HANCURLAH BERSAMA "SUAMI PARASIT DAN ADIK BENALU"
Selama dua tahun pernikahan, Violet hidup sebagai istri yang selalu mengalah. Ia tidak pernah menyangka suami yang dicintainya ternyata diam-diam berselingkuh dengan Eliana, adik tirinya sendiri.
Lebih kejam lagi, mereka hanya memanfaatkannya demi merebut perusahaan keluarga yang menjadi haknya. Saat kebenaran terungkap, Violet kehilangan segalanya—ayahnya koma karena sebuah kecelakaan yang ternyata direncanakan, hartanya dirampas, dan nyawanya dihabisi oleh orang-orang yang paling dipercayainya.
Dalam detik terakhir sebelum kematian, Violet mengutuk mereka dan memohon kesempatan untuk mengulang hidupnya.
Ketika membuka mata, ia kembali ke dua tahun lalu.
Ke hari saat Arga datang melamar.
Kali ini Violet tidak akan memilih pria yang menghancurkan hidupnya.
Sebagai gantinya, ia memilih Sherkan—paman Arga yang terkenal dingin, kejam, dan menjadi penguasa dunia bisnis.
Keputusan itu mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nila KingShop Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Setelah makan malam selesai dan semua peralatan dibersihkan, suasana di dalam rumah itu kembali menjadi sangat tenang. Rumah besar dan megah ini terasa jauh lebih sunyi daripada yang pernah kubayangkan sebelumnya. Semua pelayan dan asisten rumah tangga sudah pamit dan kembali ke ruang istirahat mereka masing-masing, menyisakan hanya aku dan Sherkan yang kini menjadi penghuni utama di tempat itu.
Aku sudah beberapa kali berusaha memulai percakapan ringan untuk mengisi keheningan—mulai dari menanyakan apakah makanan malam tadi cukup sesuai seleranya, hingga membahas sekilas mengenai suasana lingkungan sekitar. Namun setiap kali aku mencoba, percakapannya selalu berakhir dengan jawaban singkat atau anggukan saja. Bukan karena Sherkan terlihat sulit diajak bicara atau terkesan menjauh, melainkan karena diriku sendiri yang merasa terlalu gugup dan canggung, hingga akhirnya kata-kata yang ingin kuucapkan pun terasa tersangkut di tenggorokan.
Akhirnya, kami memutuskan untuk kembali menuju kamar tidur utama. Begitu pintu kamar itu tertutup rapat di belakang kami, masalah yang sejak tadi berusaha kuabaikan dan pendam dalam hati perlahan muncul kembali ke permukaan, terasa semakin jelas dan nyata.
Mataku langsung tertuju pada satu titik di tengah ruangan: tempat tidur berukuran sangat besar yang terlihat begitu luas dan empuk. Aku menatapnya beberapa saat, lalu memalingkan pandangan ke arah sofa kecil yang terletak di sudut ruangan, kemudian kembali lagi menatap tempat tidur itu, lalu beralih lagi ke sofa. Gerakan mataku yang bolak-balik itu seolah sedang mempertimbangkan pilihan terbaik agar tidak terasa terlalu canggung.
Sherkan yang sejak tadi berdiri di dekat meja kerja dan sibuk membuka serta memeriksa beberapa dokumen penting sepertinya menyadari kegelisahan yang terlihat jelas dari raut wajah dan gerak-gerikku. Ia mengangkat kepalanya perlahan, lalu menatapku dengan tatapan gelap yang terasa tajam namun tenang.
“Ada masalah?” tanyanya dengan suara yang rendah namun cukup jelas terdengar di dalam ruangan yang sunyi itu.
Aku berdeham pelan untuk mengatur napas dan menenangkan detak jantung yang mulai berdebar lebih cepat. “Sebenarnya… ada sedikit hal yang ingin aku bicarakan.”
Sherkan meletakkan dokumen di tangannya sebentar, lalu menatapku lebih lekat. “Silakan.”
“Aku sedang berpikir,” lanjutku sambil menunjuk ke arah sofa kecil itu dengan jari yang sedikit gemetar, “bagaimana kalau aku tidur di sana saja malam ini?”
Suasana hening sejenak. Sherkan hanya diam dan menatapku tanpa berkedip sedikit pun. Aku segera merasa panik dan buru-buru menambahkan penjelasan agar tidak disalahartikan. “Atau… jika sofa itu terasa terlalu sempit, kita bisa meminta pelayan membawa tempat tidur tambahan ke sini. Atau…”
Mataku melirik ke arah karpet tebal yang menutupi hampir seluruh permukaan lantai ruangan, lalu berkata lagi, “Kalau tidak ada cara lain, aku juga bisa tidur di bawah saja. Karpetnya cukup tebal dan terasa hangat, jadi tidak akan terasa dingin.”
Beberapa detik berlalu tanpa jawaban apa pun. Sherkan hanya diam memandangiku, seolah sedang mencoba memahami maksud di balik permintaanku. Setelah itu, ia perlahan menutup kembali dokumen yang dibacanya. Terdengar suara klik pelan saat ia menyatukan sampul map itu, dan suara itu membuatku tanpa sadar menoleh ke arahnya.
Tanpa diduga, Sherkan segera berdiri dari kursinya dan mulai melangkah mendekat ke arahku. Satu langkah, dua langkah, tiga langkah… sampai akhirnya ia berhenti tepat di sisi tempat tidur besar itu. Aku yang sejak tadi duduk di tepi kasur secara tidak sadar mundur sedikit menjauh, namun Sherkan justru terus melangkah lebih dekat, membuatku terpaksa terus mundur hingga akhirnya aku sadar bahwa punggungku sudah menyentuh bagian tengah kasur itu sendiri.
Kini ia berdiri tepat di hadapanku, jarak kami bahkan tidak sampai satu lengan panjang. Aku mengedipkan mata beberapa kali, berusaha keras untuk tetap terlihat tenang dan tidak panik, namun usahaku itu gagal total. Untuk pertama kalinya sejak kami tinggal bersama, aku benar-benar menyadari betapa besar dan kokohnya tubuh pria itu, betapa tinggi posturnya, dan betapa mudahnya ia membuatku kehilangan ruang untuk bergerak atau bahkan mencari jalan keluar jika diperlukan.
Namun meski begitu, ekspresi wajahnya tetap datar dan tenang seperti biasanya, tidak berubah sedikit pun. Justru ketenangan tanpa ekspresi itulah yang membuatku merasa semakin gugup dan tidak berdaya.
Sherkan lalu meletakkan satu tangannya di sisi kasur, tepat di samping pinggir tubuhku, dia menjongkok dan jarak kami benar-benar rapat, sementara tatapan matanya tidak pernah lepas dari wajahku. Entah kenapa wajah ku rasanya memanas.
“Kalau kita merujuk pada isi surat perjanjian yang kita tanda tangani bersama,” ucapnya dengan nada bicara yang tetap tenang dan terukur, “tidur sekamar atau tidur dalam satu tempat tidur tidak pernah dicantumkan di dalamnya sebagai larangan atau kewajiban, bukan?” aroma tubuhnya bisa aku cium, begitu maskulin dan sangat laki-laki.
Aku langsung terdiam. Benar sekali, ia tidak salah. Dalam kesepakatan yang kami buat, hal-hal seperti itu memang tidak pernah disebutkan secara tertulis.
Sherkan melanjutkan bicaranya dengan nada yang tetap santai namun terasa meyakinkan. “Seingatku juga tidak ada pasal atau aturan yang mengharuskan istriku tidur di atas karpet lantai, bukan?”
Aku membuka mulut ingin membantah, namun kemudian menutupnya kembali karena sadar lagi-lagi ia benar. “Dan juga tidak ada aturan yang membatasi aku harus tidur di sofa saja,” tambahnya lagi.
Nada suaranya terdengar biasa saja, namun entah kenapa terasa seperti sedang mengajukan pertanyaan yang menuntut jawaban yang tepat, seolah sedang menginterogasiku dengan cara yang paling masuk akal. Aku mulai kehabisan alasan dan argumen untuk mempertahankan pendirianku sendiri.
Aku ingin memotong dan bilang bukan kamu yang tidur di sofa, aku saja. Tapi aku sudah kehilangan kata-kata.
Sherkan lalu sedikit memiringkan kepalanya, matanya menatap tepat ke dalam mataku. “Jadi… tidur bersama di kasur ini bukanlah masalah besar yang perlu diperdebatkan, bukan?”
Jantungku langsung berdebar kencang dan tidak beraturan. Aku bahkan tidak tahu harus menjawab apa. Cara pria ini berbicara terlalu tenang, terlalu masuk akal, namun sekaligus terasa menyebalkan karena membuatku tidak punya celah untuk menolak.
“Aku… aku hanya merasa…” suaraku terdengar terbata-bata.
Namun sebelum aku sempat menyusun kalimat yang tepat, Sherkan kembali mendahului ucapanku. “Aku tidak suka melihat istriku tidur di tempat yang tidak semestinya atau terpisah jauh dariku.”
Kalimat itu diucapkannya dengan nada yang datar namun tegas, penuh penekanan seolah menjadi keputusan mutlak yang tidak bisa diganggu gugat. Ia tidak memberikan ruang sedikit pun untuk berdebat atau menawar.
Aku hanya bisa menelan ludah dengan perlahan, sangat perlahan. Untuk pertama kalinya sejak menikah dengan kontrak ini, aku baru menyadari satu hal penting tentang dirinya: Sherkan memang pria yang selalu mengedepankan logika, terkesan dingin dan jarang sekali memaksakan kehendak pada orang lain. Namun begitu ia sudah mengambil keputusan, mengubah pikirannya menjadi hal yang sangat sulit dilakukan.
Kami saling bertatapan selama beberapa detik yang terasa begitu panjang dan menegangkan. Kemudian, tanpa diduga sama sekali, sudut bibir Sherkan sedikit terangkat membentuk lengkungan samar—hampir terlihat seperti senyum, namun masih terasa samar dan sulit dipastikan apakah benar-benar tersenyum atau hanya ilusi pandanganku.
“Tenang saja,” katanya kali ini dengan nada yang jauh lebih lembut dan lebih hangat dibanding sebelumnya. “Malam ini aku hanya ingin tidur dan beristirahat saja. Tidak ada hal lain yang perlu dikhawatirkan.”
Mendengar itu, wajahku langsung terasa memanas dan memerah, hingga rasanya darah mengalir deras ke seluruh permukaan kulit. Sedangkan Sherkan tampak sama sekali tidak terganggu dengan reaksiku, bahkan terlihat biasa saja seolah baru saja membicarakan hal yang paling wajar.
Ia kemudian mundur selangkah, memberi kembali ruang bernapas yang sempat hilang, lalu berkata lagi, “Besok pagi aku harus berangkat ke kantor lebih awal, jadi perlu istirahat yang cukup.”
Aku segera mengembuskan napas panjang yang sedari tadi kutahan tanpa sadar. Namun gerakan itu rupanya tidak luput dari perhatian tajamnya. Sherkan mengangkat satu alisnya, menatapku dengan tatapan yang mulai terasa menggoda.
“Kenapa terlihat kecewa setelah mendengarnya?” tanyanya santai.
“Apa?” Aku langsung membelalakkan mata kaget mendengar pertanyaan itu.
“Atau jangan-jangan kamu sebenarnya berharap akan ada hal lain yang terjadi malam ini?”
“Tidak! Aku… aku tidak bermaksud begitu!” jawabku tergagap-gagap, sementara wajahku terasa semakin panas dan merah padam.
Sementara itu, Sherkan hanya tersenyum tipis lagi lalu berbalik badan dan melangkah menuju sisi tempat tidurnya dengan tenang, seolah tidak melakukan hal yang bisa membuat orang lain gugup setengah mati. Ia melepaskan kancing kerah bajunya perlahan tanpa tergesa-gesa.
Aku sendiri masih membeku di tempat dudukku, pikiranku berputar-putar bingung. Untuk pertama kalinya malam ini, aku benar-benar tidak tahu apakah Sherkan hanya sedang bercanda semata, atau justru sengaja melakukannya untuk menggodaku dan melihat reaksi yang muncul.
Yang jelas, wajahku terasa sangat panas meski pendingin ruangan di dalam kamar ini menyala dengan suhu yang cukup sejuk. Tanpa sadar aku mengipas-ngipas pipi dan wajahku dengan telapak tangan, berusaha mendinginkan rasa panas yang menjalar, sambil terus memantau gerakan pria yang kini sudah mulai bersiap berbaring.
Aduh… apa yang baru saja terjadi? pikirku dalam hati, merasa malam ini akan menjadi malam yang cukup panjang dan tidak akan terlupakan begitu saja.
pengen tahu reaksi mereka 🤣🤣🤣🤣
aku padamu Sherkan ♥️🫰
apa Sherkan juga mengulang waktu mengulang masa lalu, jadi dia tau semuanya yg disembunyikan Violet? 🤔
ternyata aku salah dgn pikirin ku sendiri 😁
semangat Mak Eva 💪🥰