NovelToon NovelToon
DHAHAR : Jangan Mati Di Rantau Naya

DHAHAR : Jangan Mati Di Rantau Naya

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Balas Dendam
Popularitas:408
Nilai: 5
Nama Author: Mia AR-F

Ini cerita tentang rumah makan yang menu spesialnya, tumbal manusia.
Kabur enggak bisa. Resign taruhannya nyawa.

" Selamat bekerja dirumah makan Dermawan." Seru Pak Dermawan selaku pemilik usaha yang suaranya masih terngiang-ngiang layaknya mimpi buruk yang terus berulang.

Namaku Naya. Umur 21. Anak rantau. Dan inilah kisahku.

_

Tayang : 16 mei 2026
Tamat : 06 juni 2026

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mia AR-F, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10 : Nametag Naya

Motor Gian berhenti depan gerbang mess. Dia masuk ke dalam. Helm dibanting ke lantai dengan wajah marah.

BUG!

Intan melepas peluknya dari Abel dan langsung nyamperin dari sofa. Mukanya pucet tidak melihat seseorang yang dia harapkan ada sekarang, "Mana Naya?"

Gian geleng, "Nggak ada. Dia ilang kayak setan."

"Terus?!" Intan yang kerdil ngejambak kerah Gian, "Lu mau kita mati?!"

"Kita mati? Elu kali." Jawab Gian melepas paksa tangan Intan dari kerahnya. Matanya melotot ke Abel yang gemeteran di sofa.

Dari kamar, Rosa keluar. Pelan. Tangannya kosong. Matanya natap Intan dulu, baru Gian. "Udah jam 4 lewat, bukan waktunya berantem."

Suara Rosa rendah. Nggak bentak, tapi Intan langsung diem.

Gian ngangguk. "Gue tau. Aturannya jelas. Tumbal kabur, mandor harus siapin pengganti sebelum tanggal 13. Kalo nggak, kita semua yang gantiin."

Abel langsung mundur mendengar kata-kata Gian.

"JANGAN! Gue udah lolos! Gue nggak mau! Gue enggak mau jadi tumbal!" Rengek Abel menangis.

Intan panik. Dia nyamperin Rosa, megang lengannya. "Sa... jangan Abel... dia... dia udah bebas... Kita cari orang lain aja... Anak jalanan kek..."

Rosa nepis tangan Intan tanpa ngeliat muka Intan sama sekali. Matanya menatap tajam ke Abel.

"Eyang nggak minta makan sekarang," suara Rosa datar, "Dia minta jaminan. Tanggal 13 tetep tanggal 13. Tapi kalo kita nggak ngunci pengganti dari sekarang, gentong bisa ambil siapa aja. Gue mau aja tumbalin lu, Teh."

Intan kaku. Mundur selangkah. Dia takut. Tapi rasa takutnya kalah sama amarahnya.

PLAK!

"ANJ!NG! LU UDAH G!LA, SA!" Teriak Intan setelah reflek menampar Rosa.

Rosa diem. Nggak ngelak. Pipinya merah, matanya baru perlahan pindah ke Intan.

Intan mau nampar lagi.

Rosa dengan reflek cepat langsung mendorong tubuh Intan ke lantai.

BRAK!

Punggung Intan menghantam ubin. Napasnya putus. Jantungnya sakit.

"AUGGHH!!" Intan ngerang. Nangis. Nggak bisa bangun.

Rosa jongkok matanya menghitam sekilas. Nggak nolongin. Cuma bisik di kuping Intan. Dingin. "Teh, lu lupa ya? Di Margonda, gue yang megang kendali. Lu nyerang gue artinya lu nyerang Pak Dermawan juga."

Intan gemeteran melihat mata Rosa. Matanya ngeliat Rosa kayak liat manusia berhati iblis.

Ini bukan Rosa yang dulu nangis bareng dia. Pikir Intan. Atau mungkin jiwa dan hati nurani Rosa yang udah di jual ke Eyang Dhahar.

Gian malah nyengir, "Sa... bener. Gak ada pilihan lain. Abel yang harus kita tumbalin ke Eyang"

Rosa berdiri. Nunjuk Abel. Nggak ngomong. Cuma nunjuk.

Abel melotot.

Gian langsung samperin Abel dengan wajah senang, "Lu denger mandor, kan? Bangun!"

"NGGAK MAU! TOLONG!" Abel nyakar tembok. Kuku palsunya sampe patah.

PLAK! BUGH!

Gian nggak nampol sekali. Dia jambak rambut Abel, terus jedotin kepalanya ke tembok.

DUG!

Kening Abel berdarah.

"DIEM GUE BILANG!" Bentak Gian. "Gara-gara lu, gue hampir mati! Gara-gara temen lu si Naya, kita semua hampir masuk gentong! Sekarang giliran lu yang nebus!"

Abel lemes. Nangis nggak bersuara. Darah netes dari kening.

Intan di lantai mau bangun. "Gian, jangan..."

Gian nengok. Matanya hitam semua seolah ada yang masuk ke tubuhnya, suaranya tiba-tiba berubah jadi lebih berat dan bergemuruh, "Intan mau gantiin?"

Intan bungkam. Takut. Gian sudah di rasuki oleh iblis.

Gian nyeret Abel kayak nyeret karung beras. Kasar. Kaki Abel nyeret-nyeret lantai.

Abel nggak bisa jawab. Cuma ngeluarin suara, "Hhkk... hkk... ampunn..."

"Cepet," kata Rosa ke Gian, "Kalau Pak Dermawan tau, kita bisa dalam bahaya."

Gian nyeret Abel keluar. Intan ngekor di belakang, nunduk, kakinya lemes. Dia nggak berani natap Rosa. Dia nggak berani natap Abel. Apalagi natap Gian yang matanya masih menghitam semua.

Pintu mess kebuka. Angin subuh bawa bau kemenyan tipis dari arah rumah makan.

Di ruang tengah, Rosa berbaring di sofa panjang. Ngusap pipinya yang di tampar oleh Intan tadi. Nggak ngeringis. Ngeluarin nametag Naya dari saku baju tidurnya sambil mikir.

"Dimana Naya sekarang?" bisiknya sendiri, "Aku tau kamu gak akan bisa pergi jauh, Na. Aku tau itu."

"Selama kontrak masih ada, jiwamu tetap akan merengek kembali ke sini."

_

Jam 04:20.

Gudang Rumah Makan Dermawan.

GEDUBRAK!

Gian ngebanting Abel ke lantai gudang. Keras.

"ARGHH!" Abel jerit. Bahunya keseleo.

"Bangun!"Gian narik rambut Abel lagi. Nyuruh dia duduk nyender ke pipa. "Lu di sini sampe tanggal 13. Kalo mati duluan gara-gara kelaparan, salah lu sendiri!"

Dia ngiket tangan Abel ke pipa besi. Kenceng. Sampe kulit kegesek, perih.

"KALO BUKAN KARNA NAYA KABUR LU GAK BAKAL DI POSISI INI ABEL! NAYA YANG KORBANIN LU! BUKAN ROSA!!" Teriak Gian dengan penuh amarah mengambil lakban coklat.

Mulut Abel disumpel pake lakban coklat yang tergeletak di sana. Bukan cuman sekali lakban.

"Mmmpphh!!" Abel nggak bisa napas. Mata melotot karna susah nafas.

Intan mau ngelepas sumpelnya, "Gian... dia nggak bisa napas..."

Gian dorong Intan sampe jatuh.

"DIEM! Lu mau gue iket juga di sini?! Ini udah murah hati nggak gue potong lidah lu biar nggak berisik!" Ancem Gian menarik paksa Intan keluar dari gudang.

Intan nangis, "Maaf, Bel... gue... gue nggak bisa lawan dia..."

KLEK!

Gian ngunci gembok dari luar.

GEDUBRAK!

Double pake balok kayu yang besar + rantai. Gian terlihat mudah mengangkat balok kayu itu bahkan merantainya.

Di luar gudang, Gian ngeludah. Nyalain rokok. Wajahnya Udah puas. Perlahan matanya berubah seperti semula.

Gian mengangkat telepon sembari menghembuskan asap rokok.

Suara Rosa dari telepon, 'Udah? Tidur sana. Besok buka warung kayak biasa. Jangan telat.'

TUT.

Gian ngelirik Intan yang memeluk pinggangnya, gemeteran. Dia nyengir.

"Makanya, Teh. Jangan sok jagoan. Di sini yang kuat yang menang."

Intan ngangguk. Pelan, "Gue tau... Dia... Dia udah bukan Rosa... Lu juga... Udah bukan Gian yang gue kenal... Ada iblis... Ada iblis dalam diri kalian."

"Lu terikat kontrak budak sama Bapak, beda sama gue dan Rosa." Tegas Gian.

Gian ngeludah pahit. Asap rokoknya ngebul, nutupin bau kemenyan yang makin nyengat dari belakang rumah makan.

Intan mundur. Bibirnya gemeter. "Kalian... kalian jual diri kalian ke Iblis...?"

"Mending lu balik ke mess, Teh. Sebelum gue berubah pikiran.” Tegas Gian.

Intan pergi. Langkahnya berat. Kepalanya pusing hebat. Intan jatuh di depan pintu gudang. Dari dalem, kedengeran suara, "Mmppphh... mmppphh..." Abel nangis, napas sengal-sengal ketutup lakban.

_

Di balik dinding Rifki menutup mulut pake tangan. Badannya basah keringet dingin. Dia liat semua. Dari Gian jedotin kepala Abel, sampe lakban berkali-kali di mulut Abel. Dia denger Gian suaranya berubah, berat dan bergema.

'Itu bukan suara Gian.' Pikirnya. Suara dari dalem tanah. Basah. Aneh.

"Naya kabur." Gumam Rifki.

'Kalo Naya aja bisa lolos dari Rosa dari Gian dari Pak Dermawan dari Eyang Dhahar... berarti ada celah.'

Rifki mundur pelan. Dan pergi.

"Aku harus kabur, seperti Naya kabur." Bisiknya pada dirinya sendiri.

_

Pasar Depok. Belakang lapak ayam.

Naya kebangun karena kaki ayam dingin nyenggol pipi. Badannya sakit semua. Bahu keseleo, bibir pecah, tenggorokan kering. Tubuhnya terasa berminyak.

"Cwe itu bangun."

Naya ngesot, nyender ke papan kayu. Pasar udah rame. Suara ibu-ibu tawar-menawar, pisau daging yang sedang mencincang daging. Motor lewat. Dan pasar berjalan seperti biasa.

"Neng kok bisa di sini?" Tanya seorang Ibu menghampiri membawakan segelas teh hangat kepada Naya.

Naya mengingat sekilas kejadian semalam dimana dia berhasil kabur.

"Neng?" Sapa Ibu itu lagi.

Naya kaget, melihat jika sudah banyak pasang sorot mata yang sedang memperhatikannya.

"M-maaf Bu." Jawab Naya pelan.

"Minum dulu. Kamu pucet banget." Ibu itu memberikan gelas kaca kepada Naya tang menerima lalu meniup teh hangat itu dan meminumnya perlahan.

"Neng asal mana? Tersesat atau apa?" Tanya Ibu yang lain.

"Saya enggak punya... Tempat.. Tinggal." Jawab Naya pelan.

"Neng kan cakep, masa enggak punya sih tempat tinggal?" Tanya Ibu yang lain.

Naya hanya diam, mengingat rumah makan Dermawan yang harusnya sudah buka jam segini. Kakinya seolah ingin berlangkah ke rumah makan itu.

"Neng?"

"M-maaf.." Jawab Naya ingin berdiri, dan di bantu oleh Ibu yang memberikannya teh di awal tadi.

Naya merogoh saku kemejanya. Niatnya nyari duit untuk membayar teh namun yang ketemu malah nametag.

NAYA _KASIR.

Lecek. Ujungnya ada bercak coklat. Darah kering.

Naya yang kaget reflek menjatuhkan nametag itu. Dia kaku. Sejak kapan nametag itu berada di sakunya?

1
Sarah
Ngakak 😂
Sarah
Suasananya beneran hangat dan akrab banget yah? Biasanya kan seri horor atau thriller selalu ngasih suasana yang udah mencurigakan dan lingkungan orang-orang di sekitar yang sepi, individualis, dll. Tapi ini enggak, jadi makin serem karena yang terlihat aman ternyata ada sesuatu dibaliknya. Apalagi kalau terjadi di dunia nyata. 💀
Menarik sih, kalau ada waktu aku akan lanjut. 👍
Semangattt. 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!