Hanya anak muda yang ingin mendapatkan kebaikan dalam hidupnya, mencintai wanita tapi tak seorangpun menginginkannya. Cakka, fisik tubuhnya memanglah idaman semua kaum hawa. Namun wajahnya? terdapat bintik-bintik merah yang timbul dari kulit yang seharusnya menjadi rupa pertama dari setiap pertemuan. Selain itu, kulit wajahnya seperti lelehan plastik yang tak bisa terbentuk rapih mengikuti rahang. Buruk rupa, itu sebutan orang-orang untuk Cakka. Sejak kecil, sejak ia lahir kedunia. Hidupnya nelangsa, bukan karena wajahnya saja tapi karena ayah ibunya pergi lebih dulu darinya. Belum lagi Gempa, yang berhasil menghancurkan rumah tempat berlindungnya dan merenggut sang nenek yang mengasuhnya sejak kecil. Sedih, kesepian, dan sebatang kara. Itu yang Cakka alami ketika usianya beranjak sebelas tahun. Apakah Cakka akan berputus asa dengan hidup yang terus menerus di uji? Apakah wajah Cakka akan tetap seperti itu untuk melanjutkan hidup? Simak ceritanya Di Dua Dimensi!.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silviriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bekerja Dua kali 21+
Cetas!
Cetas!
Terus begitu, sampai semua penghuni rumah Bv bangun. Karena mendengar Obit berteriak sembari menghindar dari Cakka dan Cakka, ia terus memukulinya menggunakan sapu lidi. Mereka melihat Cakka dan Obit dari lantai dua. Seketika tertawa bersama.
Hahahahaha!!!!!!
Pun Obit dan Cakka menengok ke atas, semua anggota rumah Bv saling tatap, bergantian melihat dua manusia yang wajahnya mengadah, menatap orang-orang tertawa.
"Kayak anak kecil saja!" Ucap Alvin.
"Sayang banget gak kerekam, coba aja handphone gue gak di charge. Udah viral kalian berdua!" Timpal Gabriel.
Cakka menghembuskan nafasnya kasar. Ia membantingkan sapu lidi itu ke tanah, lalu pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri. Sedangkan Obit, meringis kesakitan. Ia mengusap-usap kakinya, lengannya dan pinggang.
"Sialan! Gue kasih pelajaran malah ngegebukin gue" ucap Obit, marah.
(***)
Srah!!!!!
Pagi ini shower berkerja dua kali, mengguyur tubuh Cakka untuk menghilangkan bau dan kotoran yang hinggap ditubuhnya. Aulia, ia pun membantu membersihkan tubuh Cakka. Mengoleskan sabun cair ke punggung lelaki yang tengah dibuat kesal oleh Obit.
"Anggap saja kamu sedang tamasya dengan teman mu, mereka melakukan ini mungkin untuk merayakan satu momen besar yang sebentar lagi akan datang" ujar Aulia.
"Momen apa? Memang dianya saja yang keterlaluan, gak ada kerjaan. Hatinya sudah gelap! Sudah buta!"
"Eh! Jangan emosi begitu! Nanti kamu bakalan nyesel loh!"
"Menyesal karena apa? Kamu lihat sendiri kan tadi dia gimana? Aku sudah wangi, tampan, rapi. Dia baru bangun tidur tiba-tiba mengguyur aku pakai air comberan."
"Sudah, setelah ini dia tidak akan melakukan hal itu lagi"
"Yakin kamu? Manusia kayak Obit, akan sangat mustahil berubah pola pikirnya, gaya hidupnya, mustahil deh kalau dia jadi baik! Intinya itu!"
Kesal, marah dan benci menjadi satu. Cakka membersihkan tubuhnya dengan tenaga dalam sehingga busa-busa yang menggumpal di tubuhnya bertebaran ke kaca pembatas, rak sabun dan ke wajah Aulia.
Sret!!!
Ah!
Aulia mengusap busa yang menempel diwajahnya tepat dimatanya, "Perih..."
Cakka mencuci tangannya lalu berbalik arah untuk melihat keadaan Aulia.
"Aku melukai mu?" Tanya Cakka, khawatir.
"Busanya rembes ke mata" ucap Aulia sembari mengelap, pelan.
Cakka menarik handuknya, ia mengusapkan kain lembut itu ke mata Aulia.
"Aku minta maaf, sungguh."
Cakka lanjut membersihkan tubuhnya, mengguyur hingga habis busa-busa itu luruh kepembuangan air. Mengeringkan tubuh, menggunakan handuk yang tadi sempat dilapkan ke mata Aulia.
Cakka, selesai dengan mandinya. Dia menggandeng Aulia membawanya ke kasur untuk didudukkan.
"Perlu obat tetes mata?" Tanya Cakka masih dengan rasa khawatir.
"Tidak usah, dijilat saja sudah sembuh" ucap Aulia sembari menatap Cakka.
"Dijilat? Maksudnya dijilat oleh lidahku?" Tatapan mata Cakka begitu polos sekali ketika mengatakan hal itu.
Aulia tersenyum, kedua tangannya kini memegang pipi Cakka dengan lembut, "kalau kamu tidak mau, tidak apa. Aku bisa sembuhkan sendiri kok." Cakka menggelengkan kepala. Egonya sedikit tergores ketika ia merasa tidak dibutuhkan oleh Aulia.
"Aku mau kok jilat mata kamu"
"Yakin?"
Cakka mengangguk tegas, sedikit ada rasa takut dan gugup. Namun, dia lawan. Memberanikan diri untuk menjadi pahlawan di depan Aulia. Selama ini, ia selalu terlihat lemah di depan perempuan yang melindunginya beberapa kali. Dan sekarang, inilah saatnya, Cakka mampu, bisa menyelamatkan perempuannya itu.
Lidah menjulur keluar, sedikit basah namun tak apa. Justru di sanalah letak obatnya. Aulia, sedikit memejamkan kelopak matanya. Dia sepenuhnya siap menerima lendir yang akan menempel di mata. Lidah itu bergerak, sebentar lagi menempel di kulit Aulia.
Slerp!!!!!
Basah, dingin, sedikit kasar. Ya... Cakka sudah menjilat mata Aulia. Awalnya hanya sekali, namun Cakka merasa ada sesuatu yang membuatnya menjadi kecanduan. Akhirnya, Cakka menjilati mata Aulia berkali-kali. Perlahan turun ke pipi, maju ke telinga kembali ke dagu lalu, naik ke bibir.
Mereka berciuman.
Hasrat berkumpul, bercampur, saling bertukar rasa. Cakka terbawa suasana, dia mengendalikan permainan dan Aulia hanya pasrah menerima ribuan cium, dan sentuhan yang Cakka luncurkan.
Desahan Aulia dan suara erangan terdengar nyaring, bergema, memantul dikamar. Ia pikir orang lain tak akan dengar, karena Aulia hanya bisa dilihat oleh dirinya sendiri begitupun dengan suaranya. Namun, salah. Debo, yang tadi sempat mengajak Cakka untuk kabur. Terdiam, mematung didepan pintu kamar nomor empat.
Debo menyusul Cakka ke kamar karena merasa bersalah, tidak membelanya didepan Obit yang sudah kurang ngajar.
Ah!!!
Ah!!!
Debo mengernyitkan keningnya.
Bukannya tidak boleh membawa orang lain ya kerumah ini? Kok Cakka...
Debo tak mau Cakka dihukum oleh Kleo. Pastinya, jika Kleo dengar ini semua. Ia tak akan segan-segan memberi sangsi kejam pada siapa saja yang melanggar peraturan. Debo, mengetuk pintu Cakka dan memanggilnya beberapa kali.
Tok! Tok! Tok!
"Cak! Cakka! Buka pintunya, ini gue Debo!"
Seketika aktifitas panasnya bersama Aulia terhenti. Mereka saling tatap.
"Waduh! Debo kesini"
Aulia memejamkan matanya secara paksa, "Aku lupa, kalau suara aku bisa didengar oleh siapa saja."
Cakka menggaruk kepalanya yang tak gatal, dengan terpaksa ia memberhentikan aktivitas panas itu. Padahal sebentar lagi dia akan klimaks, tapi karena Debo terus memanggilnya. Cakka harus berhenti.
"Cak! Cakka! Buka pintunya!"
Menghela nafas, memakai pakaian, membereskan kasur yang sempat berantakan, Cakka melangkahkan kakinya menuju pintu kamar.
"Ya sebentar!"
Perlahan pintu itu dibuka, dan Debo menyeruduk masuk sehingga pintu itu mengenai kening Cakka.
Dug!
"Aduh! Pelan-pelan, dong!" Ujar Cakka sembari mengusap keningnya.
Debo takut semua orang tahu kalau Cakka membawa perempuan ke kamarnya. Maka dari itu dia heboh. Menutup kembali pintu kamar Cakka dengan tergesa.
Brugh!!!
Cakka memperhatikan Debo, dari atas sampai bawah.
"Kenapa kamu?" Tanya Cakka, terheran.
Debo menelan ludahnya sembari menatap Cakka. Pandangan matanya menyebar ke seluruh ruangan, "mana wanita itu?."
Deg!
Benar kata Aulia, kalau suaranya bisa didengar oleh siapapun.
Cakka menaikkan kedua alisnya, ia berusaha tenang di depan Debo.
"Wanita? Wanita siapa? Di sini nggak ada wanita, cuma aku saja"
Debo mengernyitkan keningnya, dia menonjok perut Cakka.
Bugh!
A!!!!
Cakka kesakitan, ia memegang perutnya dengan kedua tangan dan punggung membungkuk seraya menahan. "Wanita apa sih? Di sini aku sendirian, Deb!" Ucapnya dengan gigi yang digigit oleh dirinya sendiri.
"Lu boleh bohong sama gue, tapi lu nggak bisa bohong sama Kleo! Gue nggak mau lu dihukum, Cak!"
Cakka berusaha berdiri tegak, meski dirinya mengelus-ngelus perut yang masih terasa sakit.
"Tapi mana, ada nggak?! Kamu nuduh aku!"
"Heh! Suara desahan dan erangan dari perempuan tadi itu bikin telinga gue pengang! Untung aja cuma gue yang dengar, kalau yang lain? Lu udah habis, Cak!"
Cakka menepiskan tanganya ke udara, ia perlahan bejalan menuju kasur untuk duduk.
Srak!!!
Tubuhnya terbaring lemah, menghembuskan nafas ke udara. Pun Debo, ia juga mengikutinya. Ikut berbaring dikasur tempat bercintanya Cakka dengan Aulia.