di galeri, ada folder namanya "Siska". Isinya... foto-foto aku. Pas aku lagi tidur di sofa. Pas aku lagi masak mie di dapur. Pas aku lagi nyiram bunga. Diambil diam-diam dari jauh.
Terus ada voice note terakhir, dikirim 1 jam sebelum ke gudang:
"Siska, kalo gue mati, lo bebas. Utang bapak lo lunas. Rumah ini jadi milik lo. Tapi kalo gue hidup... gue mau nyoba jadi suami beneran buat lo. Bukan kontrak. Beneran. Lo mau?"
Dadaku sesek. Air mata makin deres.
Aku mau, Om. Aku mau banget. Jadi lo harus hidup. Harus.