Nadia Tujuah tahun menikah dengan Raka
mengurus Ibu mertuanya dengan baik
mengurus anak adopsi dengan baik
selalu bersabar karena dia hanyalah anak yatim piatu
Namun tepat di usia pernikahannya yang ke tujuh
Raka malam menikah lagi Dengan Ratna Sepupunya sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kecurigaan ratna
“Baiklah. Ibu harap kamu bisa bersikap dewasa.”
Yuni bangkit dari duduknya, lalu melangkah masuk ke kamar tanpa menunggu jawaban Nadia.
Ruang tamu mendadak sunyi.
Hanya Nadia dan Raka yang tersisa.
Nadia masih duduk di sofa dengan tubuh tegak, sementara Raka menatapnya lekat-lekat.
“Maafkan aku, Nad,” ucap Raka lirih.
Nadia menoleh pelan.
“Untuk apa?”
“Untuk semua kesalahanku.”
Nadia menarik napas panjang.
“Kenapa harus Ratna, Mas?”
Pertanyaan itu menggantung di udara.
Tak ada jawaban.
Hanya suara detak jam dinding dan cahaya lampu redup yang menambah dingin suasana.
Nadia menatap wajah suaminya.
“Mas mencintai Ratna?”
Raka terdiam.
Bahkan dirinya sendiri tampak tidak tahu harus menjawab apa.
Nadia tersenyum tipis.
Senyum yang terasa lebih menyakitkan daripada tangisan.
“Diam berarti cinta, Mas.”
Ia bangkit dan melangkah menuju kamar.
“Nad, tolong dengarkan aku.”
Raka menyusul.
Nadia duduk di tepi ranjang, menyandarkan tubuh pada kepala tempat tidur.
Raka berdiri di hadapannya.
“Nad, aku masih mencintai kamu.”
Nadia mengangkat wajah.
“Kalau begitu, ceraikan Ratna.”
Suasana kembali hening.
Raka tidak menjawab.
Dan Nadia sudah mendapatkan jawaban yang ia butuhkan.
Ia mengembuskan napas panjang.
“Jangan katakan cinta lagi, Mas.”
Suaranya pelan, tetapi tegas.
“Hati Mas sudah terbagi dua. Maaf, aku tidak bisa.”
“Nad, tolonglah.”
Nadia memejamkan mata.
Lalu merebahkan tubuhnya dan membelakangi Raka.
“Nanda sangat membutuhkan kamu, Nad,” ucap Raka lagi. “Tolonglah. Demi Nanda.”
Kelopak mata Nadia bergetar.
Nama itu.
Selalu nama itu yang membuat hatinya goyah.
Namun malam ini ia terlalu lelah.
“Aku lelah, Mas. Aku mau tidur.”
Raka terdiam.
Tak lama kemudian, langkahnya menjauh.
Namun Nadia tahu, malam itu tidak ada seorang pun yang benar-benar tidur dengan tenang.
Pagi datang seperti biasa.
Nadia terbangun lebih dulu.
Ia duduk sejenak di tepi ranjang.
Menatap langit-langit kamar dengan dada yang masih terasa sesak.
“Ya Allah,” bisiknya lirih. “Nadia sedang bingung.”
Ia menunduk.
“Maafkan kalau hari ini Nadia belum bisa menjadi istri yang baik.”
Namun anehnya, tubuh Nadia tetap bergerak seperti biasanya.
Seolah kebiasaan bertahun-tahun telah mengakar begitu dalam.
Ia mengambil kemeja kerja Raka.
Celana.
Handuk.
Kaos kaki.
Sepatu.
Semua ia letakkan di tempat biasa.
Setelah itu, Nadia menuju dapur.
Ia menyiapkan sarapan khusus untuk Nanda.
Nasi tim hangat.
Daging cincang.
Wortel parut.
Makanan kesukaan Nanda
Tak lama kemudian, Mbak Tari datang seperti biasa.
Nadia hanya menyapanya singkat, lalu melangkah menuju kamar Nanda.
Pintu kamar terbuka.
Nanda sedang berdiri menghadap kiblat, mengenakan mukena kecil berwarna putih.
Kedua tangannya terangkat.
Bibir mungilnya komat-kamit memanjatkan doa.
Nadia berdiri di ambang pintu.
Menunggu dengan sabar.
Ada rasa hangat yang menjalar di dadanya.
Tak lama kemudian, Nanda menoleh.
Wajahnya langsung berseri.
“Bunda!”
Ia merentangkan kedua tangan.
Nadia tersenyum dan segera memeluk putrinya erat.
“Anak Bunda tadi berdoa apa?”
Nanda menatapnya dengan mata bening.
“Nanda berdoa semoga Papa dan Bunda sehat selalu dan sayang terus sama Nanda.”
Kalimat sederhana.
Doa yang polos.
Namun rasanya seperti menghantam dada Nadia begitu keras.
Siapa yang tidak terluka ketika dikhianati?
Tetapi siapa pula yang sanggup merenggut kebahagiaan dari seorang anak yang hanya ingin Papa dan Bundanya tetap bersama?
Nadia memeluk Nanda lebih erat.
“Amiiin.”
Hanya itu yang sanggup ia ucapkan.
Seperti biasa, Nadia membantu Nanda mengenakan seragam sekolah.
Mengepang rambutnya.
Memasangkan pita.
Lalu menatap wajah mungil itu dengan penuh kasih.
“Anak Bunda setiap hari makin cantik.”
Nanda tersenyum lebar.
“Terima kasih, Bunda.”
Ia mengecup pipi Nadia.
“Sarapannya dihabiskan, ya. Dan jangan jajan sembarangan lagi.”
“Siap, Bunda!”
Nanda mengangkat tangan ke pelipis, bergaya seperti tentara kecil.
Nadia tertawa pelan.
Ia mengusap kepala putrinya.
“Anak baik.”
Setelah semuanya selesai, Nadia keluar dari kamar.
Di ruang tengah, Raka sudah berdiri dengan pakaian kerja yang rapi.
Pagi itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Nadia, Raka, Yuni, dan Nanda duduk sarapan bersama di meja makan.
Momen yang dulu terasa biasa, kini justru terasa asing.
Tak ada percakapan hangat.
Tak ada tawa.
Hanya suara Nanda yang terus berceloteh, mengisi kesunyian yang menggantung di antara mereka.
“Pah, sekali-kali antar jemput Nanda, dong.”
Raka tersenyum tipis.
“Papa kerja, Sayang.”
Nanda mengembuskan napas.
“Ih, Pah. Teman Nanda, Novi, enggak punya bunda. Tapi papanya selalu antar jemput, loh.”
Raka belum sempat menjawab, Yuni lebih dulu menyela.
“Nanda, papa kan kerja. Mungkin papanya Novi lagi enggak sibuk.”
Nanda menggeleng cepat.
“Enggak juga, Oma. Papanya Novi tiap hari pakai jas seperti Papa.”
Raka terkekeh kecil.
“Ya sudah. Doakan Papa, ya, supaya Papa punya banyak uang. Jadi Papa bisa punya perusahaan sendiri dan lebih sering antar jemput Nanda.”
Mata Nanda langsung berbinar.
Ia menangkupkan kedua tangan kecilnya.
“Aamiin. Ya Allah, semoga Papa punya banyak uang.”
Doa polos itu membuat Nadia terdiam.
Andai saja semuanya masih seperti dulu.
Andai Raka tetap menjadi suami yang ia kenal.
Mungkin tanpa ragu Nadia akan mencairkan seluruh deposito miliknya.
Membangunkan perusahaan untuk Raka.
Membantu suaminya agar tak lagi bekerja pada orang lain.
Agar ia punya lebih banyak waktu untuk keluarga.
Namun semua itu hanya tinggal rencana.
Kini hati Raka telah terbagi dua.
Dan perempuan yang merebut perhatian suaminya bukan orang asing.
Ratna.
Sepupunya sendiri.
Sarapan berakhir dalam keheningan.
Raka berdiri lebih dulu.
Seperti biasa, Nadia tetap mencium tangan suaminya.
Kebiasaan yang masih ia lakukan, meski hatinya telah retak.
Namun kali ini, ia tidak mengantar Raka hingga ke gerbang.
Raka hanya menatapnya sesaat sebelum pergi.
Tak lama kemudian, mobil jemputan sekolah datang.
Nanda memeluk Nadia erat sebelum naik ke mobil.
“Dadah, Bunda. I love you.”
Nadia tersenyum dan melambaikan tangan.
“Bunda juga sayang Nanda.”
Setelah mobil itu hilang dari pandangan, rumah kembali sepi.
Kini hanya ada Nadia, Yuni, dan Mbak Tari.
Saat Nadia masuk ke ruang tengah, ia mendengar Yuni sedang memberi instruksi.
“Tari, tolong bersihkan kamar tamu. Ganti seprai dan sarung bantal dengan yang baru.”
“Baik, Bu.”
Nadia menghentikan langkah.
Kamar tamu?
Siapa yang akan datang?
Jantungnya berdebar.
Jangan-jangan...
Ratna.
Nadia segera mengusir pikiran itu.
Ia mengembuskan napas panjang dan melangkah menuju kamarnya.
Namun benih kecemasan telanjur tumbuh di hatinya.
Di tempat lain, Raka mengemudikan mobilnya menuju kantor.
Pikirannya kusut.
Tadi malam benar-benar membuka matanya.
Selama ini, Nadia ternyata membayar sendiri banyak kebutuhan rumah.
Biaya sekolah Nanda.
Gaji Mbak Tari.
Listrik.
Internet.
Padahal ia selalu mengira semua itu ditanggung Yuni.
Raka mengusap wajahnya.
“Astaga... jadi selama ini Nadia menanggung semuanya sendiri.”
Ada rasa bersalah yang menyelinap.
“Maafkan aku, Nad.”
Tak lama kemudian, mobilnya memasuki area parkir kantor.
Raka langsung menuju ruangan Ratna.
Perempuan itu sedang fokus menatap layar komputer.
“Ratna, aku pinjam uang dua juta.”
Ratna menoleh.
“Tumben. Ada apa?”
“Buat bayar study tour Nanda.”
Ratna mengernyit.
“Bukannya uang sekolah Nanda dipegang Mama?”
Raka mengembuskan napas berat.
“Itulah. Ternyata selama ini Mama enggak pernah membayarnya.”
Ratna terdiam.
“Jadi... selama ini siapa yang bayar?”
“Nadia.”
Ratna memutar kursinya dan menatap Raka tajam.
“Kamu bohong sama aku?”
“Bohong apanya?”
“Mana mungkin Nadia bisa bayar semuanya kalau kamu cuma kasih lima juta.”
Nada suaranya mulai meninggi.
“Atau jangan-jangan kamu kasih dia jauh lebih banyak dari yang kamu bilang?”
Raka mendesah.
“Ratna, jangan mulai.”
Ia menunjukkan mutasi transfer di ponselnya.
“Setiap bulan aku transfer lima juta ke Nadia, sepuluh juta ke Mama, sepuluh juta ke kamu.”
Ratna membelalak.
“Kamu sendiri pegang berapa?”
“Lima juta.”
Ratna terdiam beberapa detik.
Lalu membuka aplikasi perbankan.
“Sudah aku transfer.”
Ia menatap Raka sambil menyipitkan mata.
“Bulan depan ganti dua kali lipat.”
Raka tersenyum tipis.
“Siap.”
Setelah itu, ia meninggalkan ruangan Ratna.
Begitu pintu tertutup, ekspresi Ratna berubah.
Sorot matanya dipenuhi perhitungan.
Ia segera mengambil ponsel dan menelepon ayahnya, Handoko.
“Halo, Yah. Ada kabar penting.”
“Apa?”
“Sepertinya Nadia masih punya banyak uang.”
Handoko langsung tertarik.
“Darimana kamu tahu?”
Ratna menceritakan semuanya.
Tentang Nadia yang sanggup membayar sekolah Nanda, gaji pembantu, listrik, dan berbagai kebutuhan rumah tangga meski hanya menerima lima juta dari Raka.
Setelah mendengar penjelasan putrinya, Handoko terdiam sesaat.
Lalu terdengar suaranya yang rendah.
“Berarti perempuan itu masih memegang harta warisan.”
Ratna menegakkan punggung.
“Lalu kita harus bagaimana?”
“Kamu harus secepatnya tinggal di rumah Raka.”
“Untuk apa?”
“Karena di rumah itu pasti ada banyak rahasia yang belum kamu tahu.”
Ratna tersenyum tipis.
“Baik, Yah.”
Panggilan terputus.
Ratna menatap layar ponselnya beberapa saat.
Lalu sudut bibirnya terangkat.
Kini tujuannya semakin jelas.
Bukan sekadar menjadi istri Raka.
Tetapi juga menguasai semua yang dimiliki Nadia.
raka tak bakal setuju cerai kan kamu
nadia terlalu bego sdh tau di jdi kan keluarga toxin jdi baby sister gratis tetap mau bertahan di dlm rmh demi nanda ank selingkuh raka/ ratna 🤭