NovelToon NovelToon
Pengantin Paksa Sang Mafia

Pengantin Paksa Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Mafia
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mentari_Senja

Alya Maheswari, gadis sederhana dengan masa lalu kelam, dipaksa menikah dengan Arkan Virello, seorang mafia dingin dan kejam yang tak percaya cinta.

Pernikahan mereka bukan tentang cinta, melainkan perjanjian darah. Namun di balik sikap dingin Arkan, tersembunyi obsesi berbahaya. Dan di balik kepasrahan Alya, tersimpan rahasia yang bisa menghancurkan segalanya.

Ketika cinta mulai tumbuh di antara ancaman, pengkhianatan, dan dendam lama, satu pertanyaan muncul:

Apakah mereka akan saling menyelamatkan, atau justru saling menghancurkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Air Mata yang Tersembunyi

Alya berdiri di depan cermin besar di kamarnya, menatap pantulan dirinya yang terasa asing. Gaun warna hitam yang ia kenakan begitu indah, dengan potongan elegan yang membentuk tubuhnya dengan sempurna.

Rambutnya ditata rapi oleh pelayan, make up tipis menonjolkan kecantikan alaminya. Ia terlihat seperti seseorang, yang bukan dirinya. Seperti seorang wanita, yang benar-benar menjadi bagian dari dunia lain.

Tangannya mengepal pelan.

"Tersenyumlah."

Suara Arkan saat tadi siang masih terngiang di kepalanya. Alya mencoba tersenyum, tapi tatapan matanya kosong.

"Aku tidak bisa," bisiknya lirih.

Tak lama, terdengar suara ketukan pintu dari luar.

"Masuk," jawab Alya pelan.

Seorang pelayan wanita, masuk dengan kepala sedikit menunduk. "Nyonya, Tuan Arkan sudah menunggu anda di bawah."

Alya mengangguk kecil, "Baik."

Saat pintu kembali tertutup, Alya menarik napas panjang. Ia memejamkan mata sejenak, mencoba mengumpulkan sisa kekuatan yang ia punya.

Dan ia harus memainkan perannya dengan sempurna.

Tangga besar mansion itu, terasa lebih panjang dari biasanya. Setiap langkah Alya terasa berat, dan saat ia sampai bawah, ia melihatnya.

Arkan berdiri di ruang utama, mengenakan setelan hitam yang membuatnya semakin dingin tak tak tersentuh.

Tatapannya langsung beralih pada Alya. Dan untuk sesaat, Alya merasa, bahwa pria itu memang berbahaya. Bukan hanya karena kekuasaannya, tapi karena caranya menguasai ruang tanpa harus melakukan apa pun.

Arkan menatapnya dari ujung kepala hingga kaki, dan entah kenapa, itu justru membuat Alya merasa seperti sedang diuji.

"Kamu terlihat sangat pantas, saat memakai gaun itu," ucapnya.

Alya tersenyum pahit, "Bukankah itu yang kamu inginkan?" balasnya datar.

Arkan mengulurkan tangannya, Alya menatap tangan itu beberapa detik. Lalu, dengan ragu ia menyambutnya. Sentuhan itu terasa begitu dingin, dan Arkan menariknya mendekat sedikit.

"Seperti yang aku katakan sebelumnya, tersenyumlah," bisiknya pelan, hampir tidak terdengar oleh orang lain.

Alya menarik sudut bibirnya, dan ia mulai tersenyum. Meskipun senyum itu palsu, tapi cukup terlihat sempurna.

 Suasana ruang tamu utama, malam itu berubah menjadi tempat pertemuan yang elegan. Lampu-lampu kristal memantulkan cahaya hangat, meja panjang dihiasi hidangan mahal, dan beberapa orang penting terlihat sudah hadir.

Saat Arkan dan Alya mulai memasuki ruangan, semua mata langsung tertuju pada mereka. Alya merasakan tekanan itu lagi, tatapan yang penuh penilaian. Dan mungkin, itu tatapan meremehkan.

Arkan menggenggam tangannya lebih erat, seolah ia sedang mengingatkan bahwa Alya tidak boleh goyah sedikit pun.

Lalu, seseorang berdiri dari sofa, seorang wanita cantik, elegan, dan aura yang ia bawa begitu tajam.

Selena.

Tanpa perlu diperkenalkan, Alya sudah tahu siapa wanita itu. Wanita itu melangkah mendekat, dengan senyum yang terlalu sempurna untuk senyum yang tulus.

"Arkan," ucap wanita itu lembut.

Arkan berhenti, dan Alya bisa merasakan tubuh pria pria itu sedikit menegang.

"Selena," jawabnya singkat.

Wanita itu lalu mengalihkan pandangannya pada Alya. Dan senyum itu langsung berubah, meskipun masih terlihat manis, tapi kali ini ada sesuatu yang lebih dingin di dalamnya.

"Jadi... ini wanita yang kamu nikahi itu?" tanyanya pelan.

Alya menegakkan tubuhnya, senyumnya tidak goyah.

"Ya, Alya Maheswari," jawab Arkan cepat.

Selena mendekat satu langkah lagi, dan mencoba menatap Alya lebih dekat. Seolah ia sedang menemukan celah.

"Kamu cantik," ucapnya.

Alya mengangguk kecil, "Terima kasih."

"Tapi sayang sekali," ucap Selena sambil tersenyum tipis.

Alya mengernyit heran, "Apa maksudmu?"

Selena menoleh sekilas pada Arkan, lalu kembali menatap Alya. "Kamu tidak tahu, dunia seperti apa yang kamu masuki sekarang.'

Kalimat itu terdengar seperti peringatan, atau mungkin sebuah ancaman.

"Aku sedang berusaha belajar," jawab Alya tenang.

Selena tertawa kecil, "Semoga saja, kamu cepat mengerti."

Arkan akhirnya angkat bicara, "Cukup, Selena."

Nada suaranya terdengar dingin, namun tegas. Selena mengangkat kedua tangannya, seolah ia menyerah.

"Aku hanya bicara."

Arkan tidak menjawab lagi, ia menarik Alya menjauh. Tapi sebelum mereka benar-benar pergi, Selena berbisik pelan.

"Hati-hati. Orang yang berada di sini, tidak selalu seperti apa yang kamu lihat."

Langkah Alya terhenti, tapi ia tidak menoleh.

***

Acara berlangsung seperti mimpi, yang terlalu nyata. Alya tersenyum, dan ia hanya berbicara seperlunya. Menjadi 'istri sempurna' di mata semua orang.

Tapi di dalam, ia perlahan mulai lelah. Setiap tatapan terasa seperti pisau, setiap bisikan terdengar seperti penghakiman.

Dan setiap detik di sana membuatnya semakin sadar, bahwa ia benar-benar sendirian.

Arkan sesekali berbicara dengan tamu lain, tapi tangannya tidak pernah melepaskan Alya. Seolah memastikan ia tetap di tempatnya, tetap dalam kendalinya.

Di satu momen, Alya melihat Selena dari kejauhan. Wanita itu sedang menatap mereka, tidak tersenyum, Selena hanya menatapnya.

Dan entah kenapa, Alya merasa seperti sedang diperingatkan, atau ditantang.

Beberapa saat kemudian, Alya akhirnya menemukan kesempatan untuk menjauh.

"Hanya sebentar," katanya pada Arkan.

Pria itu menatapnya, lalu mengangguk sedikit. "Jangan lama-lama."

Alya berjalan cepat menuju balkon, yang berada di sisi ruangan. Begitu pintu di belakangnya tertutup, ia menarik napas panjang.

Udara malam menyambutnya, lebih dingin tapi juga lebih jujur. Alya memegang pagar balkon, ia menundukkan wajahnya. Tubuhnya sedikit gemetar, dan untuk pertama kalinya, malam itu senyumnya benar-benar hilang.

Air mata mulai menggenang, ia mencoba menahannya. Tapi gagal, satu tetes jatuh membasahi pipinya.

"Aku... aku cape dengan semua ini," bisiknya lirih.

Semua terlalu cepat dan terlalu berat, tapi Alya tidak punya pilihan.

"Alya?"

Suara itu membuatnya terkejut, ia cepat menghapus air matanya, dan Alya langsung menoleh.

Selena berdiri di ambang pintu balkon, tatapanya sekarang terlihat berbeda.

"Apa kamu menangis?" tanya Selena.

Alya menggeleng cepat, "Tidak."

"Tidak perlu berpura-pura di depanku," ucapnya sambil melangkah mendekat.

Alya menatapnya tajam, "Aku tidak berpura-pura."

"Kamu mengingatkanku pada diriku dulu."

"Maksudmu?"

Selena bersandar di pagar balkon, menatap ke depan. "Aku juga pernah berpikir, bahwa aku bisa bertahan di sisi Arkan."

Deg.

"Lalu?"

Selena tertawa kecil, kali ini terdengar pahit. "Tidak ada yang benar-benar 'bertahan' dengannya, kita hanya menyesuaikan diri, atau kita akan hancur dengan sendirinya."

Alya menggenggam pagar lebih erat, "Jika kamu berpikir aku akan hancur, maka kamu salah."

"Kita lihat saja," ucapnya sambil menoleh.

"Apa kamu masih mencintainya?" tanya Alya tiba-tiba.

Selena tersenyum pahit, "Cinta? Itu kata yang terlalu lembut untuk seorang Arkan."

"Jadi?"

Selena menatap ke arah dalam, di mana Arkan berada. "Lebih tepatnya sebuah obsesi, bukan cinta."

Alya menahan napas, dan untuk pertama kalinya, ia merasa takut. Bukan hanya pada Arkan, tapi pada duni yang ia masuki. Dan takut pada dirinya sendiri.

Pintu balkon terbuka lagi, Arkan muncul dari balik pintu. Tatapannya langsung tertuju pada mereka, dan suasana langsung berubah.

"Masuk," ucapnya dingin pada Alya.

Alya hanya mengangguk, tapi sebelum masuk, ia sempat melirik Selena. Wanita itu hanya tersenyum tipis, seolah tahu sesuatu yang tidak diketahui Alya.

Malam itu berakhir tanpa insiden besar, tapi sesuatu telah berubah. Saat mereka kembali ke kamar, Alya berdiri diam di tengah ruangan, Arkan melepas jasnya tanpa berkata apa-apa.

Lalu tak lama Arkan mulai bicara, "Kenapa kamu menangis?"

"A-aku hanya lelah."

Arkan menatapnya dalam, dan tatapan itu tidak hanya mengintimidasi. Tapi juga seolah sedang membaca sesuatu.

"Jangan tunjukkan kelemahanmu di depan orang lain."

Alya menelan ludah, "Itu bukan kelemahan."

"Itu sebuah celah, Alya," jawab Arkan cepat.

Alya mengangkat wajahnya, "Lalu aku harus apa? Aku bukan sebuah mesin yang tanpa perasaan."

Arkan tidak langsung menjawab, ia mendekat perlahan. Lalu berhenti tepat di depannya.

"Jadilah cukup kuat, untuk menyembunyikan semuanya."

Alya menatapnya, marah, lelah, dan terluka.

"Kalau begitu, jangan harap aku akan benar-benar menjadi bagian dari dunia ini."

Arkan menatapnya dingin, "Itu tidak perlu. Karena cepat atau lambat, dunia ini akan memaksamu."

Alya terdiam, dan kali ini ia tidak punya jawaban.

Malam semakin larut, dan di balik keheningan itu, Alya belajar satu hal. Air mata bukan lagi sekedar kesedihan, tapi sesuatu yang harus disembunyikan.

Di dunia Arkan Virello, air mata adalah kelemahan. Dan kelemahan, tidak akan pernah dimaafkan.

1
Vie
lanjut kak.... makin seru... 👍👍👍👍
Vie
lanjut kak.....
Vie
lanjut kak...makin seru..... 👍👍👍
Vie
lanjut kak.... makin seru... 👍👍👍👍
Vie
ya makanya kamu jangan keluar rumah sudah tau tidak aman kan, lebih baik dim manis didalam, daripada celaka kan...
Vie
seru juga ceritanya, gak ngebosenin, menarik..... penasaran sama lanjutanya tetap semangat kak, lanjutkan ceritanya sampai tamat.... 👍🏻👍🏻🤭👍🏻
Vie
nah itu kamu udah tahu kan alya,gak usah diperjelas lagi, daripada nanti ujung2nya berakhir bertengkar, saling menyalahkan dn saling tidak mau mengalah.... 🤭🤭🤭
checangel_
Sampai segitunya 🤧
checangel_
Jauh darimu terasa hampa, tapi membuatmu tetap berada di sampingku membuatku lega ~ Arkan said (dalam hati) 🤭
checangel_
Ada kalanya dunia harus bersuara membela keadilan itu, bukan?🤧
checangel_
Dan tak semudah itu juga untuk membalikkan kertas yang sudah bertinta /Hey/
checangel_
Yang penting bukan imannya ya Alya/Facepalm/
checangel_
Betul, apalagi kalau berpikirnya sudah sampai ke perasaan, bukan pilihan lagi yang menyapa, tapi antara keyakinan dan keraguan yang menggema 🤭
checangel_: Bisa yuk
total 2 replies
checangel_
Cieee🤭
checangel_: Kabur ah 🏃🏻‍♀️🤣
total 2 replies
Vie
kamu cemburu tau... cemburu berarti tanda cinta ada dihatimu, walaupun kamu menepis perasaan itu, tapi Kamu tidak bisa menyangkalnya. jujurlah pada hatimu sendiri arkan.... 🤭🤭🤭🤭
Vie
ya.... kamu gak salah kok.... alaminya seorang manusia hal menyukai lawan jenis adalah manusiawi karena itu berarti kamu masih memiliki hati apalagi dia istri mu sendiri, sudah seharusnya kamu jaga dia dan kamu lindungi serta bahagiakan dia.... tapi jangan biarkan perasaan itu menjadi sebuah kelemahan mu juga, tapi harus Kamu jadikan kekuatanmu dalam melindungi apa yang menjadi milikmu......
Vie
nah loh ga bisa ngomong kan.. padahal kamu udah ada sedikit rasa sama alya.... ya mungkin karena sekarang dia adalah istri mu yang sudah seharusnya kamu bertanggung jawab dan juga sudah seharusnya kamu jaga dia dan perlakuan dia seperti layaknya seorang istri....
Lovelynzeaa🌷
SEMANGAT THORR🥰🙌
Lovelynzeaa🌷
coba bikin lanjut S2 thorr gantung soalny siapa yg mau balas dendam
Lovelynzeaa🌷: okee kak, yg novel baru kakak harus bnyk" up ya kak🙏☺️
total 6 replies
Lovelynzeaa🌷
Thor ini end nya kaya end sebelah nggak trauma banget soalny😭
Leo Draven: Rahasia dong/Shy/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!