"Empat tahun menikah, kau tak kunjung memberikanku keturunan! Sekarang lihatlah, aku memiliki anak dari wanita lain!" sentak sang suami sembari menunjuk wanita yang menghancurkan rumah tangganya.
Perpisahan keduanya, membuat Dinda benar-benar terpuruk. Terutama saat mengetahui suaminya selingkuh, hingga memiliki anak dari hubungan gelapnya.
"Titip putriku, Din. Tiga tahun lagi, aku bakal jemput dia," tutur mantan kekasihnya ditengah badai yang menandaskan rumah tangganya.
Kehidupan Dinda terfokus pada Glenka—bayi 18 bulan yang dititipkan padanya, dan melupakan pengkhianatan sang suami. Hingga pada akhirnya, ia telah menganggap bayi manis itu, selayaknya anak kandung.
Bagaimana kehidupan Dinda dan bayi mungil titipan mantannya? Akankah semua berakhir bahagia? Atau justru sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karita Ta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PTM | BAB 5
"Apa?! Kamu melahirkan?!" pekik Bu Indri begitu mendengar pengakuan sang putri. Begitupun dengan Dinda, yang kini turut merasa kaget, begitu melihat sang atasan terlihat sangat syok.
"Kamu jangan main-main, ya! Kalau papa sampai tahu, bisa hancur semuanya!" bentak si wanita dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Tangannya mencengkram setir dengan kuat, serta napasnya yang memburu.
Sedangkan orang di seberang sana, hanya bisa terdiam sesekali meringis kesakitan. Hal itulah yang membuat Bu Indri mulai panik, khawatir terjadi sesuatu pada putrinya.
"Jangan buat mama khawatir, Jen! Cepat kirimkan alamatnya!" paniknya sembari menatap bingung ke arah Dinda. Tanpa sadar, wanita setengah baya itu menggenggam tangan kanan sang asisten.
Usai putrinya memberikan alamat keberadaannya, Bu Indri langsung memutuskan sambungan teleponnya. Tanpa menunggu lama, wanita bersua 48 tahun tersebut langsung melajukan mobilnya.
"Kamu ikut saya sekalian, ya? Nggak papa kan, Din?" tawarnya dengan menatap singkat ke arah samping. Sedangkan Dinda, begitu melihat tatapan memohon dari sang atasan, membuatnya tak bisa menolak.
"Eh iya, Bu. Nggak apa-apa," putusnya sembari melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan. Untuk sejenak, ia terdiam memikirkan reaksi yang ditunjukkan oleh atasannya itu.
Jika anaknya akan melahirkan, bukankah seharusnya Bu Indri bahagia? Lantas mengapa, responnya menunjukkan sebuah kebencian?
Tak ingin menerka-nerka, Dinda hanya terdiam sepanjang jalan. Ia pun tak paham betul, keluarga dari sang atasan, meski sudah satu setengah tahun bekerja dengan wanita tersebut. Maka dari itu, ia tidak ingin berpikiran lebih panjang.
"Nggak habis pikir saya, bisa-bisanya dia sampai sejauh ini. Heran saya, Din ..." Wajahnya yang penuh emosi, membuat Dinda semakin terheran.
Bisa-bisanya? Sungguh, ia berpikir keras untuk mencerna setiap ucapan yang terlontar dari bibir Bu Indri. Meskipun ragu, ia memutuskan untuk bertanya langsung. "Memangnya kenapa, Bu? Bukannya Ibu akan punya cucu?"
Untuk sejenak, wanita 48 tahun tersebut mengerang frustasi. Setelah menolehkan kepalanya ke arah samping, ia kembali menghela napas panjang. Seolah yakin untuk bercerita, Bu Indri mengelus singkat pundak asistennya.
"Anak saya itu, dia masih kuliah semester lima. Harusnya fokus kuliah, dia malah neko-neko," tuturnya yang membuat Dinda bertanya-tanya. Sampai disini, ia masih belum mengerti sepenuhnya.
"Dia jalin hubungan gelap dengan pria, yang usianya jauh dari dia. Awalnya saya dan suami tidak setuju, tapi mereka tetap ngeyel menjalin hubungan," lanjutnya dengan nada yang terdengar sangat lelah.
Mendengarnya pun, membuat Dinda sedikit terkejut. Gadis berusia 20 tahun, menjalin hubungan gelap dengan pria yang jauh lebih dewasa? Hal ini benar-benar membuatnya masih tak menyangka.
"Ma-maaf, sebelumnya, Bu. Apakah pria itu sudah berrumah tangga?" lontarnya dengan nada sungkan. Namun, begitu melihat anggukkan kepala dari sang atasan, lantas membuat dirinya semakin terperangah.
Untuk sejenak, jantungnya berdegup kencang. Seketika ingatannya terputar kejadian pagi tadi, dimana ia mendapati pesan dari nomor asing. Saat itu juga, pikirannya kembali berkelana.
"Astaga, kenapa sejauh itu ..." lirihnya yang merasakan nyeri disudut hatinya. Tak ingin semakin berpikir aneh-aneh, ia pun menepis semua presepsi buruk yang muncul di benaknya.
Dalam diamnya, Dinda tak menyangka akan mengetahui ini semua. Dimana anak perempuan atasannya sendiri, adalah seorang penggoda suami orang. Sungguh, dirinya tak habis pikir oleh perbuatan perempuan itu.
Wajar saja jika Bu Indri terkesan benci. Apalagi putrinya memiliki anak dari suami orang, yang otomatis membuat statusnya tak jelas. Entah bagaimana nasib putri dan cucu Bu Indri tersebut.
"Yang saya takutkan, bagaimana anaknya setelah lahir nanti. Apalagi pria itu masih memiliki istri sah," tuturnya dengan wajah yang resah. "Pasti istrinya nggak akan pernah nerima anak itu,"
Dinda pun menganggukkan kepalanya semu, seolah membayangkan bagaimana nasib bayi tak bersalah itu. Mengingat bahwa dirinya tak kunjung memiliki momongan, membuatnya miris.
Tak lama setelah itu, mobil yang dikendarai Bu Indri mulai memasuki kawasan rumah sakit kota. Tanpa menunggu lama, keduanya segera turun dan bergegas ke meja resepsionis.
"Atas nama Jenita, ada di ruangan mana? Dia akan melahirkan sore ini," panik wanita tersebut dengan menggandeng tangan sang asisten. Sedangkan Dinda, berdiri di sebelahnya dengan sama paniknya.
"Atas nama Nyonya Jenita dan Tuan Ervin, ada di ruang persalinan lantai tiga. Mari saya antar," tutur sang resepsionis yang membuat tubuh Dinda membeku ditempatnya.
"Mas Ervin?"