NovelToon NovelToon
The Predator’S Possession

The Predator’S Possession

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / CEO
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Callalily

Benedict Franklin, pemilik Equinox Ventures dan pemimpin organisasi Veto, adalah pria yang hanya percaya pada angka dan kekuasaan. Baginya, emosi adalah kelemahan, dan tatapan matanya mampu meruntuhkan siapapun dalam hitungan detik. Namun, hidupnya yang penuh kendali berubah saat ia bertemu dengan Zara Clarance Harrison. Bagi Zara, hidupnya sudah cukup indah hanya dengan aroma tepung dan manisnya gula di toko kue kecil miliknya. Namun, dunianya yang tenang, hancur dalam semalam ketika ayahnya, David Harrison, menggunakan dirinya sebagai jaminan hutang kepada Benedict Franklin

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Callalily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 9

Zara merasa asing dengan dirinya sendiri. Hidupnya berubah total dalam satu malam. Seharusnya ia merasa benci dengan Benedict. Namun setelah mengetahui bahwa luka pria itu bersumber dari ayahnya sendiri, Zara merasa tidak lagi merasa pantas untuk membenci pria itu.

“Aku tidak bisa lari,” bisiknya pada diri sendiri.

Dengan nampan berisi bubur dan obat ditangannya, Zara kembali ke kamar Benedict. Ia berdiri tegak di samping ranjang, meletakkan nampan makanan itu, lalu menarik napas panjang.

“Aku tahu,” suara Zara terdengar bergetar. Benedict menoleh.

“Aku menyadari betapa jahatnya perbuatan ayahku kepadamu,” lanjut Zara. “Aku tahu aku tidak akan pernah bisa memperbaiki kerusakan yang dia tinggalkan dalam hidupmu. Tidak akan pernah bisa.”

Benedict menolehkan kepalanya perlahan, menatap Zara dengan tatapan dingin. Zara melangkah satu langkah lebih dekat ke arah ranjang.

“Aku akan menyerahkan diriku untuk menebusnya” lanjut Zara. “Mulai saat ini, aku akan mengabdikan hidupku padamu. Aku akan menuruti segala keinginanmu, tanpa bantahan. Apapun itu.”

Mendengar itu, sudut bibir Benedict tertarik, sebuah senyum miring tercipta disana.

“Mengabdikan diri?” Benedict langsung mengulang kata itu.

Pria itu memejamkan mata sejenak, dan untuk sesaat, ekspresinya melunak.

“Kau tahu, Zara….. orang tuaku sangat mencintaiku. Mereka memberikan segalanya kepadaku.”

Benedict kembali menoleh ke arah Zara, sorot matanya menjadi lebih tajam.

“Apakah kau bisa memberikan cinta yang sama dengan yang mereka berikan padaku? Bisakah kau mencintaiku seperti itu?”

Zara tertegun. Kata-kata itu seperti hantaman keras di dadanya. Ia terdiam, lidahnya kelu. Mencintai Benedict? Pria yang penuh dengan kekerasan? Ia siap melayani, ia siap patuh, ia bahkan siap menyerahkan kebebasannya untuk menebus dosa ayahnya. Namun, memberikan cinta adalah suatu hal yang berbeda.

Benedict terkekeh pelan, sebuah tawa getir yang diakhir dengan rintihan nyeri di dadanya.

“Tentu saja tidak bisa. Cinta bukan sesuatu yang bisa kau tawarkan sebagai ganti rugi, Zara.”

“…..dan jangan menjanjikan hal-hal yang tidak mampu kau berikan” lanjut Benedict.

Zara menunduk sejenak, menatap uap yang mengepul dari mangkuk bubur itu, lalu kembali mengangkat wajahnya.

“Mungkin saat ini aku belum bisa memberikan cinta itu,” ucap Zara. “Aku tidak bisa memberikan sesuatu yang belum tumbuh di hatiku, Tuan.”

Tangan Zara bergerak mengambil mangkuk, lalu kembali menatap Benedict.

“Tapi aku akan mengusahakannya,” lanjut Zara. “Aku tidak hanya akan mengabdikan diriku untuk menuruti keinginanmu, tapi aku akan berusaha membuka hatiku untuk memberikan apa yang hilang darimu. Aku akan berusaha memberikan cinta yang kau maksud, meski aku tidak tahu berapa lama waktu yang dibutuhkan.”

Benedict terdiam. Senyum miringnya perlahan memudar, digantikan oleh tatapan yang sulit diartikan. Ia tidak menyangka Zara akan menjawab tantangannya dengan sebuah janji yang jauh lebih berat daripada sekedar pengabdian.

Zara mengaduk bubur itu perlahan, memastikan suhunya pas sebelum menyodorkannya ke mulut Benedict.

“Buka mulutmu,” ujar Zara lembut, Benedict menatap sendok itu dengan datar.

“Kau cukup berani untuk manusia lemah sepertimu” desis Benedict pelan.

“Bukan berani, tentu aku sangat takut kepadamu. Tapi ini adalah bentuk penebusanku” sahut Zara lirih.

Benedict mendengus kecil. “Kau benar-benar menikmati momen ini, bukan? Melihatku terluka seperti ini.”

Zara tidak terpancing. Ia tetap menjaga tangannya di depan bibir Benedict.

“Aku tidak menikmati melihat siapapun menderita, Tuan. Termasuk kau. Makanlah, jangan biarkan egomu membuatmu semakin lemah.”

Akhirnya, Benedict membuka mulutnya. Rasa hangat dari bubur itu seolah menjalar ke seluruh tubuhnya, namun perhatiannya justru terpusat pada bagaimana Zara menatapnya.

“Kenapa kau begitu telaten?” tanya Benedict setelah menelan suapannya. “Kau bisa saja menyuapiku dengan kasar, atau membiarkan ku tersedak.”

Zara terdiam sejenak, mengambil suapan berikutnya. “Aku tidak punya alasan untuk melakukan itu, Tuan.”

Benedict menelan suapan itu. “Kau membenciku, itu alasannya.”

“Membencimu sudah cukup menguras energi ku semalam, Tuan” balas Zara sambil mengusap sudut bibir Benedict yang sedikit basah dengan jarinya.

Gerakan itu begitu alami hingga membuat Benedict tertegun. Ia bisa merasakan kehangatan jemari Zara yang bersentuhan dengan kulit wajahnya. Untuk sesaat, amarah dalam hatinya meredup.

“Lagi,” ujar Benedict pelan, kali ini tanpa nada memerintah. Ia menerima suapan demi suapan Zara hingga mangkuk itu benar-benar kosong.

Luca mengetuk pintu, ia mengantar perawat yang bertugas membersihkan luka Benedict, namun Benedict mencegatnya.

“Tinggalkan peralatan itu. Biar dia yang melakukannya” perintah Benedict.

Luca langsung patuh. Zara mengambil baskom berisi air hangat dan kotak medis dari depan pintu, lalu kembali mendekati ranjang.

“Bantu aku membuka ini,” ujar Benedict pelan.

Zara bergerak maju, ia duduk di tepi ranjang. Jemarinya yang ramping mulai membuka kancing kemeja pria itu satu per satu, dan saat kain kemeja itu tersingkap ke bahu, napas Zara tertahan di tenggorokan.

Di bawah lampu kamar yang temaram, tubuh Benedict terpampang jelas. Selain luka baru di bahunya, ada sebuah bekas sayatan memanjang di dadanya dan lubang kecil bekas peluru lama di lengan atas.

“Kenapa kau menatapnya begitu lama?” desis Benedict, matanya tetap tertutup menahan nyeri.

“Terlihat menyeramkan, bukan?” lanjut Benedict.

Zara tidak menjawab. Ia mencelupkan handuk kecil ke air hangat, memerasnya, lalu mulai melepas perban yang melekat pada kulit Benedict.

Karena darah yang mulai mengering, kasa itu menempel pada luka. Saat Zara menariknya pelan, Benedict mengerang tertahan. Rahangnya mengatup begitu rapat hingga otot-otot lehernya menegang.

Secara refleks, tangan Benedict mencengkeram pergelangan tangan Zara. Cengkeramannya sangat kuat, Zara meringis sedikit karenanya.

Alih-alih menepis tangan Benedict, Zara justru merendahkan tubuhnya, mendekatkan wajahnya.

“Sshhhh…. tidak apa-apa. Tahan sebentar,” bisik Zara tepat di telinga Benedict, suaranya sangat lembut.

“Aku tahu ini sakit. Bernapaslah perlahan, Tuan. Aku tidak akan pergi” lanjut Zara.

Mendengar bisikan itu, tubuh Benedict yang tadinya kaku perlahan rileks. Napasnya yang memburu berangsur teratur. Perlahan cengkeramannya melanggar.

Benedict menatap Zara dari jarak yang begitu dekat. Memperhatikan bagaimana gadis itu dengan sangat hati-hati mengusap lukanya dengan air hangat.

Benedict akhirnya tertidur karena pengaruh obat. Zara tetap duduk di samping ranjang, menatap wajah pria itu yang tampak tidak berbahay saat sedang terlelap.

Suara langkah kaki yang berat san tergesa-gesa terdengar dari lorong. Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka.

Luca melangkah masuk, namun ia tidak sendirian. Ia tampak sangat formal, bahkan sedikit membungkuk hormat kepada wanita paruh baya yang berjalan di sampingnya.

“Nona Zara,” panggil Luca. “Ada seseorang yang ingin bertemu dengan Tuan Benedict.

Wanita itu melangkah maju. Ia mengenakan gaun linen berwarna gading, rambutnya yang mulai memutih di sanggul rapi. Namun, langkahnya tiba-tiba berhenti di tengah ruangan.

Matanya yang teduh terpaku pada Zara, menatapnya dengan intens hingga membuat Zara sedikit tidak nyaman.

“Wajah itu….” suara wanita itu bergetar. “Kau benar-benar mirip dengan ibumu.”

1
rurry Irianty
novel dark romance favorit kuuu
Bude Yanti
aku suka lajut kan
Nanda
novel ini bagus, cocok dibaca sama orang yang suka genre dark romance
Nanda
KAK SEMANGAT UP NYAAA
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!