Miranda Amalia, seorang gadis miskin berumur 16 tahun, dilamar oleh keluarga Pratama yang kaya raya untuk dinikahkan dengan anak tunggal mereka, Kevin Pratama, yang baru berusia 17 tahun. Ternyata Miranda dijadikan menantu agar bisa merawat Kevin yang lumpuh akibat sebuah kecelakaan.
Hingga suatu hari, seorang dokter berhasil menyembuhkan Kevin dari kelumpuhan. Dan untuk membalas budi pada dokter itu, Keluarga Pratama menjodohkan Kevin dengan anak sang dokter yang bernama Celine Richardo. Karena itu, mereka menceraikan Miranda dari Kevin dan mengusirnya.
Sepuluh tahun berlalu, tiba-tiba Kevin menemukan Miranda bekerja menjadi karyawati di sebuah perusahaan yang baru dibelinya. Merasa bersalah pada gadis itu, ia pun mendekatinya. Namun, yang dirasakan ternyata lebih dari sekedar rasa bersalah, tetapi juga rasa cinta, yang dulu tak pernah terpikirkan olehnya saat masih menjadi suaminya.
Maukah Miranda menerima Kevin yang terus mengejarnya, sedangkan Kevin telah beristri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Three Flowers, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TAK KAN MENYERAH
Pagi itu di sebuah rumah sakit swasta terbesar di kota itu, Celine memasuki ruang kerja Nugraha. Dilihatnya sahabatnya itu sedang serius mengetik pada laptopnya. Nugraha mengangkat kepalanya begitu menyadari kehadiran Celine yang langsung menduduki kursi di depan mejanya.
“Pagi, Dokter Celine yang cantik,” sapa Nugraha dengan ceria.
“Nugie, aku mau curhat!” ucap Celine.
Nugraha segera menghentikan pekerjaannya. “Baik, stop dulu deh pekerjaanku. Bos yang memintanya,” sahutnya sambil becanda.
“Nugie, Kevin...,” Celine menarik nafas dahulu sebelum melanjutkan kalimatnya.
Nugraha menaikkan alisnya, “Kevin kenapa?”
“Kevin selingkuh!” lanjut Celine sambil mengatur emosinya.
“Apa? Bukankah dia itu tidak jantan? Bisa-bisanya selingkuh? Selingkuh dengan siapa?” Nugraha jadi ikut emosi mendengarnya.
“Dengan mantan istrinya, namanya Miranda. Miranda sampah!” umpat Celine penuh kebencian.
“Kevin sudah pernah menikah sebelumnya?” Tanya Nugraha terkejut, Celine mengangguk.
Celine lalu menceritakan pertemuannya yang tak terduga dengan Kevin di rumah sakit terbesar di Ibu Kota. Awalnya ia menduga bahwa Kevin bermaksud menjemputnya dengan memberi kejutan, tapi ternyata Celine mendapat informasi dari Dokter Syahnaz bahwa Kevin sedang merawat dan membiayai pengobatan keponakan mantan istrinya di rumah sakit itu.
“Lalu, apa kamu melabrak Kevin?” tanya Nugraha.
“Tentu saja tidak! Kevin sangat pemarah dan keras kepala orangnya. Ia memang terlihat baik dan tenang, tapi kalau sudah marah, Papanya pun tidak berani menentangnya,” jawab Celine.
“Jadi kamu diam saja?”
“Aku pura-pura tidak tahu, tapi aku langsung melabrak perempuan sampah itu! Aku minta dia mengembalikan uang Kevin selama berobat. Biar tahu rasa dia!”
“What? Lalu bagaimana tanggapannya?”
“Dia perempuan miskin yang bodoh. Ia begitu ketakutan dan berjanji akan mencicil uang Kevin hampir sejumlah seluruh gajinya per bulan. Biar dia tidak bisa hidup sekalian!”
Nugraha menarik nafasnya. Lalu ia kembali bertanya, “Bagaimana kalau wanita itu menceritakan hal ini pada suamimu?”
“Kalau dia sampai cerita dan itu membuat Kevin menyakiti aku, lihat saja, aku akan menyakitinya lebih dalam lagi,” jawab Celine dengan wajah penuh dendam.
“Hei, ingat! Jangan sampai kamu melakukan tindakan kriminal. Penganiayaan pun sudah termasuk kriminal.” Nugraha memperingatkannya. “Ingat, kamu adalah Celine Dokter terhormat dan jenius. Kamu adalah manusia dengan kualitas terbaik. Jangan sampai kamu mengotori nama baikmu hanya gara-gara wanita semacam itu.”
“Lalu, aku harus bagaimana?” tanya Celine putus asa.
Nugraha menarik nafasnya, mencoba untuk berpikir keras. Sampai akhirnya menyimpulkan sesuatu. “Wanita itu akan menyerah dengan sendirinya karena ia tidak akan mendapatkan kepuasan batin dari Kevin yang impot*n itu.”
“Nugie...!!” Celine berteriak manja dan spontan mencubit lengan Nugraha dengan kesal hingga pria itu meringis kesakitan.
Nugraha tertawa melihat tingkah lucu Celine walaupun sedang marah.
“Nugie, bagaimana kalau Kevin membelanya?” tanya Celine khawatir. “Biasanya orang selingkuh akan marah-marah bila ketahuan dan membela pasangan selingkuhnya.”
“Sebaiknya kamu bicarakan baik-baik dengan orang tua Kevin. Aku yakin, mereka akan berada di garis depan untuk membelamu. Dan Kevin pasti akan tunduk pada mereka,” saran Nugraha.
Celine mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar jawaban yang cukup masuk akal itu.
Tiba-tiba pintu ruang kerja Nugraha terbuka lagi. Dokter Richardo masuk bersama seorang dokter wanita yang dikenal Celine, yaitu Dokter Dewi, spesialis kandungan.
“Nah, ini dia Celine yang dari tadi dicari di ruangannya tidak ada, ternyata malah ngobrol di sini sama Dokter Nugraha,” ujar Dokter Richardo.
“Ada apa mencariku, Pa?” tanya Celine pada Dokter Richardo.
“Cepat ikut Dokter Dewi, kamu harus periksa kesuburan sekarang! Aku sudah tidak bisa tinggal diam setelah empat tahun tidak punya cucu!” seru Dokter Richardo.
Celine terkejut. Tanpa sadar ia berpandangan dengan Nugraha. Hanya Nugraha yang tahu alasannya, karena Celine belum menceritakan masalahnya pada ayahnya. Nugraha membalas tatapannya itu dengan prihatin.
“Ayo! Tunggu apa lagi?” teriak Dokter Richardo.
Dokter Dewi tersenyum lembut pada Celine, “Ayo, Dokter cantik..., tidak apa-apa. Kita lihat dulu kesuburan anda, biar nanti kalau ada gangguan bisa segera ditangani.”
Celine berdiri dari tempat duduknya sambil mendengus kesal. Kali ini ia tidak bisa membantah perintah ayahnya. Ia segera mengikuti Dokter Dewi untuk mengikuti serangkaian test kesuburan, meski ia yakin bahwa ia tidak mempunyai masalah kesuburan.
****
Suatu malam di dalam kamar pribadinya, Kevin mencoba menjahili Miranda dengan mengirimkan sejumlah uang untuk wanita yang masih dianggap sebagai istrinya itu. Setelah beberapa hari disibukkan dengan pekerjaannya hingga tak sempat memikirkan wanita itu, kini Kevin harus segera mengusik Miranda lagi.
‘Lima Puluh Juta untuk menafkahi istriku tersayang. Jangan boncengan dengan pria lain lagi, ya? Naik taxi saja kalau ingin cepat sampai rumah.’ tulis Kevin dalam pesannya setelah ia mengirimkan uang yang sangat besar untuk Miranda.
Di sudut lain kota yang sama, Miranda kembali menerima notifikasi pada ponselnya. Uang lima puluh juta masuk ke dalam rekeningnya. Dan ia pun menerima pesan dari Kevin setelah itu.
Dengan wajah kesal ia membalas pesan itu. ‘Pak Kevin, berhenti memamerkan kekayaan pada saya! Saya tidak akan memakai uang ini sepeser pun. Kalaupun saya butuh uang, lebih baik saya meminjam pada Rentenir daripada memakai uang ini.’
Membaca balasan Miranda, Kevin hanya tersenyum. Ia tidak membalas pesan itu lagi, namun justru meninggalkan ponselnya di ranjang. Kemudian ia menuju ke balkon di depan kamarnya, dan menikmati belaian angin malam di kursi yang tersedia di sana.
Kevin melayangkan pandangannya ke arah langit malam yang berbintang. Ia sedang membayangkan masa depannya bersama Miranda.
Setelah menyelesaikan beberapa proyek besar nya , ia berencana untuk berterus terang pada Celine dan keluarganya tentang Miranda. Ia tidak bisa menggantung masa depan Celine bila terus bersamanya. Apapun resikonya, bahkan jika ia harus keluar dari perusahaan yang sedang ia kelola bersama keluarganya.
‘Aku akan membawamu ke tempat yang aman bersama keluargamu, Miranda. Aku akan menikahimu secara resmi, memberikan status yang jelas padamu.’ ucap Kevin dalam hati.
****
Keesokan harinya, Miranda melihat Kevin datang di pagi hari. Kemudian, ia segera meminta ijin kepada Manajer nya untuk pergi ke bank, mengurus suatu keperluan. Sam, sang Manajer Produksi mengijinkannya. Ia tahu Miranda adalah karyawati kesayangan Big Boss nya.
Tak lama kemudian, Miranda datang lagi ke pabrik dan langsung menuju ke lantai atas, dimana Ruang Direktur berada. Diketuknya pintu itu dengan yakin, dan terdengar suara Daniel menyuruhnya masuk.
“Miranda?” Daniel terkejut melihat siapa yang masuk ke ruangannya.
Kevin yang sedang sibuk dengan laptopnya pun langsung menoleh dan ikut terkejut, tak menyangka atas kehadiran Miranda ke ruangannya.
“Permisi, Pak. Saya mohon ijin untuk menemui Pak Kevin,” ujar Miranda sopan.
“Ehm!” Daniel melirik pada Kevin.
Kevin lalu berdiri dan mengajak Miranda masuk ke ruang pribadinya. Daniel mengamati Miranda yang berjalan mengikuti Kevin dengan membawa bungkusan berwarna hitam. Dalam hati, ia bertanya-tanya, barang apa yang dibawa Miranda saat menghadap Kevin?
“Duduklah,” ujar Kevin sambil menutup pintu ruangannya dan mengunci pintu.
“Tidak perlu, Pak. Saya datang hanya untuk menyerahkan ini,” Miranda meletakkan bungkusan yang ia bawa di meja kerja Direktur.
“Apa ini?” tanya Kevin sambil berjalan mendekati mejanya. “Bolehkah aku membukanya?”
“Tentu saja,” jawab Miranda dingin.
Kevin membuka bungkusan berbentuk kotak itu. Dan ia bisa langsung melihat isinya. Sejumlah uang yang tertata rapi dan bersegel logo sebuah Bank. Miranda telah mengambil secara tunai uang kiriman Kevin di bank tadi untuk dikembalikan padanya.
“Itu jumlahnya tujuh puluh juta, Pak. Dua puluh juta yang pertama, dan lima puluh juta kiriman yang kedua. Saya kembalikan uang yang nyasar ke rekening saya ini,” jelas Miranda angkuh.
Kevin tertawa lepas. Miranda tercengang melihatnya. Ia mengira Kevin akan marah padanya dan ia sudah mempersiapkan diri menerima resiko dimarahi oleh pria itu.
“Itu uangmu, Miranda. Tidak perlu kamu kembalikan padaku,” ucap Kevin sambil berjalan tenang mendekati Miranda, membuat gadis itu mundur beberapa langkah.
‘Sial! Aku tidak bisa lari, pintunya terkunci dan kuncinya dibawa olehnya!’ batin Miranda ketakutan dan ia melipir ke dinding ruangan.
Bukannya selamat, Kevin justru mengurung tubuhnya dengan mudah. Kevin lalu memegang kepalanya dengan lembut dan mencium bibir Miranda.
“Hmph!” Miranda mencoba untuk berontak dengan mendorong dada Kevin hingga ciuman itu terlepas.
“Apa yang anda lakukan? Ini pelecehan! Saya akan berteriak!” ancam Miranda dengan suara tertahan namun penuh amarah.
“Berteriaklah! Aku tidak peduli! Aku akan memberimu pelajaran karena telah bermain api di belakangku!” Kevin mendekati Miranda lagi dan merengkuh tubuhnya dengan paksa.
Dipeluk dan diciumnya Miranda tanpa mempedulikan apapun. Miranda kembali meronta, namun ternyata ia tetap tidak bisa berteriak, persis seperti kejadian di mobil malam itu. Pasti satu pabrik akan heboh dan timbul kekacauan lagi jika ia berteriak, itu justru akan semakin memalukan!
‘Kunci! Aku harus dapatkan kuncinya!’ teriak Miranda dalam hati.
Ia tadi sempat melihat Kevin memasukkan kunci tersebut ke saku celananya. Di saat Kevin melancarkan aksi romantisnya yang brutal pada Miranda, tangan Miranda justru berfokus pada saku celana Kevin dan merogohnya, mencari kunci untuk membuka pintu dan melarikan diri.
Kevin merasakan tangan Miranda yang bergerak liar di saku celananya dengan panik dan menyentuh sesuatu yang tidak seharusnya disentuh. Kevin spontan melepaskan pelukan dan ciumannya, lalu bergerak mundur. Nafasnya terengah tak percaya sambil menatap Miranda yang telah mendapatkan kuncinya.
Miranda segera berlari ke arah pintu dan membuka kuncinya, sementara Kevin masih syok dengan perlakuan Miranda tadi. Ia masih berdiri sambil menatap Miranda yang berhasil membuka pintu dan berlari keluar dari ruangannya.
Miranda berjalan setengah berlari melewati ruangan dimana Daniel berada dan duduk di depan mejanya. Ia tidak mempedulikannya karena sedang panik dan syok.
“Miranda!” teriak Daniel memanggilnya.
Suara panggilan itu menyadarkannya dan ia refleks menghentikan langkahnya, lalu menoleh pada Daniel, seakan bertanya kenapa pria itu memanggilnya.
Daniel menatapnya dan berkata, “Rapikan dulu rambut dan bajumu sebelum kamu keluar dari ruangan ini!”
Miranda memegang rambutnya dan melihat ke bawah. Kemejanya ternyata keluar dari celananya, tak beraturan. Demikian pula dengan rambutnya yang jadi acak-acakan, hasil pemberontakannya pada perlakuan Kevin tadi.
‘Sial! Memalukan sekali!’ umpat Miranda dalam hati.
Miranda segera merapikan bajunya, lalu beralih ke rambutnya. Sementara itu, Daniel memalingkan mukanya, lalu perlahan memutar tubuhnya untuk membelakanginya. Dalam hati, ia menertawakan Kevin dan Miranda. Apa yang Kevin lakukan pada wanita ini?
Miranda segera berpamitan pada Daniel setelah merapikan dirinya, “Terimakasih, saya permisi, Pak.”
“Hmm,” sahut Daniel.
Terdengar suara pintu dibuka dan ditutup kembali, Miranda telah meninggalkan ruangan itu. Daniel beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju ke ruang Direktur utama.
Ia melongok ke dalam ruangan Kevin, melihat pria nekat itu sedang duduk di sofa sambil memegangi kepalanya. Wajahnya memerah, tidak seperti biasanya.
“Apa yang kamu lakukan padanya? Ingat, Bro..., ini di kantor!” tegur Daniel.
“Sejak kapan kamu berani mengatur Bosmu?” Kevin balik menegurnya tanpa menatapnya.
“Aku menegurmu sebagai teman, sebagai sesama pria,” jawab Daniel santai sambil menahan tawa.
Lalu pandangannya jatuh pada tumpukan uang yang tertata di meja. Itu adalah bungkusan yang dibawa Miranda tadi, yang sempat membuatnya penasaran terhadap isinya.
“Uang apa ini?” tanya Daniel kepo.
“Itu uang yang kukirimkan pada Miranda sebagai nafkahnya, tapi dia mengembalikan nya padaku,” jawab Kevin.
Kali ini Daniel tak bisa menahan tawa. “Mantan istri masih dinafkahi? Pantas saja menolak!”
Kevin melotot pada Daniel, “Dia masih istriku. Aku ralat statusnya, karena aku ingat, aku tidak pernah menceraikannya.”
Daniel lalu bertepuk tangan, “Hebat! Sekarang kamu mempunyai dua istri, Bos!”
“Keluar kamu dari ruanganku!” bentak Kevin pada Daniel yang berani meledeknya.
Daniel segera menyingkir sambil menggelengkan kepalanya. Kini tinggal Kevin sendiri di ruangannya dan melanjutkan lamunannya tentang Miranda.
‘Beraninya kamu membangunkan macan tidur, Miranda!’ ucapnya dalam hati.
Kevin lalu tersenyum, ‘Aku semakin yakin, hanya kamu wanita yang aku cintai dan bisa membuatku hidup kembali.’
*** BERSAMBUNG***
Miranda berniat mengembalikan uang, tapi malah membuat Kevin semakin ingin mengejarnya. Bisakah Miranda lari darinya?
IKUTI TERUS KELANJUTANNYA YA...
semoga bukan lucy. ganggu banget orang itu /Smug/
istriku yg lainnn /Sob//Sob//Sob/