Bagi Raka Aditya, menyendiri adalah cara terbaik untuk bertahan hidup dari tekanan dunia yang melelahkan. Ia merasa asing dan tak dimengerti, hingga akhirnya beberapa orang datang menawarkan persahabatan yang tulus. Perlahan, cara pandang Raka mulai berubah. Ia pun belajar bahwa untuk menemukan tempatnya di dunia, ia harus lebih dulu belajar menerima dirinya sendiri dan orang lain apa adanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RS Star, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 9
Melewati malam dengan tidur nyenyak dan pagi pun tiba, aku bersiap untuk sekolah dan berangkat dengan berjalan kaki. Tidak butuh waktu lama untukku sampai di depan gerbang sekolah. Di dalam kelas menjelang pelajaran pertama, aku mulai memikirkan kata apa yang harus aku ucapkan ketika berhadapan dengan Luna. Aku ingin pembicaraan itu berjalan natural dan mengalir dengan indah. Ini hanya sebuah pengulangan saja karena di kehidupan sebelumnya aku sudah pernah berbicara dengannya.
Aku mengikuti pelajaran pertama, kedua, dan ketiga hingga akhirnya jam istirahat tiba. Bel sekolah berdenting, lalu guru keluar dari kelas. Teman-teman secara tertib juga keluar meski tidak semuanya; ada yang memilih untuk duduk di kelas memakan bekal yang mereka bawa dari rumah. Semua berjalan lancar, tetapi pada akhirnya aku menemukan alasan kenapa Maya tersenyum aneh kemarin. Ya, itu karena ...
Karena ...
Karenaaa ...
Dalam hati aku berteriak keras meronta-ronta, "Kok bisa aku memilih jam istirahat buat bicara sama Luna?!!" Saat istirahat sekolah, Luna terlihat makan bersama teman-temannya yang berjumlah tiga orang siswi di dalam kelas!! Ya iyalah!!! Yang sendirian di jam istirahat seperti ini, kan, cuma aku seorang!! Itu alasan di balik senyum aneh Maya padaku kemarin. Dia juga menyebutkan kata ‘Pemberani banget’ saat itu karena Maya tahu hal ini yang akan terjadi!!
Mengajak bicara Luna yang sedang makan siang bersama tiga temannya secara tiba-tiba itu terdengar tidak masuk akal dan akan sulit untuk mencari momentum. Ini terlalu sulit untuk dilakukan oleh serigala penyendiri macam aku!!
Tolooong!!!
Eeh ... tapi tunggu dulu. Aku kepikiran ide sebuah kata-kata seperti, "Aku sudah berusaha mengajaknya mengobrol, tapi sayang aku gagal," maka Maya tidak bakal tahu apa pun kalau aku melaporkannya seperti itu, kan? Itu benar!! Aku tidak perlu memaksakan diri untuk berbicara sama Luna seperti orang bodoh, dan aku tidak perlu mengkhawatirkan apa pun soal ini.
Aku berdiri dari dudukku hendak meninggalkan kelas dengan perasaan lega dan menghilangkan seluruh beban di hati. Aku ingin pergi ke kantin dan membeli sesuatu untuk dimakan, lalu memakannya di kelas sambil membaca manga yang sudah aku persiapkan dari rumah.
Tapi saat hendak melangkah menuju pintu keluar, aku melihat Maya berdiri di depan pintu kelas yang terbuka itu sedang mengobrol dengan seseorang. Matanya menatapku begitu tajam dan aku yakin dia adalah seorang pembunuh bayaran profesional. Tanpa kata apa pun, aku tahu dia akan langsung membunuhku saat aku meninggalkan kelas tanpa bicara dengan Luna.
Mengeriiikaaan ...!!!
Saat itu aku kembali teringat kata-kata Maya sebelum kami berpisah di kafe kemarin. Dia bilang, “Nanti aku lihat dari depan kelasmu untuk memeriksa keadaan,” begitulah katanya. Sekarang aku dihadapkan pada dua pilihan yang sulit. Luna di depan sedangkan Maya di belakang ... Ini pasti plot cerita dalam sebuah anime, manga, atau bahkan novel komedi di mana aku harus mengalami hal memalukan agar ceritanya mengalami kemajuan ...
Aku menarik napas panjang dan aku kumpulkan seluruh keberanian yang kumiliki sepanjang hidup. Ini akan menjadi pertaruhan hidup mati untukku. Aku melangkah dengan mantap untuk mendekati Luna dan ketiga temannya yang sedang makan bersama di bangku mereka. Setelah aku merasa cukup dekat untuk berbicara padanya, kata pertama yang kupikirkan seketika saat itu adalah ...
“Hai, Luna ...,” ucapku menyapa untuk menarik perhatiannya.
...Luna pun tersenyum sambil menoleh menatapku yang berdiri di dekatnya...
“Iya, Raka. Ada yang bisa aku bantu?” tanyanya begitu ramah. Suaranya terdengar lembut, meski aku merasa dia tipe cewek yang kuat secara personal dan bukan tipe manja.
Aku terdiam menatapnya dengan senyum ... senyum dan diam saja. Mata kami saling bertemu. Bibir senyum Luna yang semula terbuka perlahan menutup, karena sepertinya dia merasa giginya sudah mulai mengering. Namun, aku masih juga tidak mengucapkan sepatah kata pun setelah menyapanya tadi. Otakku berputar keras, ‘Apa ya topik pembicaraan yang bisa aku katakan di saat seperti ini?’ Meski begitu, aku belum juga mendapatkan ide.
Keringat mulai membasahi dahi dan punggungku. Begitu terasa air mengalir perlahan dan menumpuk di pinggang karena terikat oleh celana dan sabuk. Pada titik ini, aku semakin yakin kalau serigala penyendiri sepertiku harus menyiapkan rencana terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk menyapa seseorang. Aku tidak bisa membuat topik pembicaraan spontan tanpa rencana apa pun.
“Y ... yaah ... maaf mengganggu waktunya. Bolehkah saya meminta sedikit waktu Anda yang berharga itu?” pintaku. Hanya itu yang tiba-tiba terpikirkan setelah beberapa saat aku dan Luna saling tatap dalam diam.
Aku berharap Luna akan mengatakan, “Maaf, aku sibuk,” setelah aku menggantungnya beberapa saat. Bagaimanapun, disapa orang yang tidak terlalu dikenal lalu didiamkan dalam kurun waktu yang cukup lama itu pasti menyebalkan, bukan? Tapi benar kata Maya kalau Luna itu tipe cewek baik hati, dia malah berkata ...
“Aku enggak sibuk, kok. Ngomong-ngomong, kenapa gaya bicaramu kayak sales mau promosi, sih?” ucap Luna.
Dalam hati aku langsung berteriak, ‘Sialan kau, Luna!!! Kenapa enggak sekali ini saja jadi orang jahat dan tolak permintaanku untuk mengobrol?!!!’ Andai aku bisa mengatakan itu dan mengakhiri semua ini. Tatapan tiga teman Luna sudah semakin tidak enak menatapku!
“Naah!! Saya ada pertanyaan tentang apakah kita akan pindah kelas di jam pelajaran berikutnya?” tanyaku saat tiba-tiba muncul ide di dalam kepala.
Seketika senyum Luna hilang dan dia menatapku seolah-olah aku ini orang aneh yang perlu segera ditimpuk pakai kotak makan siang di atas meja.
“Kamu cuma mau cari topik obrolan, ya? Barusan aku dengar kamu bilang ‘nah’. Tapi terlepas dari itu, kita enggak pindah kelas setelah jam istirahat, kok,” jawab Luna dengan nada kebingungan. Aku pun bingung sebenarnya ngapain juga aku harus berdiri di sini.
“Ah, seperti itu rupanya. Baiklah. Sepertinya ada yang salah memberikan informasi kepada saya,” timpalku sambil menganggukkan belakang kepala beberapa kali.
“Aku enggak mengumumkan apa-apa, kok. Siapa yang kasih info bohong itu? Apa cuma itu saja keperluanmu?” tanya Luna semakin keheranan. Aku juga heran sama diriku sendiri yang harus mengajakmu bicara ....
“Iya, aku hargai jawabanmu dan terima kasih atas waktunya,” jawabku lalu segera berbalik untuk meninggalkan kelas menuju ke kantin.
Aku sudah tidak peduli lagi bagaimana respons Luna dan ketiga temannya, karena aku yakin itu adalah hal paling memalukan yang terjadi di awal semester, melebihi kasus Reza pada hari pertamanya sekolah yang tidak sengaja menginjak eek kucing.
Aku berjalan keluar kelas sambil mengusap sisa-sisa keringat yang masih tersisa di dahi. Aku bangga pada diriku sendiri dan membatin dalam hati, ‘Fyuh ... aku yang terbaik. Saat ini meteran kejantananku pasti ada di titik puncaknya!’
...Bip... Biiiip...
Terdengar bunyi dering tanda pesan masuk. Aku mengeluarkan ponsel dari dalam saku celana dan melihat ada pesan dari Maya yang bertuliskan: ‘Rooftop sekarang juga’. Aku menghela napas dan mengalihkan tujuanku menuju rooftop. Aku rasa setelah mendengar semua kekacauan tadi, pada akhirnya Maya akan berhenti menggangguku dan menyerah pada keinginannya. Aku yakin dia akan mengatakan, “Itu adalah jalan buntu.”
Di rooftop sekolah, aku melihat Maya sudah berdiri di sana sambil memegang minuman kaleng yang telah terbuka. Tatapannya tajam menatapku, raut wajahnya menunjukkan seberapa marahnya dia, dan lebih dari itu, perlahan tapi pasti tangan yang memegang kaleng minuman terlihat meremasnya makin kuat.
“Kamu tahu kenapa aku memanggilmu ke sini?” tanya Maya datar. Aku sudah tahu apa yang akan dia katakan, tapi yah ... mau bagaimana lagi, kan?
“Rasanya aku sudah pernah mendengar kalimat ini kemarin, jadi apa aku mengalami perjalanan waktu lagi? Ha ha ha,” jawabku dengan lelucon. Maya membanting kaleng minuman itu sangat keras sampai begitu terasa kalau dia sedang sangat emosi.
“Rakaaa ...,” Panggilannya terdengar tenang, datar, dan ada senyuman di raut wajahnya. Tapi semua orang tahu kalau tingkat amarah Maya sudah sampai di level dewa. Aku gemetaran melihatnya seperti itu.
“Maafkan aku!!! Aku sudah merenungkan performaku dan aku menyesali itu!!!” Penuh penyesalan aku mengucapkannya meski dengan panik. Aku berharap dia memberikan ampunan kepada serigala penyendiri ini.
“Menurutku kamu bohong, tapi jangan-jangan kamu mengira kalau kamu sudah berjuang dengan maksimal, ya?” tanya Maya masih dengan nada bicara dan ekspresi wajah yang sama.
Dalam hati aku hanya bisa berteriak, ‘Toloooong!!!’ Sebenarnya aku sudah membayangkan hal ini akan terjadi.
“Ti ... tidak!! Menurutku yang tadi itu sangat buruk!!! Tapi bisa tolong dengarkan analisis performaku dulu, Maya?” pintaku padanya. Maya pun menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya dengan cukup keras.
“Silakan,” ketus dia menjawab. Aku sedikit lega mendengar emosinya sudah sedikit menurun.
“Pada akhirnya memulai percakapan hanya untuk mendapatkan seorang teman itu adalah tindakan yang enggak bisa dibenarkan. Hal terpenting dalam hubungan pertemanan itu adalah hubungan timbal balik, ya, kan?” jelasku. Maya mengerutkan dahinya dan menatapku dengan heran.
“Kamu bercanda? Kamu membicarakan arti pertemanan? Kamu, kan, enggak punya teman,” timpal Maya tanpa beban. Aku cukup kesal mendengarnya mengatakan hal itu meski itu kenyataan yang benar.
“Ini bukan lawakan!! Tapi memang ide ini sangat buruk buatku, jadi izinkan aku untuk mundur dari rencana yang ini dan berganti ke rencana lain,” pintaku mencoba memberi pengertian. Namun, dari raut wajah Maya, aku tahu dia tidak percaya dengan omonganku. Tapi karena dia hanya diam menatapku, maka aku anggap dia setuju untuk mendengar ide dariku.
“Nah, jadi rencana yang aku maksud adalah aku punya sesuatu yang lebih penting daripada mencari seorang teman. Aku enggak mau menyia-nyiakan waktu untuk mencari sesuatu yang bukan jadi prioritasku di kehidupan kedua,” aku melanjutkan perkataanku sebelumnya. Aku berharap Maya mau mengerti dan mendukungku kali ini.
“Emang apa yang lebih penting dari memiliki seorang teman? Berani banget kamu melontarkan pemikiran seperti itu di saat kamu bahkan enggak bisa punya satu pun teman,” sindirnya. Entah itu sindiran atau hanya ucapan spontan, tapi rasanya begitu pedas di telingaku.
“Kita enggak bisa lanjut kalau kamu terus-terusan berbicara tentang pertemanan semacam itu!! Jadi tolonglah,” timpalku dengan sedikit bentakan. Ketika itu Maya melipat kedua tangannya dan terlihat kalau dia mencoba untuk mendengarkan aku kali ini.
“Yah ... hmm ... jadi aku mencoba untuk menatap dari sudut pandang yang lebih luas,” ucapku mencoba untuk menjelaskan bahwa ada cara lain untukku menikmati kehidupan kedua masa SMA tanpa harus membuat lingkaran pertemanan dengan seseorang.
“Sudut pandang yang lebih luas itu seperti apa?” tanya Maya terdengar penasaran. Aku rasa aku punya kesempatan untuk mengalihkan perhatiannya.
“Tentu saja aku ingin jadi seorang penulis novel terkenal,” jawabku, dan seketika aku langsung tersadar aku baru saja membongkar rahasia terbesarku! Aku malu kalau sampai Maya tertarik dan memintaku untuk menunjukkan hasil karya yang sudah pernah aku ciptakan.
“Ooh~ jadi kamu sudah menulis novel?” tanyanya terdengar terkejut. Aku juga heran dengan respons yang dia berikan itu.
“Apa maksudnya kamu ...,” Belum juga aku selesai berkata, Maya meletakkan dua jarinya di dagu seperti dia sedang berpikir keras.
“Begitu ya ... aku enggak sangka hobi menulismu sudah ada sejak kelas satu SMA,” agak bergumam Maya mengucapkannya meski aku tetap bisa mendengarnya dengan jelas. Kembali senyumnya terangkat seolah dia memikirkan sesuatu yang lucu atau apa pun yang mungkin tidak aku mengerti.
Melihat ekspresi wajah Maya saat itu, aku pikir dia akan menertawakan hobiku. Namun aneh, karena aku juga melihat rona merah di pipinya. Apakah itu sebuah tatapan bahagia atas sebuah nostalgia? Aku tidak bisa mengerti ekspresi apa yang sedang ditunjukkan Maya saat ini. Menebak isi kepalanya pun aku tidak mampu ... Apa dia memiliki rahasia di belakangku?