NovelToon NovelToon
Aku Bereinkarnasi Ke Dunia Anime Danmachi Sebagai Seorang Penulis

Aku Bereinkarnasi Ke Dunia Anime Danmachi Sebagai Seorang Penulis

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: the anonym

Dulu aku adalah pria biasa di Bumi, tapi suatu hari aku tewas tersambar petir dan terbangun di dunia lain. Namun, aku tidak memiliki sistem atau kemampuan curang; aku hanyalah manusia biasa. Lalu, aku memutuskan untuk menulis novel yang terinspirasi dari game Honkai Star Rail, dimulai dari High Cloud Quintet
dan saya juga setelah selesai dari dunia anime danmachi saya memutuskan untuk menambahkan alur nya ke berbagai dunia mulai dari anime hingga game
(Pernyataan penolakan: Saya bukan pemilik anime Danmachi; pencipta Danmachi adalah Fujino Omori, dan saya juga bukan pemilik Honkai Star Rail) Ini hanyalah cerita fanfiction yang saya buat
dan saya membuat fanfiction ini dengan bantuan AI, jadi jika Anda tidak ingin membaca cerita ini, itu tidak masalah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon the anonym, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35: Bintang yang Sekarat dan Gravitasi Absolut

Ruang hampa di luar safehouse siber itu melengkung sesaat sebelum akhirnya robek.

​Bukan dengan ledakan sihir atau tebasan pedang, melainkan oleh ujung tongkat yang diketukkan dengan sangat tenang ke udara kosong. Welt Yang melangkah masuk melalui robekan dimensi itu, diikuti oleh Dan Heng, Himeko, March 7th, dan seluruh pasukan elit Orario.

​Namun, alih-alih menemukan para Pemburu Stellaron yang sedang tersudut, mereka disambut oleh neraka.

​Udara di dalam ruang perpustakaan gothic itu mendidih. Rak-rak buku raksasa meleleh menjadi cairan piksel yang menguap sebelum menyentuh lantai. Karpet merah tebal terbakar habis, menyisakan lantai batu yang mulai menyala merah layaknya besi yang dipanaskan.

​"Panas sekali...!" Haruhime terbatuk, mundur selangkah sambil menutupi wajahnya dengan lengan kimono.

​"Tsubaki! Perisai!" teriak Finn, instingnya menjerit keras.

​Tsubaki menghantamkan palunya ke tanah. "Aegis of Preservation!" Kubah amber heksagonal kembali terbentuk, kali ini membungkus seluruh rombongan. Namun, baru dua detik kubah itu berdiri, permukaannya sudah dipenuhi retakan rambut akibat tekanan radiasi yang ada di dalam ruangan tersebut. Tsubaki menggertakkan giginya, peluh langsung membasahi seluruh tubuhnya. "Kapten, aku tidak bisa menahannya lama-lama! Energi di ruangan ini... ini gila!"

​Di tengah-tengah kekacauan termal itu, melayang sosok yang menjadi sumber dari segala kehancuran.

​Pemuda berambut abu-abu itu tidak lagi menapak tanah. Api Destruction yang tadinya hanya berupa percikan emas kini membungkusnya seperti jubah kosmis, menyala dengan warna hitam pekat dan emas terang yang saling melilit. Matanya tidak memiliki pupil, hanya pancaran cahaya bintang yang membutakan.

​"Itu dia!" Loki menunjuk dengan gemetar dari balik kubah Tsubaki. "Kanker itu sudah mengambil alih wadahnya!"

​Aiz Wallenstein, yang baru saja memulihkan sebagian staminanya, mencengkeram gagang Desperate erat-erat. Jantungnya berdetak seirama dengan denyut api pemuda itu. Nanook di dalam jiwanya berteriak, mendesaknya untuk maju dan membuktikan siapa pembakar yang lebih mematikan.

​"Aiz, jangan bergerak," Riveria menahan bahu Aiz dengan tegas. High Elf itu menatap ngeri ke arah Trailblazer. "Itu bukan lagi lawan yang bisa kau tebas. Ruang di sekitarnya terdistorsi. Jika kau mendekat, tubuhmu akan hancur sebelum pedangmu mengenainya."

​March 7th melangkah maju hingga hidungnya nyaris menyentuh dinding kubah pelindung. Gadis berambut merah muda itu melebarkan matanya, busurnya bergetar di tangannya.

​"Hei! Penjelajah! Sadarlah!" teriak March sekuat tenaga. Ia mencoba memanggil pemuda itu dengan julukan yang baru ia berikan beberapa puluh menit lalu. "Ini kami! Pemburu berambut ungu itu sudah merusak otakmu! Berhenti membakar ruangan ini!"

​Pemuda itu perlahan memutar kepalanya ke arah suara March.

​Tidak ada emosi di wajahnya. Ia mengangkat tangan kanannya perlahan. Dari ketiadaan, partikel-partikel debu bintang berkumpul di telapak tangannya, memadat dengan kecepatan tidak masuk akal menjadi sebuah tongkat bisbol yang kini sepenuhnya terbuat dari magma dan energi Antimatter.

​Trailblazer itu tidak berbicara. Ia hanya mengayunkan tongkat itu dari jarak dua puluh meter.

​WUSSS—BLAAARRR!

​Sebuah sabit api hitam-keemasan raksasa melesat membelah ruangan. Kecepatannya melampaui suara.

​"Menunduk!" raung Gareth.

​Tebasan kosmis itu menghantam kubah Tsubaki. Sang kapten Hephaestus Familia memuntahkan darah, terdorong mundur hingga lututnya menghantam lantai batu. Kubah amber itu pecah berkeping-keping. Sisa gelombang kejutnya menyapu pasukan Orario, membuat Ottar harus menancapkan pedang besarnya ke tanah untuk menahan tubuh Hestia dan Freya agar tidak terlempar ke luar dimensi.

​Dan Heng melompat di saat yang tepat. Naga air hijaunya melilit tubuhnya, menciptakan perisai hidrodinamik yang melindunginya dan March dari sisa-sisa api tersebut.

​"Pertahanan kita tidak akan bertahan untuk pukulan kedua," ucap Himeko tenang, meski matanya memancarkan kesiagaan penuh. Ia menyentuh komunikatornya. "Aku akan memanggil meriam orbital—"

​"Jangan, Himeko. Kau bisa menghancurkan sisa kewarasannya," potong suara yang berat dan tenang.

​Welt Yang melangkah maju. Mantel cokelatnya berkibar meskipun tidak ada angin. Ia berjalan melewati pecahan pelindung Tsubaki, melewati Finn dan Ottar yang menatapnya dengan campur aduk antara kagum dan takut. Pria paruh baya itu berdiri paling depan, berhadapan langsung dengan manifestasi bintang yang sekarat itu.

​"Tuan Welt!" March berteriak cemas.

​Welt membetulkan letak kacamatanya dengan jari telunjuk. Matanya yang tajam menatap pemuda berambut abu-abu yang kini bersiap mengayunkan tongkatnya lagi untuk serangan kedua.

​"Kafka bermain terlalu jauh kali ini," gumam Welt, nada suaranya berubah dingin. Ia mengangkat tongkat berjalannya. Bola biru di ujung tongkat itu mulai berputar, melahap cahaya di sekitarnya. "Biar aku yang menenangkannya."

​Trailblazer mengaum, memelesat ke arah Welt layaknya meteor yang jatuh dari langit, tongkat magmanya diayunkan lurus ke arah kepala pria itu.

​Welt tidak menghindar. Ia bahkan tidak mundur selangkah pun. Ia hanya mengetukkan ujung tongkatnya ke lantai sekali lagi.

​"Berlututlah."

​Satu kata itu diucapkan tanpa teriakan, namun bergema dengan otoritas yang membekukan darah setiap orang yang mendengarnya.

​BZZZZZT!

​Ruang di sekitar Trailblazer tiba-tiba melengkung ekstrem ke bawah. Gravitasi di radius sepuluh meter dari Welt Yang dikalikan seratus kali lipat dalam hitungan milidetik.

​Pemuda berambut abu-abu itu terhenti di udara seolah menabrak dinding baja yang tak kasatmata. Api magmanya tertekan hingga merapat ke tubuhnya. Dengan suara benturan yang memekakkan telinga, tubuh Trailblazer ditarik paksa ke tanah. Lantai batu di bawahnya hancur berantakan membentuk kawah akibat berat tubuhnya yang kini setara dengan sebuah gunung.

​Gareth menelan ludah. "S-sihir macam apa itu...? Dia menekan ledakan itu hanya dengan... berdiri di sana?!"

​Finn membelalak. "Bukan sihir. Itu kendali absolut atas massa dan ruang. Pria berkacamata ini... dia memanipulasi gravitasi."

​Di tengah kawah buatannya sendiri, sang Trailblazer meronta liar. Stellaron di dadanya memancarkan energi gila-gilaan, mencoba menolak tekanan gravitasi Welt. Perlahan, dengan urat-urat yang menonjol dan gigi yang bergemeletuk, pemuda itu memaksakan diri untuk kembali berdiri. Tongkat bisbolnya berderit, menahan gaya tarik bumi buatan yang luar biasa itu.

​"Tekad bertahannya sangat merepotkan," Welt menyipitkan mata. Ujung tongkatnya mulai memancarkan percikan hitam. Sebuah bola kegelapan seukuran kelereng terbentuk di sana—Star of Eden. Singularity buatan. Sebuah lubang hitam mini.

​"Jika dia memaksakan diri bangkit, gaya tarikku akan meremukkan tulangnya," ucap Welt pada Dan Heng dan Himeko di belakangnya. "Dan Heng, March. Aku akan membuka celah kecil di pelindung apinya. Kalian punya waktu lima detik untuk menyadarkannya sebelum aku harus menelannya dengan lubang hitam."

​Dan Heng memutar tombak Cloud-Piercer-nya. Air dan angin berpusar membentuk naga yang mengaum. "Dimengerti."

​March menarik tali busurnya, menciptakan panah berlian es terbesar yang pernah ia buat malam itu. Udara di sekitarnya langsung turun drastis. "Aku tidak akan meleset!"

​Di belakang mereka, Haruhime melangkah maju dengan gemetar. Gadis rubah itu menangkupkan kedua tangannya di depan dada. Ia tahu sihir Orario tidak akan mempan pada pemuda itu, tapi dia bisa membantu mereka yang akan menyerang.

​"T-tunggu! Biarkan aku membantu kalian!" seru Haruhime. Ekornya mengembang. Mahkota The Harmony di dahinya bersinar terang. "Uchide no Kozuchi!"

​Cahaya keemasan prismatik melesat, menabrak punggung Dan Heng dan March. Seketika, kedua anggota Kereta Astral itu melebarkan mata mereka. Mereka bisa merasakan stamina mereka melonjak tajam, refleks mereka terasah hingga tingkat supernatural, dan batas kekuatan tempur mereka didorong jauh melewati batas fana.

​Himeko tersenyum melihatnya. "Menarik. Buff yang mengabaikan hukum dunia."

​"Sekarang!" aba-aba Welt.

​Pria itu memutar tongkatnya, memfokuskan tekanan gravitasinya untuk mengoyak perisai api Destruction yang membungkus tubuh Trailblazer. Sebuah celah kecil seukuran piring terbuka tepat di bagian dada pemuda itu.

​Dan Heng melesat bagai kilat. Dengan bantuan buff Haruhime, kecepatannya bahkan membuat Aiz tidak bisa mengikuti pergerakannya. Ia melompat melewati kawah gravitasi Welt, menukik turun dengan Cloud-Piercer terhunus.

​Namun Dan Heng tidak menusuk tubuh pemuda itu. Ia menghantamkan gagang tombaknya tepat ke dahi sang Trailblazer, melepaskan gelombang kejut Chi naga air untuk mengguncang kesadarannya.

​Pemuda itu terhuyung, cengkeramannya pada tongkat bisbol melemah.

​"March!" panggil Dan Heng.

​WUSSS!

​Anak panah es raksasa milik March melesat. Tembakan yang diperkuat oleh The Harmony itu tidak diarahkan untuk membunuh, melainkan tepat menabrak celah perisai di dada Trailblazer.

​CRATAK! BZZZT!

​Es abadi bertabrakan langsung dengan panas inti Stellaron. Reaksi termal yang instan menciptakan ledakan uap tebal yang menyelimuti seluruh ruangan. Tekanan energi di ruangan itu mendadak drop, jatuh ke titik nol.

​Lantai batu berhenti meleleh. Api hitam-keemasan perlahan memudar hingga lenyap sepenuhnya.

​Welt Yang menarik kembali tongkatnya, menghilangkan gravitasi absolutnya dalam sekejap. Pria itu menghela napas pelan.

​Uap perlahan menghilang. Di tengah kawah yang hancur berantakan, pemuda berambut abu-abu itu jatuh berlutut. Matanya yang tadinya menyala emas kini kembali menjadi warna ambar yang sayu. Ia terbatuk, menatap tangannya sendiri yang gemetar dan bersih dari api magis.

​"Ugh... kepalaku..." rintih pemuda itu.

​March berlari menghampirinya, berjongkok sambil memastikan tidak ada luka bakar yang serius. "Hei! Kau sadar? Kau ingat namamu sekarang? Atau kau masih ingin memukul kami semua pakai tongkat mengerikan itu?!"

​Trailblazer menatap March dengan linglung. "March...? Aku... apa yang baru saja aku lakukan?"

​Dan Heng menyarungkan tombaknya, menatap sekeliling safehouse yang kini lebih mirip reruntuhan pasca-perang. "Kau baru saja hampir menghancurkan kita semua. Lagi."

​Di barisan belakang, Loki jatuh terduduk dengan napas tersengal. Freya memalingkan wajahnya, menyembunyikan keringat dingin yang membasahi pelipisnya. Finn dan Ottar saling berpandangan dalam diam.

​Mereka baru saja melihat sekelompok manusia menghentikan kiamat hanya dalam waktu kurang dari satu menit.

​Di Ruang Observasi Menara Babel – Orario

​Aku menatap layar proyeksi dari gulungan perkamen siberku. Tinta di bagian ujungnya mulai memudar, menandakan adegan itu telah selesai dieksekusi dengan sempurna di dimensi safehouse.

​Kafka dan Silver Wolf berdiri di belakangku. Kami bertiga telah berteleportasi kembali ke dunia nyata, berdiri di puncak Babel yang sepi, menatap kota Orario yang masih tertidur di bawah sana.

​"Sayang sekali. Aku berharap melihat pria berkacamata itu menggunakan Black Hole sungguhannya," Silver Wolf menendang kerikil dengan bosan.

​Kafka terkekeh pelan, menyentuh bahuku. "Naskah yang brilian, Sato Aris. Kau membiarkan mereka menang, menyatukan mereka, dan membuat mereka sadar seberapa besar ancaman yang sebenarnya mereka hadapi."

​Aku memutar pena buluku, menatap bulan yang bersinar di langit Orario.

​"Pahlawan butuh ikatan," ucapku pelan. "Sekarang, Orario dan Kereta Astral akan bekerja sama karena mereka telah merasakan teror dari Stellaron secara langsung. Gencatan senjata mereka kini bukan lagi paksaan, melainkan kebutuhan."

​Aku merapikan kertas-kertasku dan memasukkannya kembali ke dalam tas.

​"Babak pembuka telah selesai," kataku, berbalik menatap kedua Pemburu Stellaron tersebut. "Biarkan mereka beristirahat dan menyusun rencana. Karena besok pagi, saat matahari terbit... kita akan menjatuhkan Fragmentum ke jantung kota Orario. Dan perang yang sesungguhnya baru akan kumulai."

1
l.."..l
aku suka novel ini, makin lama ceritanya menarik
Ero-Sensei
oke ini semakin menarik
Ero-Sensei
buseng dah repot amat MC skizo padahal tinggal bilang cuma fiksi dan ngapain juga perlu ngumpet.
Ero-Sensei
repot amat, tinggal bilang aja ini cuma karya fiksi. lagian kisah argonot aja cuma karya fiksi khayalannya argonot yang pengen jadi pahlawan. aslinya mah bocah cupu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!