NovelToon NovelToon
The Lunar Secret

The Lunar Secret

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Penyelamat
Popularitas:297
Nilai: 5
Nama Author: Miarosa

Selena selalu tahu bahwa dia berbeda. Sejak kecil, ia bisa merasakan sesuatu yang mengalir dalam darahnya, sesuatu yang lebih dari sekadar kekuatan seorang werewolf biasa. Namun, hidupnya berubah drastis ketika sebuah serangan brutal menghancurkan kawanan tempatnya dibesarkan.

Ditemani oleh Joan, seorang Alpha misterius yang menyimpan rahasia kelam, serta Riven, seorang pejuang yang setia tetapi penuh teka-teki, Selena harus menghadapi kenyataan pahit bahwa ada seorang pengkhianat di antara mereka. Seseorang yang menginginkannya untuk tujuan yang jauh lebih berbahaya.

Saat rahasia asal-usulnya mulai terkuak, Selena mendapati dirinya terjebak di antara dua pilihan, menerima kegelapan yang mengintainya atau bertarung demi cahaya yang hampir padam. Dengan dunia yang berada di ambang kehancuran dan hatinya yang terombang-ambing di antara kepercayaan dan pengkhianatan, Selena harus memilih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miarosa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Joan terlihat ragu seolah sedang bertarung dengan dirinya sendiri. Namun, suara langkah kaki terdengar lagi di kejauhan. Mereka masih diburu.

Joan mengumpat pelan. "Tidak sekarang."

Ia kembali menarik Selena dan kali ini, ia tidak membiarkan gadis itu melawan.

Mereka berlari menyusuri lorong-lorong batu yang semakin gelap dan hanya diterangi oleh obor-obor kecil yang berkedip lemah di dinding. Selena sama sekali tidak ingat jalan yang mereka lalui ketika ia pertama kali masuk dibawa Marcus dan Lucian ke tempat ini. Angin dingin berhembus dari ujung lorong, membawa aroma hutan.

Mereka sudah dekat dengan jalan keluar, tapi sebelum mereka bisa mencapai ujung terowongan, sesuatu muncul di hadapan mereka.

Selena menahan napas. Lucian berdiri di sana dengan santai dengan mengenakan jas hitamnya yang tetap rapi meskipun suasana di sekitarnya kacau. Wajahnya tidak menunjukkan kemarahan atau frustrasi. Justru sebaliknya ia terlihat puas.

"Lucian." Joan menggeram.

Lucian tersenyum tipis. "Aku tadi sengaja melepaskan kalian dan menyuruh kalian pergi dari sini, karena aku penasaran, apakah kamu bisa membawa Selena sejauh ini, tapi aku harus mengakui, kamu melebihi ekspektasiku, Joan."

Tatapan emasnya beralih ke Selena.

"Dan kamu ...." Ia memiringkan kepalanya sedikit dengan ekspresi penuh rasa ingin tahu. "Kamu mengejutkanku lebih dari yang kukira."

Selena tidak mengerti apa maksudnya, tetapi sebelum ia bisa bertanya, Lucian mengangkat satu tangan dan tiba-tiba, tubuh Selena terasa berat. Matanya melebar saat kakinya mulai lemas. Otot-ototnya seolah kehilangan tenaga dan pandangannya bergetar. Apa yang terjadi padanya?

Joan segera bergerak, tetapi sebelum ia bisa mencapai Selena, Lucian menjentikkan jarinya. Sebuah kekuatan tak terlihat menghantam Joan, melemparkannya ke dinding dengan keras.

Selena ingin berteriak, tetapi suaranya tertahan di tenggorokannya. Lucian berjalan mendekat dan matanya masih tertuju padanya.

"Kamu masih belum menyadarinya, bukan?"

Suaranya terdengar lebih dalam dan lebih menggema di kepalanya. Selena meronta dan mencoba melawan efek aneh yang mengikat tubuhnya, tetapi semakin ia melawan, semakin berat tubuhnya terasa.

Lucian berjongkok di depannya, lalu memperhatikan matanya dengan saksama.

"Kamu adalah kunci, Selena."

Lucian menyentuh dagunya dengan ringan, membuatnya menatap langsung ke matanya yang berkilauan.

"Kamu tidak hanya sekadar manusia biasa dan kamu juga bukan manusia serigala. Kamu adalah sesuatu yang lebih kuat dari keduanya."

Selena merasa kepalanya berputar.

Darahnya berdesir seolah ada sesuatu di dalam dirinya yang merespons kata-kata itu.

Joan menggeram dari belakang. "Jangan sentuh dia!"

Lucian hanya meliriknya sekilas sebelum kembali menatap Selena.

"Aku akan memberimu waktu untuk mengingat, Selena." Senyumnya melebar. "Dan saat kamu mengingatnya, kamu akan datang padaku sendiri."

Ia melepaskan cengkeramannya dari dagu Selena, lalu berdiri. Tiba-tiba tubuh Selena kembali ringan. Kekuatan aneh itu menghilang secepat ia datang.

Selena terhuyung dan hampir jatuh ke lantai, tetapi Joan sudah berada di sampingnya dalam hitungan detik untuk menahannya.

Lucian melangkah mundur dan tangannya diselipkan ke dalam saku.

"Aku tidak akan mengejarmu lagi malam ini."

Ia tersenyum kecil.

"Tapi ini bukan perpisahan, Selena. Kita akan bertemu lagi. Segera."

Lucian menghilang ke dalam bayangan meninggalkan Selena dengan lebih banyak pertanyaan dan ketakutan.

Selena masih bisa merasakan sentuhan dingin Lucian di dagunya, meskipun pria itu sudah lama menghilang ke dalam bayangan. Tubuhnya masih bergetar bukan karena takut, tapi karena sesuatu dalam dirinya bereaksi terhadap kata-kata Lucian.

"Kamu adalah kunci. Apa maksudnya?" gumam Selena dalam hati.

Joan menggenggam bahunya dengan erat seolah ingin memastikan bahwa Selena masih di sana dan masih nyata.

"Kamu baik-baik saja?" suaranya rendah dan penuh kekhawatiran yang tidak bisa ia sembunyikan.

Selena menelan ludah dan mencoba mengatur napasnya. "Aku tidak tahu."

Joan menatapnya dengan intens, lalu akhirnya menarik napas panjang dan meraih tangannya. "Kita harus pergi dari sini sebelum mereka berubah pikiran."

Selena hanya bisa mengangguk dan membiarkan Joan menuntunnya keluar dari lorong batu itu.

Begitu mereka keluar, udara malam yang dingin menyambut mereka. Hutan lebat membentang di depan mata hanya diterangi oleh cahaya bulan yang menggantung di langit, tetapi Selena tidak merasa lega. Justru, semakin jauh mereka melangkah, semakin kuat perasaan aneh dalam dirinya. Seolah ada sesuatu yang mulai bangkit dari dalam dirinya, sesuatu yang sudah lama terkubur.

Mereka akhirnya tiba di sebuah kabin kecil di tengah hutan. Joan membuka pintunya dengan cepat dan mempersilakan Selena masuk.

"Kita aman di sini untuk sementara. Ini tempat persembunyianku," katanya sambil menyalakan lampu kecil di meja kayu.

Selena mengedarkan pandangannya. Kabin itu kecil, tetapi cukup nyaman. Sebuah perapian di sudut ruangan masih menyisakan bara api yang redup. Ada rak-rak kayu yang penuh dengan buku-buku tua, serta sebuah sofa tua yang terlihat sudah sering digunakan.

Joan berjalan ke dapur kecil dan mengambil segelas air, lalu menyerahkannya kepada Selena.

"Minumlah!"

Selena menerimanya tanpa suara dan meneguknya pelan. Joan duduk di sofa di hadapannya, menatapnya dengan serius.

"Apa yang Lucian katakan padamu?"

Selena menggigit bibirnya. "Dia bilang aku adalah kunci."

Joan terdiam. Ekspresinya berubah sekilas, sesuatu antara keterkejutan dan kehati-hatian.

Selena menatap Joan mencari jawaban di matanya. "Apa maksudnya?"

Joan tidak langsung menjawab. Ia menatap ke luar jendela ke arah pepohonan yang bergoyang diterpa angin malam, kemudian setelah beberapa saat hening, ia menoleh kembali ke Selena.

"Kamu benar. Kamu bukan manusia biasa."

Jantung Selena berdetak lebih cepat.

"Aku tahu ada yang berbeda darimu sejak pertama kali kita bertemu, tetapi aku tidak tahu pasti sampai malam ini," lanjut Joan.

Selena menggenggam gelasnya erat. "Jadi aku ini apa?"

Joan menghela napas. "Aku punya dugaan."

Ia berdiri, berjalan menuju rak buku, lalu menarik sebuah buku tua dengan sampul kulit yang sudah lusuh. Ia membukanya dan membolak-balik halaman dengan cepat sampai akhirnya menemukan yang ia cari. Ia meletakkan buku itu di atas meja, lalu menunjuk sebuah gambar di salah satu halamannya.

Selena mencondongkan tubuh dan melihat lebih dekat. Di sana ada sebuah ilustrasi makhluk dengan mata menyala, tanduk tipis di pelipisnya dan aura gelap yang mengelilinginya.

Dibawahnya tertulis sebuah kata dalam bahasa Latin, "Lunaris Sanguis."

Selena membaca tulisan itu dengan suara pelan. "Lunaris Sanguis?"

Joan mengangguk. "Darah Bulan."

Ia menatapnya dalam-dalam.

"Selena, kamu memang bukan manusia atau pun manusia serigala."

Joan berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih pelan.

"Kamu adalah keturunan terakhir dari ras yang seharusnya sudah punah berabad-abad lalu."

Selena menahan napas.

"Kamu adalah Darah Bulan."

1
Astiana 💕
aku dah kirim bunga kak, semangat ya💪
Miarosa: terima kasih 😊
total 1 replies
Astiana 💕
aku mampir ya kak, baru awal baca seperti nya menarik, semangat 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!