NovelToon NovelToon
Aksara Cinta Sang Penulis

Aksara Cinta Sang Penulis

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Tryas menganggap Jati tak lebih dari "barang antik" yang membosankan, hingga ia melemparkan perjodohan itu kepada sahabatnya, Gayuh. Namun, di balik sikap kuno itu, Jati adalah seorang CEO dengan kasih sayang yang tak terbatas. Saat Jati mulai "meratukan" Gayuh dalam sandiwara yang ia susun sendiri, Tryas tersadar telah membuang permata. Kini, sang sahabat dituduh pengkhianat. Akankah Jati melepaskan wanita yang tulus mencintainya demi tuntutan perjodohan awal, atau justru membawa sang "pemeran pengganti" ke pelaminan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Di alam bawah sadarnya, Gayuh merasa sedang berada di sebuah taman bunga yang sangat luas dan tenang.

Sinar matahari terasa hangat, tidak menyengat. Ia duduk di sebuah bangku kayu putih, memangku sebuah buku catatan tua dan pena bulu.

Tangannya menari lincah, menuliskan bab terakhir dari kisah hidupnya yang penuh lika-liku.

"Tolong... jangan pergi..."

Suara bariton yang sangat familiar itu memecah keheningan taman.

Gayuh tersentak, jemarinya berhenti bergerak. Ia perlahan menoleh ke arah sumber suara dan mendapati sosok pria berdiri di bawah pohon angsana yang sedang gugur.

"Jati?" bisik Gayuh. Matanya mulai berkaca-kaca.

"Kenapa kamu ada di sini? Bukankah kamu harus menjaga nenekmu di kampung?"

Jati hanya berdiri diam dengan tatapan yang sangat dalam, seolah sedang mencoba merengkuh jiwa Gayuh.

Gayuh tertunduk, air matanya jatuh membasahi kertas naskahnya.

"Jati, aku minta maaf. Aku sudah membohongimu selama ini. Aku bukan Tryas Adiguna yang kaya dan cantik itu. Aku hanyalah Gayuh... seorang penulis yang hidup di kontrakan sempit. Aku pengecut karena takut kamu akan pergi jika tahu siapa aku sebenarnya."

Jati melangkah mendekat, sebuah senyum tipis yang sangat tulus terukir di wajahnya.

Ia tidak tampak marah, justru sorot matanya penuh dengan pengampunan.

"Pulanglah, Gayuh. Jangan pergi ke sana," ucap Jati sambil menunjuk ke arah cahaya putih yang sangat terang di ujung taman.

"Aku menunggumu."

"PASIEN DROP! CODE BLUE! CODE BLUE!"

Suara alarm dari monitor EKG di ruang ICU memekik nyaring, membelah kesunyian malam di rumah sakit.

Garis hijau yang tadinya bergelombang kini mulai merata, menunjukkan detak jantung yang semakin lemah dan menghilang.

Para perawat dan dokter spesialis berhamburan masuk ke dalam ruangan.

Tirai-tirai atau selambu penutup segera ditarik menutupi pandangan dari luar, namun suara panik di dalam sana masih terdengar jelas.

"Siapkan defibrilator! Satu, dua, tiga, shock!"

Di balik kaca besar yang kini tertutup selambu, Jati kehilangan kendali atas dirinya sendiri.

Pria yang biasanya tenang dan berwibawa itu kini berteriak histeris.

Ia memukul-mukul kaca ruang ICU dengan tangannya yang masih ternoda darah, seolah ingin menembus dinding itu dengan kekuatannya sendiri.

"GAYUH! JANGAN PERGI!" raung Jati, suaranya pecah oleh kesedihan yang tak tertahankan.

"Buka matamu! Aku tidak peduli siapa kamu! Aku sudah tahu semuanya! Aku mencintaimu sebagai Gayuh, bukan yang lain!"

Pak Gunawan mencoba memegang bahu Jati, namun sang CEO menyentaknya kasar.

Jati jatuh berlutut di depan kaca itu, dahinya menempel pada permukaan dingin yang memisahkan mereka.

"Tolong... jangan pergi... Aku mohon..." isak Jati, suaranya kini berubah menjadi bisikan lirih yang memilukan.

"Aku belum memberitahumu kebenaran tentang diriku. Aku belum memberikan dunia yang kujanjikan. Jangan biarkan aku kehilanganmu sekarang..."

Di dalam ruangan, dokter terus memompa dada Gayuh dengan sekuat tenaga, sementara di luar, sang penguasa bisnis hanya bisa meratapi ketidakberdayaannya melawan takdir.

Malam itu, di koridor ICU, waktu seolah berhenti berputar, menunggu apakah sang penulis akan melanjutkan ceritanya di dunia, atau menutup bukunya selamanya.

Dokter bedah keluar dari ruang ICU dengan langkah gontai, peluh membasahi dahinya.

Ia tertegun melihat pemandangan di depannya: Jati, sang CEO yang dikenal dingin dan tak tersentuh, kini sedang bersimpuh di lantai dengan tangan yang masih bergetar dan tatapan mata yang hancur.

Jati mendongak, matanya yang merah menatap sang dokter dengan ketakutan yang luar biasa.

Ia takut mendengar kalimat yang akan menghancurkan hidupnya selamanya.

"Dokter, apakah dia...?" suara Jati tercekat di tenggorokan, tak sanggup melanjutkan kalimatnya.

Dokter itu tersenyum tipis, sebuah senyuman lega yang seolah membawa oksigen kembali ke paru-paru Jati.

"Pasien adalah pejuang yang hebat, Tuan Jati. Mukjizat terjadi. Nona Gayuh sudah melewati masa kritisnya. Detak jantungnya kembali stabil."

Jati terpaku, seolah jiwanya baru saja ditarik kembali dari jurang kematian.

"Sekarang kami akan melakukan pemindahan ke ruang perawatannya agar ia bisa beristirahat dengan lebih nyaman," lanjut dokter tersebut.

Mendengar berita itu, pertahanan Jati runtuh sepenuhnya.

Tanpa memedulikan gengsi atau statusnya sebagai pria paling berkuasa, Jati langsung bangkit dan memeluk Pak Gunawan dengan sangat erat.

Air mata syukurnya jatuh begitu saja, membasahi bahu asisten setianya itu.

"Dia selamat, Pak Gun. Gayuh selamat!" ucap Jati dengan suara yang bergetar karena kegembiraan yang meluap-luap.

Pak Gunawan yang juga merasa lega, menepuk punggung majikannya dengan penuh rasa hormat.

"Iya, Tuan. Nona Gayuh sangat kuat."

Setelah melepaskan pelukannya, Jati segera menghapus air matanya.

Aura kepemimpinannya kembali, namun kali ini jauh lebih hangat.

Ia menoleh ke arah Pak Gunawan dengan binar mata yang kembali hidup.

"Pak Gun, pastikan kamar perawatannya menjadi tempat yang paling indah. Siapkan anggrek bulan putih yang paling segar di seluruh sudut ruang perawatan," perintah Jati.

"Itu bunga kesukaannya. Aku ingin saat dia membuka mata nanti, hal pertama yang dia hirup adalah aroma kedamaian."

"Segera saya laksanakan, Tuan Besar," jawab Pak Gunawan dengan senyum tulus.

Jati kembali menatap pintu ICU tempat Gayuh sedang dipersiapkan untuk dipindah.

Di dalam hatinya, ia berjanji bahwa mulai detik ini, tidak akan ada satu helai rambut pun dari Gayuh yang akan terluka lagi.

Badai telah berlalu, dan kini ia siap membangun pelangi untuk wanita yang telah menyelamatkan hatinya itu.

Jati melangkah masuk ke dalam ruang perawatan VVIP yang kini terasa jauh lebih tenang.

Ruangan itu tidak lagi berbau obat yang menyengat, melainkan telah berganti dengan keharuman lembut yang menenangkan.

Di dalam, Pak Gunawan sudah berdiri menanti. Di tangannya dan di beberapa sudut ruangan, rangkaian bunga anggrek bulan putih yang sangat cantik telah tertata rapi.

Kelopak-kelopaknya yang putih bersih seolah memancarkan cahaya kedamaian, menyambut kepulangan sang pemilik nyawa dari ambang kematian.

Pak Gunawan melirik ke arah tuannya. Ia merasa prihatin melihat kondisi Jati yang masih mengenakan kemeja yang kusut dengan bercak darah kering yang menghitam di pergelangan tangan dan bagian depannya.

Wajah sang CEO tampak sangat lelah, dengan bayangan hitam di bawah matanya.

"Tuan," panggil Pak Gunawan dengan suara rendah agar tidak mengusik ketenangan Gayuh yang masih terlelap.

"Nona Gayuh sudah stabil. Lebih baik Anda mandi dan mengganti pakaian Anda sekarang. Saya sudah menyiapkan pakaian ganti di kamar sebelah. Anda harus bersih dan segar saat Nona terbangun nanti."

Jati terdiam sejenak, matanya menatap lekat ke arah wajah pucat Gayuh yang kini terlihat jauh lebih tenang di bawah siraman cahaya lampu yang temaram.

Ia menyadari bahwa dirinya tidak boleh terlihat berantakan di depan wanita itu.

Jati menganggukkan kepalanya perlahan. "Kamu benar, Pak Gun. Jaga dia sebentar. Jangan biarkan siapa pun masuk kecuali tim medis."

"Baik, Tuan," sahut Pak Gunawan patuh.

Dengan langkah yang masih sedikit berat namun penuh kelegaan, Jati berjalan menuju kamar mandi yang ada di dalam suite tersebut.

Ia perlu membasuh sisa-sisa trauma dan darah yang melekat pada tubuhnya, bersiap untuk menjadi sandaran yang kuat bagi Gayuh saat wanita itu kembali ke dunia nyata nanti.

Di bawah guyuran air, Jati memejamkan mata, membiarkan air menghanyutkan semua kengerian hari ini, menyisakan satu tekad: setelah ini, hanya ada kebahagiaan yang akan ia berikan pada Gayuh.

1
Dew666
😍😍😍😍
Rahmawati
wow maharnya fantastis bgt👏👏👏
Rahmawati
hahaha, pagi pagi udah nongol aja si jati
Rahmawati
tryas km akan nyesel nanti😂
Rahmawati
lah kok malah jadi nyaman😂
Rahmawati
baru mulai baca
my name is pho: terima kasih kak🥰
total 1 replies
Vie
aaaa..... ini disini juga aku mau jati... ini udah mangap dari tadi loh... 🤭🤭🤭
my name is pho: 🤭🤭 hehehe
total 1 replies
Vie
nah itu kau tahu sendiri kan.... makanya selamat tersiksa ya tryas.... 🤪🤪🤪🤪
Vie
lanjut kak.... 👍👍👍👍👍👍
Vie
iiihhhh jadi baper deh.... 🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Vie
kamu dasar cucu durhakim.... bilang neneknya sakit.... eh ternyata lagi santai di ln..... dasar cucu durhakim... 🤭🤭🤭🤭
Vie
demi bos jadi ikutan nyamar.... 🤣🤣🤣🤣 demi apa coba hal itu dilakukan.... demi cinta... 🤭🤭🤭🤭
my name is pho: 🤭🤭 hehehe
total 1 replies
Vie
lanjut kak..... 👍👍👍👍 seru banget..
Vie: makasih kak.... aku selalu stay walau jarang komen, tapi tetap lanjut baca... lanjut sampai ceritanya tamat ya kak.. 👍👍👍👍😊😊😊
total 2 replies
Dew666
🍎🍎🍎🍎
my name is pho: terima kasih kak 🥰🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!