"Jika dunia menginginkanku mati, maka aku akan memastikan dunia hancur bersamaku!"
Terlahir dengan energi sihir yang disegel, Han-Seol dibuang dan dianggap sebagai aib keluarga. Demi bertahan hidup, ia kabur bersama Seol-Ah, seorang pemindah jiwa yang menjadi buronan paling dicari.
Di bawah bimbingan Master Lee yang legendaris, segel kekuatan kuno dalam tubuh Han-Seol mulai bangkit. Satu per satu rahasia kejam sang ayah terungkap, memicu perang besar yang akan melanda Cheon-gi Won.
Di tengah kepungan bahaya dan takdir yang rumit, mampukah Han-Seol melindungi wanita yang dicintainya dan menghancurkan mereka yang telah mengkhianatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34. Mengintip Takdir di Cheon-gi-dae
Kilas Balik — Lonceng Giok dan Ramalan Langit
Bertahun-tahun yang lalu, di bawah langit Niskala yang bertabur bintang, kompleks Cheonbugwan berdiri megah seperti raksasa yang tertidur. Lee Geon-woo, sang ahli perbintangan terkemuka, melangkah menyusuri lorong pualam yang dingin. Di sampingnya, seorang gadis kecil berusia empat tahun, Lee Seol-ran—yang kelak dikenal sebagai Nara—berlari kecil mencoba mengimbangi langkah ayahnya.
Sebelum mereka melewati gerbang utama aula astronomi, Geon-woo berhenti dan berlutut di hadapan putrinya. Ia mengeluarkan sebuah benda dari balik jubahnya: Lonceng Giok Putih Berukir Awan.
"Ini hadiah untukmu, Seol-ran," ucap Geon-woo lembut. Ia mengikatkan lonceng itu di pinggang putrinya dengan simpul yang sangat rapat.
Nara kecil menyentuh giok yang dingin itu dengan jemari mungilnya. "Terima kasih, Ayah. Suaranya sangat merdu."
Geon-woo tersenyum, namun matanya memancarkan kecemasan. Ia tahu, lonceng itu bukan sekadar perhiasan. Itu adalah Lonceng Giok Penahan Jiwa, sebuah segel kuat untuk meredam getaran energi sihir Nara yang luar biasa besar agar tidak terdeteksi oleh para penyihir haus kekuasaan di Cheonbugwan.
"Sama-sama, Sayang. Ayo, kita masuk," Geon-woo mengelus rambut putrinya lalu menggendongnya masuk ke dalam gedung yang penuh dengan rahasia langit tersebut.
Di dalam Cheon-gi-dae (Panggung Pengamat Langit), suasana begitu hening hingga suara gesekan jubah sutra Geon-woo terdengar menggema. Di tengah ruangan, sebuah kolam air raksa raksasa memantulkan rasi bintang yang sedang berputar di kubah langit.
Geon-woo menurunkan Nara. "Jangan lepaskan lonceng ini, Seol-ran," bisiknya lembut namun penuh penekanan. "Suaranya akan menjagamu tetap berpijak di bumi saat kau merasa jiwamu ingin terbang ke langit."
Geon-woo kemudian melangkah menuju kolam air raksa. Dengan satu gerakan tangan yang anggun, ia mengalirkan energinya ke permukaan air. Seketika, riak air berubah menjadi barisan cahaya keemasan yang membentuk peta rasi bintang. Ia sedang mengamati takdir seorang bayi laki-laki yang baru saja lahir—pemilik Bintang Kerajaan.
"Ayah, apa yang kau lihat?" tanya Nara kecil, mencoba berjinjit untuk mengintip ke dalam kolam.
Wajah Geon-woo seketika berubah pucat pasi. Cahaya di kolam itu menunjukkan sesuatu yang mustahil: garis takdir anak laki-laki itu bersilangan tajam dengan rasi bintang milik Nara. Garis itu berwarna merah darah dan emas, melambangkan pertemuan yang bisa menghancurkan dunia atau menyelamatkannya.
"Aku melihat sesuatu yang seharusnya tidak ada," gumam Geon-woo lirih, suaranya bergetar.
Dengan kibasan tangan yang cepat, ia menghapus seluruh jejak bintang itu tepat sebelum suara langkah kaki penyihir lain terdengar mendekat. Ia segera berlutut dan memegang kedua bahu kecil Nara.
"Seol-ran, ingat ini," ucap ayahnya dengan tatapan paling serius yang pernah dilihat Nara. "Takdir bukanlah apa yang tertulis di langit yang jauh, tapi apa yang kau genggam erat di tanganmu sendiri. Kau mengerti?"
Nara kecil, yang belum sepenuhnya paham namun merasakan kesungguhan ayahnya, mengangguk patuh. "Iya, Ayah. Aku akan mengingatnya."
Geon-woo memeluk putrinya erat, menyadari bahwa mulai malam itu, hidup Nara tidak akan pernah sama lagi.
****
Gugurnya Bunga Salju — Malam Pembantaian
Suara dentuman pertama menghantam gerbang kediaman keluarga Lee dengan kekuatan yang mampu menggetarkan fondasi bumi. Di luar, kesunyian malam Niskala pecah oleh pekikan panik dan denting pedang yang beradu dengan maut. Bau anyir darah dan asap mulai menyusup ke sela-sela pintu kayu pualam, membawa pesan kematian yang tak terelakkan.
"Seol-ran! Di sini!"
Ibu Seol-ran menarik putri kecilnya dengan kasar namun penuh perlindungan menuju dinding rahasia di balik lukisan kuno. Wajah sang ibu sepucat salju, tangannya gemetar hebat saat mencengkeram bahu putrinya.
"Ibu, tanganmu dingin sekali... kenapa kita bersembunyi?" bisik Seol-ran kecil. Lonceng giok di pinggangnya berdenting liar, seirama dengan detak jantungnya yang berpacu.
Ibunya berlutut, menangkup wajah Seol-ran. "Seol-ran, dengarkan Ibu. Mulai detik ini, jangan biarkan lonceng ini bersuara sedikit pun. Paham?" Ia menahan bandul lonceng itu dengan telapak tangannya agar senyap, lalu mendorong Seol-ran ke dalam celah gelap di balik lemari.
"Tapi Ayah masih di luar, Bu!"
"Ayahmu sedang menjaga langitmu agar tidak runtuh!" bentak ibunya lirih, sebelum suaranya pecah menjadi isakan. Ia mengusap pipi Seol-ran untuk terakhir kali. "Putriku, bunga saljuku... Jika dunia menjadi gelap, jangan mencari cahaya di luar. Carilah cahaya di dalam dirimu sendiri."
Pintu rahasia itu tertutup rapat. Melalui celah sempit, Seol-ran melihat ibunya berlari menjauh tepat sebelum pintu utama hancur berkeping-keping.
Pengkhianatan Empat Pilar
Dari persembunyiannya, Seol-ran menyaksikan aula utama dikepung oleh aura yang begitu menindas hingga oksigen seolah lenyap. Di tengah ruangan, ayahnya—Lee Geon-woo—berdiri dengan pedang terhunus dan napas yang terengah.
Empat sosok melangkah masuk dari balik debu reruntuhan. Do Kwang, dengan jubah hitamnya yang tajam, memimpin di depan. Di sampingnya, Han Gyeol (ayah Han Seol) berdiri tanpa ekspresi dengan tangan membentuk segel sihir mematikan. Jin Hwa-young menatap meremehkan sambil memutar artefaknya, sementara Master Baek Si-On memancarkan cahaya perak yang menyilaukan.
"Geon-woo, kau membawa kehancuran ini pada dirimu sendiri," ucap Do Kwang dingin.
"PERGILAH!" teriak Lee Geon-woo. Perintah itu dikirimkan melalui batin khusus untuk Seol-ran.
Detik berikutnya, aula itu meledak. Empat energi elemen yang berbeda menghujam pusat ruangan secara bersamaan. Seol-ran membekap mulutnya sendiri, air mata membanjiri wajahnya saat melihat tubuh ayahnya tertelan cahaya dan debu pilar yang runtuh. Ayahnya jatuh bersimpuh, namun matanya tetap menatap tajam ke arah dinding tempat Seol-ran bersembunyi—sebuah tatapan terakhir yang memerintahkannya untuk tetap hidup.
Lahirnya Sang Pembunuh: Nara
"Mulai malam ini," bisik Seol-ran dengan suara yang sudah mati rasa, "Lee Seol-ran sudah mati bersama rumah ini."
Saat para pembantai itu pergi, Seol-ran merangkak keluar dari kegelapan. Ia menghampiri ibunya yang sudah tergeletak tak bernyawa di lantai yang dingin.
"Ibu... bangun. Jangan tinggalkan aku sendirian. Ibu...!" tangisannya pecah di tengah kesunyian reruntuhan yang membara.
"Aku akan memberimu kekuatan untuk membalas mereka."
Sesosok pria muncul dari balik bayang-bayang. Jin Wu. Pria asing itu mengulurkan tangan, menawarkan sesuatu yang lebih berharga daripada simpati: dendam yang terasah.
Waktu pun berlalu seperti badai. Seol-ran yang rapuh telah terkubur. Kini, di sebuah tanah gersang dengan napas memburu dan pedang yang bersimbah peluh, berdirilah Nara. Ia bukan lagi bunga salju yang jatuh ke bumi, melainkan badai yang siap meruntuhkan empat keluarga penyihir yang telah merampas segalanya darinya.
Kebenciannya kepada keluarga Do, Baek, Jin, dan terutama keluarga Han—keluarga Han Gyeol—telah menjadi napasnya.