Dia memulai perjalanannya dari dasar Akademi Master Jiwa Junior dengan tongkat besi biasa yang dianggap sampah. Bertahan hidup dalam diam, dia menunggu saat yang tepat untuk memicu sistemnya. Kini, setiap langkah yang ia ambil adalah bayangan kegagalan bagi musuhnya—karena apa yang mereka miliki, akan menjadi miliknya dalam sekejap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29.Perpisahan, Semangkuk Mie
Malam berlalu dengan tenang, tanpa gangguan lagi. Fajar baru menyapa langit dengan warna jingga lembut, dan di bawah cahaya matahari pagi yang hangat, seluruh rombongan sudah bersiap berangkat.
Li Feng menyewa sebuah kereta kuda yang kokoh dan luas, cukup untuk memuat dirinya, Ling'er, Lang Xi, dan tentu saja Xiao Xuan. Sejak kejadian kemarin, Li Feng semakin menghargai karakter serta ketangguhan Lang Xi.
Ia melihat potensi dan kesetiaan yang jarang dimiliki orang lain pada lelaki yang dulunya seorang tentara bayaran itu. Oleh sebab itu, ia mengajak Lang Xi untuk ikut ke Akademi Seratus Pertempuran dan bekerja di sana sebagai pengawal serta instruktur dasar.
Bagi Lang Xi, tawaran itu bagaikan penyelamat dari masa lalunya yang penuh darah dan bahaya. Ia sudah sangat lelah hidup dalam bayang-bayang kematian, dan kepergian rekan-rekan seperjuangannya membuat hatinya terasa kosong dan berat.
Ia pun menerima tawaran itu dengan sukacita. Rencananya sudah bulat: ia akan menyerahkan seluruh uang santunan dan hasil penjualan obat-obatan kepada keluarga rekan-rekannya yang gugur, lalu membawa keluarganya sendiri pindah ke akademi untuk memulai hidup baru yang lebih aman dan terhormat.
Adapun Xiao Xuan, perjalanan mereka bersama sudah sampai di titik berpisah. Kota Nuoding, tempat asalnya, kini sudah tidak jauh lagi.
Kereta kuda berhenti di pinggir jalan raya yang lebar dan berdebu. Xiao Xuan turun perlahan, merapikan pakaiannya, lalu berdiri tegak menatap tiga orang yang telah menemaninya melewati bahaya maut itu.
"Xiao Xuan! Ingat ya, aku tunggu kedatanganmu di Akademi Seratus Pertempuran!" seru Ling'er dari dalam kereta, wajahnya berseri-seri penuh semangat dan harapan.
Ia mengangkat tangan kecilnya sambil melambaikan sapu tangan. "Di dalam gelang penyimpanan yang kuberikan itu sudah ada peta dan alamat lengkapnya. Begitu kau siap, langsung datang saja cari aku!"
Li Feng hanya mengangguk pelan ke arah pemuda itu, sorot matanya masih sama: penuh penilaian dan kekaguman diam-diam. Sementara Lang Xi tersenyum lebar, matanya sedikit berair karena haru.
"Paman Li Feng, Kakak Lang Xi... Kak Ling'er..." Xiao Xuan menangkupkan kedua tangannya di dada, membungkuk hormat dalam-dalam. "Terima kasih untuk semuanya. Sampai jumpa lagi di masa depan!"
Kereta itu pun melaju perlahan menjauh, meninggalkan debu tipis di jalan. Di dalam kereta, Lang Xi sempat menjulurkan kepalanya hendak melambaikan tangan dengan gaya gagah seperti biasanya,
namun tiba-tiba ia teringat nasib sialnya dua kali kemarin. Ia menarik kembali tangannya dengan cepat, hanya berteriak "Hati-hati di jalan!" lalu masuk kembali ke dalam gerbong dengan wajah waspada.
Gaya keren itu... rupanya membawa kutukan, batinnya bergumam geli namun tetap hati-hati.
Melihat kereta itu menghilang di tikungan jalan, Xiao Xuan membalikkan badannya. Di hadapannya terbentang jalan setapak yang ia hafal di luar kepala. Kota Nuoding hanya berjarak sekitar lima puluh li lagi.
Tanpa membuang waktu, Xiao Xuan mulai berlari. Ia menggunakan teknik langkah ringan Ladder Cloud Step, kaki-kakinya bergerak ringan dan cepat di atas tanah berumput.
Bagi pemuda itu, perjalanan pulang ini bukan sekadar jalan biasa, melainkan latihan fisik untuk mengasah tenaga dalam dan ketahanan tubuhnya.
Perubahan kekuatannya kini terasa sangat nyata. Dulu, menempuh jarak tiga puluh li dengan kecepatan penuh memakan waktu hampir setengah hari.
Namun sekarang, berkat peningkatan energi roh setelah mendapatkan cincin roh pertamanya, ia bisa menempuh jarak lima puluh li itu dalam waktu yang sama. Tubuhnya lebih ringan, napasnya lebih panjang, dan tenaganya jauh lebih awet.
Tak lama kemudian, di gerbang Kota Nuoding yang sederhana namun ramai, muncul sosok pemuda yang sedikit berdebu namun wajahnya berseri-seri lega.
Enam hari yang lalu, ia berangkat dari sini dengan niat sederhana: mencari peluang dan uang jajan. Kini ia kembali dengan kekayaan yang tak terbayangkan, kekuatan yang meningkat pesat, dan pengalaman nyaris mati yang takkan pernah ia lupakan.
Setelah melewati gerbang kota dan memastikan dirinya aman, perut Xiao Xuan tiba-tiba berbunyi keras. Ia mengusap perutnya yang kosong, tersenyum sendiri.
Sekarang aku punya uang banyak. Bisa makan enak sesuka hati tanpa perlu cemas biaya.
Ia teringat sesuatu. Dulu saat masih belajar bersama Yu Xiaogang, ia sering mendengar cerita dari Xiao Wu tentang sebuah kedai mie tua di pinggir pasar.
Konon, mie iga rebus di sana adalah yang paling lezat di seluruh kota. Dulu ia hanya bisa mendengarkan dengan iri karena tak punya uang lebih, tapi sekarang... kesempatan itu sudah ada di depan mata.
Dengan langkah riang, Xiao Xuan menuju kedai mie itu. Aroma sedap sudah tercium dari luar pintu kayu yang terbuka lebar. Ia masuk, memesan satu mangkuk mie iga babi rebus seharga satu keping perak, lalu duduk menunggu dengan sabar.
Tak lama kemudian, semangkuk besar mie disodorkan ke meja.
Mata Xiao Xuan berbinar terang. Di atas tumpukan mie yang lembut dan kenyal itu, terhampar irisan daging iga babi yang tebal, direbus hingga empuk dan berminyak namun tidak berlemak berlebih.
Di atasnya ditaburi daun bawang segar yang hijau, dan kuah kaldu berwarna keemasan yang mengeluarkan uap panas serta aroma rempah yang menggugah selera.
Tanpa basa-basi, Xiao Xuan menyantapnya dengan lahap. Suara hirukan mie terdengar berirama.
Rasa gurih kuah, manisnya daging, dan kenyalnya adonan mie berpadu sempurna di lidahnya. Rasa kenyamanan dan kepuasan seketika memenuhi hatinya.
Satu mangkuk habis dalam sekejap. Rasanya belum puas, ia pun memesan lagi... lalu lagi... hingga total lima mangkuk tandas tak bersisa.
Setelah membayar lima keping perak dan menerima kembaliannya, Xiao Xuan berjalan keluar kedai dengan perut kenyang dan langkah yang lebih santai.
Sambil mencerna makanan nikmat itu, ia berjalan menuju Balai Roh kota.
Di sana, dengan bantuan petugas bernama Alex, ia melakukan tes kekuatan roh. Alat ukur itu berdenyut terang, menunjukkan angka dua belas, mendekati ambang batas tiga belas.
"Kau berkembang sangat cepat, Nak," puji Alex sambil mencatat data itu. "Dengan kecepatan ini, sepuluh hari lagi kau pasti akan mencapai tingkat ketiga belas."
Setelah itu, petugas itu mengubah data di Buku Panduan Master Roh milik Xiao Xuan. Mulai sekarang, setiap bulan ia berhak menerima subsidi satu keping emas dari Balai Roh.
Bagi Xiao Xuan yang kini membawa enam ratus keping emas di gelang penyimpanannya, satu keping emas itu memang terlihat sepele.
Namun... siapa yang akan menolak uang gratis? Uang sedikit demi sedikit kalau dikumpulkan akan menjadi banyak. Bahkan gurunya, Yu Xiaogang yang jenius itu, selalu berpesan untuk hemat dan tidak membuang apa pun yang berharga. Itu bukan soal pelit, tapi soal kebijaksanaan mengelola hidup.
Setelah urusan pendaftaran selesai, matahari masih cukup tinggi. Xiao Xuan berniat pulang ke Desa Roh Suci selagi hari masih terang. Namun, saat berjalan keluar, ia teringat sesuatu.
Aku sudah dapat uang banyak. Kakek Jack, Ayah, Ibu, dan penduduk desa lain... mereka selalu hidup hemat dan sulit. Kalau aku belikan benda-benda, mereka pasti simpan saja dan tak mau pakai. Tapi makanan... makanan harus dimakan. Kalau tidak dimakan sekarang, basi nanti.
Ia teringat kembali pada mie nikmat yang baru saja ia santap.
Benar! Aku bungkuskan mie untuk mereka semua! Biar mereka juga merasakan makanan enak sekali ini saja. Supaya mereka tahu, kerja keras dan pengorbanan mereka selama ini berbuah manis.
Dengan tekad itu, Xiao Xuan berbalik arah kembali ke kedai mie. Ia berencana memesan puluhan porsi, memisahkan kuah, daging, dan mie agar tidak menggumpal di jalan.
Namun, baru saja ia melangkah masuk ke dalam kedai yang hangat itu, telinganya menangkap suara percakapan yang keras dan tegang di dekat meja kasir.
"Pak Pemilik! Kau sudah menunggak pembayaran sayuran kami hampir seminggu! Padahal janjinya setiap tiga hari sekali!"
Suara itu terdengar familiar. Xiao Xuan menoleh.
Di sana, berdiri seorang pria paruh baya berpakaian sederhana, kain bajunya sudah tipis karena sering dicuci, kulitnya gelap dan kasar terbakar matahari.
Di kepalanya terikat topi jerami lusuh. Tangannya saling genggam erat, wajahnya penuh harap namun juga cemas luar biasa.
Itu adalah Paman Fang Xi , penduduk Desa Roh Suci. Seperti ayah Xiao Xuan, Fang Xiadalah seorang petani yang bekerja keras menanam sayuran dan hasil bumi,
lalu membawanya ke kota untuk dijual atau disuplai ke kedai-kedai makanan ini. Keluarganya sangat bergantung pada uang hasil penjualan itu untuk makan dan bertahan hidup.
Di samping itu, Kakek Jack juga pernah menceritakan bahwa Fang Xi ini bertanggung jawab atas kesejahteraan beberapa keluarga miskin di desa yang ikut menanam sayuran.
Di hadapan Fang Xi, duduk seorang pria gemuk bertubuh besar, mengenakan jubah brokat berwarna kuning muda yang terlihat mewah dan mahal.
Itu adalah pemilik kedai mie ini. Ia sedang menghitung tumpukan koin emas di atas meja dengan wajah santai, bahkan tak mau menatap wajah Fang Xi.