NovelToon NovelToon
Kontrak Sandiwara Sang Pewaris Tunggal

Kontrak Sandiwara Sang Pewaris Tunggal

Status: sedang berlangsung
Popularitas:467
Nilai: 5
Nama Author: Ruang_Magenta

Menikahi pria paling berkuasa di kota ini adalah mimpi buruk bagi semua orang, tapi bagi Nara, ini adalah tambang emas untuk novelnya."

​Nara adalah seorang penulis berbakat yang sedang terjebak dalam krisis kreatif. Demi mendapatkan riset nyata untuk novel terbarunya, ia nekat masuk ke dalam kehidupan Aris, sang pewaris tunggal kerajaan bisnis yang dikenal dingin dan tak tersentuh.

​Sebuah tawaran pernikahan kontrak selama satu tahun menjadi pintu masuk yang sempurna bagi Nara. Di mata dunia, Nara adalah istri yang patuh dan penuh cinta. Namun di balik pintu kamar, Nara diam-diam mencatat setiap detail perilaku Aris—mulai dari cara pria itu menatapnya dengan tajam hingga sisi rapuh yang tak pernah diperlihatkan kepada siapa pun—lalu menerbitkannya sebagai bab baru di aplikasi novel yang viral.

​Keadaan menjadi rumit ketika novel fiksi Nara meledak di pasaran dan para pembaca mulai menyadari kemiripan karakter utamanya dengan sang CEO legendaris. Di sisi lain, Aris mulai merasa ada

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruang_Magenta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Balik Suara Tangis dan Tawa

Kata orang, satu bulan pertama setelah melahirkan itu rasanya seperti naik roller coaster tanpa sabuk pengaman di tengah kegelapan malam. Kamu tidak pernah tahu kapan harus menanjak, kapan harus menukik tajam, dan kapan tiba-tiba ada "ledakan" popok di jam tiga pagi yang membuatmu harus terjaga dengan mata sepet. Studio menulis saya yang biasanya wangi lilin aroma terapi kopi dan lavender, kini bertambah aromanya: minyak telon dan susu formula.

Tapi anehnya, saya tidak mengeluh. Sama sekali tidak.

Malam ini, jam dinding di ruang tengah apartemen kami sudah menunjuk ke angka dua pagi. Suasana luar jendela sangat sunyi, hanya ada lampu-lampu jalanan Jakarta yang berkilau seperti sisa-sisa pesta yang enggan bubar. Di atas sofa, Bimo sedang duduk dengan mata setengah terpejam, tapi tangannya tetap konsisten menepuk-nepuk bokong kecil Laksamana yang sedang telungkup di dadanya.

"Bim, biar aku saja yang pegang. Kamu besok ada rapat pagi dengan tim audit yayasan, kan?" bisik saya sambil berjalan mendekat, membawa secangkir teh chamomile hangat untuknya.

Bimo membuka matanya sedikit, mencoba tersenyum meskipun wajahnya sudah kelihatan sangat lelah. "Nggak apa-apa, Nara. Ini bagian dari kesepakatan tim kita, ingat? Kamu yang bagian produksi ASI dan nulis draf, aku bagian manajemen konflik malam hari. Lagipula, dengerin detak jantung anak ini di dadaku itu... jauh lebih menenangkan daripada dengerin laporan grafik saham."

Saya duduk di sebelahnya, menyandarkan kepala di bahunya yang kokoh. Laksamana menggeliat kecil, mengeluarkan suara lenguhan khas bayi yang membuat hati kami berdua meleleh seketika. Pria di samping saya ini benar-benar pembelajar yang cepat. Siapa yang menyangka mantan bos besar yang dulu kalau bicara selalu memakai intonasi perintah, sekarang bisa memakai suara bernada tinggi yang lucu hanya untuk membujuk bayinya agar berhenti menangis?

Gelar Baru untuk Ayah Hendra

Keesokan siangnya, apartemen kami mendadak ramai. Ayah Hendra datang tidak sendirian, beliau ditemani oleh Panji yang membawa dua kantong besar berisi belanjaan pasar. Ayah Hendra rupanya sedang dalam misi besar: memasak sup ayam kampung herbal khusus untuk memperlancar ASI saya.

"Hendra, jangan terlalu banyak kasih jahe, nanti rasanya terlalu pedas buat Nara," teriak Bimo dari arah dapur, mencoba ikut campur.

"Eh, Bimo, urusan dapur ini biar jadi urusan kakek-kakek yang sudah kenyang makan asam garam. Kamu urus saja itu anakmu yang mulai mengisap jarinya sendiri," balas Ayah Hendra sambil tertawa, tangannya dengan cekatan memotong wortel.

Melihat pemandangan itu dari ambang pintu kamar, saya merasakan kebahagiaan yang membuncah. Ayah Hendra sekarang punya panggilan baru yang sangat beliau banggakan: Eyang Hendra. Beliau seperti mendapatkan perpanjangan kontrak hidup dari semesta. Wajahnya yang dulu sering terlihat murung dan penuh rasa bersalah, kini selalu cerah dan dipenuhi senyuman setiap kali menatap Laksamana.

Panji berjalan mendekati saya sambil menyerahkan sebuah map tipis. "Mbak Nara, ini ada beberapa berkas dari perpustakaan daerah di Purwokerto. Program 'Literasi Adrian' gelombang pertama sudah selesai dibangun. Mereka mengirimkan foto-foto anak-anak yang sedang membaca di sana. Saya pikir Mbak Nara perlu lihat ini untuk menambah semangat menulis."

Iya, kami memang tidak menggunakan nama "Wijaya" untuk program perpustakaan itu. Bimo sendiri yang meminta agar nama "Adrian" yang diposisikan di depan. Dia ingin dunia tahu bahwa nama jurnalis yang dulu coba dilenyapkan oleh keluarganya, kini justru menjadi obor yang menerangi jalan ribuan anak untuk melihat dunia luar melalui buku.

Saya membuka foto-foto itu. Di sana, ada sebuah ruangan kecil bercat hijau muda dengan rak-rak buku kayu yang rapi. Di atas pintunya tertera papan nama kayu berukir: Pondok Baca Adrian. Air mata saya hampir menetes melihat anak-anak kecil dengan baju kaos sederhana duduk lesehan sambil memegang buku cerita.

"Terima kasih ya, Panji. Kamu selalu bisa diandalkan," kata saya dengan tulus.

"Sama-sama, Mbak Nara. Ini adalah pekerjaan paling menyenangkan yang pernah saya lakukan selama bekerja dengan keluarga ini," jawab Panji sambil tersenyum tulus.

Halaman yang Terbuka

Sore harinya, setelah semua tamu pulang dan Laksamana sedang tidur pulas di boks bayinya, saya memutuskan untuk masuk ke studio sebentar. Saya menyalakan laptop, menatap kursor yang berkedip. Sudah hampir sebulan saya tidak menyentuh naskah memoar saya.

Jemari saya agak kaku saat pertama kali menyentuh papan ketik, tapi begitu ingatan tentang perjalanan kami mengalir, kata-kata itu keluar seperti air bah yang tidak bisa dibendung.

Bimo masuk ke studio dengan langkah pelan agar tidak mengejutkan saya. Dia berdiri di belakang saya, meletakkan kedua tangannya di bahu saya, memberikan pijatan lembut yang langsung membuat otot-otot saya yang tegang menjadi rileks.

"Naskahmu sudah sampai mana?" tanyanya lembut, matanya ikut membaca tulisan di layar.

"Sampai di bagian di mana mantan CEO Wijaya Group berubah jadi ahli popok malam hari," goda saya tanpa menoleh.

Bimo terkekeh, mencium puncak kepala saya yang beraroma minyak telon anak kami. "Nggak apa-apa. Masuk koran bisnis sebagai pengusaha sukses itu biasa. Tapi masuk ke dalam buku karangan Nara Adrian sebagai ayah terbaik? Itu baru pencapaian seumur hidup."

Kami terdiam sejenak, menikmati kebersamaan di dalam studio yang kini terasa jauh lebih hangat. Di luar, langit Jakarta mulai berubah warna menjadi ungu kemerahan, menandakan senja telah tiba.

"Nara," panggil Bimo pelan.

"Ya?"

"Tadi siang aku sempat membuka kotak kayu dari Tante Andini lagi. Aku mendengarkan salah satu kaset rekaman suara ayahmu. Ada satu kalimat yang terus berputar di kepalaku."

Saya menoleh, menatap matanya yang kini terlihat sangat dalam. "Kalimat apa, Bim?"

"Ayahmu bilang... 'Tinta yang paling berharga bukanlah tinta yang kita gunakan untuk menulis di atas kertas, tapi tinta yang kita tinggalkan di dalam hati orang-orang yang kita cintai.' Aku rasa, kita sudah berhasil melakukan itu, Nara. Melalui yayasan, melalui perpustakaan, dan yang paling penting... melalui Laksamana."

Saya menggenggam tangannya yang berada di bahu saya. Kalimat Adrian terasa seperti sebuah pelukan hangat dari dimensi lain, sebuah konfirmasi bahwa semua langkah yang kami ambil—meskipun penuh dengan luka dan air mata di awalnya—tidak ada yang sia-sia.

Matahari yang Tidak Lagi Menakutkan

Malam kembali menyapa, dan siklus hidup kami yang baru kembali berputar. Laksamana terbangun lagi, menangis kecil karena lapar. Tapi malam ini, tidak ada rasa lelah yang membebani. Kami bergerak bersama, berbagi tugas dengan tawa kecil yang tertahan agar tidak membuat malam menjadi terlalu bising.

Sembari menyusui Laksamana di kursi goyang, saya menatap ke arah meja kerja saya. Laptop saya masih menyala, menampilkan paragraf-paragraf yang baru saja saya selesaikan.

Cerita tentang "Istri Kontrak" mungkin adalah awal dari segalanya. Sebuah plot yang awalnya terasa seperti jebakan takdir yang kejam. Tapi malam ini, saat saya melihat Bimo yang sedang sibuk menyiapkan air hangat untuk menyeka tubuh Laksamana sambil bersenandung kecil, saya tahu bahwa kontrak itu hanyalah sebuah cara semesta untuk mempertemukan dua jiwa yang tersesat.

Kami bukan lagi karakter yang digerakkan oleh ketakutan atau dendam. Kami adalah penulis dari hidup kami sendiri. Dan untuk bab-bab selanjutnya yang masih kosong, saya tahu kami akan mengisinya dengan tinta yang penuh dengan tawa, pertumbuhan, dan cinta yang tidak akan pernah habis.

Laksamana tertidur kembali dengan senyum kecil di sudut bibirnya yang mungil, seolah-olah dia sedang memimpikan masa depan yang cerah yang sudah kami siapkan untuknya. Saya mengecup pipinya yang lembut, lalu melirik ke arah Bimo yang juga sudah mulai mengantuk di sofa.

"Ayo tidur, Bim. Bab hari ini sudah selesai," bisik saya.

Bimo tersenyum, mematikan lampu studio, dan menuntun kami kembali ke kamar. Kegelapan malam tidak lagi terasa mengancam, karena di dalam hati kami, cahaya itu sudah menyala dan tidak akan pernah padam lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!