Yudi seorang pria dari dunia modern terlempar ke Tahun 700 masehi di pulau Buton, saat ayahnya meninggal Ayahnya mengatakan Bahwa ibunya ada di Bumi bagian utara
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RRS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Kedamaian di Islamabad dan Runtuhnya Dvaravati
Oktober 701 Masehi — Istana Agung Kekaisaran, Islamabad
Satu bulan telah berlalu sejak tangisan pertama Zulkarnain Rahmad Zhou memecah kesunyian malam di Islamabad. Musim gugur yang sejuk menyelimuti ibu kota, membawa angin pegunungan yang segar masuk melalui ventilasi otomatis istana yang canggih. Di dalam paviliun khusus yang menghadap ke taman bunga teratai, suasana begitu tenang dan penuh kehangatan keluarga.
Maharani Wu Lin, penguasa yang biasanya duduk di singgasana emas Luoyang dengan tatapan yang mampu menggetarkan nyali para jenderal, kini tampak sangat berbeda. Ia duduk bersimpuh di samping tempat tidur bayi yang terbuat dari material antialergi masa depan. Tangannya yang biasanya memegang dekrit kematian, kini dengan lembut mengayunkan mainan kecil di depan mata Zulkarnain yang berkilat merah delima.
"Lihatlah dia, Yue Qing," bisik Wu Lin dengan suara yang jauh dari kesan otoriter. "Dia memiliki garis rahang ayahnya, tapi tatapan matanya... itu murni milikmu. Dia adalah perpaduan sempurna antara ketegasan Rahmad dan keanggunan Zhou."
Yue Qing, yang kini sudah mulai pulih sepenuhnya pasca persalinan, tersenyum lemah namun bahagia. Ia bersandar pada bantal sutra, memperhatikan ibu mertuanya—yang juga merupakan ibu kandung suaminya—begitu telaten merawat Zulkarnain. Hubungan antara kedua wanita paling berkuasa di Asia ini telah mencair sepenuhnya. Persaingan politik atau protokol istana yang kaku telah meleleh menjadi ikatan kasih sayang demi sang pewaris takhta.
"Aku merasa sangat beruntung, Bunda," sahut Yue Qing pelan. "Yudi selalu memastikan teknologi medis terbaik ada di sini, tapi kehadiran Bunda adalah obat yang lebih manjur bagi ketenanganku."
Wu Lin menoleh ke arah menantunya, tersenyum tipis. "Yudi sedang sibuk memantau dunia di pusat kontrol. Biarkan dia menjaga luar istana, tugas kita adalah menjaga jantung dari kekaisaran ini. Anak ini, Zulkarnain, adalah jangkar yang akan menyatukan dua dinasti kita selamanya."
Di pojok ruangan, perangkat aromaterapi mengeluarkan wangi kayu cendana yang menenangkan. Di luar jendela, jet tempur sesekali melintas di angkasa tinggi, meninggalkan jejak putih di langit biru Islamabad—sebuah pengingat bahwa di balik kedamaian ini, kekuatan militer tak tertandingi sedang berjaga.
Badai di Selatan: Jatuhnya Dvaravati
Namun, kedamaian di Islamabad berbanding terbalik dengan kekacauan yang melanda daratan Asia Tenggara. Di wilayah yang kini dikenal sebagai Thailand, langit berubah menjadi merah akibat kobaran api yang melahap bangunan-bangunan kayu dan kuil-kuil megah.
Kerajaan Sriwijaya, sang penguasa laut dari tanah Sumatra, telah membuktikan bahwa taring maritim mereka kini mampu mengoyak daratan. Setelah pengepungan yang melelahkan selama beberapa minggu, armada besar Sriwijaya berhasil menembus pertahanan muara sungai dan merangsek masuk ke jantung ibu kota Dvaravati.
Suara tabuhan genderang perang Sriwijaya beradu dengan dentuman meriam kuno yang mereka beli melalui jalur perdagangan gelap. Pasukan Dvaravati, yang mengandalkan ribuan gajah perang, mendadak kocar-kacir ketika infantri Sriwijaya menggunakan taktik perang gerilya kota yang sangat agresif.
Ibu kota Dvaravati jatuh. Istana raja dijarah, dan bendera Sriwijaya berkibar di atas menara tertinggi. Sang Raja Dvaravati, bersama sisa-sisa keluarganya dan segelintir pengawal setia, terpaksa melarikan diri ke arah utara menuju pegunungan, berharap mendapatkan perlindungan dari suku-suku perbukitan atau kerajaan kecil di pedalaman Burma dan Laos.
Kemenangan Sriwijaya ini mengubah peta geopolitik ASEAN secara permanen. Kini, jalur perdagangan dari Selat Malaka hingga Teluk Siam berada di bawah kendali satu tangan. Sriwijaya bukan lagi sekadar kerajaan pulau; mereka telah menjadi kekaisaran darat-laut yang patut diperhitungkan.
Analisis Strategis Yudi Rahmad
Di pusat kendali Islamabad, Yudi Rahmad menatap layar hologram yang menampilkan pergerakan pasukan di Thailand. Ia melihat simbol merah (Dvaravati) yang semakin memudar dan simbol emas (Sriwijaya) yang mendominasi peta.
"Tuan Kaisar," suara Galuh memecah keheningan. "Sriwijaya telah mengambil alih ibu kota Dvaravati. Raja mereka melarikan diri ke utara. Apakah kita harus mengintervensi atau menawarkan 'perlindungan' kepada pengungsi kerajaan tersebut?"
Yudi menyesap teh hangatnya, matanya tetap terpaku pada peta. "Jangan intervensi dulu. Sriwijaya sedang berada di puncak gairah penaklukan. Jika kita masuk sekarang, kita akan terlihat seperti pengganggu. Biarkan mereka mengonsolidasi wilayah. Namun, kirimkan pesan diplomatik kepada Raja Sriwijaya. Beri selamat atas kemenangannya, dan ingatkan dia bahwa jalur perdagangan menuju pelabuhan-pelabuhan Dinasti Rahmad di India tidak boleh terganggu sedikit pun."
Yudi sadar, bangkitnya Sriwijaya bisa menjadi sekutu yang menguntungkan atau duri di daging di masa depan. Namun untuk saat ini, fokus utamanya adalah memastikan stabilitas internal kerajaannya yang baru saja dianugerahi seorang putra.
"Dan untuk keluarga kerajaan Dvaravati yang lari ke utara..." Yudi terdiam sejenak. "Kirimkan unit drone pengintai secara diam-diam. Jika mereka memiliki nilai strategis di masa depan, kita akan bertindak. Jika tidak, biarkan sejarah menelan mereka."
Statistik Kekaisaran Dinasti Rahmad (Oktober 701 Masehi)
Seiring dengan kematangan administrasi dan pertumbuhan yang stabil di bawah kepemimpinan Yudi, berikut adalah statistik terbaru kekaisaran:
Luas Wilayah
Total Luas: ± 5.200.000 km^2.
Cakupan: Seluruh dataran tinggi Tibet, lembah sungai Indus dan Gangga, hingga ke ujung paling selatan semenanjung India (Kanyakumari).
Ibu Kota: Islamabad
Populasi Kota: 1.250.000 Jiwa (Meningkat akibat kelahiran baru dan migrasi ahli teknologi dari Zhou).
Status: Kota dengan tingkat keamanan tertinggi di dunia, bertenaga energi fusi penuh.
Populasi Nasional
Total Populasi: ± 84.500.000 Jiwa.
Pertumbuhan: Konsisten tumbuh akibat stabilitas pangan yang melimpah dari teknologi pertanian hidroponik sistem.
Demografi Agama
Penduduk Muslim: 35.000.000 Jiwa.
Deskripsi: Pertumbuhan pesat ini terjadi karena kebijakan Yudi yang memberikan beasiswa penuh bagi pemuda Muslim ke Universitas Islamabad, serta pembangunan masjid-masjid megah yang juga berfungsi sebagai pusat riset sains dan teknologi di setiap provinsi.
Ekonomi & Infrastruktur
Kereta Cepat: Beroperasi penuh menghubungkan 20 kota besar.
Listrik: Cadangan energi fusi berlebih, mulai diekspor ke wilayah-wilayah perbatasan di luar sekutu utama.
Malam itu di Islamabad, Yudi meninggalkan pusat kendali dan kembali ke paviliun keluarganya. Ia melihat ibunya, Wu Lin, tertidur di kursi samping tempat tidur Zulkarnain, sementara Yue Qing menatapnya dengan senyum lembut. Di luar, dunia mungkin sedang berperang dan kerajaan-kerajaan tua sedang runtuh, namun di dalam dinding Islamabad, masa depan baru sedang tidur dengan nyenyak.
Dunia sedang menyaksikan kelahiran sebuah tatanan baru, di mana cahaya teknologi dan kehangatan keluarga menjadi fondasi dari kekuasaan yang tak tergoyahkan.