NovelToon NovelToon
Singgasana Berdarah Sang Terpidana

Singgasana Berdarah Sang Terpidana

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Psikopat / Balas Dendam
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Irzad

Di dunia lama, dia adalah narapidana paling ditakuti, seorang maestro strategi yang menghancurkan satu negara dari balik jeruji besi. Dia dieksekusi dengan kursi listrik tepat saat sistem melakukan sinkronisasi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irzad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 18

Valerius tersenyum asimetris, sebuah senyuman mematikan yang membuat Baron Kaelos langsung memalingkan wajah karena ketakutan yang mengakar mendalam. Ia berjalan perlahan melewati barisan prajurit perbatasannya, menyentuh lembut pundak mereka yang bergetar hebat di balik zirah besi berkarat.

"Kalian mendengar ancaman ksatria sombong di atas sana, para anjing penjaga perbatasanku yang malang?" bisik Valerius di tengah barisan dengan nada empati yang sepenuhnya palsu. "Kakakku yang pengecut itu bahkan tidak sudi mengotori tangannya sendiri, ia meminjam tangan anjing peliharaan lain untuk merobek leher kalian."

Prajurit perbatasan menelan ludah dengan susah payah, mata mereka memancarkan keraguan dan keputusasaan yang sangat pekat. Mereka menyadari ratusan anak panah besi kini mengarah tepat ke dada mereka dari atas benteng yang sulit dijangkau.

Mereka sadar bahwa mereka hanyalah prajurit rendahan yang selama ini membusuk di perbatasan lembah beracun. Sementara itu, musuh bersenjata lengkap yang berdiri angkuh di depan mereka adalah ksatria elit ibu kota dengan fasilitas terbaik.

"Jika kalian menyerahkan diriku sekarang, apakah kalian naif berpikir nyawa kotor kalian akan dibiarkan hidup untuk menceritakan kisah ini pada keluarga kalian?" lanjut Valerius menabur bisa di benak mereka yang goyah. "Kalian semua pasti akan dieksekusi diam-diam di dalam penjara bawah tanah, dikubur busuk sebagai pengkhianat tanpa nama dan kehormatan."

Valerius berhenti tepat di depan kuda Baron Kaelos, menatap wajah pria tambun yang kini sedang menangis dalam diam menahan putus asa. "Satu-satunya cara agar kalian bisa melihat matahari terbit esok hari adalah dengan memotong paksa leher mereka yang menghalangi jalan kalian malam ini."

Sihir manipulasi tak kasatmata dari skill 'Lidah Berbisa' mengalir deras melalui setiap kata-katanya yang diucapkan dengan ritme menghipnotis. Hal itu meracuni alam bawah sadar seratus prajurit tersebut, menggantikan logika mereka dengan insting bertahan hidup hewani.

Ketakutan mereka pada pasukan ibu kota perlahan digantikan oleh ketakutan absolut yang jauh lebih purba terhadap sosok iblis pemuda di depan mereka. Lebih baik mati bertarung melawan ksatria perak daripada menghadapi murka diam-diam dari monster penyedot jiwa ini.

Seorang prajurit perbatasan berwajah penuh bekas luka pertempuran tiba-tiba mengayunkan pedangnya ke udara dengan raungan marah yang menembus batas putus asa. "Kita sudah terlalu jauh berjalan ke dalam neraka ini, mari kita bantai anjing-anjing ibu kota ini sampai hancur habis!"

Teriakan menggema itu menjadi percikan api kecil yang meledakkan tong mesiu keputusasaan di hati seluruh pasukan Benteng Besi Hitam. Seratus prajurit rendahan itu serempak menghunus pedang mereka yang masih bernoda darah, memancarkan niat membunuh liar yang lahir dari rasa takut yang memuncak.

"Bantai pemberontak perbatasan itu! Tembakkan semua panah kalian sekarang juga!" teriak komandan gerbang yang panik melihat perubahan aura mengerikan dari pasukan rendahan tersebut.

Hujan panah baja melesat cepat turun dari atas tembok, menembus beberapa prajurit barisan depan hingga jatuh bersimbah darah ke tanah berbatu. Namun pemandangan usus dan darah rekan mereka itu justru membuat prajurit perbatasan semakin beringas layaknya sekawanan serigala yang dilukai.

Baron Kaelos memacu kudanya maju dengan mata tertutup rapat, mengayunkan pedangnya secara membabi buta sambil menjeritkan doa-doa yang tak akan pernah berbalas. Prajurit perbatasan mulai menggunakan tangga lipat kayu dari kereta persediaan, mencoba memanjat tembok gerbang dengan gerakan nekat tanpa memedulikan risiko nyawa.

Valerius berdiri sangat tenang di tengah badai anak panah yang berdesingan nyaring mencari tumbal darah. Tak ada satu pun proyektil mematikan itu yang menyentuh kulitnya, karena skill 'Langkah Bayangan' miliknya aktif menggeser tubuh fisiknya dengan presisi tinggi.

Ia menikmati simfoni jeritan kematian yang saling bersahutan di udara, menyaksikan dengan saksama bagaimana keputusasaan merubah manusia normal menjadi monster haus darah. Para elit ibu kota yang tak pernah merasakan keras dan kotornya medan perbatasan kini mulai kewalahan menghadapi agresi bunuh diri dari prajurit buangan Kaelos.

Seorang ksatria perak jatuh terlempar dari atas tembok setelah kakinya ditebas hingga putus, menghantam tanah dengan suara tulang remuk yang memuakkan telinga. Prajurit perbatasan langsung mengeroyok tubuh cacat itu, menusukkan pedang mereka berulang kali hingga zirah peraknya penyok parah dan berlumuran darah segar.

"Pemandangan yang sangat indah, alami, dan sangat jujur," gumam Valerius sambil menyilangkan tangan di dada, matanya memantulkan kilatan api obor peperangan. "Tidak ada kehormatan ksatria palsu yang diajarkan di sini, hanya ada naluri binatang untuk saling membunuh demi satu tarikan napas tambahan."

Di atas tembok tebing, pertahanan ksatria gerbang mulai runtuh sepenuhnya ketika gerombolan prajurit perbatasan berhasil menembus celah sempit barikade baja. Pedang kasar beradu keras dengan perisai elit, memercikkan bunga api kecil yang menerangi cipratan darah di udara senja yang semakin menggelap.

Komandan gerbang yang awalnya sangat bengis itu kini tersudut merana di sudut menara, tangan kirinya telah terputus bersih oleh ayunan kapak raksasa. Ia memohon ampun dengan air mata berlinang deras, namun prajurit perbatasan yang telah kehilangan sisa akal sehatnya tak memberikan setetes pun belas kasihan.

"Kematian ini kupersembahkan untuk Tuan Muda Valerius!" raung seorang prajurit saat ia menancapkan tombak kayunya tepat menembus tenggorokan komandan malang tersebut hingga tembus ke tembok belakang.

Suara gemeretak tulang leher yang dipaksa patah itu menandai akhir dari perlawanan faksi militer ibu kota di Gerbang Pemisah. Mayat-mayat ksatria berzirah perak kini berserakan tak beraturan di atas tembok dan tanah berdebu, menjadi pupuk berdarah bagi langkah kemenangan Valerius selanjutnya.

Prajurit perbatasan yang tersisa berdiri terengah-engah kelelahan di tengah lautan mayat, pakaian mereka kini sepenuhnya berwarna merah pekat karena rendaman darah. Mereka menatap tangan mereka sendiri yang gemetar hebat, baru menyadari dosa besar pemberontakan yang telah mereka lakukan tanpa bisa diputar balik sama sekali.

Valerius melangkah pelan melewati pintu gerbang kayu yang telah hancur didobrak, sepatu botnya menginjak genangan darah tebal dengan suara kecipak yang menakutkan. Ia menatap sisa pasukannya yang kini memancarkan aura abu-abu keputusasaan yang bercampur dengan warna merah pembantaian massal yang mengerikan.

"Kalian baru saja menebas leher ksatria sah kerajaan, sebuah dosa pengkhianatan yang hukuman matinya tak akan pernah bisa diampuni dewa manapun di dunia ini," ucap Valerius memecah kesunyian malam yang mencekam.

Ucapan dingin itu bagaikan palu godam raksasa yang menghantam sisa kewarasan mental prajurit perbatasan, membuat beberapa dari mereka jatuh berlutut memegangi kepala karena panik. Mereka kini benar-benar telah resmi menjadi musuh besar negara, tak ada lagi tempat untuk bersembunyi di seluruh penjuru benua Aethelgard ini.

"Namun, selama kalian bernaung di bawah bendera kekuasaanku, kalian bukan lagi pengkhianat rendahan yang pantas digantung di tiang alun-alun kota busuk itu," lanjut Valerius dengan nada suara yang meninggi penuh teror dan otoritas. "Kalian adalah algojo suciku, pedang berdarah tanpa belas kasihan yang akan memotong kebusukan ibu kota ini hingga ke akar-akarnya yang paling dalam!"

Kaelos merangkak pelan dari atas genangan lumpur darah, bersujud mencium tanah di depan sepatu bot Valerius dengan tubuh gempalnya yang bergetar tak terkendali. "Kami adalah pedang butamu, Tuan yang agung! Seluruh sisa nyawa kami adalah milikmu sepenuhnya untuk dikorbankan!" teriak Baron itu putus asa, mencari pembenaran atas dosa-dosanya di kaki sang iblis.

Teriakan menjijikkan Kaelos segera diikuti oleh seluruh prajurit yang tersisa, mereka menjatuhkan senjata yang tumpul dan berlutut serempak di tengah kuburan massal tersebut. Kepatuhan absolut yang lahir dari keputusasaan tanpa jalan keluar telah mengubah mereka sepenuhnya menjadi sekte pembunuh fanatik di bawah kendali telunjuk sang narapidana kejam.

Layar merah holografik di depan mata batin Valerius berkedip-kedip liar, memancarkan rentetan notifikasi kemenangan sistem yang sangat memabukkan kewarasan gelapnya.

[Manipulasi Mental Massal Berhasil. Poin Dosa: +800. Gelar Eksklusif Baru Terbuka: 'Tiran Penenun Keputusasaan'.]

[Loyalitas Pasukan Perbatasan mencapai tingkat 'Pemujaan Buta Ekstrem'. Seluruh atribut fisik pasukan meningkat 20% selama berada di bawah komando tempur Host.]

Valerius tersenyum sangat lebar, membiarkan aura magis gelap dari gelar barunya menyelimuti seluruh tubuhnya bagai jubah raja yang terbuat murni dari bayangan maut. Ia sama sekali tidak mengayunkan pedangnya di pertarungan ini, namun ia adalah dalang pembunuh dengan jumlah korban tewas paling banyak di arena berdarah ini.

"Bersihkan segera jalanan ini dari sampah-sampah perak yang menghalangi itu, kita tidak akan berhenti beristirahat sampai roda kereta ini menyentuh aspal mulus ibu kota," perintah Valerius sedingin bongkahan es.

Para prajurit yang kini telah dicuci otaknya segera bergerak cepat tanpa protes, menendang kasar mayat ksatria ibu kota ke dasar jurang berbatu di bawah jembatan. Mereka bekerja membuang mayat dengan efisiensi mengerikan layaknya semut pekerja yang hanya tunduk pada satu ratu mutlak tanpa hati nurani.

Di kejauhan ufuk selatan, siluet menara-menara kembar Istana Draken mulai terlihat samar di balik kabut malam yang perlahan turun menyelimuti langit Aethelgard.

Kota yang selama berabad-abad dipenuhi oleh keangkuhan dan kemunafikan itu tidak menyadari bahwa mimpi buruk tergelap mereka sedang berjalan mendekat untuk mengetuk pintu gerbang kedamaian mereka.

Valerius kembali masuk melangkah ke dalam keretanya, mengusap pelan ukiran naga hitam di pintu kayu dengan jari-jarinya yang masih bersih dari noda pembunuhan. "Tidur yang nyenyak malam ini, saudaraku tersayang Aldrich, karena esok hari kau akan terbangun menjerit di dalam peti matimu sendiri," bisiknya lirih sebelum pintu kereta tertutup rapat menutup pandangan dunia luar.

1
Turki Salman
seru banget
jamanku
cerita baru yang mantap thor
Sofia
seru banget ceritanya
Op L
💪💪
Yuu Li
go napi
Roaffi Jj
menarik dan seru
Lamia Dante
👍👍👍
Lamia Dante
seru nih ceritanya
Irzad
mohon dukungannya terimakasih
Jake King
bantai semua tor
ikyar
💪
ikyar
👍👍
ikyar
bagus seru baantai
ikyar
🤭
ikyar
lanjut thor
zehn hart
Mantap/Scream/ Jangan lupa mampir ya/Smirk/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!