Kedatangan murid baru di SMA Adiwijaya langsung jadi perbincangan hangat. Kabar bahwa anak pemilik sekolah ikut pindah di hari yang sama, membuat suasana sekolah makin ramai dan penuh teka-teki.
Sekelompok murid berpengaruh berambisi mencari siapa sosok pewaris asli yang disembunyikan. Siapa pun yang dianggap mengganggu atau tidak pantas, akan mereka singkirkan tanpa ampun.
Naysilla, gadis pindahan yang polos dan tak paham aturan keras di sana, tiba-tiba jadi sasaran utama kecemburuan dan perundungan. Di saat ia dikucilkan, disudutkan, dan tak ada satu pun yang berani mendekat, selalu ada satu sosok yang diam-diam hadir.
Raynor Mohan, cowok berkacamata yang penampilannya sederhana, pemalu, dan selalu dipandang sebelah mata oleh semua orang. Namun bagi Naysilla, sosok itulah satu-satunya tempat aman untuk pulang. Di balik sikapnya yang cupu, Naysilla perlahan menemukan sisi lain yang hanya ia bisa lihat sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arina_ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16.
Tiga orang siswi perempuan melangkah masuk. Mereka memasang wajah polos seolah tak tahu apapun, namun raut ketakutan samar sulit disembunyikan dari mata mereka.
Melihat kedatangan mereka, secercah harapan kembali muncul di mata Dimas. Ia mengira penyelamatnya datang, ia berharap mereka akan membela dan mengakui bahwa dia hanyalah korban keadaan. Namun dugaan itu hancur seketika saat gadis bernama Jessy maju selangkah ke depan.
"Saya tidak terlibat, Pak. Saya tidak tahu apapun tentang kejadian ini, saya murni tidak tahu apa-apa..." ucap Jessy dengan nada memelas, matanya berkaca-kaca seolah sedang menjadi korban ketidakadilan.
Olivia yang berdiri di sebelahnya menatap tajam. Tatapannya penuh pertanyaan tentang apa maksud ucapan itu? Lamat-lamat ia mulai mengerti cara mainnya, dan ikut mempraktekkan nya juga.
"Olivia..." ucap Angela yang berdiri di sebelah Jessy, lalu berbalik menatap gadis berwajah pucat itu. "Olivia, sudah cukup pura-puranya. gue mohon, hentikan semua ini. Ayo akuin semuanya di sini, biar semuanya jelas. Kasihan teman-teman lain yang akhirnya ikut terlibat dan disalahkan hanya karena keegoisan lo. Padahal mereka nggak salah apa-apa..."
Kalimat itu meluncur begitu saja dengan nada yang sangat dramatis, seolah Angela adalah gadis paling polos dan peduli di dunia ini.
Seluruh orang di ruangan itu seolah sedang menikmati sebuah pertunjukan teater yang menegangkan. Bagi yang selama ini diam dan takut bicara, peristiwa ini bagaikan disiram air sejuk yang melegakan dada.
Beban rasa di dada perlahan hilang. Sedangkan bagi Olivia? Ia kini menjadi pusat tatapan semua mata yang penuh penghakiman.
"Nak Olivia... Silahkan maju ke depan dan jelaskan apa kebenarannya," pinta Pak Wakil Kepala Sekolah, kali ini nadanya jauh lebih lembut namun tetap tegas.
Olivia melangkah maju dengan kaki gemetar. Ia berusaha memasang wajah sedih, matanya dipaksa memerah seolah siap meneteskan air mata kapan saja, air mata buatan yang tak memiliki rasa sedih sedikit pun.
"Saya sadar, Pak... Bahwa saya hanyalah anak baru di sekolah ini, anak yang tidak memiliki kuasa apa-apa. Saya lemah, dan apa saja yang saya lakukan selama ini... semuanya dikendalikan dan diperintah oleh orang lain yang punya kuasa lebih besar daripada saya," ucapnya pelan, suaranya bergetar seolah sedang menanggung penderitaan berat.
Ia menarik napas panjang dan dalam, bertekad membongkar sebagian kejahatan demi menyelamatkan dirinya sendiri.
Namun bodohnya, ia belum sadar bahwa sosok yang sebenarnya ia lawan, sosok yang menjadi dalang sesungguhnya, sedang berdiri tenang di antara kerumunan dan mengamati segalanya. Dan ia bukan lawan yang sepadan untuknya.
"Saya hanyalah boneka... boneka bodoh yang diperintah untuk melakukan, untuk..." ucapannya terhenti. Ia menatap ragu ke arah Jessy dan Angela, namun kedua gadis itu membalas dengan tatapan dingin dan menantang.
"Mereka semua memang komplotan jahat sih. Nggak heran, baru empat hari gue pindah ke sini langsung kena bully tiap hari. Eh, sekarang udah hampir ketahuan kejahatannya, malah saling lempar kesalahan begini," ucap Naysilla tiba-tiba dengan nada polos dan santai.
Ucapannya yang singkat, lugas, dan apa adanya itu membuat seisi aula serentak terdiam. Semua mata kini tertuju pada Naysilla dengan wajah tak percaya, seolah baru sadar bahwa di tengah kekacauan ini, ada satu orang yang melihat semuanya dengan mata dan hati yang jernih.
...****************...
Sidang di bubarkan, wakil kepala sekolah terlalu pusing memikirkan konflik yang bukan ranahnya. Maklum, kepala sekolah yang asli tengah cuti beberapa hari kedepan, dan terpaksa ia menggantikan tugasnya.
Bagaikan rombongan patung yang digiring keluar, wajah-wajah tegang berjalan tanpa senyuman, tanpa candaan seperti biasa.
Naysilla berjalan beriringan dengan Mohan di sampingnya, bagai perisai yang melindunginya. Ia menatap sekeliling, wajah teman-temannya yang menampilkan ekspresi sama. Datar, tegang, penuh ketakutan.
"Menurut lo, gimana nasib kita kedepannya?"
"Ssttt... Jangan bahas itu disini...!"
Bisik-bisik terdengar samar. Ia tak mengerti mereka membicarakan apa. Karena...
Kruyuk-kruyuk
Suara perutnya sendiri yang paling ia pahami lebih dari apapun.
"Kantin?" tanya Mohan, peka sekali.
"Hehehe... Boleh. Gue mau mie-"
"Nasi!" potong Mohan cepat.
"Iyah, Iyah. Gue pengen nasi soto, ada nggak disini?" matanya berkedip-kedip manja dari bawah, memandang Mohan yang selalu memasang wajah kakunya.
"Soto ayam pake telor yah! Tapi telornya telor ceplok yang di rebus. Kaya telor yang di mie instan gitu, tapi ini soto" ucapnya sedikit belibet.
"Hooh" jawabnya singkat. Otaknya sibuk menyusun ilustrasi makanan aneh pilihan Naysilla. Ia menggelengkan kepala, karena tak sampai di otak pintarnya.
"Cewek aneh, seleranya juga aneh. Tapi gue suka" bisik Mohan lirih dan tersembunyi, di dalam hati.
"Momon, tadi itu masalahnya apa seserius itu yah?" ucap Naysilla di sela-sela makannya.
"Abisin dulu makannya, baru ngomong!"
"Jawab dulu pertanyaan gue, baru gue abisin"
Mohan mendengus kesal, tapi tetap ia jelaskan. Suaranya lembut sekali tapi jelas dan padat penuh informasi.
Naysilla memandang Mohan, begitu dalam. Lagi-lagi ia terpesona, pembawaannya yang tenang dan pemikiran yang cerdik setiap berbicara, membuatnya nyaman. Ia ingin bertanya banyak hal, soal apapun padanya.
"Terus, kenapa wajah-wajah di aula tadi tegang semua? Apa mereka terlibat? Atau mereka saksi kunci, dan sepakat saling diam?"
"Bisa jadi. Logikanya, kalo nggak ada keterlibatan apapun pasti mereka biasa ajah"
"Ah, drama banget sih sekolahan ini..." ia mengaduk-aduk es jeruknya, meneguk sedikit lantas mendorong gelas itu menjauh.
"Gue mau pesen kopi" ucapnya spontan.
"Sejak kapan lo ngopi?"
"Hari ini" ia berlalu begitu cepat, sebelum Mohan sempat mencegahnya. Dan dalam waktu lima menit kembali dengan dua cup kecil kopi panas di tangan.
"Momon, kayaknya udah nggak ada pelajaran lagi kan? Kita ke rooftop ajah yuk! Ngopi-ngopi di sana, gimana?"
"Boleh"
Sepanjang jalan, setiap orang yang di lalui memberikan tatapan menghakimi, tanpa tahu kebenaran yang sesungguhnya. Sepertinya semua berita telah tersebar di grup WhatsApp sekolah seperti biasa.
Ting...
Ting...
Dugaannya benar, ia melirik pesan masuk dari nomor misterius lewat notifikasi jendela. Ia menunda membukanya, menuntaskan perjalanan sampai tujuan.
"Kenapa senyum-senyum?" ucap Mohan tiba-tiba, ia salah paham menangkap arah pandang Naysilla yang kebetulan berpapasan dengan kakak ketua OSIS tampan.
"Apa tadi Momon?" ucap Naysilla tersadar dari lamunannya.
Mohan diam, menarik tangan gadis itu untuk melangkah lebih cepat. Gerakannya tak stabil, sampai beberapa percikan kopi panas tumpah mengenai bajunya.
Brak...
Benturan pintu beradu menciptakan decitan keras. Naysilla tak mengerti apa yang terjadi dengan Mohan. Ia berjalan pasrah mengikuti langkahnya.
Cowok itu menyeretnya ke sudut tersembunyi. Menyingkirkan cup kopi dari tangan, lantas mendesaknya, mengukung diantara kedua lengan kekarnya.
"Apa..." ucap Naysilla lembut dengan mata berkedip-kedip manja. tak ayal, ia menahan debaran hebat di dada.
"Gue..."
Ting...
Bunyi notifikasi mengalihkan fokus mereka. Mohan menatap sekilas bayangan pesan di notifikasi jendela. Dahinya berkerut dalam. Ia menatap Naysilla yang juga menatapnya, lewat pancaran mata seolah berkata kesepakatan bersama.
cupu tuh apaan ?