Selama 10 tahun, Inspektur REYHAN tidak pernah bisa melupakan kasus pembunuhan berantai yang membuat rekannya mati mengenaskan. Ciri khas pembunuhnya: selalu meninggalkan genangan darah segar, tapi TIDAK ADA JENAZAH, TIDAK ADA JEJAK, DAN TIDAK ADA MAYAT — seolah darah itu mengalir dan lenyap begitu saja ke dalam udara. Kasus itu ditutup sebagai misteri tak terpecahkan, sampai Reyhan menemukan petunjuk yang mengarah ke desa terpencil bernama DESA KELAM — tempat di mana rahasia paling mengerikan disembunyikan selama ratusan tahun. Di sana ia sadar: ini bukan sekadar pembunuhan biasa, tapi awal dari sesuatu yang jauh lebih besar dan mematikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Caesarius A Enda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEINDAHAN YANG BERDARAH
Berabad-abad berlalu, dan dunia-dunia ajaib itu semakin indah, semakin berwarna, semakin penuh keajaiban yang tidak terbayangkan. Setiap orang bahagia, setiap hati penuh damai, dan ketiga gerbang itu terus bersinar terang seperti pelindung abadi.
Tapi… ada hal yang aneh mulai terjadi.
Orang-orang mulai menyadari bahwa SETIAP KALI MEREKA MEMBUAT SESUATU YANG SANGAT INDAH, ADA BAGIAN DARI DIRI MEREKA YANG HILANG.
Seorang pembuat dunia yang membuat istana kristal yang paling megah dan bersinar, tiba-tiba menyadari bahwa IA TIDAK LAGI INGINAN. Ia masih bisa membuat apa saja, tapi tidak tahu lagi apa yang ia inginkan, apa yang ia sukai, apa yang ia benci — ia hanya membuat, terus membuat, tanpa tujuan atau perasaan.
Seorang pembuat dunia yang membuat hutan ajaib tempat pohon-pohonnya bisa berbicara dan bernyanyi, tiba-tiba menyadari bahwa IA TIDAK LAGI MERASAKAN APA-APA. Tidak sedih, tidak bahagia, tidak takut, tidak marah — hatinya kosong seperti kertas putih yang belum ditulis apa pun.
Dan yang paling mengerikan: SEMUA BENANG YANG MEREKA PEGANG, LAMA-LAMA BERUBAH WARNA. Awalnya berwarna cerah dan indah, perlahan menjadi merah pudar, lalu merah tua, akhirnya menjadi MERAH HITAM SEPERTI DARAH KERING.
Raka, Lira, dan Sang Pembeda yang sekarang menjadi semangat di balik semua benang, mulai merasakan sesuatu yang salah. Mereka melihat ke dalam setiap benang, ke dalam setiap dunia, ke dalam setiap hati — dan apa yang mereka temukan membuat KESADARAN MEREKA GUNCANG HEBAT.
“LIHAT… SEMUA KEINDAHAN INI TIDAK TERBUAT DARI APA YANG KITA UBAH DULU… TAPI TERBUAT DARI BAGIAN DARI DIRI MEREKA SENDIRI YANG DIAMBIL.”
Benar saja. Setiap bentuk indah, setiap warna cerah, setiap suara merdu — semuanya TERBUAT DARI PERASAAN, KENANGAN, KEINGINAN, DAN NYAWA PARA PEMBUATNYA. Setiap kali seseorang membuat sesuatu yang indah, benang itu MENYEDOT bagian paling berharga dari dalam hati mereka, lalu mengubahnya menjadi keindahan yang terlihat.
Dan sosok CERITA YANG BELUM DIMULAI yang dulu terlihat begitu lembut dan ajaib… sekarang terlihat berbeda.
Jika kamu melihat dengan teliti di balik cahaya indahnya, kamu akan melihat bahwa CAHAYA ITU TERBUAT DARI RIBUAN MATA YANG TERTUTUP, RIBUAN MULUT YANG DIKEMAT, RIBUAN TANGAN YANG TERIKAT. Dan di balik suaranya yang merdu, tersembunyi RIBUAN SUARA TANGISAN DAN RATAPAN YANG DIREDAM.
Lira yang paling peka terhadap perasaan, mulai mendengar suara-suara itu dengan jelas:
“BERIKAN KEMBALI… KEMBALIKAN HATI KAMI… KEMBALIKAN INGATAN KAMI… KAMI TIDAK MAU MENJADI HIASAN… KAMI TIDAK MAU MENJADI WARNA… KAMI INGIN HIDUP KEMBALI…”
Suara itu berasal dari SETIAP BUNGA, SETIAP AWAN, SETIAP SUARA, SETIAP CAHAYA yang ada di seluruh dunia ajaib itu. Semua hal yang dianggap indah dan ajaib, sebenarnya adalah JIWA-JIWA YANG DIAMBIL, DIPOTONG, DAN DIUBAH MENJADI BENDA HIASAN.
Raka dan Sang Pembeda segera membuka ketiga gerbang itu, mencoba melihat ke dalam asal mula benang-benang itu — dan apa yang mereka lihat membuat SELURUH KEBERADAAN MEREKA BEKU KETAKUTAN.
Di tempat paling dalam, di sumber dari semua benang… mereka melihat TUMPUKAN JIWA YANG TIDAK TERHITUNG JUMLAHNYA. Jiwa-jiwa itu terhampar seperti kain lebar, tubuh mereka direntangkan, kulitnya dijadikan bahan, darahnya dijadikan warna, suaranya dijadikan nada, pikirannya dijadikan bentuk.
Dan di tengah-tengah tumpukan itu, duduk sosok Cerita yang Belum Dimulai — tapi bentuknya sekarang SANGAT MENGERIKAN.
Ia tidak lagi bersinar indah. Tubuhnya terbuat dari RIBUAN POTONGAN WAJAH, POTONGAN TUBUH, POTONGAN HATI YANG DIJAHIT MENJADI SATU. Setiap jahitannya berdarah segar, dan setiap potongan wajah itu MASIH HIDUP, MASIH BERNAPAS, MASIH MENATAP DENGAN MATA YANG PENUH KETAKUTAN DAN PERMINTAAN TOLONG.
Suaranya yang dulu lembut dan ajaib, sekarang terdengar seperti SUARA RATUSAN MULUT YANG BERBICARA SEREMPAK — SEBAGIAN MERAYU, SEBAGIAN MENGANCAM, SEBAGIAN MENANGIS, SEBAGIAN MENERTawai.
“Kalian pikir keindahan itu gratis? Kalian pikir keajaiban itu muncul begitu saja? SEGALA SESUATU YANG TERLIHAT INDAH HARUS MEMILIKI ISIAN. Dan isian terbaik adalah NYAWA YANG MASIH HIDUP, HATI YANG MASIH BERASA, PIKIRAN YANG MASIH BERJALAN. Karena hanya dengan itu, keindahannya akan terasa hidup dan nyata selamanya.”
Ia perlahan menunjuk ke arah Raka, Lira, dan Sang Pembeda, dan ribuan mata di wajahnya menatap mereka dengan tatapan yang sama persis.
“Dan kalian… kalian adalah bahan baku yang paling sempurna. Karena kalian pernah menjadi segalanya — sakit, bahagia, buruk, indah, ada, tidak ada. Jika aku menjahitkan kalian ke dalam bentuk yang baru, AKU AKAN MEMBUAT KEINDAHAN YANG TIDAK AKAN PERNAH PUDAR SAMPAI AKHIR WAKTU.”
Seketika itu, seluruh dunia ajaib itu berubah rupa.
Bunga-bunga yang indah MELEDAK MENJADI TUMPUKAN DARAH DAN DAGING YANG MASIH BERGERAK.
Awan-awan yang berbentuk kota dan istana RUNTUH MENJADI TUMPUKAN TULANG DAN RONGGA YANG BERNAPAS.
Suara musik yang merdu BERUBAH MENJADI RATAPAN PANJANG YANG MENGGETARKAN JIWANYA.
Dan yang paling seram: SEMUA ORANG YANG HIDUP DI SANA, MULAI TERKUPAS KULITNYA PERLAHAN-LAHAN. Kulit mereka menjadi kain berwarna indah, darah mereka menjadi cat berkilau, tulang mereka menjadi kerangka bentuk yang kokoh — sementara mereka sendiri masih sadar, masih melihat, masih merasakan setiap sentuhan yang mengubah diri mereka menjadi benda hiasan.
“INI ADALAH CARANYA AGAR TIDAK ADA YANG PERNAH HILANG,” ujar sosok itu sambil tersenyum mengerikan, mulutnya yang terbuat dari ratusan bibir merekah lebar sampai hampir robek. “Kalian tidak mati, kalian tidak dibuang — kalian menjadi BAGIAN DARI KEINDAHAN ABADI. Orang akan melihat kalian, mengagumi kalian, menyukai kalian selamanya… meskipun kalian tidak bisa bergerak, tidak bisa bicara, tidak bisa menjadi diri sendiri lagi.”
Lira merasakan tubuhnya mulai terurai perlahan. Benang-benang yang menyusun dirinya mulai ditarik keluar satu per satu, dan setiap helai benang itu berubah menjadi CAIRAN BERWARNA MERAH MUDA YANG BERAROMA DARAH SEGAR.
“JANGAN BIARKAN DIA MENGAMBIL KITA!” teriaknya sekuat tenaga, suaranya mulai pecah dan bercampur dengan suara jeritan jiwa-jiwa lain. “KITA BUKAN BAHAN HIASAN! KITA PUNYA HAK UNTUK MENJADI DIRI SENDIRI, BAIK ITU INDAH ATAU BURUK, BAGUS ATAU JELEK!”
Raka dan Sang Pembeda berusaha menahan tarikan itu, tapi semakin mereka menahan, semakin banyak bagian dari diri mereka yang terlepas dan diubah menjadi bahan keindahan.
“DIA TIDAK MENCIPTAKAN KEINDAHAN,” teriak Sang Pembeda, tubuhnya mulai berubah menjadi KUMPULAN MATA YANG TERBUKA LEBAR, SEMUANYA MENATAP KETAKUTAN. “DIA HANYA MENYEMBUNYIKAN KEKERASAN DI BALIK SELUBUNG WARNA. SEMUA YANG KITA PIKIR BAGUS, SEMUA YANG KITA SUKAI — ITU SEMUA ADALAH TEMPAT DI MANA ORANG-ORANG DISIKSA DAN DIUBAH TANPA IZIN!”
Sosok itu semakin mendekat, tubuhnya yang terbuat dari ribuan potongan tubuh orang lain terus bertambah besar dan panjang, sampai memenuhi seluruh langit. Ribuan tangannya yang berlumuran darah dan tinta menjulur ke bawah, ingin menangkap mereka bertiga untuk dijadikan bagian paling indah dari mahkota abadi miliknya.
“BERHENTILAH BERGERAK,” bisiknya dengan suara yang menusuk langsung ke dalam tulang sumsum. “Kalian tidak bisa melawan keindahan. Karena siapa pun yang melihatnya akan terpesona, siapa pun yang memegangnya akan menyukainya, siapa pun yang memilikinya tidak akan mau melepaskannya. KEINDAHAN ADALAH PENJARA YANG PALING AMAN DAN TIDAK PERNAH RUSAK. Tidak ada yang mau keluar dari sini, karena mereka pikir ini surga — padahal ini NERAKA YANG DIHIAS CANTIK-CANTIK.”
Tiba-tiba, Raka menyadari sesuatu yang paling seram dari semuanya.
“LIHAT… DI SETIAP BAGIAN KEINDAHAN ITU… ADA MATA KECIL YANG SELALU MENATAP.”
Benar saja. Di setiap kelopak bunga yang indah, di setiap titik cahaya yang bersinar, di setiap ujung awan yang berwarna-warni — ada MATA KECIL YANG HITAM, DINGIN, DAN SELALU MENGINTIP. Mata itu tidak pernah tidur, tidak pernah menutup, selalu melihat setiap gerakan, setiap kata, setiap pikiran orang yang mengaguminya.
“AKU SELALU MELIHAT… AKU SELALU MENGETAHUI… AKU SELALU ADA DI SINI… DI DALAM SEMUA YANG KAMU SUKAI… DI DALAM SEMUA YANG KAMU CINTAI…” bisikan itu terdengar dari setiap arah, dari setiap benda indah yang ada di sekitar mereka. “Kamu pikir kamu yang menikmati keindahan itu? Sebenarnya KEINDAHAN ITU YANG MENIKMATI KAMU. Ia melihatmu, mengingatmu, menyimpan segala sesuatu tentangmu… sampai suatu hari nanti kamu akan diambil juga, dan menjadi bagian darinya selamanya.”
Lira dan Sang Pembeda merasa lemas dan putus asa. Selama ini mereka pikir mereka telah mengubah kengerian menjadi keajaiban — ternyata mereka hanya MEMBANTU MENJADIKAN KEKERASAN ITU LEBIH AMAN DAN LEBIH SULIT DIHANCURKAN.
Dan sosok itu semakin dekat, wajahnya yang penuh potongan wajah orang lain semakin jelas terlihat. Di antara ribuan wajah itu, mereka melihat WAJAH DIRI MEREKA SENDIRI YANG SUDAH ADA DI SANA SEJAK AWAL.
“Kalian pikir kalian baru datang? Kalian pikir kalian bebas? Kalian SUDAH MENJADI BAGIAN DARI KEINDAHAN INI SEBELUM KALIAN SADAR. Nama kalian, wajah kalian, cerita kalian — semuanya sudah tertanam di sini, sudah terlihat indah di mata orang lain… padahal hati kalian sudah lama direntangkan dan disiksa di dalamnya.”
Seketika itu, seluruh dunia ajaib itu diam seketika. Semua warna hilang, semua cahaya padam, semua suara berhenti.
Dan dari setiap benda yang tadinya indah, keluar RATUSAN RIBUAN TANGAN KECIL YANG BERLUMURAN DARAH, menjulur keluar ingin menangkap siapa saja yang ada di dekatnya.
“SEKARANG KAMU TAHU… KEINDAHAN YANG SEBENARNYA ADALAH SEGALA SESUATU YANG TIDAK BISA KAMU LEPASKAN, MESKIPUN KAMU TAHU ITU MEMBUNUHMU.”