“[Ikan Langka! Hadiah 100 Emas!]”
Beni hanyalah nelayan miskin yang hidup penuh penderitaan. Ia dikhianati istrinya, dijebak hingga terlilit hutang, dan hampir kehilangan harapan hidup.
Namun saat berlayar di tengah badai, ia malah tersesat ke lautan misterius yang dipenuhi bahaya. Di sanalah sebuah sistem aneh tiba-tiba muncul di hadapannya.
Dengan bantuan sistem pengumpul emas, bisakah Ye Fan mengubah nasibnya dan menjadi orang terkaya di lautan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sistem One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Pemandangan sedap
"Ah, akhirnya sampai juga," gumam Beni sembari melompat turun dari bak truk yang membawanya kembali ke Desa Kerang Biru.
Udara sore desa yang bercampur aroma garam menyengat penciumannya.
Setelah perjalanan yang cukup melelahkan dari kota dan drama anak SMA yang sempat membuatnya jengah, Beni merasa perlu meregangkan otot-ototnya.
Bukannya langsung pulang ke rumah untuk beristirahat, ia justru memilih untuk berjalan-jalan santai menyusuri jalanan setapak desa, sekadar mencari hiburan gratis untuk menyegarkan pikirannya sebelum kembali berburu di laut mistis nanti malam.
Langkah kaki Beni membawanya melewati kawasan pemukiman yang agak padat, hingga tanpa sadar ia berjalan mendekati area rumah mantan mertuanya, orang tua Serena.
Dari kejauhan, suasana rumah itu tampak tidak biasa. Pagar kayunya tertutup rapat, namun terdengar suara benturan benda keras dan teriakan yang tertahan dari dalam ruang tamu.
"Ada apa nih? Seru sepertinya," bisik Beni dengan senyum simpul yang mulai terukir di wajahnya. Instingnya mengatakan ada pertunjukan menarik yang sayang untuk dilewatkan.
Beni berjalan mengendap-endap dengan langkah yang sangat ringan.
Ia mengambil posisi di balik rerimbunan pohon pisang yang tumbuh subur di samping jendela ruang tamu rumah tersebut.
Posisi yang sangat strategis untuk mendengar setiap jengkal percakapan di dalam tanpa risiko ketahuan.
Beni duduk dengan santai di atas sebuah batang kayu besar yang melintang. Ia merogoh kantong plastiknya, mengeluarkan sebungkus keripik pedas dan jajanan pasar yang sempat ia beli di kota tadi, lalu mylai mengunyahnya dengan perlahan. Cemilan yang pas untuk menonton bioskop gratis, pikirnya geli.
Di dalam rumah, suasana terasa begitu mencekam. Ayah Serena, seorang pria paruh baya yang biasanya selalu bersikap angkuh di depan Beni, kini berdiri dengan wajah merah padam karena amarah yang memuncak.
Tangannya bergetar hebat menunjuk langsung ke arah Serena yang sedang bersimpuh di lantai sambil menangis sesenggukan.
"Kau bilang kau hamil?! Dan kau bilang ini bukan anak Beni, mantan suamimu?!" suara Ayah Serena menggelegar, bergetar menahan malu dan murka yang luar biasa. "Jawab, Serena! Apa karena kelakuan bejatmu ini kalian berdua bercerai?!"
Serena tidak bisa menjawab. Ia hanya bisa menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangannya, bahunya berguncang hebat oleh tangisan penyesalan.
Di samping suaminya, Ibu Serena duduk di kursi kayu dengan pandangan yang kosong dan penuh kekecewaan yang mendalam. Ia menatap anak perempuan satu-satunya itu seolah melihat orang asing.
"Serena... Serena... Ibu benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikiranmu," ucap ibunya dengan suara parau, air mata mulai mengalir di keriput pipinya. "Padahal Beni itu pria yang sangat baik. Dia begitu tulus kepadamu, bahkan sangat hormat dan royal kepada kami orang tuamu ini meskipun dia hanya nelayan miskin. Kemarin... saat kau pulang ke rumah ini sambil menangis histeris, kami berdua langsung mengutuk Beni. Kami pikir perceraian ini terjadi karena kesalahan Beni yang menyakitimu! Ternyata... ternyata kau yang menjadi iblis dalam rumah tangga kalian sendiri!"
"Ayah... Ibu... maafkan aku... aku salah... aku khilaf..." ratap Serena di sela-sela tangisnya, mencoba meraih kaki ayahnya untuk memohon ampun.
"Jangan sentuh aku! Aku malu memiliki anak sepertimu!" Ayah Serena menepis tangan anaknya dengan kasar hingga Serena tersungkur ke lantai.
Pria tua itu berjalan mondar-mandir di ruangan dengan frustrasi, menjambak rambutnya sendiri. "Ck! Apa yang bisa kita lakukan sekarang? Kau dihamili oleh Kai, anak Kepala Desa! Kita tidak akan pernah bisa meminta pertanggungjawaban dari ayah kandungnya! Kau tahu sendiri bagaimana kekuasaan keluarga Kepala Desa di sini? Mereka bisa menghancurkan hidup kita dalam semalam jika kita menuntut mereka!"
Ayah Serena berbalik, menatap Serena dengan pandangan penuh kebencian. "Sialan! Ini semua salahmu, Serena! Kau benar-benar wanita bodoh yang menghancurkan kehormatan keluarga ini! Kau benar-benar mengecewakan!"
Di balik pohon pisang, Beni yang sedang mengunyah keripik pedas tidak bisa menahan dirinya lagi. Sudut matanya berkerut geli mendengar betapa hancurnya keluarga yang dulu selalu merendahkannya itu.