Hati Naomi hancur saat suaminya Zayn, tega menceraikannya karena dirinya melahirkan bayi sumbing. Padahal Zayn dan keluarganya adalah keluarga dokter, mereka harusnya lebih mengerti dari orang lain.
Setelah pulih dari pasca persalinan, Naomi diusir dari keluarga Hartanto. Ia mengurus bayinya yang sumbing sendirian. Naomi bekerja banting tulang demi kebutuhan anaknya. Seiring berjalannya waktu, bayi Naomi yang diberi nama Davin itu terus tumbuh, ia bahkan mendapatkan operasi yang membuatnya bisa tumbuh seperti anak normal lain. Bibir Davin tak lagi sumbing, dia bahkan terbilang punya wajah tampan. Selain itu Davin juga menjadi anak yang sangat jenius! Mendapat banyak prestasi dan selalu membuat Naomi bangga. Saat itulah Zayn tiba-tiba kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 25 - Operasi Kedua
Hari operasi kedua Davin akhirnya tiba. Pagi itu langit Jakarta masih abu-abu ketika Naomi duduk di ruang tunggu rumah sakit sambil memeluk anaknya erat. Davin yang kini hampir berusia satu tahun tampak mengantuk di pundaknya. Sesekali bayi kecil itu mengusap wajah ibunya dengan tangan mungilnya.
Naomi tersenyum tipis, meski matanya jelas menyimpan ketegangan.
“Kali ini lebih lama ya operasinya?” tanyanya pada Junie yang berdiri di depan mereka sambil memeriksa berkas.
Junie mengangguk kecil. “Iya. Operasi langit-langit memang lebih kompleks dibanding bibir.”
Naomi menarik napas perlahan.
“Tapi kamu nggak perlu takut,” lanjut Junie tenang. “Kondisi Davin bagus. Kita sudah siap.”
Naomi mengangguk lagi. Anehnya, kali ini dia memang tidak sehancur dulu. Tetap takut, tentu saja. Tapi tidak histeris. Karena sekarang dia percaya.
Percaya pada Junie. Percaya pada tim medis, dan percaya bahwa Davin sudah jauh lebih kuat dibanding dulu.
Saat perawat datang membawa Davin menuju ruang operasi, Naomi mencium kening anaknya lama.
“Anak Mama hebat ya…” bisiknya lirih.
Davin malah tertawa kecil tanpa tahu apa yang akan terjadi.
Pintu ruang operasi tertutup perlahan. Seperti sebelumnya, Naomi hanya bisa menunggu. Namun kali ini waktu terasa lebih lambat.
Tiga jam Naomi duduk diam di kursi tunggu sambil menggenggam jemarinya sendiri kuat-kuat. Sesekali dia berdiri. Jalan sebentar. Duduk lagi.
Jihan yang datang sejam kemudian langsung duduk di sebelahnya sambil membawa dua botol air mineral.
“Minum dulu.”
Naomi menggeleng pelan.
“Na…”
“Aku nggak haus.”
Padahal bibirnya pucat.
Jihan menghela napas kecil. “Kamu jangan tumbang juga.”
Naomi hanya menatap pintu ruang operasi tanpa berkedip. “Lama banget…” keluhnya.
Jihan menepuk pelan pundaknya. “Karena operasinya detail.”
Naomi menunduk. Meski lebih tenang dari operasi pertama, tetap saja rasa takut itu ada. Sangat besar malah. Terutama ketika membayangkan Davin kecil berada di bawah lampu operasi selama berjam-jam.
“Aku takut dia kesakitan…” ucap Naomi.
Jihan menatap sahabatnya beberapa detik. Lalu tersenyum kecil. “Kalau ada orang yang bisa bikin operasi itu berhasil, ya Junie.”
Naomi menoleh.
“Serius,” lanjut Jihan. “Dokter itu perfeksionis banget.”
Naomi terdiam.
“Dan dia sayang sama Davin.”
Kalimat itu membuat Naomi sedikit terpaku. Sementara Jihan cuma menyeringai tipis sambil minum air.
Empat jam kemudian, akhirnya pintu ruang operasi terbuka.
Naomi langsung berdiri terlalu cepat sampai hampir oleng. Junie keluar masih memakai penutup kepala operasi. Wajahnya terlihat lelah, tapi matanya tenang.
Naomi langsung mendekat. “Dok?”
Beberapa detik Junie diam dulu. Lalu akhirnya tersenyum kecil. “Operasinya berhasil.”
Napas Naomi langsung terlepas begitu saja. Lututnya sampai lemas.
“Syukurlah…” suaranya pecah.
Matanya langsung dipenuhi air mata lagi. Namun kali ini bukan tangisan panik. Lebih seperti rasa syukur yang begitu besar.
Junie melanjutkan penjelasan soal kondisi Davin. Operasi berjalan lancar. Tidak ada komplikasi besar. Namun proses pemulihannya akan cukup berat karena area langit-langit mulut sangat sensitif.
“Kita harus benar-benar jaga jahitannya,” kata Junie serius.
Naomi langsung mengangguk cepat.
Benar saja, hari-hari setelah operasi menjadi perjuangan baru yang jauh lebih melelahkan dibanding sebelumnya.
Davin jauh lebih rewel. Mungkin karena rasa tidak nyaman di mulutnya. Mungkin karena nyeri. Yang jelas, bayi kecil itu jadi mudah menangis. Itu membuat Naomi panik setiap kali.
“Ssst… sayang… jangan nangis…”
Naomi menggendong Davin hampir sepanjang hari. Dia berjalan mondar-mandir di apartemen sambil menepuk-nepuk punggung kecil anaknya perlahan.
Kadang Davin baru diam lima menit lalu menangis lagi.
“Ya Tuhan…” Naomi sampai hampir menangis ikut bersamanya. Karena yang paling dia takutkan hanya satu. Jahitan terbuka.
Junie sudah menjelaskan bahwa tekanan dari tangisan berlebihan bisa memengaruhi hasil operasi. Akibatnya Naomi jadi super waspada.
Sedikit Davin merengek, dia langsung bergerak cepat.
Mau mainan? Dikasih.
Mau digendong? Digendong.
Mau ditemani? Dia duduk berjam-jam di lantai sambil memeluk anaknya. Bahkan tidur pun nyaris tidak.
Suatu malam, Jihan keluar kamar jam tiga pagi dan mendapati Naomi masih duduk di sofa sambil menggendong Davin yang akhirnya tertidur.
“Kamu belum tidur?” tanyanya kaget.
Naomi menggeleng pelan. Matanya sembab.
“Dia tadi nangis terus…”
Jihan langsung menghela napas panjang. “Na, kamu bisa sakit.”
“Tapi kalau jahitannya—”
“Naomi.”
Nada suara Jihan kali ini lebih tegas.
“Kamu manusia.”
Naomi menunduk diam.
Keesokan harinya, Jihan langsung melakukan sesuatu. Dia menghubungi Junie.
Sore itu bel apartemen berbunyi. Naomi yang sedang menenangkan Davin membuka pintu dengan rambut berantakan dan wajah lelah. Lalu membeku.
“Dok?”
Junie berdiri di sana sambil membawa tas kecil medis. Di belakangnya ada Jihan yang langsung masuk santai sambil membawa camilan.
“Aku manggil bala bantuan,” katanya enteng.
Naomi langsung melotot kecil. “Ji…”
“Apa? Kamu udah kayak zombie.”
Junie memperhatikan Naomi diam-diam. Jujur saja, dadanya terasa sesak melihat kondisi perempuan itu. Mata panda. Wajah pucat. Rambut acak-acakan. Tapi tetap saja dia masih terlihat cantik.
“Boleh saya lihat Davin?” tanya Junie lembut.
Naomi langsung mengangguk.
Junie memeriksa kondisi luka Davin dengan hati-hati. Setelah beberapa menit, dia menghela napas lega.
“Masih bagus,” katanya.
Naomi langsung terlihat lega luar biasa.
“Tapi kamu harus istirahat juga.”
Naomi tersenyum lemah. “Susah, Dok…”
Davin yang sejak tadi rewel akhirnya mulai tenang saat Junie menggendongnya. Aneh memang. Biasanya Davin sulit diam dengan orang lain kalau sedang tidak nyaman. Tapi di tangan Junie, bayi kecil itu malah terlihat lebih rileks.
“Nah…” ujar Junie sambil mengayun pelan tubuh kecil itu. “Cowok hebat nggak nangis terus.”
Davin menatap wajah Junie beberapa detik. Lalu tiba-tiba tertawa kecil.
Jihan langsung menunjuk mereka dramatis. “Nah tuh! Dia lebih nurut sama dokter ganteng!”
“Jihan…” Naomi langsung malu sendiri.
Junie malah tertawa kecil.
Malam semakin larut. Namun Davin akhirnya benar-benar tertidur setelah cukup lama digendong Junie.
Yang mengejutkan, Junie sama sekali tidak mengeluh. Dia tetap duduk di sofa sambil menopang tubuh kecil Davin hati-hati seolah sudah terbiasa. Naomi yang duduk di sebelahnya sejak tadi perlahan mulai kehilangan tenaga. Matanya berat sekali. Tubuhnya juga lelah luar biasa karena berhari-hari kurang tidur.
“Aku cuma merem bentar…” gumamnya.
Namun beberapa menit kemudian, kepala Naomi perlahan jatuh ke samping. Tanpa sadar, bersandar tepat di pundak Junie.
Jihan yang melihat itu langsung membelalak kecil dari meja makan.
'Waduh.'
Junie membeku total. Tubuhnya langsung menegang. Jantungnya berdetak sangat keras sampai dia yakin suaranya bisa terdengar keluar.
Naomi tertidur pulas di pundaknya. Rambut perempuan itu sedikit menyentuh lehernya. Napasnya terdengar pelan dan hangat. Sementara Davin tertidur nyaman di pelukannya.
Untuk beberapa detik, Junie bahkan lupa cara bernapas.
Jihan yang melihat itu langsung menahan senyum jahil. “Wih…” bisiknya pelan sambil menahan tawa.
Junie melirik tajam.
Jihan malah memberi gesture dua jempol.
Junie menghela napas pelan lalu kembali menatap Naomi. Saat itulah dia sadar satu hal. Dia benar-benar sudah jatuh terlalu dalam. Bukan sekadar kagum dan kasihan. Bukan juga hanya karena Naomi cantik. Tapi karena perempuan itu membuatnya ingin tinggal lebih lama. Ingin membantu tanpa merasa terbebani. Ingin menjaga.
Tatapan Junie perlahan melembut. Tangannya bahkan refleks bergerak sedikit, menahan kepala Naomi agar tidak jatuh dari pundaknya. Hati Junie terasa hangat sekali malam itu. Hangat dan berdebar sangat kacau.
bahkan aq baca dri awal sampai sekarang sering nangesss,
😭😭 soalnya gak gampang ngurus bayi seperti Davin..
semngatt kak dan sukses selalu novelmu 🥰🥰😘😘